Hak Beristirahat untuk yang Bekerja

Bagikan
Penulis : Eka Darmaputera

“Beristirahat” adalah antonim dari “bekerja”. Seperti “mendorong” adalah lawan kata dari “menghela”, dan “masuk” adalah lawan kata dari “keluar”.

Karena itu wajar bila orang yang hobinya bekerja, tidak suka beristirahat. Dan sebaliknya, orang yang kegemarannya beristirahat, malas bekerja. Konon, menurut para ahli, perbedaan sikap ini menjadi salah satu pembeda utama antara sebuah “masyarakat tradisional” dan sebuah “masyarakat moderen”.

Pada sebuah masyarakat “tradisional”, orang yang tidak harus banyak bekerja dipandang berstatus lebih mulia, ketimbang mereka yang mesti banyak berpeluh karena terpaksa bekerja keras. Hanya “wong kasar” yang melakukan “kerja kasar”. Sementara yang berdarah biru tak pantas mengotori tangannya.

“Bekerja” dilakukan hanya bila terpaksa. Apalagi bekerja dengan mengerahkan otot dan tenaga. Kerja jenis ini-“kerja kasar”-diakui memang tidak terelakkan.

Bagaimana pun piring kotor harus dicuci; sampah harus diangkut; kayu harus dibelah; padi harus ditanam dan dipanen. Ya! Namun “kerja kasar” ini, sekali lagi, cuma pantas dikerjakan oleh “orang-orang kasar” pula.

Ini tidak berarti bahwa mereka-orang-orang “tradisional”-itu pemalas. O, sama sekali tidak! Mereka mau dan bisa bekerja sangat keras. Tengok saja petani-petani, nelayan-nelayan, dan kuli-kuli panggul kita! Mereka adalah pekerja-pekerja keras.

Cuma saja, “bekerja” itu sendiri-bagi mereka, dan bagi orang lain juga-bukanlah sesuatu yang terhormat. Karena itu mereka melakukannya, sebab tidak ada pilihan lain.

* * *

DALAM masyarakat modern, “kerja kasar ” disebut sebagai “blue collar job”. Artinya, “pekerjaan kerah biru”. Sedang “kerja halus” disebut sebagai “white collar job”. Pekerjaan “kerah putih”. Disebut “biru dan “putih”, kemungkinan besar adalah karena yang melakukan “kerja kerah putih”, tak perlu mengotori pakaiannya. Sedang yang lain perlu pakaian kerja yang “tahan kotor”-pakaian biru.

Tak dapat dipungkiri, pekerjaan “kerah putih” dianggap lebih prestisius ketimbang yang “kerah biru”. Pekerja kerah putih adalah mereka yang berdasi atau bergaun rapi, duduk di ruang yang sejuk berkursi empuk, sibuknya di belakang meja dengan pena, telepon, dan komputer mereka. Tak ada peluh menetes.

Karenanya, mana bisa dibandingkan dengan montir-montir yang berpakaian dekil, bekerja di ruang yang hiruk pikuk dan berbau penguk. Dengan juru parkir yang bekerja dipanggang terik matahari, mengumpulkan 1000 rupiah demi 1000 rupiah.

Dengan tukang sampah yang sehari-hari harus menahan bau dan mengais sampah tanpa pelindung hidung atau kaus tangan.

Dengan kuli-kuli pelabuhan yang memanggul beban yang lebih berat ketimbang berat badannya sendiri.

Tapi dalam masyarakat moderen, sikap terhadap “kerja” telah berubah secara radikal. Bekerja itu, untuk mereka, adalah mulia. Luhur. Orang- orang yang lebih gemar memandikan perkutut ketimbang bekerja keras, mereka pandang sebagai pemalas-pemalas dan benalu-benalu masyarakat yang menyebalkan.

Sebaliknya, semakin banyak tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan-dan karenanya semakin sedikit orang yang berminat melakukannya-diberi penghargaan yang relatif lebih tinggi. Karena itu, seorang anak di Amerika dengan tanpa merasa minder memperkenalkan ayahnya sebagai “garbage man” (= tukang sampah).

Perubahan sikap terhadap “kerja”, juga sangat jelas kita lihat melalui kisah berikut, yang konon benar-benar terjadi. Ketika pada suatu hari, sebagai tanda penghargaan dan kekaguman, perdana menteri Jepang berkenan berkunjung ke pabrik Honda. Sudah selayaknya, tamu terhormat ini disambut sendiri oleh pucuk pimpinan tertinggi pabrik tersebut. Dan itu tidak lain adalah sang presiden direktur, sekaligus pemilik dan pendiri Honda Corporation.

Ketika saat kunjungan kian mendekat, staf terdekat Pak Honda semakin gelisah. Bos mereka masih tetap bersantai dengan pakaian bengkelnya, yang di sana sini “kotor” terkena tumpahan oli dan sapuan gemuk.

“Pak, rombongan akan tiba lima menit lagi. Apakah bapak tidak sebaiknya berganti pakaian dahulu?”, kata mereka-setengah gugup setengah gemetar. “Mengapa aku harus tukar pakaian?,” sergah sang bos besar, “Pakaian kerja bagiku adalah pakaian yang paling terhormat yang bisa dikenakan oleh seseorang”.

* * *

SEDEMIKIAN terobsesinya orang-orang moderen terhadap kerja, muncullah sebuah “penyakit sosial” baru, yaitu penyakit kecanduan kerja. Atau lebih dikenal sebagai “workaholic”. Orang-orang yang mengidap penyakit ini melihat “bekerja” sebagai satu-satunya, bahkan semua- muanya, dalam kehidupan. “Beristirahat” bagi mereka adalah “siksaan” (= torture). Penyia-nyian waktu yang tak terampunkan.

Apakah bekerja melampaui batas tidak membuat mereka lelah? Tentu saja! Tapi kelelahan pun-selama masih bisa-akan mereka tekan, dengan maksud masih bisa bekerja lebih lama dari pada yang dimungkinkan oleh kekuatan tubuhnya.

Maka di toko-toko pun berjajar dijual pelbagai jenis “stimulan”, yang fungsinya adalah menghilangkan rasa lelah. Tapi awas, obat-obatan ini cuma menghilangkan rasa lelah, bukan menghilangkan kelelahan itu sendiri!

AKIBATNYA mudah diramalkan. Secara umum, produktivitas masyarakat meningkat hebat. Tapi dampak sampingnya adalah kualitas kesehatan yang menurun dan kehidupan keluarga yang rentan.

Suami dan istri-kedua-duanya hanya memikirkan pekerjaan- hanya “menyisakan”, bukan dengan sengaja “menyisihkan”, waktu bagi pasangannya, yaitu ketika tubuh sudah penat, tenaga sudah terkuras, dan emosi telah labil.

Anak-anak banyak yang bertumbuh liar, karena tak pernah merasakan perhatian dan tak pernah menikmati kasih sayang orang tua mereka. Kecuali barangkali diberi uang atau dibelikan “play station”, guna mengalihkan perhatian dan membungkam protes mereka.

Hari Minggu, bagi banyak orang, adalah satu-satunya hari di mana mereka bisa bangun siang dan tidak melakukan apa-apa, setelah seminggu lamanya tenaga mereka dipacu melampaui batas.

Karena itu, bagi orang-orang ini, ke gereja dianggap merugikan lagi pula tak ada manfaatnya. ” Sama-sama tidur, lebih baik tidur di rumah dari pada tidur di gereja!,” kata mereka.

Kebutuhan spiritual mereka pun, tanpa disadari, tertelantarkan. Dan dengan spiritualitas yang “tipis”, “miskin” dan “merana” itu, mana mungkin mereka punya kekuatan untuk menghadapi tantangan kehidupan moderen yang luar biasa berat.

* * *

“ENAM HARI LAMANYA ENGKAU AKAN BEKERJA DAN MELAKUKAN SEGALA PEKERJAANMU, TETAPI HARI KETUJUH ADALAH HARI SABAT TUHAN, ALLAHMU; MAKA JANGAN MELAKUKAN SESUATU PEKERJAAN .” (Keluaran 20:9-10)

Perintah ini bukan perintah untuk beristirahat, tetapi juga perintah untuk bekerja. Perintah untuk bekerja, dan perintah untuk beristirahat. Keduanya-“bekerja” dan “beristirahat”-ternyata tidak berlawanan, dan jangan dipertentangkan.

Keduanya bukan merupakan pilihan “ini atau itu”; “bekerja atau beristirahat”. Tapi komplementer. Saling melengkapi. Yang satu tak mungkin tanpa yang lain.

Tidak mungkin orang hanya terus-menerus bekerja, tanpa beristirahat. Tapi mustahil pula, bila orang hanya mau beristirahat tanpa bekerja- kecuali bila yang bersangkutan sakit parah. Kinerja yang bermutu hanya dapat dihasilkan oleh mereka yang cukup beristirahat. Sebaliknya, istirahat yang paling nikmat adalah untuk mereka yang telah bekerja paling penat.

Bukankah perintah Tuhan ini adalah koreksi terhadap gaya hidup banyak orang-khususnya sebagian besar pegawai negeri kita? Yaitu pada waktu semestinya bekerja, eee malah bersantai ria dan bermalas-malasan- sungguh menyebalkan! Sebaliknya tatkala seharusnya sudah bisa beristirahat, terpaksa bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.

Yang Tuhan kehendaki adalah, hidup yang DISIPLIN dan SEIMBANG. Bekerja pada waktu bekerja. Beristirahat pada waktu istirahat. Baik dalam melakukan pekerjaan sekuler kita, maupun ketika melaksanakan tugas misioner kita.

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, ” kata Yesus, “selama hari masih siang; (sebab) akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja” (Yohanes 9:4)

Menurut Yesus, waktu tidak berjalan siklis (= melingkar) melainkan linear (= lurus). Untuk masing-masing ada waktunya. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat. Setiap saat adalah kesempatan. Peluang yang kadang-kadang cuma sekali datang, lalu tak pernah terulang.

Jadi selama Anda masih diberi kesempatan bekerja, bekerjalah sekeras- kerasnya dan sebaik-baiknya! Sebab satu saat “akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”. Dan bila “malam” itu datang, maka betapa pun Anda ingin, yang akan tersedia cuma penyesalan. Penyesalan tanpa obat.

Friendship, Persahabatan, Pardonganon

Bagikan
Penulis: Walsinur Silalahi

Arti kata Friendship dan pardonganon (dalam bahasa batak) diatas adalah sama yaitu persahabatan. Persahabatan bisa merupakan sebuah cermin yang didalamnya saya bisa melihat diri sendiri. Saya menghargai kawan-kawan saya karena mereka dapat menerima diriku dengan segala kekurangan-kelebihanku Sayapun menerima mereka dengan kasih yang sama. Saya juga tidak sungkan-sungkan menunjukkan perbuatan mereka yang salah. Ada rasa tanggung jawab tertentu dalam persahabatan. Disinilah kawan berfungsi sebagai cermin. Kadang-kadang kawan-kawan sungkan menunjukkan kelemahan sahabat demi menjaga perasaannya. Hal itu tidak baik dipelihara dalam membangun Friendship.

Saya berkenalan dengan seorang sahabat yang umurnya beda jauh dari saya. Umur saya 54 tahun sedang umur temanku itu 26 tahun. Dengan sikap yang saling menunjukkan kelemahan, saya bisa memperbaiki diri. Nama temanku itu Novianty. Dia sungguh energik dan tegas. Bagi yang belum mengenal sifatnya, bisa cepat-cepat meninggalkannya karena dia paling tidak suka dengan janji yang tidak ditepati. Dia spontan mengeluarkan pendapat bila sesuatu hal tidak berkenan dihatinya, tetapi dia tidak pernah dendam. Marahnya cukup saat itu saja.

Begitu akrabnya persahabatan kami, sehingga dia saya anggap my oldest daughter, dan dia menganggap aku sebagai ayahnya yang selalu memberikan perhatian terhadap kesehatanku. Kami ber-ikrar menjaga persahabatan ini seperti Taz Mahal salah satu keajaiban dunia. Rintangan-rintangan yang mengganggu kelancaran persahabatan, kami singkirkan dengan diskusi terbuka saling open minded. I love her. Dia suka menulis renungan-renungan singkat dalam buletin, demikian juga saya senang menulis tentang pengalaman-pengalaman hidup sebagai cermin bagi orang-orang yang suka membacanya. Kami punya hobby menulis dengan gaya yg berbeda.

Ada dua hal penting dalam persahabatan: Pertama adalah mengenalnya sejak lama, memperhatikannya bertumbuh dan berkembang, sama-sama merasakan sejarah masa lampau. Persahabatan tidak perlu mempunyai persamaan dalam segala hal, tetapi saling mengenal dan sama-sama merasakan banyak hal dalam hidup ini.

Kedua: Suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan membangun bersama-sama tentang alam semesta. Saya dan Novianty tidak pernah berkumpul tanpa berbicara mengenai sang pencipta (Tuhan). Hal itu merupakan dasar paling baik bagi persahabatan. Bila ada perbedaan besar tentang Tuhan, maka persahabatan yang mendalam dan menyenangkan tidak mungkin tumbuh. Karena pengertian kami tentang sifat Allah mempengaruhi cara berpikir mengenai diri sendiri dan segala hal yang lain di dunia ini.

Jika seseorang memandang Allah sebagai Hakim yang suka marah dan penuh dendam, orang itu tidak mungkin mau bersahabat erat dengan saya. Kami melihat Tuhan itu dalam Alkitab adalah Allah yang penuh kasih dan suka mengampuni. Ada pengalaman saya yang cukup kontras dalam persahabatan. Waktu itu saya berbeda pendapat tentang penafsiran sebuah drama. Kami saling berteriak mengeluarkan pendapat. Orang-orang yang melihat kami saling ngotot berkata: “putuslah persahabatan mereka.” Setengah jam kemudian, kami saling bergandengan tangan dengan akrabnya. Kami menyadari bahwa saya dan dia pasti ada perbedaan.

Persahabatan yang menghancurkan: Bagaimana jika memutuskan persahabatan dirasakan sebagai jalan terbaik? Jikalau persahabatan kita sama sekali tidak bermanfaat, lebih baik kita mundur sementara. Kita tidak perlu memutuskan persahabatan untuk selamanya. Sewaktu saya melibatkan diri dalam komunitas orang-orang yang kreatif, perlahan-lahan saya menyadari bahwa mereka mempunyai gaya hidup yang agak kacau. Saya melihat mereka menjalani kehidupan yang tidak cocok dengan kehidupan saya sebagai seseorang yang berusaha melayani Tuhan. Oleh sebab itu saya menarik diri sebagai pernyataan sikap, tetapi seramah mungkin. Saya sadar bila saya terus terlibat didalamnya, maka ada kemungkinan saya ditarik dalam kehidupan mereka dan tentu akan merusak diri saya.

Persahabatan yang sungguh-sungguh rupanya dimulai pada saat remaja. Pada saat itu kaum muda mulai mengerti prinsip persahabatan dan sanggup mengadakan pilihan. Persahabatan itu dapat berlangsung bila ada kesepakatan tentang suatu topik pembicaraan, mendiskusikan ide-ide. Jika percakapan berkisar pada hal-hal yg tidak karuan, maka saya tidak akan menjadikannya menjadi sahabat tetap. Sangat sulit bersahabat dengan orang yang menganggap dirinya serba tahu, karena itu adalah semacam manipulasi. Kadang keadaan itu tidak jahat, tetapi toh bersifat merusak. Akar manipulasi adalah kesombongan, merasa mempunyai hak untuk mengendalikan orang lain, mengetahui segala sesuatu. Manipulasi bukan dasar bagi suatu persahabatan. Kita semua adalah anak Tuhan yg memiliki gambaran Allah dalam diri kita yang kadang-kadang sangat tersembunyi, merupakan tanda tentang penciptaan yg tidak pernah berhenti. Saya tidak setuju dengan ide bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dan berkata: “Oh, baik, sudah selesai.” Ia tidak mengatakan sudah selesai sampai Ia berada di kayu salib. Kita sebagai manusia dipanggil untuk menolong menuju kedatangan kerajaanNya. Jikalau saudara terlalu bergantung pada persahabatan itu, maka saudara cenderung mendewakan persahabatan itu dan saudara akan meminta dari sahabat itu yang seharusnya hanya anda minta dari Tuhan.

Sepanjang hidup, saya mempunyai sahabat-sahabat dari segala usia. Persahabatan jangan seluruhnya tergantung kepada perasaan. Kecewa, jengkel terhadap seseorang janganlah merusak persahabatan. Kita jangan mematikan persahabatan hanya karena tidak semuanya menyenangkan. Kadang-kadang kita sebagai kawan harus menunggu sampai orang lain itu bisa menanggapi kembali. Biarkan persahabatan itu tidur sampai suatu saat bisa berbunga dan mekar kembali (Amsal 17;17,Amsal 22;24).

Empat Jenis Obat untuk Orang Beriman yang Sedang Sakit

Bagikan
Seorang anak muda. Ia telah berusaha memberikan dasar yang kokoh bagi keluarganya. Namun ia menemukan kekosongan di dasar sanubarinya. Ia dilanda kecemasan dan kehilangan arah hidup. Semakin hari situasinya semakin parah. Ia memutuskan untuk pergi ke dokter sebelum menjadi amat terlambat.

Setelah mendengarkan keluhannya, dokter memberikan empat bungkus obat sambil berpesan; “Besok pagi sebelum jam sembilan pagi engkau harus menuju pantai seorang diri sambil membawa ke empat bungkus obat ini. Jangan membawa buku atau majalah. Juga jangan membawa radio atau tape. Di pantai nanti anda membuka bungkusan obat sesuai dengan waktu yang tercatat pada bungkusannya, yakni pada jam sembilan, jam dua belas, jam tiga dan jam lima. Dengan mengikuti resep yang ada di dalamnya aku yakin penyakitmu akan sembuh.”

Orang tersebut berada di antara percaya dan ragu akan resep yang diberikan dokter. Namun demikian pada hari berikutnya ia pergi juga ke pantai. Begitu tiba di pesisir pantai di pagi hari, sementara matahari pagi mulai muncul di ufuk timur dan laut biru memantulkan kembali sinarnya yang merah keemasan itu, sambil deru ombak datang silih berganti, hatinya dipenuhi kegembiraan yang amat dalam.

Tepat jam sembilan, ia membuka bungkusan obat yang pertama. Tapi tak ia dapati obat didalamnya, cuma secarik kertas dengan tulisan: “Dengarlah”. Aneh bin ajaib, orang tersebut patuh pada apa yang diperintahkan. Ia lalu duduk tenang mendengarkan desiran angin pantai serta deburan gelombang yang memecah bibir pantai. Ia bahkan secra perlahan-lahan mampu mendengarkan setiap detak jantungnya sendiri yang menyatu dengan melodi musik alam di pantai itu. Telah begitu lama ia tak pernah duduk dan menjadi sungguh tenang seperti hari ini. Ia terlampau sibuk dengan usahanya. Saat ini ia merasa seakan-akan jiwanya dibasuh bersih.

Jam dua belas tepat. Ia membuka bungkusan obat yang kedua. Tentu seperti halnya bungkusan yang pertama, tak ada obat yang didapati kecuali selembar kertas bertulis; “Mengingat”. Ia beralih dari mendengarkan musik pantai yang indah dan nyaman itu dan perlahan-lahan mengingat setiap jejak langkahnya sendiri sejak kanak-kanak. Ia mengingat masa-masa sekolahnya dulu, mengingat kedua orang tuanya yang senantiasa memancarkan kasih di wajah mereka. Ia juga mengingat semua teman yang ia cintai dan tentu juga mencintainya. Ia merasakan ada segumpal kekuatan dan kehangatan hidup memancar dari dasar bathinnya.

Ketika ia membuka bungkusan ketiga saat waktu menunjukan jam tiga tepat, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan: “Menimbang dan menilai motivasi”. Ia memejamkam mata, memusatkan perhatiannya untuk menilai kembali niat pertama ketika ia membangun usahanya. Saat itu yang menjadi inspirasi utama ia membuka usahanya adalah secara gigih bekerja untuk melayani kebutuhan sesamanya. Namun ketika usahanya kini telah memperoleh bentuknya, ia lupa hal ini dan hanya berpikir tentang keuntungan yang bakal diperoleh. Keuntungan kini menjadi penguasa dirinya, ia telah berubah menjadi manusia yang egoistis, serta lupa memperhatikan nasib orang lain. Ia kini seakan telah mampu melihat akar penyakitnya sendiri, ia menemukan alasan yang senantiasa membuatnya cemas.

Ketika matahari telah hilang dan bentangan laut berubah merah, ia membuka bungkusan obatnya yang terakhir. Di sana tertulis: “Tulislah segala kecemasanmu di bibir pantai”. Ia menuju bibir pantai, lalu menuliskan kata “Cemas”. Ombak datang serentak dan menghapus apa yang baru dituliskannya. Bibir pantai seakan disapu bersih, kata “Cemas” yang baru ditulisnya hilang ditelan ombak.

Siapakah tokoh utama dalam kisah di atas tersebut?. Mungkin saya, mungkin pula anda. Pernahkah saya secara tulus mendengarkan bahasa bathin sendiri? Atau pernahkah saya mengingat segala yang manis maupun pahit yang terjadi di masa silam namun telah membentuk siapa saya saat ini? Apa yang menjadi motivasi utama hidup saya hari ini dan besok, dan apa kecemasan saya?

Duri-duri Pemulihan

Bagikan
Penulis : Ayub Yahya

PENGAMPUNAN Tuhan adalah tema yang sangat menonjol dalam Alkitab. Ingat kisah mengharukan “Si Anak Hilang” (Lukas 15:11-32)? Bagaimana Sang Ayah memeluk si bungsu dengan penuh suka. Ada luapan cinta di sana. Segala dosa dan “kekotoran” si anak hilang tidak diingatnya lagi. “Anakku yang hilang telah kembali,” katanya.

Cinta Sang Ayah dalam kisah tersebut adalah cinta Tuhan. Sambutan Sang Ayah adalah sambutan Tuhan. Pelukan Sang Ayah adalah pelukan Tuhan. Dan si anak hilang itu adalah para pendosa – kita semua – yang datang kepada-Nya.

Atau tentang Zakheus (Lukas 19:1-10). Ia adalah seorang pemungut cukai. Orang banyak membencinya setengah mati, menghindarinya, dan menganggapnya sebagai pendosa kelas kakap. Tetapi, kepadanya Tuhan Yesus justru berkata, “Zakheus, Aku akan menumpang di rumahmu.”

Menumpangnya Tuhan Yesus di rumah Zakheus bukan sekadar menumpang. Ada makna yang lebih dalam dari itu, yaitu: Penerimaan dan pengampunan.

Ya, atas nama norma dan agama manusia bisa saja menolak, menista, atau bahkan menghukum seorang pendosa. Tetapi, di dalam Tuhan selalu tersedia penerimaan dan pengampunan. Kasih setia Tuhan melampaui pikiran manusia; kebaikan Tuhan melampaui batas-batas norma dan agama.

Seperti kepada Zakheus, seperti itulah sikap Tuhan kepada para pendosa – kepada kita semua.

Hingga pemulihan pun terjadi.

Akan tetapi, hati-hati, ada duri-duri terhadap pemulihan Tuhan ini. Duri-duri yang bukan hanya bisa menghambat, tapi juga bisa mengancurkan. Pertama, dari orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai “polisi iman”. Yaitu, mereka yang sangat peka de- ngan keburukan orang lain, tapi menu- tup mata terhadap keburukannya sendiri.

Mereka mencemooh, mencibir, menghina, merendahkan, menudingkan jari telunjuk kepada orang lain yang tergelincir ke lembah dosa. Padahal, mereka sendiri tidak bersih dari dosa.

Kepada orang-orang seperti itulah Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8:7). Sesungguhnyalah, tidak ada kesalahan yang lebih buruk selain ketika kita sibuk ngurusin kesalahan orang dan lupa dengan kesalahan sendiri.

Kedua, dari dalam diri sendiri. Yaitu ketika kita merasa begitu hina, kotor, sangat tercela dan nista. Kita menghakimi dan menghukum diri kita sendiri. Seolah-olah tidak ada lagi harapan untuk memperbaiki diri; ibarat gelas sudah pecah berkeping-keping. Lalu kita hidup dalam ketelanjuran; telanjur kotor sekalian saja berbuat kotor, telanjur tercela sekalian saja berbuat tercela.

Padahal, pikiran kita bisa membentuk siapa dan bagaimana diri kita. We are what we think. Kalau kita terus berpikir bahwa kita ini kotor, hina, tercela, maka jadilah kita benar-benar kotor, hina dan tercela. Sehingga kita pun semakin jauh terjerembab ke dalam lumpur dosa.

Lalu bagaimana?

Tidak ada cara lain, kita harus mengalihkan hati kita. Dari cemoohan dan penolakan orang lain terhadap diri kita, kepada pengampunan dan penerimaan Tuhan; dari pikiran dan perasaan kita yang negatif, kepada kasih dan kebaikan Tuhan.

Tuhan mahakasih. Kasih-Nya tidak terbatas; lebih dalam dari lautan, lebih luas dari langit. Tuhan mahabaik. Tuhan mahapengampun.

Daud merasakan betul arti dipulihkan. Pada suatu masa di hidupnya Daud pernah terjerumus ke dalam dosa yang begitu kelam (2 Samuel 11:1-27). Kasih dan kebaikan Tuhanlah yang mengangkatnya kembali dari keterpurukan karena dosanya itu. Maka Daud pun bermazmur:

“Tuhan adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamana Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” (Mazmur 103:8-12).*

Dia Menyegarkan Jiwaku

Bagikan
Oleh: Sunanto

Mzm 23:3a “Ia menyegarkan jiwaku”

Di tengah krisis yang sedang melanda dunia usaha saat ini ternyata jenis usaha yang bergerak dalam dunia hiburan sepertinya tidak begitu terkena dampaknya.Bahkan krisis menyebabkan banyak orang yang menjadi stress sehingga mereka berusaha mencari hiburan untuk melepaskan ketegangan. Bisnis dunia hiburan berkembang dengan subur di daerah perkotaan sebab orang kota memang cenderung lebih mudah mengalami stress. Apalagi bagi orang-orang yang tinggal di kota besar seperti kota Jakarta yang hampir setiap hari terjebak dalam kemacetan. Sebuah survei menunjukkan sebagian besar penduduk kota besar di Indonesia mengalami sakit jiwa dalam kadar tertentu.

Manusia modern dengan kecerdasannya memang sanggup membuat hidup menjadi lebih mudah dan cepat. Akan tetapi, justru di era modern yang serba cepat dan komputerisasi ini manusia menjadi semakin mudah tertekan. Dengan ditemukannya handphone memang membuat komunikasi menjadi mudah dan cepat. Namun tanpa disadari justru handphone telah membuat banyak orang semakin tertekan sebab kita menjadi mudah diganggu kapan saja. Beberapa orang rekan kantor di perusahaan tempat saya pernah bekerja sampai mengalami stress berat akibat sering dikomplain oleh pelanggan di luar jam kantor.
Bahkan seorang teknisi mengalami phobia (rasa takut) dengan suara dering handphone akibat seringnya dikomplain oleh pelangggan di waktu malam. Belum lama ini saya membaca di sebuah majalah dimana seorang CEO perusahaan besar memberikan sebuah fasilitas email gratis lewat handphone bagi setiap karyawannya agar mereka bisa tetap bekerja kapanpun. Tidak heran semakin hari semakin banyak saja jumlah orang yang mengalami stress dan depresi.

Ternyata bukan orang-orang yang bekerja dalam dunia ‘sekuler’ saja yang mengalami tekanan. Orang-orang yang bekerja dalam dunia ‘rohani’ juga tidak luput dari tekanan tersebut. Sebuah survei yang dilakukan oleh Family News From Dr. James Dobson menunjukkan 80% Pendeta dan pasangannya sedang mengalami depresi. Sebuah survei yang dilakukan oleh Fuller Institute of Growth menunjukkan 80% Pendeta yakin bahwa pelayanan penggembalaan mereka mempengaruhi kehidupan keluarga mereka secara negatif. Belum lama ini seorang hamba Tuhan dan juga penyayi rohani terkenal di Indonesia mengalami kekeringan rohani sehingga selama berbulan-berbulan ia setiap hari berkunjung ke pub untuk mencari hiburan.

Kita tidak dapat mengharapkan sebuah kehidupan yang tanpa ada masalah dan tekanan sebab selama kita masih hidup di dunia ini maka kita tidak akan pernah luput dari masalah. Jalan keluar untuk dapat menang dari semua tekanan yang kita hadapi adalah dengan memiliki keintiman dengan Allah. Kita harus memiliki hubungan yang akrab dengan Allah sehingga setiap hari jiwa kita dapat disegarkan oleh air kehidupan yang mengalir dari tahtaNya. Hubungan yang intim dengan Allah harus menjadi prioritas utama dalam hidup kita kita jika kita ingin tetap bertahan dalam menghadapi beratnya tekanan kehidupan ini,

Saya mengundang anda semua untuk masuk ke dalam kehidupan yang intim dengan Allah. Ada sebuah tempat rahasia sukacita yang telah disediakan oleh Tuhan bagi setiap orang yang ingin memiliki hubungan yang intim denganNya. Hidup kita tidak akan sama lagi jika telah mengalami rahasia sukacita yang datang dari Tuhan. Hidup kita akan menjadi sangat luar biasa dan bergairah sebab air kehidupan itu telah menyegarkan dan memuaskan jiwa kita. Yesus berkata “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Minumlah air kehidupan itu dan biarlah mata air itu mengalir untuk membasahi banyak jiwa-jiwa yang sedang kekeringan !

Beda antara Cinta dan Cocok

18
Bagikan
Penulis: Dr. Paul Gunadi

Salah satu alasan paling umum mengapa kita menikah adalah karena cinta– cinta romantik, bukan cinta agape, yang biasa kita alami sebagai prelude ke pernikahan. Cintalah yang meyakinkan kita untuk melangkah bersama masuk ke mahligai pernikahan.

Masalahnya adalah, walaupun cinta merupakan suatu daya yang sangat kuat untuk menarik dua individu, namun ia tidak cukup kuat untuk merekatkan keduanya.

Makin hari makin bertambah keyakinan saya bahwa yang diperlukan untuk merekatkan kita dengan pasangan kita adalah kecocokan, bukan cinta.

Saya akan jelaskan apa yang saya maksud.

Biasanya cinta datang kepada kita ibarat seekor burung yang tiba- tiba hinggap di atas kepala kita. Saya menggunakan istilah “datang” karena sulit sekali (meskipun mungkin) untuk membuat atau mengkondisikan diri mencintai seseorang.

Setelah cinta menghinggapi kita, cinta pun mulai mengemudikan kita ke arah orang yang kita cintai itu. Sudah tentu kehendak rasional turut berperan dalam proses pengemudian ini. Misalnya, kita bisa menyangkal hasrat cinta karena alasan-alasan tertentu. Tetapi, jika tidak ada alasan-alasan itu, kita pun akan menuruti dorongan cinta dan berupaya mendekatkan diri dengan orang tersebut.

Cinta biasanya mengandung satu komponen yang umum yakni rasa suka.

Sebagai contoh, kita berkata bahwa pada awalnya kita tertarik dengan gadis atau pria itu karena sabarannya, kebaikannya menolong kita, perhatiannya yang besar terhadap kita, wajahnya yang cantik atau sikapnya yang simpatik, dan sejenisnya. Dengan kata lain, setelah menyaksikan kualitas tersebut di atas timbullah rasa suka terhadapnya sebab memang sebelum kita bertemu dengannya kita sudah menyukai kualitas tersebut. Misalnya, memang kita mengagumi pria yang sabar, memang kita menghormati wanita yang lemah lembut, memang kita mengukai orang yang rela menolong orang lain dan seterusnya.

Jadi, rasa suka muncul karena kita menemukan yang kita sukai pada dirinya.

Saya yakin cinta lebih kompleks dari apa yang telah saya uraikan.

Namun khusus untuk pembahasan kali ini, saya membatasi lingkup cinta hanya pada unsur suka saja. Cocok dan suka tidak identik namun sering dianggap demikian. Saya berikan contoh.

Saya suka rumah yang besar dengan taman yang luas, tetapi belum tentu saya cocok tinggal di rumah yang besar seperti itu. Saya tahu saya tidak cocok tinggal di rumah sebesar itu sebab saya bukanlah tipe orang yang rajin membersihkan dan memelihara taman (yang dengan cepat akan bertumbuh kembang menjadi hutan). Itulah salah satu contoh di mana suka tidak sama dengan cocok. Contoh yang lain. Rumah saya kecil dan cocok dengan saya yang berjadwal lumayan sibuk dan kurang ada waktu mengurusnya.

Namun saya kurang suka dengan rumah ini karena bagi saya, kurang besar (tamannya). Pada contoh ini kita bisa melihat bahwa cocok berlainan dengan suka. Pada intinya, yang saya sukai belum tentu ocok buat saya; yang cocok dengan saya belum pasti saya sukai. Sekarang kita akan melihat kaitannya dengan pemilihan pasangan hidup.

Tatkala kita mencintai seseorang, sebenarnya kita terlebih dahulu menyukainya, dalam pengertian kita suka dengan ciri tertentu pada dirinya.

Rasa suka yang besar (yang akhirnya berpuncak pada cinta) akan menutupi rasa tidak suka yang lebih kecil dan — ini yang penting — cenderung menghalau ketidakcocokan yang ada di antara kita. Di sinilah terletak awal masalah.

Ini yang acap kali terjadi dalam masa berpacaran.

Rasa suka meniup pergi ketidakcocokan di antara kita, bahkan pada akhirnya kita beranggapan atau berilusi bahwa rasa suka itu identik dengan kecocokan. Kita kadang berpikir atau berharap, “Saya menyukainya, berarti saya (akan) cocok dengannya.” Salah besar!

Suka tidak sama dengan cocok; cinta tidak identik dengan cocok!

Alias, kita mungkin mencintai seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan kita.

Pada waktu Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi istri Adam, Ia menetapkan satu kriteria yang khusus dan ini hanya ada pada penciptaan istri manusia, yakni, “Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18).

Kata “sepadan” dapat kita ganti dengan kata “cocok.” Tuhan tidak hanya menciptakan seorang wanita buat Adam yang dapat dicintainya, Ia sengaja menciptakan seorang wanita yang cocok untuk Adam.

Tuhan tahu bahwa untuk dua manusia bisa hidup bersama mereka harus cocok.

Menarik sekali bahwa Tuhan tidak mengagungkan cinta (romantik) sebagai prasyarat pernikahan. Tuhan sudah memberi kita petunjuk bahwa yang terpenting bagi suami dan istri adalah kecocokan. Ironisnya adalah, kita telah menggeser hal esensial yang Tuhan tunjukkan kepada kita dengan cara mengganti kata “cocok” dengan kata “cinta.” Tuhan menginginkan yang terbaik bagi kita; itulah sebabnya Ia telah menyingkapkan hikmat-Nya kepada kita.

Sudah tentu cinta penting, namun yang terlebih penting ialah, apakah ia cocok denganku?

Saya teringat ucapan Norman Wright, seorang pakar keluarga di Amerika Serikat, yang mengeluhkan bahwa dewasa ini orang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyiapkan diri memperoleh surat ijin mengemudi dibanding dengan mempersiapkan diri untuk memilih pasangan hidup. Saya kira kita telah termakan oleh motto, “Cinta adalah segalanya,” dan melupakan fakta di lapangan bahwa cinta (romantik) bukan segalanya.

Jadi, kesimpulannya ialah, cintailah yang cocok dengan kita!

enulis : Pdt. Gilbert Lumoindong

I. PENDAHULUAN
Lukas 21:25-28
Takut dan cemas adalah penyakit dunia hari-hari ini. Dimana-mana kita jumpai banyak orang, baik yang tua, muda, kaya dan miskin hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Efeknya:

Keluarga.
Ketika suami atau istri stress, keluarga jadi mudah ribut.

Ekonomi.
Orang berpikir bahwa jika punya uang, maka punya segala-galanya. Uang menjadi raja dalam hidupnya, sehingga banyak orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, diantaranya dengan cara korupsi, kawin dengan orang yang kaya walaupun orang itu jauh lebih tua.

Dunia roh.
Orang makin tertarik dengan hal-hal mistik. Orang berpikir jika dia berhubungan dengan paranormal, dukun dan lainnya, dia bisa mendapatkan uang yang banyak, mendapatkan kedudukan yang baik, bisa terkenal, dan lain-lain.

Penyakit.
Penyakit semakin hari semakin parah. Dimana ada stress, maka penyakit akan merajalela. Tetapi sukacita dalam Tuhan adalah kekuatan dari Tuhan. Alkitab berkata bahwa hati yang gembira adalah obat. Orang yang tenang dan banyak bersyukur umurnya lebih panjang.

II.BERKAT ORANG PERCAYA

Bagi orang percaya :ANAK MANUSIA DATANG DALAM KEMULIAAN(ayat 27).

Di tengah situasi dunia yang kacau dan menakutkan, orang dunia bisa takut dan cemas, tetapi orang percaya tidak akan cemas karena Alkitab katakan bahwa Anak Manusia akan datang dalam kemuliaanNya. Seribu boleh rebah di sisi kirimu, dan sepuluh ribu di sisi kananmu, tetapi itu tidak akan menimpa orang percaya. Orang percaya akan melangkahi anak singa dan ular naga, orang percaya akan menginjaknya, malapetaka tidak akan menimpa kita dan tulah tidak akan mendekat dalam kemah kita.

Apa artinya Dia datang dalam kemuliaan?

Allah datang untuk memilih kita dari dunia yang gelap ini.
Oleh karena itu Allah bertanggung jawab bagi kita.

Allah memberkati.
Setelah Allah pilih kita, Allah akan memberkati kita.

Allah memberi karunia.
Allah tidak hanya puas dengan memberkati karena berkat bukanlah goal (tujuan akhir) Allah, tetapi Allah mau hidup kita berguna sehingga Dia memberikan kita karunia.

Allah memberi kuasa.
Allah memberi kuasa kepada kita supaya kita dapat berjalan dalam kemuliaan, supaya kita dapat berjalan sebagaimana yang Kristus kehendaki, supaya ditempat Yesus berada, kita bisa berada untuk selama-lamanya

Jadi Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan pada waktu dunia dalam keadaan takut, bingung dan gelisah.

III. TUGAS ORANG PERCAYA

BANGKIT & ANGKATLAH MUKAMU (ayat 28)

Tidak ada yang bisa membangkitkan kita dari masalah dan persoalan kita, kecuali diri kita sendiri. Hamba Tuhan bisa saja mendoakan kita tetapi kalau kita tidak mau bangkit, maka tidak akan ada kemenangan.

Di dalam Alkitab, waktu Yesus menyembuhkan orang sakit, berkali-kali Yesus berkata “Bangkit, angkatlah tilammu”. Yesus tidak akan pernah melakukan mujizat jika kita sendiri tidak mau bangkit. Memang doa orang benar memberikan semangat kepada kita untuk bangkit, tetapi kita sendirilah yang harus bangkit.

Saat ini bukan saat kita untuk memikirkan betapa beratnya beban hidup kita. Karena semakin kita memikirkan masalah kita, maka hidup kita akan semakin terasa berat. Tetapi jika kita ada semangat untuk bangkit, maka Allah tidak akan pernah mengecewakan kita. Selama kita punya semangat untuk bangkit, perkara-perkara besar tersedia bagi kita. Orang-orang yang Tuhan pakai, bukanlah orang-orang yang terus menangisi masalahnya, tetapi orang-orang yang mengerti bahwa Allah adalah sumber kekuatannya.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego berkata, “Kalau Allah yang kami sembah sanggup menolong kami, Dia akan menolong kami, tetapi jika tidak, maka untuk menyembah dewa tuanku, kami tidak mau”. Mereka punya prinsip bahwa Allah adalah Tuhan yang tidak akan pernah mengecewakan, Dia akan menolong tepat pada waktunya.

Selama kita punya prinsip yang teguh di dalam iman kita, Allah tidak akan pernah mempermalukan anak-anakNya yang berharap kepadaNya.

BANGKIT
:
Artinya bangkit adalah berbuat sesuatu yang baik :

Bagi kita.
Artinya berbuat sesuatu yang baik bagi kita. Kita seringkali berbuat yang jelek dalam hidup kita. Kita hidup dengan emosi, makian, bentakan, dosa, perzinahan, kita buat sesuatu yang tidak baik. Itulah yang membuat kita jatuh, hancur dan binasa serta terhilang.

Bagi orang lain/dunia.
Hidup Kristen harus mulai berbuat sesuatu bagi dunia. Dunia sudah terlampau lama dikuasai oleh kuasa kegelapan. Ini saatnya kita bangkit berbuat sesuatu yang baik bagi dunia.

Bagi pekerjaan Tuhan.
Sementara kita berbuat sesuatu yang benar untuk pekerjaan Tuhan, tanpa kita sadari Allah buat segala yang dahsyat dalam hidup kita.

ANGKATLAH MUKAMU :
Tidak lagi tertunduk.
Mengangkat muka artinya tidak lagi tertunduk. Orang yang berjalan tertunduk adalah orang yang stress dan orang yang malu. Orang malu karena hidupnya gagal, hidupnya tidak benar sehingga harus jalan selalu tertunduk. Hidupnya tertekan, merasa gagal dan merasa tidak punya potensi serta tidak bisa berbuat apa-apa, karena apa yang terjadi tidak seperti yang dia harapkan. Setan telah membuat banyak orang percaya berjalan dalam kondisi tertunduk. Kita tahu Yesus kita dahsyat tetapi kita berjalan tertunduk.

Waktu untuk tertunduk sudah lewat, Allah mengangkat wajah kita. Kita tidak lagi kecewa dengan pergumulan, kita tidak lagi dikuasai rasa malu.

Hidup dalam kebanggaan
Mengangkat muka artinya hidup dalam kebanggaan. Orang yang menatap artinya bangga, dia tidak perlu kecil hati. Kita bangga karena Allah tidak pernah mempermalukan kita, kita bangga bukan kita tidak punya masalah, tetapi dalam setiap masalah, kita punya jawaban. Kita bangga karena ditengah penderitaan kita hari ini, besok kita akan menerima mahkota yang Tuhan sediakan.

Bersukacita untuk janji-janji Tuhan.
Orang yang menangkat muka adalah orang yang bersukacita. Orang yang bersukacita bukan karena kita lihat, tetapi karena ada janji yang dahsyat. Janji Allah tidak seperti janji manusia yang selalu diingkari. Janji-janji Allah adalah ya dan amin.

PENYELAMATANMU SUDAH DEKAT :
Tugas orang percaya adalah berjalan dalam iman dan pengharapan. Kalau kita berada di dalam Kristus, kita tidak usah kuatir. Bapa menggendong kita. Oleh karena itu kita aman dalam genggamanNya.

IV.PENUTUP

Berjuanglah dengan bangkit dan mengangkat muka kita!

Setiap orang percaya, seberat apapun masalah yang kita hadapi, bangkit!, jangan lemah. Angkat muka kita karena Allah tidak akan mempermalukan orang yang berharap kepadaNya (dan)

Bagaimana Allah Menyembuhkan Luka Emosi Kita

5
Bagikan
Penulis : Floyd Mc Lung

Langkah 1: Akuilah kebutuhan Anda untuk disembuhkan… Bagi banyak orang hal ini bukan masalah.Tetapi jika kita terluka dan tidak mengakui bahwa kita mempunya kebutuhan, maka jelas tidak ada tempat untuk kesembuhan atau pertolongan dalam hidup kita.Mengakui kebutuhan kita merupakan suatu tAnda kesehatan mental yang baik dan bukti dari sikap yang jujur.

Setiap orang membutuhkan kesembuhan dan pertumbuhan emosi dan kepribadian.Jangan pikir Anda adalah perkecualian.Kerelaan untuk belajar dan kerendahan hatilah yang akan mengijinkan kesembuhan dimulai dalam hidup Anda.Beberapa dari antara kita bergumul untuk mengakui kebutuhan kita karena takut ditolak.Tetapi sebaliknyalah yang benar;Jika kita mengakui kebutuhan kita, orang lain lebih menghargai kita atas kejujuran kita itu.Kita semua mungkin dapat mengingat suatu saat ketika kita menceritakan kebutuhan itu dan kemudian dilukai seseorang yang tidak menanggapi kita dengan kasih atau bijaksana.Namun janganlah pengalaman itu menahan kita dari kesembuhannyang ingin Allah berikan.Jangan biarkan pengalaman masa lalu menentukan tindakan atau sikap kita untuk masa depan.

Mulailah dengan bersikap jujur dengan Allah.Lagipula Ia mengenal Anda dengan baik sekali dan ia tidak akan menolak Anda.Sesungguhnya Ia rindu dan sedang menunggu Anda untuk bersikap jujur sehingga Anda dapat menerima kasih dan pertolonganNya.Ceritakanlah kepadaNya segala sakit hati, kekecewaan Anda –pokoknya segalanya.

kemudian, Anda dapat membuka diri terhadap orang lain yang dapat membantu Anda mengikuti langkah-langkah kesembuhan ini.Pilihlah seorang teman kristen yang DAPAT DIPERCAYA dan yang mau BERDOA dengan Anda serta MEMBESARKAN hati Anda.

Jika Anda telah berbuat salah terhadap orang lain, Anda juga perlu menemui mereka dan membereskannya .Ini adalah bagian dari pengakuan akan kebutuhan Anda Anda. Kita lakukan ini bukan supaya diampuni Allah, tetapi justru karena kita telah diampuni. Buah hubungan yang benar dengan Allah ialah menghendaki dipulihkannya juga hubungan yang retak dengan orang lain.

John Stot, teolog Anglikan yang terkenal, memberi peringatan yang berharga mengenai bidang ini dalam bukunya, Akuilah dosa-dosamu. Ia bicara tentang lingkaran pengakuan terbuka: dosa tersembunyi, dosa pribadi, dan dosa di depan umum. Kita harus mengakui dosa menurut tingkat kejadiannya. Jika dosanya adalah dosa yang tersembunyi, yaitu dosa hati atau pikiran yang tidak pernah dilakukan atau diucapkan kepada orang lain, maka itu hanya perlu diakui kepada Allah saja. Tentunya Anda bebas mengungkapkannya kepada teman dekat atau saudara seim an karena ingin jujur dan bertanggung jawab tetapi kita tidak harus melakukan hal itu. Itu adalah pilihan kita sendiri. Sesungguhnya kita dapat melakukan hal itu hanya jika kita yakin akan seseorang, dan apabila kita rasa Tuhan memimpin kita secara khusus untuk melakukan hal itu dan jangan sekali-kali karena kita merasa terpaksa melakukannya. Demikianpun kita harus bijaksana dan hati-hati dalam menyampaikannya.

Sungguh tidak bijaksana untuk mengakui dosa kita kepada orang lain. Jika orang terhadap siapa kita berdosa tidka mengetahuinya, jangan bebani orang itu dengan dosa kita kecuali ada alasan yang jelas mengapa hal itu dapat menolong mereka. Jika ragu, carilah dahulu nasihat dari orang-orang yang dewasa rohani.

Ada beberapa dosa yang dilakukan pada tingkat rahasia atau pribadi dalam kehidupan kita yang amat memalukan. Saya percaya harus ada pemulihan dari rasa malu — khususnya untuk dosa-dosa kenajisan dosa seks. Jika kita harus meminta maaf kepada seseorang karena berbuat dosa terhadapnya dengan cara itu, janganlah menguraikannya secara terperinci, atau menggunakan kata-kata yang tidak bijaksana. Katakan seperlunay saja. Akui bahwa Anda mengecewakannya atau berbuat dosa terhadapnya dan mintalah maaf. Itu sudah cukup…

Pedoman yang baik untuk diikuti adalah: Jika bertalian dengan dosa tersembunyi, akuilah kepada Allah; jika menyangkut dosa pribadi, mintalah maaf kepada orang yang bersangkutan; dan jika berhubungan dengan dosa kepada umum, mintalah maaf kepada kelompok bersangkutan.

Sebagai kesimpulan, langkah-langkah untuk kesembuhan dan pemulihan yang utuh bertalian dengan kejujuran akan kebutuhan kita ini adalah sebagai berikut:

Akuilah kebutuhan dan dosa kita. Kejujuran akan mendatangkan kasih karunia Allah ke dalam hidup kita.
Terimalah kasih karunia Allah. Kasih karuniaNya adalah pemberian kasihNya, penerimaanNya dan pengampunanNya bagi kita, dan hal itu membuat kita merasa aman di dalam Dia. Rasa aman itu membangun iman.
Percayalah kepada Tuhan dan orang lain. Iman mendatangkan kepercayaan dan memungkinkan kita mempunya hubungan akrab dengan Allah dan sesama.
Bangunlah hubungan hati ke hati dengan Allah dan sesama. Hubungan tersebut dimungkinkan jika kita telah merendahkan hati. Maka Allah dapat menyalurkan kasih dan pengampunan kepada kita secara pribadi dan di dalam hati kita kepada orang lain. Maka Allah dapat menyalurkan kasih dan pengampunan kepada kita secara pribadi dan di dalam hati kita kepada orang lain.
Kebalikan dari proses ini akan mengarah kepada kepedihan yang lebih besar dan keterlukaan emosi.

Hubungan yang retak. Ketika hubungan menjadi retak, kita sulit mempercayai org lain.
Legalisme. Jika hubungan kita dengan orang lain salah, kita cenderung menghakimi dan mengritik. Kita hidup dibawah “hukum”, bukan dibawah kasih karunia. Hal ini menyebabkan kita tidak mempercayai orang (curiga)
Curiga. Jika kita tidak mempercayai orang lain seringkali kita memproyeksikan kecurigaan itu, dan sebaliknya mereka tidak mempercayai kita. Maka bertumbuhlah suasana penolakan dan tembok diantara kita dan orang lain.
Tembok. Tembok menghasilkan keterpisahan, kebalikan dari hubungan hati ke hati.
Dalam bersikap jujur mengenai kebutuhan kita, pentings eklai untuk membedakan antara dosa, luka hati dan ikatan. Untuk dosa perlu ada pengampunan, untuq luka perlu kesembuhan dan untuk ikatan rohani kita perlu pembebasan. Kadang-kadang kita membutuhkan pertolongan dalam ketiga bidang tersebut.

Anda tidak dapat mengakui luka sebagai dosa, sebab luka bukanlah dosa. Namun, jika sebagai akibat terluka Anda mengembangkan sikap atau respons yang berdosa, meskipun orang lain itu yang bersalah, Allah tetap minta pertanggungjawaban Anda atas respons Anda. Sesungguhnya-Allah tidak menganggap orang itu bersalah 80% dan Anda hanya 20 %, tetapi keduanya , baik Anda maupun orang itu , 100% bertanggungjawab atas perbuatan masing-masing. Jika Anda tidak menerima tanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan Anda, kesembuhan akan terhambat. Mengapa demikian? Jika sikap Anda penuh kekesalan, kepahitan, atau tidak mengampuni, kesembuhan dan pengampunan Allah akan terhambat. “lkarena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang disurga akan mengampuni kamu juga… Tetapi jikalau kamu tidak mengmapuni orang,Bapamu juga tidak akan mengapuni kesalahanmu”(Mat 6:14,15)

Saya ingin menekankan bahwa penting sekali untuk mengakui kebutuhan kita akan kesembuhan dalam hidup kita. SAYA TELAH MELIHAT BANYAK ORANG YANG SIBUK MELAKUKAN PEKERJAAN BAGI TUHAN, tetapi kegiatan mereka DICEMARI OLEH KEINGINAN MEREKA UNTUK MEMBUKTIKAN DIRI, ATAU UNTUK DITERIMA, ATAU UNTUK MENGATASI RASA TIDAK AMAN MENGENAI APA YANG MEREKA LAKUKAN.

Pelayanan kita kepada Allah dan sesama harus mengalir dari rasa aman dan kesejahteraan kita , bukanlah karena ingin membuktikan diri atau ingin menjadi “SESEORANG”. Dalam jangka panjang kita akan mampu bertumbuh semakin dekat kepada Bapa kita yang penuh kasih, kita akan merasa lebih baik mengenai diris endiri, kita akan lebih menikmati pekerjaan kita dan akan menjadi berkat yang lebih besar bagi orang lain JIKA KITA MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK MENERIMA KEUTUHAN DAN KESEMBUHAN BATHIN.

Langkah 2:Akuilah emosi yang negatif

Beberapa diantara kita mengarungi hidup ini dengan mengumpulkan emosi yang negatif. Kita tidak diajar bagaimana mengenali atau MENGKOMUNIKASIKAN perasaan kita, sehingga kita menimbun kemarahan , kekecewaaan, ketakutan, kepahitan, dan emosi negatif lain sejak kanak-kanak. Menindih emosi yang satu diatas yang lain sama seperti menumpuk sampah, lapis demi lapis di dalam kantong sampah. Sesuatu yang akhirnya harus dibuang.

Proses penimbunan emosi yang tidak dapat dikenali dan dikomunikasikan itu menghasilkan akibat-akibat yang tragis, dari tukak lambung(penyakit maag) sampai bunuh diri. Kebanyakan kita tidak diajarkan bagaimana mengatasi kesulitan. Kita bertumbuh secara secara fisik sedangkan batin kita mengalami kemandegan. Kita menyimpan penghalang emosi yang menghalangi kita untuk memberi dan menerima dalam hubungan kita dengan orang lain dan dengan Bapa kita.

Dr. Phil Blakely, menyatakan bahwa untuk menangani masalah ini kita perlu “diuraikan kembali”, yaitu mengeluarkan uneg-uneg yang tertimbun di dalam diri kita. Untuk melakukan hal ini kita memerlukan pertolongan seseorang.

Bagi orang Kristen, itu berarti dimulai dengan DOA. JIKA BUKAN KEPAD561ESUS KITA BERPALING SEBELUM BERPALING KEPADA ORANG LAIN, maka kita TIDAK AKAN PERNAH disembuhkan. Dialah pencipta kita, Dia merindukan kita untuk membagi perasaan dengan-Nya, sebab Ia sangat mengasihi kita

Dr. Phil Blakely, menyatakan bahwa untuk menangani masalah ini kita perlu “diuraikan kembali”, yaitu mengeluarkan uneg-uneg yang tertimbun di dalam diri kita. Untuk melakukan hal ini kita memerlukan pertolongan seseorang.

Bagi orang Kristen, itu berarti dimulai dengan DOA. JIKALAU BUKAN KEPADA YESUS KITA BERPALING SEBELUM BERPALING KEPADA MANUSIA-, maka kita TIDAK AKAN PERNAH disembuhkan. Dialah pencipta kita, Dia merindukan kita untuk membagi perasaan dengan-Nya, sebab Ia sangat mengasihi kita.

Tentu saja, kita perlu berbicara dengan orang lain. Penting sekali untuk membina persahabatan dengan orang lain yang mengijinkan kita untuk bersikap sebagaimana adanya kita, tetapi YANG CUKUP MENGASIHI SEHINGGA MAMPU UNTUK MENEGUR JIKA KITA BERBUAT SALAH.

Menyuarakan emosi itu sendiri bukanlah obat yang manjur. Mengkomunikasikan perasaan HANYALAH membersihkan saluran mental kita sehingga akar penyebab masalah kita dapat ditangani. Jika kita mengungkapkan rasa bersalah yang tertimbun, itu bukan berarti kita sudah menangani penyebab rasa bersalah itu. Disinilah psikologi relativisme gagal. Membuat orang membicarakan perasaan bersalah mereka -akan melegakan mereka. -tetapi dalam jangka panjang-, jika mereka tidak menerima tanggung jawab atas pelanggaran hukum moral Allah, rasa bersalah itu akan muncul kembali(kecuali tentunya jika seseorng memadamkan sama sekali hati nuraninya dan kehilangan kemampuan untuk merasakan apa-apa)

Meskipun emosi itu sendiri bukanlah dosa, emosi dapat menghasilkan sikap berdosa jika diarahkan dengan cara yang negatif kepada Allah, diri sendiri, atau orang lain. Disitulah kita memerlukan norma-norma alkitabiah untuk menilai apakah sikap kita telah berdosa. Jika benar demikian, kita harus menganggapnya tidak sehat atau salah.

Allah tidak bermaksud supaya kita hidup menurut perasaan-atau demi perasaan. Beberapa orang hidup dengan dalih bahwa jika mereka merasa sesuatu itu baik, maka itu pasti baik, dan jika mereka merasa sesuatu itu tidak baik, itu berarti tidak baik. Mungkin saja itu adalah filsafat yang baik, tetapi jelas tidak alkitabiah. Kebenaran yang disingkapkan kepada kita di dalam alkitab itulah yang mengarahkan hidup kita, bukan perasaan. Allah memberi kita kemampuan untuk berperasaan dan maksudNya ialah untuk mendorong kita membuat pilihan yang benar. Jika kita tidak hidup menurut ketetapan Allah, maka kita merusak maksud Allah yang sebenarnya dalam memberi kita perasaan, dan memakai perasaan itu untuk mengukuhkan gaya hidup yang penuh kesenangan dan mementingkan diri. Beberapa orang benar-benar dikendalikan oleh emosi mereka, sedangkan beberapa lainnya sama sekali tidak tahu bahwa mereka sampai kepada titik dimana mereka berpikir bahwa sama sekali tidak menunj ukkan perasaan itu sangatlah “kristiani”. Hal itu bukanlah tAnda kedewasaan atau “kerohanian”. Allah menciptakan kita untuk menjalankan kehidupan yang seimbang dimana kita mengekspresikan dan menikmati perasaan kita, dan bebas memanfaatkanya dengan jujur dan membangun.

Para suami, ayah dan pemimpin rohani dapat menjadi penolong yang sangat berarti dengan mendorong keluarga mereka dan jemaat untuk mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka.

Keinginan kita untuk membimbing seseorang dapat menjadi tidak efektif, atau bahkan merugikan jika mereka yang kita bimbing tidak diberi kesempatan tersebut. Dengan menciptakan peluang bagi mereka yang ada disekitar kita untuk BERLAKU JUJUR, kita dapat membimbing mereka ke dalam hubunga yang lebih akrab dengan Allah. Mereka akan lebih mempercayai kita dan akan merasakan kesungguhan kita terhadap mereka-yang pada gilirannya memberi kita kebebasan untuk berbicara terus terang dalam hidup mereka.

Dimana tidak ada kepercayaan, disitu kita tidak mempunyai otoritas. Dengan memberi kesempatan kepada orang untuk berlaku JUJUR, kita memberi “kasih karunia”. Pada gilirannya hal ini memberi mereka rasa aman untuk berlaku jujur, bukan saja mengenai perasaan mereka, tetapi juga kebutuhan mereka. Jika orang yang kita bimbing mempunyai kecurigaan yang besar terhadap orang lain, khususnya tokoh-tokoh yang berotoritas, mungkin itu karena mereka belum pernah belajar mengungkapkan perasaan dengan jujur dalam suasana kasih dan penerimaan.

Pada suatu petang, isteri Saya -Sally-menceritakan kepada Saya beberapa masalah pribadi yang ia alami. Saya segera mulai memberi nasehat. Saya tidak akan melupakan responsnya terhadap Saya,”Aku tidak datang kepadamu supaya kamu menasihatiku dan berkhotbah kepadaku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Jika kamu menasihatiku, rasanya kamu tidak mendengarkan atau memperdulikanku. Aku butuh seseorang yang mau mendengarkanku. Jika aku tidak dapat berbicara kepadamu, lalu aku harus berbicara kepada siapa? ”

Hari itu saya ambil keputusan untuk menjadi jenis suami yang memberi kebebasan dan rasa aman kepada Isteri (dan juga kepada orang lain dalam hal tersebut) — untuk mengungkapkan perasaan mereka tanpa rasa takut dihakimi, dikhotbahi atau diserang.

Untuk memutuskan lingkaran penindasan emosi dan kecurigaan ini, mintalah Allah untuk memberi seorang tokoh yang memberi dorongan untuk berlaku jujur mengenai perasaan Anda. Juga , ampunilah mereka yang di masa lalu tidak memberi Anda kebebasan untuk itu. Motivasi Anda untuk mengungkapkan perasaan seharusnya BUKAN untuq meyakinkan orang lain terhadap pAndangan Anda melainkan untuk berlaku jujur. Kejujuran Anda HARUS timbul dari keinginan untuk mengakui emosi yang negatif sehingga Anda menjadi orang yang dikehendakiNya.

Jika kita pernah disakiti oleh seorang tokoh yang berotoritas, atau berselisih dengan mereka, kita wajib mencari Allah terlebih dahulu sebelum kita datang kepada mereka, Jika setelah berdoa kita masih tidak memahami keputusan yang mereka buat, maka kita dapat meminta mereka untuk menerangkan pAndangan mereka itu.

Kita bebas untuk tidak sependapat dengan seorang pemimpin, tetapi kita tidak boleh membiarkan hal itu mempengaruhi sikap kita terhadapnya. Kita dapat berbeda pendapat tanpa menghakimi atau memutuskan hubungan. Perpecahan tidak pernah terjadi karena perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat YANG MEMBANGUN adalah sehat. Pada saat perbedaan pendapat menyebabkan kritik atau penghakiman, maka perpecahan dapat terjadi. Setiap masalah yang mengancam kesatuan dapat diatasi dengan kerendahan hati dan pengampunan yang lebih besar. Allah sangat mempedulikan sikap hati kita, juga menolong kita bertumbuh dengan bersikap terbuka dan jujur mengenai perasaan kita.

Langkah 3: Ampuni mereka yang TELAH menyakiti Anda

Mengampuni bukanlah sekedar melupakan kesalahan yang dilakukan seseorang terhadap kita, juga bukan semacam perasaan rohani yang mistique. Mengampuni berarti memaafkan orang untuk kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengampuni berarti menunjukkan kasih dan penerimaan meskipun disakiti.

Mengampuni seringkali merupakan proses dan bukan suatu tindakan “sekali jadi”. Kita terus mengampuni SAMPAI rasa sakit itu hilang. Semakin dalam lukanya, semakin besar pengampunan itu diperlukan. Sama seperti seorang dokter harus membersihkan luka di tubuh kita dan menjaga agar jangan sampai terkena infeki supaya dapat sembuh dengan baik, begitu pula kita harus menjaga kebersihan luka-luka batin kita dari kepahitan supaya luka-luka itu juga dapat sembuh. SETIAP KALI ANDA TERINGAT ORANG TERTENTU DAN MERASA SAKIT, AMPUNILAH DIA. Katakan saja kepada Tuhan bahwa Anda memilih untuk mengasihinya dengan kasih-Nya. Terimalah kasihNya untuk orang itu dengan IMAN. Lakukanlah hal itu setiap kali Anda teringat orang tersebut sampai Anda merasa benar-benar sudah mengampuninya.

Pengampunan Allah terhadap kita harus menjadi motivasi kita untuk mengampuni. Jika Anda merasa sukar mengampuni orang lain cobalah pikirkan sejenak seberapa banyak Dia TELAH mengampuni Anda. Jika Anda merasa tampaknya tidak banyak, maka mintalah kepadaNya untuq menyingkapkan hidup Anda sebagaimana Ia melihatnya. Ia akan menjawab doa Anda JIKA Anda berseru kepadaNya dengan sungguh-sungguh.

Langkah 4: Terimalah Pengampunan.

Jika Anda telah disakiti oleh orang lain dan telah berdosa dalam reaksi Anda terhadap mereka, maka penting sekali tidak hanya untuk mengampuni mereka yang menyakiti Anda, tetapi juga minta ampun kepada Allah atas tindakan Anda yang salah terhadap mereka. Jika Anda lakukan ini, mungkin Anda akan merasakan suatu kebutuhan untuk MENGAMPUNI DIRI SENDIRI. Ada kalanya, musuh terbesar kita adalah kegagalan kita sendiri. Sering kali kita lebih keras terhadap diri sendiri daripada terhadap siapapun. Jika Anda mengalami kegagalan, curahkanlah rasa gagal itu kepada Tuhan didalam doa, akui dosa Anda, dan katakan kepadaNya bahwa Anda TELAH mengampuni diri sendiri. Setiap kali rasa gagal itu muncul berterima kasihlah kepada-Nya buat pengampunan-Nya.

Ada perbedaan besar antara penyesalan terhadap dosa dan penghukuman. Penghuan 562berasal dari suatu perasaan gagal. Penyesalan IALAH karena kita telah berdosa. Penyesalan itu spesifik dan jelas, dan berasal dari Tuhan, penghukuman itu samar-samar dan umum, dan berasal dari diri kita sendiri atau iblis.

Jika Anda telah berbuat dosa, tetapi Anda tidak yakin, mintalah supaya Tuhan supaya Tuhan memberi penyesalan. Sebagai Bapa yang penuh kasih Ia akan mendisiplin Anda. JIka penyesalan itu tidak datangsementara Anda menanti dihadapanNya dalam doa, bersyukurlah kepadaNya atas kasihNya dan pengampunanNya dan lanjutkan kegiatan Anda pada hari itu. tetaplah terbuka bagiNya untuk menunjukkan sikap salah apapun pada diri Anda, tetapi jangan menjadi lumpuh oleh sikap mawas diri(introspeksi). Jangan berkubang dalam perasaan kasihan pada diri sendiri. Hal itu sangat merusak.

Jika Anda mempunyai sikap yang salah terhadap siapapun yang telah menyakiti Anda, maka penting sekali mengakui hal itu kepada Allah. Tetapi hati-hatilah: kasihan diri DAPAT menjadi TIRUAN dari pertobatan yang sejati.

Menangani bagian kita dalam suatu masalah, seringkali melepaskan Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang lain. Bahkan jika hal itu tidak terjadi, kita tetap mempunyai TANGGGUNG JAWAB untuk menjaga hati kita bersih di hadapanNya. Jika Anda menjadi kritis…, keras hati, iri, membangkang, sombong, enghakimi, atau pahit hati, maka Anda perlu berurusan dengan respons Anda. Jika Anda rendah hati di hadapanNya, Ia akan mengampuni dan menyebuhkan luka-luka Anda. ADA KESEMBUHAN MELALUI PENGAMPUNAN.

Langkah 5: Terimalah kasih Bapa…

Di dalam hidup kita ada kekosongan yang hanya dapat diisi oleh Allah sendiri. Ketika Anda berdosa dan minta ampun, atau bergumul dengan rasa tidak aman dan rendah diri, maka ada kemungkinan bahwa KEKOSONGAN ITU TIDAK PENUH. Mintalah kepadaNya pada saat-saat tersebut untuk memenuhi Anda dengan Roh-Nya. Lawanlah kesadaran untuk berpusat pada diri sendiri dengan berpusat kepada-Nya. Perlu saya tekankan betapa pentingnya langkah ini dalam proses kesembuhan. Kasihna diri dan berpusat kepada diri sendiri mendukakan Roh Kudus.

Pusatkan pikiran dan doa Anda pada karakter Allah dan berbagai aspek dari hati Bapa. Sembah Dia:Bicaralah kepadaNya, pujilah Dia, dan pikirkanlah Dia. Renungkan kesetiaanNya, kekudusan-Nya, kemurnian-Nya belas kasihan-Nya, kemurahan-Nya, pengampunan-Nya.

Mengembangkan sikap menyembah merupakan bagian vital untuk menerima kasih Allah. Kembangkan sifat tersebut diatas segalanya. Hafalkan ayat-ayat atau lagu-lagu yang memerangi kesepian dan kehilangan semangat. Penyembahan adalah pintu masuk ke hadirat bapa yang menjauhkan Anda dari depresi dan kasihan diri. Ada orang yang mengatakan bhw mereka tidak dapat menyembah Allah jika mereka tidak merasakan keinginan itu, sebab hal tius ama saja dengan kemunafikan. Jawaban saya adalah bahwa kita tidak menyembah Allah karena apa yang kita rasakan, tetapi karena siapa Dia. Saya sering menyembah Allah karena apa yang kita rasakan, tetapi karena siapa Dia. Saya sering menyembah Allah, bagaimanapun perasaan Saya. Saya tidak mau menjadi seorang tawanan perasaan Saya , jadi saya tetap menyembah Dia. Jika Saya merasa susah hati, Saya berusaha mengungkapkan perasaan Saya dengan jujur, tetapi kemudian Saya berfokus kepada siapa Dia dan bukan kepada apa yang saya rasakan.

Apakah Anda mau menerima kasih Bapa? luangkanlah waktu Anda dihadirat-Nya. Kita bermandikan kasih-Nya ketika menghabiskan waktu bersama-Nya dan meberi kepada-Nya. Apa yang dapat kita berikan kepada-Nya? melalui perkataan dan pikiran kita dapat memberi kepadaNya hormat, perhatian, pujian dan penyembahan. Jika hal ini sulit bagi Anda, selidikilah alkitab dan garis bawahi ayat-ayat yang bicara secara khusus tentang sifat dan karakter Allah. Mazmur adalah bagian yang terbaik untuk memulai. Lalu berdoalah dan nyanyikanlah ayat-ayat tersebut kepada Bapa pada waktu Anda berdoa. Jika Anda lakukan ini setiap hari, Anda akan mendapati diri Anda semakin mengasihi Bapa. Anda akan merasakan kehadiran-Nya yang akrab di dekat Anda sebagai tanggapan atas kata-kata pujian Anda. Jangan terkejut apabila Ia mengutarakan kata-kata penghargaan, persetujuan dan kasihNya sepanjang hari. Ia senang mengasihi anak2-Nya.

6. Pikirkanlah pikiran Allah.

Sebagai tanggapan terhadap hal-hal yang menyakitkan , khususnya sebagai kanak-kanak , kita membangun kebiasaan berpikir yang merusak tentang diri sendiri. Misalnya -jika orangtua Anda perfeksionis dan sangat menuntut, mungkin Anda sering gagal untuk hidup menurut harapan mereka. Orang yang dibesarkan dengan cara semacam itu seruingkali “memprogram diri sendiri” untuk gagal. Dengan menentuka sebelumnya bahwa mereka akan gagal, mereka berusaha melindungi dirimereka dari kekecewaan. Sayangnya dugaan seperti itu seringkali menjadi kenyataan. Pola berpikir yang negatif seperti itu sering tidak akurat dan dilAndasi oleh ketakutan atau penolakan. Jika kita berpikir kita jelek, kita bukan saja merasakannya demikian, kita juga akan bertindak demikian.

Alkitab mengatakan bahwa kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita, dan bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri sendiri (Im 19:18, Mat 19:19). Allah ingin supaya kita mengsihi diri sendiri, bukan secara egois, tetapi dengan kasih-Nya. Ia ingin supaya kita berpikir menurut pikiran-Nya tentang diri kita-pikiran yang penuh kebaikan, penghargaan, hormat dan kepercayaan.

Jika Anda mempunyai pola berpikir negatif tentang diri sendiri, saya sarankan agar Anda berhenti sekarang dan menulis dua atau tiga cara berpikir negatif yang paling umum bagi Anda. Setelah itu, tulis pikiran Allah terhadap diri Anda yang berlawanan dengan pikiran negatif itu berdasarkan firman atau sifat-Nya. Misal-nya jika Anda menulis bahwa Anda berpikir Anda akan selalu gagal, tulislah: “Saya ahli dalam… ” dan sebutkan satu hal yang Anda lakukan dengan baik. Tuliskan juga apa yang dikataklan Alkitab tentang bidang kehidupan Anda tersebut. Misalnya Flp 4:13, ” Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. “Setiap kali Anda mulai berpikir negatif, berhentilah dan ucapkanlah pikiran yang positif bersamaan dengan ayat dari alkitab. Diperluka waktu tiga(3) minggu untuk mematahkan suatu kebiasaan buruk dan menggantinya dengan yang baik. Katakan terus kebenaran kepada diri sendiri sampai Anda menghancurkan pola berpikir yang negatif tersebut…

Jangan menyerah kepada kebohongan dan pikiran yang menghukum. Bertekunlah — dengan pertolongan-Nya Anda dapat melakukannya. Berserulah kepada-Nya setiap kali Anda gagal, dan mulailah lagi… Pernahkah Anda perhatikan did alam alkitab bagaimana Allah sering mengulang-ulang suatu kebenaran ketika Ia berusaha memberi semangat kepada seseorang ? Dalam Yosua 1, Tuhan berkata empat kali kepada Yosua supaya jangan takut… Mengapa? Karena Yosua perlu diingatkan untuk berpikir menurut pikiran Allah tentang dirinya. Ia siap untuk maju berperang dan ia perlu diberi semangat. Saya yakin ia pasti mengulang-ulang firman Tuhan ini kepada dirinya sendiri.

Penyebab depresi yang paling umum ialah memikirkan pikiran-pikiran yang merendahkan diri dan menghukum diri. Untuk mematahkan lingkaran depresi ini kita perlu mengikuti langkah-langkah yang telah saya ikhtisarkan diatas, lalu menjadi muak dan jenuh karena menjadi jenuhn dan muak. Kita harus mematahkan kebiasaan berpikir negatif dengan memikirkan pikiran Allah.

Prinsip ini juga berlaku bagi reaksi yang melampaui pikiran dan sampai pada tindakan. Jika Anda menyadari adanya “pola reaksi” tertentu dalam hidup Anda yang negatif, defensif atau egois, tuliskanlah semua itu. Lalu tulis disampingnya bagaimana Allah ingin Anda bereaksi dalam situasi yang menyebabkan Anda merasa terancam atau defensif. Jika Anda bertindak dengan cara yang negatif atau egois, berhentilah dan berdoalah; kemudian pilihlah cara berespons yang Allah kehendaki agar Anda lakukan.

Mintalah supaya Ia memberi Anda kesanggupan untuk mewujudkan pikiran dan pilihan ini. Jika Anda gagal, mintalah ampun kepada-Nya dan lanjutkan usaha Anda. Jika iblis mengatakan Anda telah gagal lagi, setujui hal itu, tetapi katakan kepada iblis bahwa Anda menolak untuk mengasihani diris endiri!. terimalah tanggung jawab atas kegagalan Anda, minta ampun kepada Allah atau minta bantuan-Nya, dan lanjutkan usaha Anda! Terus kerjakan sampai Anda membangun kebiasaan baru yang benar. Bertahun-tahun Anda mengembangkan kebiasaan buruk, jadi jangan menyerah karena memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuq menggantinyadengan pola Allah. Mulailah dengan satu atau dua kebiasan pada saat yang bersamaan, dan kemudian yang lainnya. Jika kita lakukan apa yang mungkin, Allah melakukan apa yang tidak mungkin bagi kita.

Langkah 7: Bertekun…

Sembilan puluh persen dari keberhasilan ialah menyelesaikan! Alkitab berkata, “Jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia”(2 Tim 2:12). Ketekunan mempunya dua aspek: di satu sisi ketekunan berarti komitmen di pihak kita untuk tidak menyerah, suatu tekad untuk mengerjakanya sampai tunt disis563i lain ketekunan berhubungan dengan kesanggupan yang diberikan Allah. Allah memberi kasih karunia kepada kita untuk dapat menyelesaikannya apa yang Ia perintahkan untuk kita lakukan. PerintahNya juga merupakan janji kemenangan-Nya.

Kadang-kadang, mungkin Anda merasa tidak sangggup untuk bertahans ampai akhir. Mungkin itu memang benar !. Tetapi jika kita mencapai akhir dari apa yang mungkinbagi kita, maka kita akan melihat Allah melakukan apa yang tidak mungkin. Iman tidak dimulai sebelkum kita percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. KITA TIDAK MEMERLUKAN IMAN UNTUK MELAKUKAN APA YANG MUNGKIN BAGI KITA. Jadi, ketika kita menghadapi situasi yang tidak mungkin dalam hidup kita, pujilah Allah, sebab pada saat itulah Anda dapat mempraktekkan iman Anda.

Mengapa ketekunan itu merupakan salah satu langkah proses kesembuhan Allah dalam hidup kita? Menyerah membuat kita menjadi rentan terhadap perasaan jengkel, marah atau terluka, tertolak, nafsu, curiga atau apa saja yang memngganggu kita. Kadang-kadang kita ingin Allah melakukan mujizat dan mengangkat segala kesulitan kita sekarang juga. Akan tetapi, Bapa membawa kita melalui suatu proses yang menyiapkan kita untuk pada akhirnya memerintah bersama-Nya di surga. Karena Ia ingin membentuk dan menyempurnakan kita, Ia ijinkan kita mengalami pencobaan yang “memaksa kita” untuk membuat pilihan.

Sebagaimana dikatakan kawan saya, Joy Dawson, “Bagimana kita menyelesaikannya itulah yang penting!” Rasul Paulus mengatakan dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus, “Tidak tahukah kmau, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhNya, supaya sesudah aku memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak”(I Kor9:24-27)

Ada saatnya kita gagal, tetapi ketika kita mengakui dosa-dosa kita, berpaling darinya dan memilih untuk membenci dosa sebagai tindakan iman, kita akan menerima pengampunan Allah dan suatu permulaan yang baru. Dialah Allah dari segala permulaan yang baru. Bagian kita ialah merendahkan hati dan berpaling dari dosa atau kegagalan; bagianNya ialah mengampuni kita dan memberi kita suatu permulaan yang baru. Ia senang melakukan hal ini, sebab Ia adalah Bapa kita dan Ia adalah kasih.

Ia sedang bekerja dalam diri Anda. Pergumulan adalah bagian dari proses kesembuhan yang berkemenangan. Anda sedang belajar sesuatu yang tak ternilai kerendahan hati; pengampunan; belas kasihan dan ketekunan. Majulah terus! Kita sedang berperang, tetapi kita ada di pihak yang menang! Yesus adalah Sang Pemenang!. Akan hal ini aku yakin sepenuhnya yaitu Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”(Flp 1-6)

Allah sedang mencari orang-orang yang dapat memenuhi maksud-Nya yang mula-mula ketika Ia menciptakan umat manusia. Ia menghendaki persahabatan dengan kita. Dan Ia tidak menghendaki persahabatan dengan sekelompok orang yang egois; tujuan-Nya ialah mempersatukan mereka semua yang mengasihiNya ke dalam satu keluarga. Begitulah, ketika orang mengasihi-Nya. Ia mengumpulkan mereka bersama untuk menikmati persahabatan yang mendalam, saling mempedulikan dan mendukung dan merayakan kasih, pengampunan dan kesempurnaan yang Ia berikan kepada mereka. “unit keluarga” inilah yang seharusnya menjadi gereja.

Keluarga Bapa

Disamping langkah-langkah yang dapat kita ambil sebagai perorangan, “keluarga Bapa” juga merupakan saluran kasih-Nya dan kesembuhan bagi orang-orang yang “terluka”. Ketika kita saling mengasihi, menerima dan mengampuni sebagai saudara dalam Kristus, maka kasih-Nya akan mengalir melalui kita untuk menyembuhkan satu sama lain.

Melalui saudara-saudara kita dalam keluarga Allah, Ia menyediakan kasih dan penerimaan yang memerdekakan kita dari ketakutan, dan mengijinkan kita untuk mengalami keutuhan yang lebih sempurna sebagai manusia. Kita dapat berkomitmen kepada orang lain tanpa merasa takut untuk ditolak. Kita dapat menerima orang lain meskipun mereka mempunyai kelemahan. Kita bahkan sanggup mengampuni orang-orang yang menyakiti. Kita dapat menjadi sebagaimana adanya kita tanpa takut ditolak. Semua itu adalah karena kasih karunia Allah. Kasih akrunia-Nya, kasih yang tidak layak kita terima inilah yang melakukan semua itu bagi kita. Dalam diri kita sendiri, kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengasihi seperti itu, tetapi Allah memberi kesanggupan itu. Dari diri kita sendiri kita tidak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan orang lain, tetapi melalui kita Ia menyembuhkan orang lain. SETIAP orang Kristen mempunyai pelayanan ini. Kita SEMUA dapat menjadi “penyalur kasih karunia”.

Sampai disini pentings ekali untuk memberi sedikit peringatan. Jika kita terluka, BERHATI-HATILAH supaya kita tidak berFOKUS kepada ORANG sebagai “sumber” kesembuhan dalam hidup kita. Manusia tidak dapat memberi apa yang hanya dapat diberi apa HANYA dapat diberi oleh-Nya. Jika Anda ingin disembuhkan orang, Anda akan mudah kecewa.

Pusatkanlah perhatian Anda pada Bapa Surgawi; Dialah satu-satunya yangs anggup menyembuhkan Anda secara total. Seringkali Ia melakukan-nya melalui orang, tetapi Dia-lah sumbernya dan manusia hanyalah saluran-Nya.

Kesembuhan emosional hampir senantiasa merupakan proses. Proses itu memerlukan waktu. Ada alasan yang sangat penting untuk itu:Bapa Surgawi kita tidak saja ingin membebaskan kita dari sakitnya luka-luka masa lalu. Ia juga rindu membawa kita ke dalam kedewasaan, baik secara rohani maupun secara emosional. Ini memerlukan waktu dan pilihan-pilihan yang benar. Ia cukup mengasihi kita untuk MEMAKAI WAKTU berbulan-bulan dan bertahun-tahun yang diperlukan, tidak saja untuk menyembuhkan luka-luka kita, tetapi juga untuk membangun karakter kita.

TANPA PERTUMBUHAN KARAKTER — kita akan terluka lagi. Kita akan melakukan hal-hal bodoh dan egois yang akan melukai kita atau memancing orang lain untuk menyakiti kita. Karena Allah mengasihi kita, ia menunggu sampai kita menginginkan pertumbuhan karakter semacam itu; Ia menunggu SAMPAI kita menginginkan pertumbuhan karakter semacam itu; Ia menunggu sampai kita siap untuk disembuhkan. Seringkali, tanggapan kita yang benar terhadap orang lain -akan melepaskan kesembuhan itu di dalam hidup kita sendiri.

NOTE:PEDOMAN UNTUK MEMILIH SEORANG PSIKOLOG ATAU PENASIHAT.

Sayang sekali, banyak orang Kristen yang tulus menjadi korban dari orang yang kurang cakap yang menyebut diri sebagai counselor/penasihat. Seorang counselor atau penasihat yang terlatih dapat sangat membantu, tetapi penting sekali untuk memastikan bahwa mereka adalah orang yang memenuhi syarat dan pendukung iman Kristen. Dibawah ini ada 3 pedoman dasar untuk diikuti ketika memilih seorang counselor atau psikolog

Cara terbaik untuk memilih seorang penasihat atau psikolog ialah dengan mengAndalkan referensi dari seorang pemimpin gereja yang dihormati, dokter keluarga, atau teman yang telah mempunyai kontak sebelumnya dengan ahli tersebut dan mengenalnya secara pribadi. Para ahli yang berkompeten tidak akan merasa terancam jika seorang calon pasien menelepon dan dengan bijaksana menanyakan kualifikasi mereka, orientasi teoritis mereka, pengalaman mereka dengan masalah yang sedang dihadapi, dan jenis lisensi yang mereka miliki. Bayaran sebaiknya dibicarakan sebelumnya.

Jangan harapkan para counselor/psikolog memenuhi peran para pemimpin rohani, tetapi para ahli tersebut dapat menjadi efektif dalam proses penyembuhan sesuai keahlian mereka

Apakah Anda Merasa Kesepian?

6
Bagikan
Penulis : Mang Ucup

Dunia itu pintu gerbang, Ke seribu gurun bisu dan dingin” Demikianlah bunyi kalimat bait ketiga dari sajak Friedrich Nietzsche berjudul “Kesepian” dan kalau direnungkan ini banyak benarnya oleh sebab itulah untuk menghibur diri yg sedang kesepian ini saya mendengarkan lagu “Pria Kesepian” dari Sheila On 7. Siapa tahu ada pembaca baik hati yang bersedia membantu untuk menghibur mang Ucup yg sedang lonely !

Problem utama dari kebanyakan orang di dunia ini ialah kesepian. Apakah Anda mengetahui kebanyakan orang yg dtg kepada para pembimbing agama mereka, karena mereka mempunyai problem kesepian atau tidak mendapatkan kasih sayang maupun penghargaan? Apakah Anda mengetahui bahwa lebih dari 70% orang bunuh diri, karena merasa kesepian? Rasa kesepian dapat membuat orang jadi depresif, sehingga akhirnya mereka terjerumus jadi pecandu alkohol, maupun drugs.

Kesepian (lonely) bukannya berarti seorang diri (alone), sebab di dlm dunia yg penuh hiruk pikuk dan hingar bingar sekalipun, ternyata banyak sekali orang yg merasa kesepian, padahal seharian penuh, kita menerima puluhan email, maupun SMS, tetapi kenyataannya ini semua tidak dapat mengusir rasa kesepian. Disamping itu kebanyakan dari kita sudah memiliki HP jadi sebenarnya rasa kesepian itu tidak harus ada, walaupun demikian banyak orang yg merasa kesepian, merasa ditinggal sendirian, haus akan rasa kasih, rasa kehilangan dsb-nya.

Menurut psikolog, rasa kesepian itu berasal dari dalam hati. Sehingga lingkungan kerja yg sibuk dan teman2 di sekelilingnya sekalipun, tidak akan mampu mengusir rasa sepi. Di kota2 besar, rasa kesepian ini banyak melanda para wanita karier dan profesional muda. Meskipun mereka memiliki aktivitas yg cukup padat dan setiap hari selalu bertemu dengan banyak orang, ada perasaan sunyi di sudut hatinya. Rasa kesepian tidak bisa dihilangkan dgn uang.

Rasa kesepian bisa saja timbul, walaupun kita sudah memiliki pasangan hidup, keluarga, pekerjaan maupun memiliki banyak sahabat. Bahkan Ratu Belanda – Beatrix sendiri pernah mengungkapkan bahwa ciri jabatan dari seorang Ratu adalah “Kesepian namun tidak pernah sendiri”. Kesepian itu bukannya, karena tidak ada orang disekitar kita, tetapi di dalam hati maupun perasaan kita merasa se-akan2 mereka tidak membutuhkan mau memperhatikan kita lagi. Tiap orang membutuhkan atensi maupun kasih sayang!

Tetapi yang paling mengerikan adalah saat kita justru kesepian ketika kita bersama orang yg kita cintai, tetapi sayangnya kita tak bisa `menyentuh�nya, karena ia sedang sibuk entah dgn acara TV maupun hobi/pekerjaannya.

Kesepian adalah salah satu bentuk kesedihan. Kata kesepian itu berasal dari akar kata “sepi” yg dlm kamus sering di definisikan sebagai “tanpa teman, tersisih … sendirian. Sedangkan kata sifat “sendirian” berarti “Merasa tersisih, karena tidak ada yg menemani”. Kesepian sering kali memanifestasikan diri dlm bentuk rasa sakit, rasa hampa, dan efek samping yg lebih gawat lagi ialah sering kali berbentuk depresi yg mendalam sampaikan menyebabkan bunuh diri.

Dan apakah Anda tahu bahwa kesepian itu bisa jadi pemicu potensial penyebab penyakit jantung koroner ataupun kanker. Suatu penelitian bahkan pernah mengatakan bahwa pada tahun pertama setelah ditinggal mati oleh orang yg kita kasihi, maka risiko faktor angka kematian akan meningkat tujuh kali lipat jauh lebih tinggi.

Sehingga banyak orang yg mengajukan pertanyaan: “Where is God, when I am lonely?” pasti jawabannya ialah “Right beside you!”, walaupun kita tidak merasakannya, Tuhan selalu hadir di dalam kesepian kita, karena kasih Nya, Ia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan apapun juga kita berada.

Tuhan menciptakan dunia dan alam semesta ini dlm keadaan sempurna, tetapi kenyataannya masih saja ada yg kurang dan yg “tidak baik” ialah “rasa kesepian”. Oleh sebab itulah problem kesepian itu adalah problem dunia dan problem manusia yg pertama yg diatasi oleh Allah

Kej 2:18, 21-22 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” …Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Filsuf Jerman, Nietzsche, melukiskannya begini “Kurangnya cinta terhadap diri sendiri menyebabkan kesepian sehingga menjadi penjara yg paling berat bagi manusia”. Dan kuncinya hanya bisa dibuka dari dalam ialah oleh diri kita sendiri.

Setiap orang yg merasa kesepian harus berani mengambil keputusan: “Apakah saya mau membayar harga untuk mengubah situasi kehidupan saya ini? Pertama dgn belajar mengasihi orang lain terlebih dahulu dan berhenti menaruh belas kasihan terhadap diri sendiri. Kasih itu seperti gema, pasti ia akan balik kembali !

Bahkan ini sebenarnya sudah merupakan hukum Allah dimana kita diwajibakan: “Kasihilah sesama manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” (Roma 13:9), tetapi sayangnya banyak manusia mempunyai pandangan seperti yg dianut oleh punjangga besar Rusia Dostoyevsky, dimana ia mengutarakan: “Saya mengasihi umat manusia secara keseluruhan, hanya sayangnya saya membenci manusia secara perorangan”, dlm hal ini ia mempunyai pandangan yg sama seperti juga yg ditulis oleh Jean-Paul Sartre dlm bukunya “Neraka adalah orang lain.” (L’enfer, c’est les autres).

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.

Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”.

Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”.

Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya.

Kita lihat burung tetap optimis akan makanan yang dijanjikan Tuhan.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.

Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah.

Suatu waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan.

Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.

Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari makan. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan epalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ?

Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi?

Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa. Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar banyak dari burung dan cacing.

Akibat Dosa dalam Berpacaran

5
Bagikan
Penulis : Pdt. Dr. Jonathan A. Trisna, M.Psi

Persetubuhan pertama yang disertai dengan perasaan berdosa ini biasanya sangat mengecewakan. Mungkin mereka melakukannya dengan tidak bebas, takut dilihat orang, dan disertai dengan rasa bersalah. Semestinya hubungan seks itu dilakukan dengan santai untuk dinikmati, karena seks adalah ciptaan Allah yang harus dilakukan dengan kesucian dan kemurnian hati.
Ada 2 akibat dari dosa tersebut, yaitu:

Akibat Langsung bagi si Gadis

Peristiwa pertama disertai dengan rasa sakit, bukan hanya takut, cemas, atau rasa berdosa. Bagi seorang istri yang ingin sungguh-sungguh menikmati seks, biasanya ada waktu untuk penyesuaian. Si Gadis yang kini sudah tidak perawan lagi itu pulang dengan rasa takut, cemas, mungkin menangis dan mulai membenci pacarnya. Sebelumnya, pacarnya dianggap sebagai pria idamannya, namun sekarang semua telah berubah. Gambaran di atas menggambarkan perubahan perasaannya. Sebelum dosa persetubuhan dilakukan, ia sangat mencintai pacarnya – meskipun sebagian besar dengan cinta eros. Setelah perbuatan dosa itu, cintanya berkurang – bahkan mulai membenci – atau menjadi lebih banyak bencinya daripada cinta yang semula.
Apa yang digambarkan di novel-novel murahan dan tidak realistis itu justru 2menceritakan cintanya pada pacarnya akan menjadi menggebu-gebu. Perubahan ini juga bisa dialami oleh pria. Alkitab sebagai buku yang realistis menggambarkan hal ini juga (tidak berarti si Pria meninggalkan si Gadis karena muak dan benci, karena hal itu mutlak akan terjadi). Ada di dalam kitab 2 Samuel 13:1-17.

Akibat Jangka Panjang

Ada dua kemungkinan kelanjutan dari perbuatan dosa itu, yaitu:

Hubungan mereka putus.
Karena kehilangan penghargaan dan timbul kebencian terhadap pacar, kemungkinan hubungan mereka akan putus. Kemungkinan ini lebih besar lagi apabila mereka masih remaja. Lalu, jika hubungan itu putus, siapa yang akan rugi besar? Tentunya si Gadis. Dan si Pria merasa untung, pergi tertawa dan bersiul-siul mencari teman baru. Kalaupun ia menyesal dan tidak tertawa-tawa, tidak ada ‘bekas’ padanya secara fisik yang merugikan hubungannya dengan teman wanitanya yang lain.
Hubungan yang dilanjutkan sampai menikah.
Perbuatan dosa pada masa lalu ini akan sangat merugikan si Gadis dan hubungannya dengan pria lain di masa nanti. Maka timbullah pertanyaan, “Apakah ia harus memberitahu kepada calon suaminya?” Memang pada abad ke-20 ini, pria-pria kita masih mengikuti standar ganda masyarakat. Harga diri pria memang rapuh, mudah retak. Ia perlu yang terbaik. Pikirannya kelak akan dihantui bahwa istrinya ‘bekas’ orang lain. Memang agak kekanak-kanakkan, tapi banyak pria yang tidak dapat melupakan hal itu.
Sungguh-sungguh memerlukan seorang yang benar-benar dewasa kepribadiannya untuk 2mengatasi shock dan kecewanya. Perlu juga pria yang rela mengampuni dan dapat melupakan masa lalu tunangannya. Jika sang Pria, tidak dengan kedewasaan Kristus, menerima si gadis ‘bekas’ namun tetap memaksakan diri untuk menikahinya (enta8h karena ia cantik, kaya, penting untuk karirnya, atau gengsi – ‘Bukankah saya orang Kristen, jadi harus menerimanya?’), akibatnya akan tampak setelah mereka menikah. Ia tidak akan menghargai dan memiliki respek terhadap istrinya. Ia akan menggunakan masa lampau istrinya sebagai senjata untuk ‘mengalahkan’ istrinya.

Lebih baik tidak usah menikah, daripada menikah tapi tidak dihargai. Pernikahan seperti ini kemungkinan besar akan diracuni oleh perbuatan dosa masa lalu itu. Akibatnya mereka tidak saling mempercayai secara penuh dan ada rasa cemburu. Apabila mereka bertengkar, dosa masa lampau itu juga akan mewarnai dan mempertajam perselisihan itu.

Dalam situasi pernikahan yang parah seperti ini, mereka sangat memerlukan konseling yang dalam. Mereka patut meminta ampun untuk dosa-dosa mereka kepada ALLAH dan pada partnernya. Mereka perlu saling mengampuni, melupakan dosa itu dan menerimanya partnernya sebagaimana adanya. Mereka membutuhkan kasih Ilahi yang dewasa. Tentunya tidak semua pernikahan yang dimulai dengan dosa persetubuhan sebelum menikah berakhir seperti ini, tapi sangat lebih baik mencegah hal-hal tersebut di atas, supaya muda-mudi itu memasuki pernikahan dengan hati yang cerah dan kasih yang tidak dicemari ketidakpercayaan dan perasaan suci.

8 Dusta Pornografi

Bagikan
Kebohongan adalah dasar utama dari godaan pornografi yang mengarah pada kecanduan. Iblis sendiri adalah “bapa segala pendusta”. Didalam Yohanes 8:44, Yesus mengatakan bahwa “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”.

Pertama kali manusia dibohongi oleh iblis untuk berbuat dosa ialah di taman Eden terhadap Hawa. Iblis kemudian selalu menggunakan banyak hal yang menarik mata kita, padalah dibalik semuanya itu hanya ada dusta. Anak muda yang belum menikah dibohongi dengan pernyataan bahwa pornografi dan seks diluar nikah adalah hal biasa yang tidak menimbulkan konsekuensi apapun. Dari situlah anak-anak muda mulai jatuh dalam dosa ini dan terperangkap didalamnya.

Ada baiknya kita mengenal semua dusta dan kebohongan iblis serta menghancurkannya dengan kebenaran. Yohanes 8:31-32 menyatakan “Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Karena itulah kita harus terbiasa dengan Firman Tuhan yang adalah kebenaran. Sering membaca alkitab akan menjadi pedang kita dalam perang melawan godaan. Dibawah ini adalah dusta-dusta iblis seputar seksualitas.

Mintalah Roh Kudus untuk menolong anda bebas jika ada diantara dusta-dusta itu yang anda percaya. Yohanes 16:13a berkata “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran”.

Dusta 1 : “Saya tidak akan pernah bebas dari kecanduan pornografi dan seks yang saya alami sekarang”

Kebenaran : Yesus telah mati diatas kayu salib untuk menebus dosa manusia, sehingga kita BISA bebas dari dosa apapun yang membelenggu kita. Yesus mampu memberikan kebebasan dan hidup baru dalam kekudusan (2 Korintus 5:17). Seburuk apapun dosa kita, Yesus memiliki pengampunan dan Dia mampu menyucikan kita. Darahnyalah yang telah membasuh dosa kita. Ada harapan dalam Yesus! (Ibrani 6:17-20)

Dusta 2 : “Pornografi dapat membantu kehidupan seksual dalam pernikahan saya”

Kebenaran : Pornografi memuat nafsu yang justru menghancurkan kehidupan seksual dalam penikahan. Nafsu dapat meracuni pernikahan dengan rasa kesenangan sementara yang ditawarkannya. Tinggal tunggu waktu saja sampai keadaan makin memburuk. Sifat alami nafsu yang tidak pernah puas akan membuat anda ‘mencari kepuasan lebih’ saat pasangan anda tidak bisa memenuhi nafsu anda.

Dusta 3 : “Saya tidak bisa hidup tanpa pornografi dan dosa seks”

Kebenaran : Iblis berusaha meyakinkan anda bahwa anda tidak bisa hidup tanpa dosa yang mengikat anda sekarang. Kebenarannya ialah dosa membuat hidup rohani anda mati. Hidup yang sesungguhnya dimulai justru ketika anda bebas dari dosa. Kita BISA hidup tanpa dosa! (Roma 13:14). Memulai kehidupan seksual yang murni dalam Tuhan akan membuat hidup kita indah. Seks adalah hadiah Tuhan bagi pasangan menikah, bukan untuk �siapa saja�. Tantangan bagi yang belum menikah ialah menunggu dalam kekudusan.

Dusta 4: “Tuhan tidak mau menerima saya karena saya jatuh terus dalam dosa”

Kebenaran: Spesialiasi iblis ialah pada penuduhan dan putus asa. Ketika dia menarik anda dalam dosa, dia akan menyatakan bahwa kita tidak akan pernah bebas. Dia juga mengatakan bahwa kita tidak akan mampu menyenangkan hati Tuhan. Yesus telah mati agar kita didamaikan dengan Tuhan dan Tuhan tidak akan pernah menolak kita jika kita mau bertobat. Justru saat kita bertobat dan dibebaskan, kita bisa menjadi kesaksian hidup yang bisa menolong orang lain dengan kejatuhan yang sama.

Dusta 5: “Pornografi tidak menyakiti siapapun”

Kebenaran: Pornografi merusak penikmatnya. Amsal 6:27 mengatakan “Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?”, jawabannya ialah tidak! Pornografi akan membuat kita terbakar oleh nafsu yang dapat membawa ke berbagai kehancuran dalam segi kehidupan kita. Bukan hanya diri sendiri yang akan hancur, tetapi orang lain yang mengasihi kita juga akan hancur hati karena ini. Seseorang yang pasangannya terlibat pornografi, akan kehilangan kepercayaan terhadap pasangannya itu. Dan sangat sulit untuk membangung kepercayaan itu kembali.

Dusta 6: “Menikah akan menghentikan kecanduan pornografi saya”

Kebenaran: Pernikahan dapat membuat kecanduan pornografi makin parah, serta bisa merusak kehidupan seksual dalam pernikahan. Alasan utamanya karena adanya keterikatan terhadap gambar porno dan masturbasi/onani. Kehidupan seksual dalam pernikahan yang sebenarnya dirancang Tuhan sebagai sesuatu yang indah dan berdasarkan cinta. Nafsu yang tercipta dalam pornografi dan cinta adalah 2 hal yang berbeda. Seorang pecandu pornografi harus berhenti total dari kecanduannya sebelum menikah.

Dusta 7: “Tuhan tidak perduli dengan apa yang saya lakukan terhadap tubuh saya”

Kebenaran: Tuhan sangat perduli dengan apapun yang anda buat terhadap tubuh anda karena tubuh anda ialah bait Allah. 1 Korintus 6:12-20 akan menjelaskan secara spesifik tentang fungsi tubuh dalam hubungannya dengan seksualitas. Seks akan menyatukan kita secara spiritual dengan orang yang berhubungan seks dengan kita. Melakukan dosa seks merupakan pencemaran terhadap kemuliaan Tuhan atas diri kita.

Dusta 8: “Tubuh saya tidak cukup baik untuk aktivitas seksual”

Kebenaran: Pornografi mempu membuat orang merasa bahwa dirinya tidak mampu memberi yang terbaik bagi pasangannya secara seksual. Pornografi juga menghilangkan ke-alamiah-an dari hubungan normal suami istri. Dalam pornografi ada pesan-pesan seperti “ukuran sangat penting” dan lainnya. Karena itulah orang-orang yang terpengaruh mulai melakukan operasi pembesaran alat vital atau payudara, penggunaan viagra atau pergi ke tempat-tempat tertentu yang menjanjikan kemampuan seksual yang lebih.

Padahal jika menyangkut kemampuan seksual, manusia dapat 100% mempercayai Tuhan yang telah memberi segala yang dibutuhkannya untuk bisa menikmati hubungan seksual dengan pasangannya. Tuhan juga mampu membuat kita mampu mengatasi semua ketakutan yang berhubungan dengan seksualitas, supaya seks yang kudus seperti rancanganNya atas manusia dapat dinikmati secara utuh dan benar (secara spiritual, emosional, dan fisik).

7 Kiat Bekerja Menurut Amsal Salomo

Bagikan
1. Andalkan Tuhan
Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu”. Sertakan Tuhan di dalam segenap pekerjaanmu karena banyak yang harus kita kerjakan tetapi tidak diajarkan di bangku sekolah dan banyak yang terjadi yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

2. Carilah Pengetahuan Ilmu pengetahuan
Cara bekerja yang benar & efisien perlu kita cari. Amsal 19:2 berkata, “Tanpa pengetahuan, keraji! nan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah”. Jangan sungkan belajar dan meminta petunjuk jika tidak mengerti. Amsal 19:20 berkata, “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan”.

3. Rajin dan Cekatan
Hanya orang rajin dan cekatan yang akan diingat oleh pimpinannya, terutama waktu menetapkan promosi jabatan & kenaikan gaji. Amsal 10:4 berkata, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya”. Dan Amsal 14:23 berkata, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.”

4. Berlakulah Jujur dan Benar
Amsal 16:8 berkata, “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, daripada penghasilan banyak tanpa keadilan”. Dan Amsal 10:9 ! berkata, “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui “. Renungkan juga Amsal 10:16, “Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa.”
5. Jaga Mulut
Mengerjakan tugas-tugas adalah suatu pekerjaan yang berat, jangan ditambahi lagi dengan masalah lain karena mulut kita yang bocor. Amsal 21:23 berkata, “Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri daripada kesukaran”. Dan Amsal 10:19 berkata, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal bud2i.”

6. Sabar dan Tenang
Amsal 16:32 berkata, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang merebut kota”. Dan Amsal 14:30 menambahkan, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”
7. Jangan Ingin Cepat Kaya
Menjadi kaya adalah impian kebanyakan orang dan sah-sah saja. Yang harus diperhatikan adalah : Menjadi kaya, bukanlah tujuan utama di dalam hidup ini. Ingin cepat kaya seringkali menjebak orang-orang ke dalam perbuatan yang berdosa. Menikmati hidup lebih penting dari menjadi kaya tetapi mempunyai banyak masalah. Renungkanlah Amsal 10:22, “Berkat Tuhan-lah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya,” dan Amsal 13:11, Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.”

6 Pilar Penyangga Perkawinan

Bagikan
Di masa pacaran, boleh jadi cinta memang sejuta rasanya. Namun ketika memasuki perkawinan, modal cinta saja tak cukup untuk mempertahankan kelangsungan sebuah keluarga. Dalam mencari pasangan hidup, budaya Jawa mengenal sejumlah kriteria yang dikenal dengan istilah bobot, bibit, bebet. Namun pada kenyataannya, banyak orang beranggapan salah satunya saja sudah cukup memenuhi kriteria pasangan hidup. “Cari pasangan ya lihat pribadinya dong! Punya mobil pribadi, rumah pribadi, dan kalau perlu vila pribadi!” ujar seorang perempuan tanpa maksud bergurau. “Kalau menurut saya sih, yang penting harus punya tanggung jawab,” sela seorang teman bicaranya. “Yang paling penting ya cinta dong!” yang lain menyergah tak kalah semangat.

Sebetulnya apa saja sih pilar penyangga yang kokoh bagi kelanggengan sebuah perkawinan? Benarkah cinta bisa diandalkan? Sepenuhnya ditentukan oleh kelimpahan materi? Bagaimana soal komitmen dan tanggung jawab? Seberapa penting aspek kepribadian kedua belah pihak? Bagaimana dengan hal-hal lain, bisakah diabaikan?

“Proses menimbang-nimbang memang seharusnya sudah dimulai sebelum suami-istri memasuki gerbang pernikahan,” kata Titi P. Natalia, M.Psi. Meski ia tak menyangkal banyak pasangan yang tidak “sempat” melewati proses seleksi. Meminjam istilah anak zaman sekarang, ada tahapan yang mesti dilalui, yakni koleksi, seleksi, baru resepsi. Akan tetapi Titi mengingatkan agar kita tidak perlu lagi menoleh ke belakang hanya untuk mempertanyakan apakah tahapan-tahapan tersebut sudah dilalui atau belum. “Sebaiknya lihat saja ke depan. Komitmen dan kesungguhan suami istrilah yang paling dibutuhkan begitu janur kuning sudah dipasang melengkung,” tandasnya.

6 Pilar Yang Dibutuhkan

Pilar-pilar yang dibutuhkan demi kokohnya sebuah pernikahan memang tidak sedikit.
Berikut di antaranya:

Latar belakang keluarga Tak bisa dipungkiri

latar belakang keluarga kedua belah pihak pastilah memegang peran penting. Yang termasuk di sini antara lain suku, bangsa, ras, agama, sosial, kondisi ekonomi, pola hidup dan sebagainya. Namun bukan berarti pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda dan bertolak belakang tidak mungkin bersatu. Hanya saja mereka mesti lebih siap dituntut berupaya lebih keras dalam proses penyesuaian diri.
Kesetaraan

Kesetaraan akan mempermudah suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Adanya kesetaraan dalam banyak hal dapat meminimalkan friksi yang mungkin timbul. Kesetaraan ini antara lain meliputi kesetaraan pendidikan, pola pikir dan keimanan.
Karakteristik individu

Setiap individu memiliki karakteristik yang unik dan ini menjadi salah satu pilar yang menentukan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga. Individu dengan karakter sulit yang bertemu dengan individu yang juga berkarakter sulit, tentu lebih berat dalam mempertahankan pernikahannya. Sebaliknya, yang berkarakter sulit bila bertemu dengan pasangan yang berkarakter mudah, tentu proses penyesuaian yang harus dijalaninya bakal lebih mulus.
Cinta

Jangan anggap sepele kata yang satu ini. Walaupun tidak berwujud, cinta dapat dirasakan. Pernikahan tanpa cinta bisa dibilang ibarat sayur tanpa garam, serba hambar dan dingin. Cinta yang dimaksud adalah cinta yang mencakup makna melindungi, memiliki tanggung jawab, memberi rasa aman pada pasangan dan sebagainya.
Ada yang bilang, setelah sekian tahun menikah cinta biasanya akan hilang dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sementara yang tersisa tinggal tanggung jawab. Benarkah? “Tidak harus seperti itu karena cinta bisa dipupuk supaya terus subur. Apalagi menjalani tanggung jawab akan terasa lebih ringan kalau ada cinta di dalamnya,” ujar Titi. Meski tentu saja, mempertahankan rumah tangga tidak cukup bermodalkan cinta semata!

Kematangan dan motivasi

Kematangan suami/istri memang ditentukan oleh faktor usia ketika menikah. Mereka yang menikah terlalu muda secara psikologis belum matang dan ini akan berpengaruh pada motivasinya dalam mempertahankan biduk rumah tangga. Namun usia tidak identik dengan kematangan seseorang karena bisa saja orang yang sudah cukup umur tetap kurang memperlihatkan kematangan.
Partnership

Pilar rumah tangga berikutnya adalah partnership alias semangat bekerja sama di antara suami dan istri. Tanpa adanya partnership, umumnya rumah tangga mudah goyah. Selain itu perlu “persahabatan” yang bisa dirasakan keduanya. Coba bayangkan, alangkah nikmatnya bila masalah apa pun yang menghadang senantiasa dihadapi bersama dengan seorang sahabat.
Bila Terjadi Kepincangan

Idealnya, ucap Titi, semua pilar tersebut sama-sama ikut menyangga bangunan rumah tangga agar segala sesuatunya menjadi lebih kokoh dan kuat. Namun dalam realitas sering terdapat kepincangan di sana-sini, entah dalam hal motivasi, kesetaraan dan sebagainya. Kalau hal seperti ini yang terjadi, apa yang harus dilakukan?

“Semua terpulang pada tujuan pernikahan itu sendiri. Kalau memang tujuan mereka jelas dan motivasi suami maupun istri kuat, tentu akan ada �usaha� dari kedua belah pihak untuk menyelaraskan semuanya,” jawab psikolog yang antara lain berpraktik di Empati Development Center. Keduanya akan bersedia menerima pasangannya, apa pun adanya. “Tapi ingat, menerima di sini bukan berarti pasrah begitu saja lo, melainkan harus ada penyesuaian di sana-sini yang bisa diterima bersama.”

Mengarungi biduk perkawinan tanpa masalah memang mustahil karena friksi-friksi sangat mungkin muncul kapan saja dan mencakup aspek apa saja. “Namun sekali lagi kembali pada usaha suami dan istri untuk mempersepsikan perbedaan yang ada. Apakah perbedaan itu akan dibesar-besarkan atau dicarikan jalan keluarnya.”

Saat menentukan pilihan mungkin saja calon suami/istri adalah yang terbaik. Namun dalam perjalanan hidup perkawinan mereka, di mata istri atau suami, ternyata pasangannya bukan lagi yang terbaik. Lo, kok bisa begitu? “Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dinamis. Selalu saja ada perubahan. Oleh karena itulah dibutuhkan kesadaran kedua belah pihak untuk terus-menerus menyesuaikan diri.”

Singkatnya, walaupun semua pilar yang disebutkan itu ada dalam rumah tangga, tidak ada jaminan bahwa pernikahan ini akan mulus tanpa batu sandungan. Namun setidaknya dengan adanya pilar-pilar kokoh tadi, suami dan istri akan dipermudah dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

6 Kiat Sukses versi Salomo

5
Bagikan

Andalkan Tuhan dalam segala hal

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6)

Sertakanlah Tuhan di dalam segala hal khususnya di dalam usaha dan pekerjaan kita untuk meraih kesuksesan. Ada banyak hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah, tetapi bila kita mampu mengerjakannya dengan baik, akan ada sukacita tersendiri yang memenuhi hati kita.

Jangan Pernah Berhenti Belajar

“Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.” (Amsal 19:2)

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” (Amsal 19:20)

Cara bekerja yang benar dan efisien perlu menjadi bagian di dalam kehidupan kita. Jangan pernah malu untuk belajar, meminta petunjuk dan menggali pengalaman dan pengetahuan yang belum Anda ketahui.

Rajin dan Selalu Giat

“Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” (Amsal 10:4)

“Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.” (Amsal 14:23)

Orang yang rajin dan giat akan selalu diingat oleh pemimpinnya, terutama ketika sang pemimpin mau menetapkan promosi jabatan dan kenaikan gaji.

Berlaku Jujur dan Benar

“Lebih baik penghasilan sedikit disertai dengan kebenaran, daripada penghasilan banyak tanpa keadian.” (Amsal 16:8)

“Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.” (Amsal 10:9)

“Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa.” (Amsal 10:16)

Renungkanlah ayat-ayat ini sekali lagi dan temukanlah di mana Anda berada?

Sabar dan Tenang

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32)

“Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukan tulang.” (Amsal 14:30)

Jelas sekali perkataan penulis Amsal ini, pujian untuk orang yang sabar memang sulit dikatakan dan hati yang sabar sangat berguna bagi hidup seseorang.

Jaga Mulut

“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri daripada kesukaran.” (Amsal 21:23)

“Di dalam banyak bicara pasti ada banyak pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10:19)


10 Tips Bekerja sebagai Karyawan!

Bagikan
Kamu adalah garam dunia, Kamu adalah terang dunia. Matius 5 : 13-14 Prinsip diatas adalah prinsip kerja yang sifatnya WAJIB ! yaitu sebagai TELADAN ! Entah kalian bekerja sebagai karyawan, buruh, atau apapun juga, simaklah beberapa tips dalam bekerja yang diajarkan konsultan & penasehat pribadi saya, Roh Kudus;

Cintai Tuhanmu

Jika ingin berhasil! jangan uang / penghasilan yang kau cintai !
Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Pengkotbah 5:10
Taat kepada pimpinan kita.

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus. Efesus 6:5
Jangan munafik dan jangan jadi penjilat.

Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah. Efesus 6:6
Setia pada perkara kecil

( ingat, promosi itu datangnya dari Tuhan ) jika ingin naik pangkat !
Engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.. Matius 25;21
Jangan punya mental tukang kas bon

yang suka berhutang!, ubah prinsip keuanganmu. Ingat satu hal, tidak ada bos yang suka terhadap karyawan yang selalu kas bon !
“Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Lukas 3:14
Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga. Roma 13:8
Bayarlah pajakmu!

entah itu pajak penghasilan, pajak bumi bangunan dll ( asal jangan memanipulasi pajak, supaya berkatmu tidak terhalang )
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Matius 22;21
Gunakan fasilitas kantor sebaik mungkin

dengan penuh tanggung jawab ( contoh : menggunakan telepon tidak berlebihan )
Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?. Lukas 16:12
Sukacita!

Buat apa kalau uang banyak, posisi tinggi tapi tidak bisa menikmati hidup dengan sukacita? Ingatlah hanya orang mati yang tidak bisa tersenyum !
Hati yang gembira adalah obat yang manjur. Amsal 17:22
Bersyukur
,
apapun yang terjadi! baik itu dipecat, difitnah atau hal yang tidak enak, sekalipun menimpa kita! Dan bersyukurlah.. Kolose 3:15
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan… Roma 8:28
Setia pada perusahaan!

Jangan lakukan bisnis in bisnis yang merugikan perusahaan / melakukan pekerjaan yang membuat hatimu bercabang !
Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.. Matius 6:24
Aktifitas kerjamu, mulailah dengan doa. Kuasa Roh Kudus akan memampukan engkau melakukannya, sehingga nama Tuhan akan ditinggikan

Bagikan
Oleh:Saumiman Saud

“dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat
berguna baik bagimu maupun bagiku” (Filemon 1 :11). Jikalau Filemon
bukan pengikut Kristus yang sejati, maka persoalan yang dialaminya
sangat gampang dibereskan. Ada seorang budaknya yang mencuri barang,
sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku maka si budak tersebut
harus dibunuh, maka sesudah itu habis perkara. Atau kalau Filemon
tidak mau melakukannya sendiri ia bisa membayar orang untuk
melakukannya.

Yang menjadi sulit karena Filemon ini adalah orang percaya, istilah
kita Filemon itu orang Kristen. Itu sebabnya Filemon tidak ada pilihan
lain. Ia telah belajar bagaimana mengasihi, maka ia harus
mempraktekkan kasih itu. Ia bahkan belajar juga tentang bagaimana
mengasihi musuh, maka ia harus melakukannya juga. Makanya kalau kita
ketemu ada orang yang mengaku percaya pada Tuhan Yesus pada hari ini,
namun ia masih melakukan tindakan “balas dendam”, “tidak ada kasih”
kita tentu harus pertanyakan kekeristenannya.

Pertanyaan sekarang, apa yang dilakukan Filemon terhadap budaknya ini? Jawabannya ia mengampuni budaknya. Atas dasar apa ia mengampuni budaknya itu?

Filemon harus mengampuni, karena Tuhan Yesus lebih dahulu telah mengampuni dirinya.
Firman Tuhan mengajarkan kita harus mengampuni musuh bahkan orang-orang yang menganiaya kamu. Hal ini sudah Tuhan Yesus praktekkan ketika Ia hidup sebagai manusia di dunia ini. Bahkan ketika suatu hari Petrus bertanya kepada Yesus harus berapa kali kita mengampuni orang lain. Yesus seakan-akan memberikan jawaban kepada Petrus bahwa kita selama-lamanya harus mengampuni orang lain. Perhatikan Matius 18 :22 “ Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”.

Makanya Filemon sangat bergumul terhadap kasusnya. Apabila ia melakukan kesalahan di dalam mengambil tindakan, maksudnya bila ia memutuskan hal yang bertentangan dengan pengajaran Yesus, maka akan mempengaruhi orang-orang percaya pada waktu itu. Paling sedikit terhadap jemaat yang berada di dalam rumahnya.

Sebenarnya tradisi masyarakat Yunani Roma tidak ada kamus kalau harus ada perasaaan takut kepada “budak” yang berontak. Sang tuan sebebas-bebasnya melakukan apa saja terhadap si budak itu. Namun kalau Filemon tidak melakukannya, bukan berarti ia takut pada budak itu. Tetapi lebih dari itu ia takut pada Tuhan yang dilayaninya. Itu sebabnya maka kita lihat Onesimus berhasil menghindari hukuman yang semestinya .

Filemon bukan orang Kristen biasa atau istilah kita Kristen KTP, namun ia seorang yang aktif terlibat di dalam pelayanan di Kolose. Itulah sebabnya maka rasul Paulus menyebutnya sebagai “teman yang setia” dan “teman sekerja”. Panggilan ini juga sebagai suatu penghormatan kepada Filemon. Rupanya selain ia seorang Kristen, karakter hidupnya juga baik. Tidak semua orang Kristen yang memiliki karakter yang baik seperti Filemon. Kekristenan menjadi distorsi kadang bukan karena ulah orang-orang luar, namun sering kali karena ulah orang-orang Kristen sendiri yang tidak menjadi contoh.

Bukan itu saja, selain isterinya Apfia dan anaknya Arkhipus, juga ada kaum wanita dan jemaat lain yang aktif di dalam pelayanan bersama Filemon. Itu sebabnya jikalau Filemon mengalami pergumulan tentu hal semacam itu pernah di ceritakan juga pada rekan-rekan pelayanannya. Iman kepercayaan seseorang akan bertumbuh dan semakin teguh bila mendengar kesaksian dan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang memuliakan nama Tuhan. Sebaliknya bila ada peristiwa-peristiwa yang tidak memuliakan nama Tuhan terjadi tentu sangat berdampak terhadap kehidupan rohani orang-orang Kristen lainnya. Sebagai salah seorang pelayan Tuhan dalam hal ini pasti banyak mata yang sedang menyoroti kehidupan Filemon. Oleh sebab itu masalah yang dihadapi Filemon sudah tentu perlu disingkapi dengan berbagai pertimbangan. Apabila ia salah mengambil keputusan, sangat mempengaruhi pelayanannya pada masa mendatang..

Sebagai budak Filemon, tentu Onesimus sangat beruntung. Sudah pasti ia diperlakukan sangat baik oleh sang tuan. Namun kita tidak tidak tahu pergumulan apa yang dialami oleh Onesimus sehingga ia kesalahan yakni mencuri barang milik Filemon, dan nampaknya Filemon masih menutup sebelah mata. Sehingga memungkinkan Onesimus melarikan diri. Untungnya tatkala Onesimus melarikan diri ia mencari orang yang tepat yakni rasul Paulus yang waktu itu masih di penjara tahanan rumah. Sebenarnya sesuai dengan hukum yang ada pada waktu, menyembunyikan seorang budak yang melarikan diri juga termasuk suatu kesalahan besar. Dan kalau hal ini dilakukan oleh Paulus, sangat memungkinkan di dalam hati Paulus tersisa suatu pengharapan yang pasti bahwa Onesimus itu masih dapat diselamatkan. Mengingat kembali dirinya sendiri yang diubah Tuhan begitu luar biasa, tentu tidak menutup kemungkinan hal ini berlaku bagi Onesimus.

Filemon harus mengampuni, karena kehidupan budaknya sudah diperbaharui.
Kalau kita ditanya bagaimana Onesimus dapat bertemu dengan Paulus, maka secara pasti caranya kurang jelas namun ada yang memperkirakan kemungkinan besar Epafras sang pendiri dan gembala sidang di Kolose (Kol 4 :12) yang memperkenalkannya kepada Paulus. Mereka bertemu di rumah “sewa” Paulus di Roma (Kis 28 :30). Dan di sanalah Paulus memimpin Onesimus percaya kepada Tuhan Yesus. Arti nama Onesimus itu sendiri adalah berguna, namun yang berguna ini telah menjadi tidak berguna karena mencuri barang tuannya (ay 18). Memang benar kata pribahasa, “gara gara nila setitik, rusak susu sebelanga”. Nama baik Onesimus telah rusak karena ia melakukan kesalahan yang mengakibatkan kerugian bagi sang tuan. Dalam kondisi yang demikian tentu ia telah kehilangan kepercayaan. Namun karena Onesimus sudah bertobat, maka saat ini dia bukan lagi Onesimus yang “tidak berguna” tetapi ia menjadi “sangat berguna”. Itu sebabnya, Filemon tidak punya alasan lagi untuk menghakimi Onesimus. Apalagi pengampunan
yang dialami Filemon dari Tuhan Yesus mendahului pertobatannya.

Dengan kesetiaannya bersama-sama dengan rasul Paulus dan juga keakrabannya dengan Paulus, bahkan Paulus telah menganggapnya sebagai anak rohani ( Fil 1 : 11-13). Paulus merasa sudah saatnya ia wajib mengembalikan Onesimus pulang, karena hukum Romawi menuntut agar semua budak pelarian itu harus kembali kepada tuan mereka. Bagi Paulus saat ini merupakan saat yang tepat, itu sebabnya bersamaan dengan Tithikus menuju ke Kolose digunakan Paulus untuk mengirim kembali Onesimus ini.

Paulus tidak pernah memaksa Filemon menerima Onesimus kembali, karena bagi Paulus apabila Filemon secara terpaksa menerima Onesimus tidak ada gunanya, akan menjadi bebannya saja. Padahal kalaupun Paulus mau memaksakan Filemon juga bisa, karena sesungguhnya Filemon sendiri juga hasil buah penginjilan rasul Paulus (1:19). Jadi secara rohani Filemon berhutang juga pada Paulus.

Kita harus mengerti perasaan Filemon. Tidak gampang baginya menerima orang yang pernah menyakiti hatinya, lalu kembali ke rumahnya. Bukan itu saja, Paulus mengatakan bahwa anggaplah ia sebagai saudara, bukan lagi sebagai hamba. Lihat Fil 1:16 “ bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan”. Jadi Onesimus yang pernah menyakiti Filemon ini bukan hanya akan tinggal kembali bersama-sama dengan Filemon dan statusnya juga berubah dari seorang budak menjadi saudara. Sekali lagi kalau bukan hanya karena mengingat Anugerah Tuhan yang juga pernah dialmi oleh Filemon, sudah tentu dia tidak sanggup.

Tanggal 10 September 2005 sebuah harian sore memuat kesaksian singkat saya yang berjudul Makna sebuah Pengampunan, isinya kira-kira demikian :
“ Kejadian Sabtu itu merupakan peristiwa yang tidak terlupakan, memang tanggal persisnya saya tidak ingat, namun saya ingat tahun 1982. Waktu itu kebetulan saya sebagai guru Agama kelas enam di sebuah sekolah Kristen. Suasana kelas tidak begitu menyenangkan, sehingga kalau kita yang sedang mengajar sering terpancing kemarahan. Waktu itu kebetulan saya baru saja memperingatkan anak-anak supaya tidak berisik, namun kemudian saya mendengar di bangku paling depan ada dua anak wanita tetap saja ngobrol dan tertawa-tawa. Saya tidak dapat menahan emosi, itu sebabnya anak itu mendapat hukuman.

Dasar anak Mami barangkali, sehingga baru dihukum begitu, langsung ia menangis. Ceritanya tidak sampai di sini, tetapi rupanya ketika ia pulang ke rumah melaporkan kejadian ini pada kakak lakinya. Kira-kira jam dua siang , kakaknya datang ke rumah saya, tanpa ba-bi-bu dia langsung melempari batu ke rumah, sesudah saya keluar dan tiba-tiba dia sempat meninju ke arah saya. Saya berusaha menjelaskan duduk perkaranya, namun orang itu tidak mau tahu, ia seperti “kesetanan’ seakan-akan ingin menghancurkan saya. Waktu itu saya sempat sempoyongan, namun tidak terbersit di dalam hati saya untuk membalas, walaupun adik-adik saya sudah siap menyongsong ke luar dari belakang untuk membalas. Saya hanya berkata “ Jangan lakukan itu!! ”.

Selesai itu, rumah saya dikerumuni banyak orang, sepertinya ada kejadian yang luar biasa, mereka pada umumnya pengin tahu apa yang sedang terjadi. Ada yang minta saya segera lapor pada polisi, ada pula yang mengatakan minta ganti rugi. Waktu itu saya hanya berpikir, apa yang harus saya lakukan? Perlukah saya menuntut ganti rugi? Bukankah saya sebagai guru Agama di sekolah, saya orang Kristen; rasanya tidak sesuai dengan iman kepercayaan saya untuk melakukan hal tuntut-menuntut. Itu sebabnya saya memutuskan untuk tidak menuntutnya dan minta ganti rugi.

Dua jam kemudian ayahnya datang ke sekolah, dan dipertemukan dengan saya. Waktu itu dia mewakili keluarga minta maaf atas kejadian ini. Saya terima dan memaafkannya, walaupun sesungguhnya saya tahu di dalam hati bergumul sekali. Sebagai guru Agama saya mengajarkan Firman Tuhan supya mengampuni orang lain, sementara saya diminta menuntut pembalasan, walaupun saya berhak. Saya tidak bisa bayangkan seandainya waktu itu kedua orang adik saya juga ikut-ikutan membalas, bagaimana mungkin saya melanjutkan profesi saya sebagai seorang guru Agama?

Saya bersyukur untuk kejadian ini yang melatih saya sabar dan menahan diri. Bagi saya kejadian ini merupakan suatu kemenangan, di hati saya tidak tidak tersimpan kebencian dan dendam termasuk terhadap anak itu, sebab saya tahu Tuhan Yesus telah terlebih dahulu mengampuni saya, dan Dia juga yang akan memberikan kesanggupan pada saya untuk mengampuni orang lain, seperti yang tertulis di dalam Kolose 3:13 “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Filemon harus mengampuni, karena sebagai orang percaya ia mesti mempraktekkan Kasih Karunia Tuhan ini
Filemon menghadapi kasus pergumulan yang cukup berat. Sesuai suarat pengantar rasul Paulus, ia diminta menerima Onesimus di rumah, tinggal bersama dan hidup sebagai saudara, bukan sebagai budak lagi. Itu berarti Filemon harus melupakan semua kejadian pada masa-masa lalu. Itu berarti Filemon harus menerima kembali Onesimus apa adanya. Itu berarti Filemon harus dengan rendah hati menyambut Onesimus. Itu juga berarti Filemon harus berjuang keras melawan unsur manusia di dalam dirinya yang tidak menghendaki pengampunan uini terjadi. Sama seperti yang Tuhan Yesus laakukan terhadap kita, Ia membenci dosa yang kita lakukan, namaun Ia tidak pernah mebenci kita. Kalau hari itu Filemon berhasil melakukan semuanya hanya itu semata-mata karena Kasih Karunia dari Tuhan Yesus yang memberikan dia kekuatan.

Sering kali kita mendengar keluhan dari mereka yang pernah jatuh ke dalam dosa kemudian bertobat, Tuhan Yesus sudah mengampuni dosanya namun orang-orang di sekitar termasuk juga orang orang di gerja tidak dapat menerimanya. Contoh konkretnya sewaktu rasul Paulus baru bertobat ia juga merasakan demikian, jemaat di Yerusalem takut menerimanya. Namun Barnabas yang percaya akan pertobatan Paulus ia dapat menerimanya (Kis 9 :26-28). Begitu juga sewaktu ada sekelompok orang menyeret seorang perempuan yang berbuat dosa, maka Tuhan Yesus meminta kepada siapa yang tidak berdosa supaya melemparnya dengan batu terlebih dahulu. Namun satu-persatu mundur, tidak ada berani melakukannya, karena mereka sadar bahwa mereka juga adalah orang berdosa. (Yohanes 8 : 7)

Lewis B. Smedes di dalam bukunya yang berjudul Mengampuni & Melupakan (Forgive & Forget) menuliskan ada empat tahap Pemberian Maaf.

Tahap pertama adalah sakit hati; ketika seseorang menyebabkan Anda sakit hati begitu mendalam dan secara curang sehingga Anda tidak dapat melupakannya. Anda terdorong ke tahap pertama krisis pemberian maaf.

Tahap yang kedua adalah membenci ; Anda tidak bisa mengenyahkan ingatan tentang seberapa besar Anda sakit hati, dan Anda tidak bisa mengharapkan musuh Anda baik-baik saja. Anda kadang-kadang menginginkan orang yang menyakiti Anda juga menderita seperti Anda.
Tahap ketiga adalah menyembuhkan; Anda diberi sebuah “mata ajaib” untuk melihat orang yang menyakiti hati Anda dengan pandangan baru. Anda disembuhkan, Anda menolak kembali aliran rasa sakit dan Anda bebas kembali.

Tahap yang keempat adalah berjalan bersama; Anda mengundang orang yang
pernah menyakiti hati Anda memasuki kembali dalam kehidupan Anda. Kalau ia datang secar tulus amak Anda berdua akan menikmati hubungan yang dipulihkan kembali.

Filemon memasuki tahap keempat, hubungannya harus dipulihkan kembali dengan Onesimus. Ia mengundang kembali orang yang pernah menyakiti hatinya kembali ke dalam hidupnya. Sekali lagui, Sola Gracia, hanya Anugerah yang memungkinkan semua ini terjadi. Kalau hari ini Anda dan saya sadar bahwa kita adalah orang berdosa, sudah tentu kita tidak akan menganggap remeh orang-orang yang pernah jatuh ke dalam dosa. Beda antara kita dengan meraka hanya, “Dosa yang diperbuatnya sudah ketahuan, sedangkan dosa yang diperbuat kita belum ketahuan”. Tatkala Tuhan Yesus berada di atas kayu salib, salah satu ucapan Agung-Nya adalah “Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” Permisi Tanya beranikan kita membuka hati kita menerima orang-orang yang pernah menyakiti kita kembali? Saya tidak tahu siapa mereka? Mungkin mereka itu adalah orang tua kita? Anak-anak kita? Keponakan kita? Pasangan kita? Amantan pacar kita? Sekali lagi sya tidak tahu siap mereka? Kalau Filemon
bisa mengampuni Onesimus maka kita juga semestinya harus bisa melakukannya. Mari teladanilah perbuatan Filemon ini. Mari teladi Tuhan Yesus juga. Sebelum kita datang memohon pengampunan kepada-Nya, sesungguhnya Ia telah mengampuni kita. Lalu, mengapa kita begitu sulit mengampuni orang lain? (Saud’S)

Seksualitas

Bagikan
Penulis : Herlianto

Hai anak manusia, ada dua orang perempuan, anak dari satu ibu. Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya; disana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya di pegang-pegang. Nama yang tertua ialah Ohola dan nama adiknya ialah Oholiba. Mereka Aku punya dan mereka melahirkan anak-anak lelaki dan perempuan. Mengenai nama-nama mereka, Ohola ialah Samaria dan Oholiba ialah Yerusalem. Dan Ohola berzinah, sedang ia Aku punya. Ia sangat birahi kepada kekasih-kekasihnya, kepada orang Asyur pahlawan-pahlawan perang. . . . Walaupun hal itu dilihat oleh adiknya, Oholiba, ia lebih birahi lagi dan persundalannya melebihi lagi dari kakaknya. (LAI-TB, Yehezkiel 23:2-5,11)

Ada orang mengatakan bahwa Alkitab bukanlah kitab yang suci karena ia berbau porno seperti terbaca pada ayat di atas. Membaca konteks ayat itu, kita tahu bahwa gambaran itu adalah simbolisasi dari perilaku umat Tuhan di Samaria dan Yerusalem yang disalahkan Tuhan. Namun, yang menjadi masalah mengapa perilaku dosa umat itu digambarkan dengan perilaku dosa seks?

Dalam waktu sebulan terakhir ada tiga peristiwa dialami dalam kaitan dengan seksualitas, yaitu: pertama, dalam pencarian DVD untuk bahan ceramah, secara kebetulan ditemukan sebuah film antik berjudul KINSEY. Let s Talk About Sex ; kedua, diterima surat dari seorang yang dengan terus terang mengaku homo yang minta bimbingan karena ia rindu melepaskan perilaku itu; dan ketiga, ada undangan dari PMK FISIP-UNPAD yang mengundang untuk membahas masalah jender khususnya seksualitas pria.

Film tentang kehidupan Alfred Kinsey menarik karena menunjukkan bagaimana ia menghadapi tantangan dalam penelitiannya namun akhirnya mendapat dana dari Rockefeller Foundation. Sebagai seorang biolog yang gemar meneliti serangga, ia kemudian meneliti perilaku seksual orang Amerika dan bukunya yang terbit tahun 1948 berjudul Sexual Behaviour of Human Male (kemudian disusul Sexual Behaviour of Human Female ) mengegerkan masyarakat Amerika waktu itu karena ia mengungkap rahasia kamar tidur yang selama ini ditutup-tutupi dalam masyarakat konservatif. Ia mengadakan penelitian terutama melalui metoda wawancara secara langsung. Buku itu tebal sekali dan di awal tahun 1970-an hanya sempat dibaca sebagian saja.

Rekan pengidap Homo dalam suratnya menyadari bahwa kehidupan seksualitasnya tidak sesuai dengan firman Tuhan sehingga ia berkonsultasi dengan beberapa pendeta namun mengalami peristiwa pahit. Ada pendeta menyalahkannya sebagai berbuat terkutuk, tetapi pendeta lain malah mengajaknya main. Menghadapi ini ia makin bingung dan ingin mencari jawab Tuhan yang benar menghadapi masalah dorongan dalam dirinya itu yang sekarang disadarinya sebagai salah.

Camp mahasiswa Fisip itu cukup menantikan diskusi soal seksualitas yang terbuka mengingat begitu mewabahnya film-film porno yang beredar di kalangan mahasiswa. Ada mahasiswa yang melontarkan isu onani (masturbasi) agar dibahas karena di gereja mereka belum pernah mendengar dibicarakannya isu yang dihadapi semua mahasiswa itu. Seorang asisten dosen antropologi yang bergabung dalam tim studi seksualitas di fakultasnya yang ikut hadir, mengemukakan bahwa salah satu penyebab kurang dibicarakannya masalah seksualitas di gereja adalah karena umumnya seksualitas masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

Memang dalam hal seksualitas, kita men2ghadapi dua kutub yang berseberangan, di satu kutup orang masih tabu membicarakannya bahkan menyalahkan ketidak-wajaran seksualitas sebagai dosa dan perbuatan terkutuk. Di kutub lain kita menyaksikan makin longgarnya permissivisme di masyarakat sehingga semua penyimpangan seksualitas dianggap hal lumrah dan halal kalau itu merupakan dorongan jiwa.

Harus diakui bahwa banyak gereja dengan pendetanya yang masih berfikir puritan yang menganggap membicarakan seksualitas sebagai tabu, menutup-nutupi masalah ini sebagai urusan pribadi, dan tidak perlu membicarakan masalah yang terkutuk ini. Sikap demikian jelas tidak membantu memecahkan pergumulan seksual generasi modern yang dengan mudah dan murah membeli DVD blue film . Akibatnya banyak muda-mudi gereja lebih banyak mendapat informasi berkelimpahan tetapi keliru dari pasar daripada kebenaran firman yang seharusnya mereka ketahui. Dalam konteks demikian penelitian Kinsey benar-benar mengejutkan betapa banyak orang melakukan hubungan seksualitas yang aneh-aneh dan itulah kenyataan masyarakat Amerika kala itu.

Di kutub lain keterbukaan seksualitas juga bukannya hal yang baik, karena apapun perilaku seksualitas yang dilakukan dianggap kewajaran karena dialami oleh masyarakat secara nyata. Kebebasan yang liberal memang tidak membawa jalan keluar karena kita love the sin & the sinner dan kurang mempertimbangkan konsekwensi sosial yang lebih luas, apalagi konsekwensinya dimata Allah. Bayangkan homoseksualitas adalah salah satu penyebab utama penyebaran Aids dan perilaku demikian biasanya dilakukan dengan banyak pasangan baik sesama jenis maupun tidak (promiskuitas), dan kita bisa melihat dampaknya secara sosial dan medis apa akibat yang ditimbulkan toleransi kebablasan yang beralaskan hak azasi kemanusiaan demi membela hubungan sesama jenis itu.

Kinsey sendiri sebagai anggota gereja Metodis (diakui secara jujur tidak pernah ke gereja sejak masa anak-anak) dalam penelitiannya juga menunjukkan liberalisme dalam pemikirannya. Ia menerima semua perilaku masyarakat sebagai apa adanya dan tidak berusaha untuk menunjukkan hal-hal baik dan buruk dalam seksualitas dan juga tidak menawarkan rem pengaman pada masyarakat. Ketika asistennya mempermasalahkan statistik homoseksualitas dimasyarakat dan mengajak Kinsey melakukan homo-coitus dengannya, ia terjerat sehingga membuat marah isterinya. Ketika liberalisme pemikiran itu meluas dalam keluarga Kinsey, asistennya kembali meminta agar boleh bersebadan dengan isteri Kinsey, ia tidak bisa menolak dan toleransi dengan hasil penelitiannya.

Di antara kedua kutub puritanisme dan liberalisme itulah kita membutuhkan bimbingan firman Tuhan agar bisa memberi rem pengaman dan tuntunan yang jelas akan dorongan seksualitas manusia dan bagaimana dorongan itu bisa tersalur secara bertanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat. Soal ini perlu dibicarakan di gereja-gereja dengan pembicara yang integritas iman dan etika seksual-nya setia kepada Alkitab. Kita tidak bisa menutup diri terhadap penyebaran informasi seksualitas melalui mass media yang begitu meluas dan lebih banyak menekankan nafsu dan kenikmatannya daripada seks sebagai saluran cinta-kasih dalam kerangka pernikahan dan pembentukan keluarga yang kudus dan bertanggung jawab di mata Tuhan.

Alkitab banyak berbicara mengenai seksualitas dan tidak mengutuknya tetapi juga tidak membebaskannya sesuai keinginan nafsu kedagingan, tetapi Alkitab banyak berbicara mengenai rambu-rambu yang perlu bagi mereka yang mengalami proses kematangan seksual dan pernikahan. Banyak anak remaja gereja terjatuh dalam perilaku seksualitas yang membuka luas ke dunia penyakit kelamin (VD) dan terutama HIV/AIDS, tanpa mereka tahu adanya rambu-rambu dalam urusan seks. Banyak pernikahan kristen kacau dan dialami rekaman hubungan seksualitas yang sadistik. Film-film porno dan majalah-majalah semacamnya lebih banyak menjadi guru pendidikan seksual daripada para gembala gereja yang seharusnya menjadi gembala yang baik yang menuntun domba-dombanya bukan saja dalam hal-hal imani tetapi juga dalam hal etika terutama etika seksual.

Sudah tiba saatnya umat Kristen sadar untuk menjadikan seksualitas sebagai bahan yang layak didiskusikan dalam terang firman Tuhan, agar gereja dapat menjadi benteng pertahanan yang baik yang bisa dijadikan panutan oleh para jemaatnya. Usaha preventif gereja lebih baik daripada menangani korban-korban ketidak sucian seksual, aborsi, kawin-cerai, promiskuitas, homoseksualitas, sexual sadism dan massochism, dan berbagai perilaku seksual lainnya, karena ingatlah bahwa:

… tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (LAI-TB, I Korintus 6:19-20)

Seksualitas yang Seharusnya

Bagikan
Penulis : Eka Darmaputera

COBA tolong Anda definisikan apa “merah” itu! “Merah? Ah, kalau cuma itu sih, semua juga tahu!”, begitu mungkin reaksi Anda. Ya, siapa yang tidak kenal warna “merah”? Tapi silakan mendefinisikannya, maka saya jamin, Anda pasti kebingungan. Saya duga, yang paling banter dapat Anda katakan adalah, bahwa merah itu bukan putih, bukan kuning, bukan biru, dan seterusnya.

Ini mirip dengan pengalaman saya, ketika di luar negeri saya diminta menjelaskan apa itu “demokrasi Pancasila” dan “ekonomi Pancasila”. Gelagapan saya dibuatnya.

Yang waktu itu spontan meluncur dari mulut saya adalah, bahwa “demokrasi Pancasila” itu bukan “demokrasi liberal” ala Amerika; tapi bukan pula “demokrasi rakyat” gaya Korea Utara. Dan “ekonomi Pancasila” adalah sistem ekonomi yang tidak kapitalis, namun sekaligus tidak pula sosialis”.

Yang ingin saya katakan adalah, bahwa kadang-kadang kita hanya bisa menjelaskan “what is” dari “what is not”. Apa yang “ya”, dari apa yang “tidak”. Dan apa yang “harus”, dari apa yang “tidak boleh”.

Hukum ketujuh Dasa Titah berbunyi, “JANGAN BERZINAH”. Apa persisnya yang dilarang oleh hukum tersebut? Ada dua cara yang dapat kita tempuh untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, kita bisa menjawabnya dengan membuat sebuah “daftar larangan”, yang boleh jadi tidak terbatas panjangnya, dan luar biasa banyaknya. Atau, kedua, kita dapat dengan ringkas mengatakan, bahwa “apa yang tidak boleh” adalah semua yang bertentangan dengan “apa yang harus”.

Tentu saja, saya memilih yang kedua. Yang berarti, kita akan membicarakan terlebih dahulu apa-apa yang “seharusnya”, baru apa-apa yang “dilarang”.

* * *

SALAH SATU konsep terpenting dan “khas” alkitab tentang “manusia”, adalah pemahamannya bahwa manusia adalah satu kesatuan yang utuh. Satu kesatuan tubuh-jiwa-roh yang tak terbagi-bagi. Tanpa dikhotomi. Tanpa dualisme.

Ini berlawanan dengan filsafat Yunani yang mengatakan, bahwa “tubuh” adalah penjara bagi “jiwa”. Atau dengan dengan filsafat Timur yang mengajarkan, bahwa yang “rohani” itu mulia, dan yang “jasmani” itu hina.

Dengan ringkas tapi tegas alkitab menyatakan, bahwa “manusia” adalah kesatuan “tubuh” dan “jiwa” yang tak terpisahkan. Kejadian 2:7 memberi kesaksian, “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup”.

Artinya, baik tubuh maupun jiwa, kedua-duanya adalah dari Allah yang satu itu jua asalnya. Karena itu kedua-duanya baik, mulia, kudus. Manusia harus memuliakan Allah dengan segenap jiwanya, tapi juga dengan seluruh tubuhnya. Antropologi semacam ini tentu saja sangat menentukan bagi pemahaman mengenai “seksualitas”.

* * *

KONSEKUENSI yang pertama adalah, bahwa – menurut alkitab – “seksualitas” pada dirinya, dan pada hakikatnya, adalah baik. Baik, sama seperti semua ciptaan Allah yang lain, menurut penilaian Allah, “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tidak kotor, nista atau hina. Sebaliknya, ia suci, mulia, menyenangkan.

Pada satu pihak, kebutuhan maupun dorongan seksual diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Sama seperti kebutuhan manusia akan makanan atau minuman. Sama seperti dorongan rasa lapar atau rasa haus. Karena itu alkitab tak pernah berusaha menutup-nutupinya. Tidak jarang malah terlalu eksplisit. Karena itu, bersyukurlah – jangan merasa bersalah — bila Anda masih dikaruniai selera makan atau . nafsu seks!

Namun, di lain pihak, toh ada sesuatu yang “lebih” atau “istimewa” pada seksualitas, yang tidak terdapat pada makan atau minum. Perkenankanlah saya memberi dua contoh sederhana.

Yang pertama adalah kemungkinan yang unik dan eksklusif , yang dIkaruniakan Tuhan melalui seksualitas. Apa itu? Yaitu, kemungkinan manusia untuk memperoleh keturunan atau ber”prokreasi”. Agar melaluinya, kelangsungan eksistensi manusia bisa terus berlanjut. Apa yang lebih mulia dan lebih istimewa dari pada ini? Kegiatannya barangkali memang cuma beberapa menit, tapi jangkauannya adalah ke”akan”an yang seolah-olah tanpa batas! Itulah seksualitas.

Kemudian, yang kedua, bukan cuma menyangkut potensialitasnya semata, tapi juga realitasnya. Maksud saya, kenikmatan serta kepuasan lahir-batin yang dimungkinkan Allah untuk dialami oleh manusia, melalui kegiatan seksualnya ini! Ini juga tak terbandingkan dengan kegiatan apa pun yang lain.

Seorang bapak gereja bahkan pernah mengatakan, bahwa satu-satunya pengalaman manusiawi yang dapat dipakai sebagai “pembanding”, sehingga orang bisa memperoleh sekelumit gambaran tentang kenikmatan sorga nanti, adalah orgasme. Walaupun, tentu saja, perbedaannya juga luar biasa. Orgasme cuma berlangsung beberapa detik. Sedang kenikmatan sorgawi – yaitu ketika manusia mengalami “kesatuan mistis” dengan Allah — berlangsung abadi.

* * *

DALAM ketegangan yang dinamis antara dua aspek itulah, kita menangkap pemahaman seksualitas yang khas alkitabiah. Aspek yang pertama adalah, ke”normal”an serta ke”natural”an-nya. Bahwa seksualitas itu normal! Dorongan-dorongannya natural! Sama seperti kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikis Anda yang lain. Jadi, Anda tak perlu merasa malu atau merasa bersalah bila memiliknya. Sebaliknya, bersyukurlah!

Mengatakan bahwa seksualitas itu “normal” dan “natural” berarti mengatakan, bahwa seksualitas penting. Bahwa tanpa itu, hidup manusia menjadi tidak penuh, tidak utuh, tidak lengkap. Bahwa hidup yang a-seksual adalah a-natural. Abnormal. Boleh-boleh saja Anda memutuskan untuk tidak menikah. Tapi jangan katakan, bahwa itu Anda lakukan agar Anda bisa menjadi lebih suci dan lebih dekat kepada Tuhan!

Setelah mengatakan itu, toh kita harus segera menyatakan, bahwa seksualitas bukanlah satu-satunya yang penting. Bukan pula yang terpenting. Seksualitas bukan segala-galanya. Ia cuma “salah satu”. Tak boleh kita per”setan”kan, namun jangan pula kita per”tuhan”kan!

Seksualitas adalah salah satu aspek saja dari kehidupan manusia yang lebih luas dan lebih kompleks. Karena itu ia hendaknya juga dipahami dan diperlakukan dalam inter-relasi dengan komponen-komponen kehidupan yang lain. Tidak dalam “isolasi”, melainkan dalam “koordinasi” dengan yang lain-lain itu. Yang benar berkenaan dengan seksualitas adalah yang “proporsional”. Tidak “sex-maniac” tidak pula “sex-o-phobia”.

* * *

“JANGAN BERZINAH”. Pada satu pihak, larangan ini adalah salah satu saja dari sepuluh titah yang ada. Karena itu, jangan terlampau melebih-lebihkannya. Dosa seksual tidak lebih serius dibandingkan dengan dosa di bidang ajaran, atau dengan dosa dalam keluarga, atau dengan jenis dosa-dosa lainnya.

Sebab itu bagi saya, adalah tragis dan ironis, ketika sekelompok masyarakat ribut besar dan merasa amat terganggu oleh “goyang Inul”, tapi nyaris tidak bereaksi apa-apa ketika tindak korupsi semakin meluas, ketika tindak kekerasan meranggas, ketika perdagangan perempuan dan anak-anak dibiarkan semakin subur, ketika semakin banyak orang miskin yang tergusur, dan . ada orang yang malah sibuk menggagas “polygamy award”.

Namun toh benar juga, bahwa sekalipun “dosa seksual” hanya “salah satu” saja, tapi ia adalah “salah-satu” yang sama sekali tidak boleh dipandang remeh! Kita tidak boleh dengan enteng mengatakan, “Ah, biar saja! Habis, memang sudah zaman-nya sih!” . Atau, “Jangan usil ngurusin apa yang terjadi di bawah selimut orang , deh! Itu ´kan tanggungjawab masing-masing!”

Tidak! Kita tidak bermaksud “usil” atau “iseng”. Kita hanya mau peduli, sebab Tuhan pun sangat peduli. Dan Tuhan sangat peduli, karena dalam seksualitas ini terkait masalah “kekudusan”. Baik kekudusan individual, maupun kekudusan relasional.

* * *

DALAM seksualitas terkait masalah “kekudusan relasional” antar-manusia. Telah sejak awal proses penciptaan, dengan jelas Tuhan menyatakan, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18).

Kesendirian, menurut Allah, “tidak baik”. Sebab kesendirian akan menciptakan ketidak-berdayaan. Ketidak-berdayaan yang hanya dapat diatasi dengan kehadiran seorang “penolong yang sepadan”. Dan itulah antara lain hakikat serta fungsi seksualitas itu.

Seksualitas memungkinkan mutualitas atau hubungan timbal balik antarmanusia. Juga kesetaraan antar manusia. Dan, jangan lupa, kesatuannya! “Inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku . sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:23-24).

Jadi “berzinah” itu apa? “Berzinah”, berarti tercemarnya kekudusan serta integritas moral individual orang-per-orang. Tapi “berzinah” juga berarti rusaknya relasi yang mutualistis antar manusia: keseteraannya, kesatuannya, tolong-menolongnya. Ketika “perzinahan” terjadi, kekudusan terinjak-injak dan relasi kemanusiaan retak. Dan ini, Saudara, sungguh, adalah bencana!

Self Discipline

Bagikan
Oleh: Michael Griffiths

Satu hal yang senantiasa mendapat tekanan dan mendorong orang-orang Kristen supaya memanfaatkan waktu mereka habis-habisan ialah ketidak-pastian hidup ini. Artinya, bukan saja ada kepelbagaian kesanggupan-kesanggupan atau jumlah bakat, melainkan juga kepelbagaian jangka waktu dari kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada seseorang. Bagian nats yang kita kutip dari Efesus 5 dan Kolose 4, yang bunyi terjemahannya ialah ‘menggunakan waktu yang ada’ dapat juga diterjemahkan sebagai berikut: ‘menghabiskan kesempatan-kesempatan yang tersedia sampai sehabis-habisnya.’ Dan semua kita tahu, betapa banyak orang Kristen yang hidupnya pendek saja, namun telah mereka manfaatkan sepenuhnya.

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata, hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu dan semua kemegahan demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana harus berbuat baik tapi tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yak 4:13-17)

Kita bukan saja diingatkan bahwa segala sesuatu yang kita rencanakan untuk hari esok senantiasa tergantung dari perkenan ilahi, tapi juga hidup sendiri bagi embun, atau segumpal asap dan mungkin besok kita mati. Implikasinya adalah jangan kita ulur-ulur ke hari esok hal-hal baik yang dapat kita lakukan hari ini.

Dalam kitab Amsal yang dianggap teladan orang yang berusaha sungguh-sungguh adalah ibu rumah tangga. Ia adalah istri yang berbudi dalam bab 31, yang berbuat baik pada suaminya sepanjang umurnya, bangun sebelum fajar dan pelitanya tidak padam. Makanan kemalasan tidak dimakannya (ayat 27b), orang miskin dan kekurangan beroleh pertolongan (ayat 20), kesehatan dan kesejahteraan keluarga terjamin dan mereka ini bangkit memuji Tuhan. Rahasianya ialah ia takut akan Tuhan (ayat 30) dan sungguh-sungguh memanfaatkan waktunya.

Namun dalam amsal sebelumnya, kita melihat gambaran yang tegas tentang kelemahan si pemalas yang umumnya digambarkan sebagai kelakuan kaum laki-laki. Kita mencatat ciri-ciri berikut :

1) Ia tak dapat membuat rencana. Ia tak mau membajak sebab takut kedinginan maka ia meminta sedekah pada musim menuai (Amsal 20:4). Semut bekerja keras pada musim panas tapi si pemalas tidur-tiduran sepanjang hari (6:6-8). la terlalu ngantuk untuk melakukan pekerjaan yang harus dilakukan. la tidak mampu melihat ke depan dan tak memiliki akal sehat untuk melakukan persiapan masa datang. Dewasa ini ciri-ciri ini tercermin dalam ucapan seperti “Bagaimana ya rasanya kok baru kemarin hari Minggu, tau-tau sudah Minggu lagi!” atau “Kok heran, kita selalu kehabisan waktu tapi pekerjaan semakin bertumpuk.”

2) Ia tak mampu mengatasi keseganannya untuk bekerja (Amsal 13:4)

3) Perhatiaannya lebih tercurah pada masalah, bukan pada cara bagaimana mengatasi masalah (Amsal 15:19). Kesulitannya begitu bertumpuk hingga ia hanya bisa duduk dan menunggu (26:13). Orang-orang seperti ini menciptakan kesukaran bagi dirinya sendiri supaya ada alasan untuk tidak bekerja.

4) Ia penghalang bagi orang-orang lain dan pengaruhnya merusak. “Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak (Amsal 18:9). Tak heran banyak terjadi perpecahan dalam kepemimpinan gereja maupun gerakan pemuda. Apakah mereka bekerja hanya seperlunya saja sesuai dengan program-program lama yang sudah usang, atau pemimpin hanya sekedar duduk di kursinya karena ingin disanjung dan dihormati? Pemalas itu tidak menggunakan waktunya bagi kemuliaan Allah. Tak sedikitpun terlintas dalam pikirannya bahwa memuliakan Tuhan melalui pemakaian waktu adalah harta yang amat tinggi nilainya. Marilah kita gunakan waktu kita selagi masih ada kesempatan.

Untuk didoakan dan direnungkan. Bagaimana sikap saya dalam memakai waktu yang ada, apakah saya sudah memanfaatkannya bagi Kristus? Apakah tahun-tahun berlalu tanpa ada sesuatu yang tercapai? Apa sasaran saya dalam memanfaatkan waktu sebagai orang Kristen?

Siapakah Jodohku?

42
Bagikan
Sulit menentukan resep jitu untuk menemukan jodoh yang tepat, meski tulisan ini akan menyajikan kriteria pemilihan, tetap harus dipahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan masih terbuka kemungkin pemikiran lain.

Kriteria Menentukan Jodoh:

Anda berdua harus memiliki minat yang banyak

Mampu tertawa bersama

Saling memiliki ketertarikan fisik yang kuat

Sependapat/setuju tentang ambisi dan sasaran hidup pasangan
Sepakat soal agama

Kehidupan yang menarik: (minat yang banyak)
Carilah orang yang memiliki kehidupan yang wajar, memiliki energi/semangat, imajinasi, dan percaya diri. Dengan demikian penting juga bagi seseorang untuk memiliki hidup yang normal sebelum Ia memutuskan mencari pasangan hidup. Pernikahan bukan untuk menambah beban/kesulitan hidup, dan orang tidak menikah hanya sekedar untuk menghilangkan kejenuhan. Harus ada saling pengertian/toleransi dalam hal minat, diperlukan antusiasme dan minat yang tulus terhadap minat pasangan.
Tertawa Bersama
Tertawa bersama penting dalam membentuk perkawinan yang kaya dan bahagia. Sifat humor diperlukan dalam situasi-situasi sulit yang sering timbul dalam rumahtangga. Kemampuan untuk tertawa menyatakan toleransi. Hindari orang yang tidak bisa tertawa.

Ketertarikan fisik yang kuat
Ketertarikan fisik mutlak perlu. Kalau pasangan Anda tidak menunjukan ketertarikan fisik, lebih baik cari yang lain saja. Dalam hal ketertarikan fisik pria cenderung lebih cepat dari wanita. Tanda-tanda ketertarikan bisa berupa lirikan disertai dengan senyuman khas atau memegang tangan… Kalau lebih dari itu.. yah harus berjaga-jaga sendiri.

Ambisi dan sasaran hidup
Ini vital, tidak terlalu penting calon pasangan Anda orang kaya atau bukan, yang lebih penting adalah apakah Ia mempunyai ambisi dan tujuan hidup yang jelas. Kalau calon Anda dari keluarga kaya sebaiknya dengarkan apa pendapatnya mengenai sasaran hidup yang ingin dicapai. Banyak rumahtangga kandas karena suami tidak memiliki ambisi untuk maju.

Kesepakatan Agama Apa arti agama bagi pasangan Anda?
Apakah dia peduli tentang apa arti agama bagi Anda?.

Akhir kata, kapan harus menikah/tidak?:

Jangan menikah:

Karena Anda merasa kasihan kepada seseorang.

Karena ingin melarikan diri dari rumahtangga Anda yang tidak bahagia.
Karena Anda bosan.

Supaya Anda diperhatikan oleh pasangan Anda

Karena setiap orang toh menikah

Jikalau Anda takut tentang seks atau tidak suka seorangpun meraba Anda
Karena Anda hamil

Kalau Anda masih punya keraguan yang besar.

Anda siap menikah:

Kalau Anda sudah bisa membuat keputusan

Ketika Anda sudah bisa menerima keputusan yang bertentangan dengan Anda

Ketika Anda sudah bisa mandiri

Ketika Anda sudah bekerja

Ketika Anda sudah bisa menabung

Ketika Anda menghendaki hidup bersama orang tertentu melebihi semua hal.

Siapakah Tulang Rusuk ku?

15
Bagikan
Oleh:Mang Ucup

Karena banyaknya pertanyaan yang masuk mengenai tulang rusuk maka saya tayangkan lagi artikel ini. “Kau anugerah terindah yang pernah kumiliki” begitulah yg diucapkan oleh Sheila-On-7 dan perkataan ini juga yg akan kita ucapkan apabila kita menemukan pasangan hidup yg cocok.

Aneh tapi nyata, kekhawatiran yg paling besar pada saat orang lagi pacaran ialah “Bagaimana kalau nantinya setelah kita menikah, ternyata tidak cocok, bahkan bertolak belakang?” Oleh sebab itulah pada saat kita memilih pasangan hidup, selalu kita mengajukan berbagai macam persyaratan2 yg dijadikan parameter kecocokan umpamanya sifat, hobby, pendidikan, agama yg harus sama dgn diri kita. Semakin banyak kecocokan semakin baiklah pasangan tsb.

Tetapi apakah Anda tahu, bahwa ini sebenarnya adalah persyaratan gendheng yg paling gombal dan lucu, sebab kalho mo nyari yg benar2 cocok 100% dgn diri Anda, kenapa kagak mo kawin dgn diri sendiri azah ato dgn kloningannya. Disatu pihak kita merasa sangat bangga, bahwa kita ini merupakan manusia yg paling unik, karena kagak ada keduanya dikolong langit, tetapi dilain pihak pada saat mencari pasangan hidup, kita mencari copy-annya dari diri kita. Aneh kan?

Tuhan telah menjanjikan akan memberikan pasangan yg “sepadan” untuk diri kita; Kejadian 2 : 18, “Tuhan Allah berfirman : Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya “yang sepadan dengan dia.” (ézer kenegdo)

Walaupun demikian “Sepadan” bukannya berarti harus cocok identis 100% dgn diri kita, melainkan agar kita bisa saling menggenapi satu dgn yg lain, dimana kita bisa menerima dan mengasihi pasangan hidup kita dgn segala kelebihan maupun kekurangannya. Sebagai contoh warna Yin & Yang itu sepadan tetapi beda jauh satu dgn yg lain. 2:21. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk (tséla) dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan (lé isysya), lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Perempuan disebut ´isysya – sebab dia diambil dari laik-laki (´isy) Kej 2:23.

Dari satu tulang rusuk Tuhan telah membentuk seorang perempuan. Tuhan memilih tulang rusuk, sebagai lambang, karena tulang rusuk tsb menyediakan perlindungan untuk organ yg paling lembut dari pria, ialah jantung/hatinya. Jantungnya adalah pusat dari kehidupannya, paru2nya menggenggam nafas kehidupannya. Tulang rusuk akan membiarkan dirinya sendiri menjadi patah, sebelum ia mengijinkan kerusakan terjadi pada jantung. Seperti juga sifatnya dari tulang rusuk, ia itu kuat tetapi lembut dan mudah patah. Oleh sebab itulah tulang rusuk inilah yg dipilih oleh Allah untuk menciptakan pasangan hidup bagi kita. Dan tulang rusuk inilah yg membuat dan mendukung kita bisa jadi berdiri dgn tegak

Saya percaya untuk tiap pria di dunia ini pasti sdh ada pasangannya yg telah disediakan oleh Allah atau tulang rusuknya. Tulang rusuk tsb tidak perlu seusia dgn kita, tidak perlu sebangsa dgn kita dan yg terpenting tidak perlu memiliki sifat & perangai yg sama seperti kita, karena fungsinya ialah menggenapi tubuh kita. Oleh sebab itulah dlm satu pernikahan, tunjukkanlah kepadanya, bahwa engkau adalah tulang rusuknya yg selalu melindungi tubuhnya. Dan tulang rusuk itu tidak pernah mengenal lelah, apakah Anda tahu bahwa tulang rusuk itu bergerak lebih dari lima juta kali setahun setiap kali bernafas.

Untuk pria yg tidak mau menikah seperti Romo atau Biksu pasti ada biarawati atau biksuni yg juga ditakdirkan untuk tidak menikah karenanya. Sedangkan untuk pria homo pasti ada seorang perempuan yg juga menjadi lesbis karenanya. Terkecuali Yesus mungkin yg tidak memiliki pasangan hidup-Nya di dunia ini, karena Ia bukanlah manusia biasa, melainkan Allah yg menjelma menjadi manusia.

Bagaimana kita bisa mengetahui apakah pasangan kita ini benar2 merupakan tulang rusuk kita? Yg sdh pasti pasangan tsb ingin selalu membahagiakan dan melindungi diri kita, ia selalu khawatir kalau kita jatuh sakit, ia turut bersedih hati apabila kita menderita, dan ia mau menangis dan tertawa bersama dgn pasangannya dan ia turut sakit atas penderitaan pasangannya.

Teori yg bagus sekali, tetapi bagaimana kita bisa mengetahui dan mengenalnya pada saat kita lagi pacaran? Dibawah ini ada 10 ciri yg mungkin bisa digunakan sebagai pertanda apakah pasangan dihadapan kita ini tulang rusuk kita ataukah bukan? Ciri2 tsb tidak harus semuanya digenapi, tetapi minimum sebagian besar dari ciri2 tsb bisa dijadikan sebagai parameter dlm pencarian tulang rusuk kita:

Pada pertemuan pertama langsung merasakan cocok dan tertarik olehnya, se-akan2 ia ini lain dari yg lain
Apabila berada dekat dgn dia, Anda merasakan kenyamanan dan aman, seperti juga menemukan air segar pada saat kita sedang kehausan
Ia mengasihi dan bisa menerima Anda apa adanya, dgn segala kelebihan maupun kekurangan2 diri Anda
Ia tidak membuat Anda jadi bosan dimanapun dan kapanpun ia berada, sehingga di lokasi atau tempat paling membosankan sekalipun, Anda merasa senang apabila didampingi oleh dia.
Ia adalah tempat dimana dan dgn siapa Anda bisa berbagi suka maupun duka, kepada siapa Anda bisa curhat dan mempercayai semua problem dan permasalahan Anda; tanpa harus takut ditertawakan ataupun dicemohkan olehnya, karena dgn dia Anda bisa bicara dari hati ke hati. Sehingga tanpa adanya perkataan yg diucapkan sekalipun ia bisa mengerti dan mengetahui perasaan isi hati kita.
Kedua belah pihak berusaha untuk saling menyenangkan satu dgn yg lain, sehingga dlm waktu singkat saja, Anda telah bisa mengetahui apa yg disukainya dan apa yg tidak disukainya
Anda ingin selalu berusaha untuk menyenangkan dia, entah melalui penampilan Anda, puisi, ataupun kado dsb-nya, begitupun juga kebalikannya
Tidak bertemu beberapa saat saja sdh merasakan kehilangan inginnya sih kalho bisa nempel terus seperti perangko begitu
Anda merasa bangga dgn kelebihan2 yg dimilikinya, sehingg kedua belah pihak bisa saling menghargai dan menghormatinya satu dgn yg lain
Bersedia berkorban atau melakukan apa saja untuknya.
Dan sebagai bahan renungan dalam mencari tulang rusuk Anda bacalah dan renungkanlah kalimat dibawah ini:

I love you not because of who you are, but because of who I am when I am with you.
To the world you may be one person, but to one person you may be the world

Tetapi bagaimana kalho perbedaan sifatnya itu besar sekali, apalagi kalho ia memiliki sifat2 buruk seperti, cemburuan, pemarah, kasar, tidak sabaran dsbnya atau perbedaan usia/status yg berbeda jauh, beda agama/warga negara, apakah mungkin ia itu masih tetap tulang rusuk saya? Terlebih lagi bisa saja pada saat ini ia juga sdh menikah dgn wanita/pria lainnya? Mo tahu jawabannya bacalah oret2nya mang Ucup esok.

Sindrom Patah Hati !

5
Bagikan
Oleh : Mang Ucup

Apakah Anda tahu bahwa orang yang barusan saja ditinggal oleh pasangan hidupnya, mengalami perasaaan gejala sakit seperti juga orang yang kena serangan jantung. Ini adalah hasil penelitian dari Kardiolog Ilan Wittstein dari John Hopkis University School of Medicine di Baltimore Amerika yang diungkapkan pada bulan Feb 2005, sehingga ia menamakan gejala penyakit ini sebagai „Broken Heart Syndrom“. Rasa nyeri di dada, nafas pendek, bahkan otot jantung pun tidak bisa memompa darah secara normal lagi.

Pada saat kita sedang sedih, kita menutup diri, karena tidak ada gairah lagi untuk melakukan kegiatan apapun juga, selainnya ingin mengucilkan diri terus di dalam kamar. Satu-satunya impian dan harapan yang paling besar adalah dimana mereka mengharapkan agar pasangannya bisa dan mau balik kembali. Oleh sebab itulah hari-hari pertama setelah ditinggal oleh pasangannya, yang di pelototin dan di dengar hanya bunyi telpon dan HP nya saja dengan harapan mogah-mogahan ia mo nelpon lagi, walaupun hanya sekedar „Just to say hello“, tetapi kenyataannya boro-boro ia mo nelpon, no HP nya azah udah dirubah agar tidak bisa dihubungi lagi !

Dan yang lebih menyakitkan lagi, pada saat Anda sedang sedih dan berduka karena ditinggal oleh pasangan Anda, ia sendiri menari diatas mayat Anda, dimana ia pamer dengan WIL (Wanita idaman lainnya) kemana-mana yang konon lebih cantik dan lebih muda. Teman dekat yang seharusnya membantu pada saat kita sedang sedih & sewot, bukannya berusaha untuk menghibur, bahkan kebalikannya dimana mereka menyindir atau mengejek dengan secara tidak langsung; dimana menceritakan tetang kelebihan-kelebihan dari pacar barunya.

Kehilangan pasangan hidup itu seperti juga kehilangan tempat dimana kita bernaung, sebab disitulah kita merasa aman dan bisa mendapatkan kasih sayang, dan perasaan inilah yang dahulunya selalu diberikan oleh ibu kita.

Menurut pakar psikologi, pada saat kita kehilangan pasangan hidup, kita akan menjalani tiga phase perasaan yang harus kita lalui:

pada saat musibah itu terjadi kita akan marah dan protest, karena tidak mau menerima kenyataan dan berusaha untuk mencari tahu maupun menganalisa dimana letak kesalahannya: Kenapa hal ini bisa terjadi ? Tahapan ini pada umumnya tidak lama, akhirnya akan menjadi reda dengan sendirinya dan digantikan oleh perasaan lain.
Hal ini terjadi pada saat kita sadar, bahwa hubungan tsb telah menjadi retak batu alias tidak dapat di lem lagi; kalho dalam bhs Sundanya „It´s over!“. Dari sinilah mulai berubah sifat marah, emosi tsb digantikan oleh perasasaan down, dan sedih yang berkepanjangan. Dan sekaranglah baru terasakan juga, bagaimana nyeri dan parahnya luka batin, ditinggal oleh pasangan hidup itu. Tahapan yang kedua ini adalah tahapan yang paling lama bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Tahapan yang terakhir adalah dimana akhirnya bisa menerima kenyataan pahit ini dan pikiranpun tidak terpusatkan lagi kepada masa lampau melainkan ke masa yang akan datang
Kenapa kebanyakan perempuan menderita begitu lama ? Karena mereka sendiri tidak mau lepas dari memory masa lampaunya, jadi secara tidak langsung luka batinnya itu dipelihara. Dengan membaca kembali berulang-ulang SMS yang pernah dikirimkan olehnya, ataupun surat-surat cinta dimasa lampau, begitu juga dengan foto kenang-kenangan, bahkan foto dia pun masih tetap dipajang disebelah tempat tidur ! Ini adalah satu kesalahan besar, Anda tidak akan bisa sembuh dari luka batin Anda selama Anda masih tetap ingin berpegang terus dan tidak mau melepaskan masa lampau Anda.

Anda harus menutup dan mengakhiri masa lampau tsb dengan mencantumkan kata „TAMAT“ segede mungkin, karena sudah tamat berarti tidak akan ada sambungannya lagi dan tidak perlu ada yang diharapkan lagi. Oleh sebab itulah juga sudah tiba saatnya dimana Anda harus, membersihkan hati, pikiran dari masa lampau tsb. Untuk ini Anda harus melakukan Action nyata, walaupun mungkin ini sukar dan berat, tapi kudu dilakukan.

Hapus no HP nya dia ! Bakar tuh, semua surat maupun foto-foto yang bisa dan dapat mengingatkan dia lagi. Ganti foto dia yang ada di sebelah tempat tidur dengan fotonya Ballack pemain sepak bola Jerman ato foto botaknya Mang Ucup. Semua hadiah-hadiah yang pernah diberikan olehnya di jual atau diberikan kepada orang lain. Pokoknya jangan sampai ada tertinggal satupun juga.

Disamping itu daripada menyiksa diri sendiri, mulai hari ini berusahalan untuk memanjakan diri sendiri, pergilah ke salon atau ketempat Spa. Shopping dan beli barang-barang yang sudah lama Anda dambakan. Gunting rambut Anda dan robah dengan cara style rambut baru, bukan untuk menyenangkan dia melainkan untuk menyenangkan diri sendiri.

Pergilah berlibur atau melakukan aktivitas baru, seperti les dansa ataupun les bahasa asing atau belajar main tenis ataupun ikut paduan suara. Usahakan minium seminggu tiga kali harus keluar rumah untuk bertemu dengan kawan-kawan ataupun makan diluar. Cobalah furniture dirumah Anda di tata ulang, bahkan kalau bisa di cat baru ataupun gati wall papernya. Apabila belum punya anak, carilah hewa peliharaan mulai dari kucing s/d anjing yang penting cocok dan bisa menyenangkan hati Anda. Rubah jenis perfume maupun lipstick dengan yang lebih greng dan hidup warna maupun wanginya.

Percayalah dengan melakukan berbagai macam aktivitas tsb, saya yakin Anda akan bisa lebih cepat keluar dari lingkaran setan tempat dimana Anda berpijak sekarang ini dan renungkanlah kenapa Anda dahulu bisa hidup bahagia tanpa dia sekarang tidak ? Orang lain mampu dan bisa hidup bahagia setelah kehilangan pasangan hidupnya, kenapa Anda tidak ? Dan janganlah berusaha untuk bertepuk sebelah tangan hingga mati pun ini tidak akan bisa terlaksana, begitu juga dengan cinta, cinta sepihak itu tidak ada dan hanya sekedar khayalan saja, maka dari itu lupakan untuk mencintai dia terus-menerus !

Sinetron Kehidupan Berdurasi 5 Menit

Bagikan
Oleh: Mundhi Sabda H. Lesminingtyas

Bulan Maret lalu, Pdt. Julianto Simanjuntak membawakan seminar “Seni Merayakan Hidup Yang Sulit”. Waktu 2,5 jam dimanfaatkan untuk mengajarkan 7 paradigma dari Seni Merayakan Hidup Yang Sulit, yang merupakan konseling praktis untuk diri sendiri. Ketujuh paradigma itu adalah sebagai berikut:
(1) Masalah tidak untuk disimpan, tetapi dibagikan,
(2) Masalah tidak untuk disesali, tetapi dirayakan,
(3) Masalah bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan,
(4) Masalah tidak menjauhkan, tetapi mendekatkan kita dengan Tuhan,
(5) Masalah tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi,
(6) Masalah bukan kutuk, melainkan berkat,
(7) Masalah bukan cobaan, tetapi ujian untuk mendapatkan mahkota.
Dengan ke-7 paradigma tersebut peserta diharapkan mengerti pimpinan Tuhan dan senantiasa bersyukur saat menghadapi kesulitan.

Adalah hal yang biasa kalau Pdt. Julianto Simanjuntak meminta saya membagikan pengalaman bagaimana menjalani masa-masa sulit yang penuh penderitaan, baik dalam seminar, konseling kelompok maupun workshop/terapi “How To Forgive: Seni Mencinta Hingga Terluka”.

Dulu saya tidak pernah berpikir bahwa jalan hidup saya bisa menjadi pembelajaran bagi orang lain. Saya juga tidak berpikir kisah hidup saya ini cocok dengan seni yang keberapa dari Seni Merayakan Hidup Yang Sulit. Yang jelas, Pdt.Julianto Simanjuntak sering “mengorder” saya untuk memberi kesaksian selama 5 menit dan sayapun langsung mengiyakannya. Saya bersaksi bukan untuk mencari popularitas tetapi lebih untuk kesehatan jiwa saya sendiri. Saya sendiri mempercayai kata-kata yang menjadi moto LK3, yaitu: “Bagikanlah penderitaan Anda, maka penderitaan Anda akan berkurang. Bagikanlah kebahagian Anda, maka kebahagiaan Anda akan bertambah”.

Walau harus membagikan potret kehidupan yang begitu buruk, namun saya tidak pernah merasa malu karenanya. Yang ada hanya perasaan “plong” setelah membagikan beban kepada orang-orang yang tepat.

Memang ada sedikit kesulitan bagi saya untuk mengisahkan perjalanan hidup perkawinan yang saya jalani selama 11 tahun, dalam bentuk kesaksian selama 5 menit. Tragedi hidup penuh kepiluan yang telah saya tulis dalam kertas A4 lebih dari 70 halaman itu mau tidak mau harus saya paparkan secara verbal selama 5 menit saja. Mungkin memang ada baiknya kisah saya hanya disajikan selama 5 menit saja, karena kalau terlalu panjang dan detail, bisa-bisa peserta seminar menghabiskan tissue persediaan kami hanya untuk mengusap air matanya. Lebih jeleknya lagi, saya pasti akan ikut menangis kalau melihat orang-orang menangisi saya.

Sebelum seminar dimulai, saya bertanya kepada Pdt. Julianto Simanjuntak “Nanti saya bersaksi pada saat pembahasan seni yang keberapa?” “Seni ke 4” jawab Pdt.Julianto singkat. Sambil mengangguk hati saya bertanya-tanya heran “Oh ya?! Betulkah masalah yang saya hadapi ini tidak menjauhkan, tetapi justru mendekatkan saya dengan Tuhan?”. Hati saya pun berbunga-bunga. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur karena Pdt.Julianto Simanjuntak telah membantu saya untuk menarik benang merah dari apa yang saya alami.

Di hadapan kurang lebih 100 peserta seminar “Seni Merayakan Hidup Yang Sulit” saya berjalan tegap untuk memberi kesaksian. Dengan kepala tegak dan pandangan mata lurus ke depan, saya menceritakan kisah saya dengan nada datar, tanpa kepiluan ataupun kecengengan. “Nama saya Ning, saya adalah single parent bagi 3 anak, yaitu Dika, Vika dan Mika” begitulah saya mulai memperkenalkan diri. “Tujuh belas tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat ganteng dan romantis, sebut saja namanya Arjuna. Arjuna memang sangat tampan dan diincar banyak perempuan. Waktu itu saya langsung jatuh cinta. Dua tahun kami berpacaran penuh romantisme. Karena saya melihat cinta Arjuna sangat besar, sayapun memutuskan untuk menikah. Dua tahun pertama, saya cukup bahagia sebagai istri yang dimanja” saya bersaksi sambil mengenang masa-masa manis dalam hidup saya.

Sejenak saya mengambil nafas dalam-dalam sekedar untuk menambah kekuatan sekaligus menyiapkan peserta untuk mendengarkan kelanjutan kisah hidup saya. Beberapa detik kemudian saya melanjutkan cerita “Pada tahun ketiga, ketika anak pertama kami lahir, mau tidak mau saya harus membagi perhatian untuk suami, anak dan mengurus diri sendiri. Suami saya mulai protes karena merasa kurang diperhatikan. Ia pun mulai melakukan tindak kekerasan, baik berupa kata-kata kasar, kekerasan fisik maupun psikis, pelecehan dan kekerasan seksual maupun kekerasan ekonomi. Suami saya juga sering berselingkuh, mabuk-mabukan dan main judi togel. Suami saya tidak pernah menafkahi keluarga karena gajinya habis untuk dugem dengan teman-temannya. Bahkan sebaliknya, saya harus menyerahkan sebagian gaji saya untuk membiayai gaya hidup, penampilan dan pergaulan suami saya”

Kira-kira 3 detik saya berhenti bicara sambil mengatur nafas, sebelum melanjutkan kisah saya “Pada tahun ke 5 perkawinan atau ketika anak kami berumur 3 tahun, hati saya sangat hancur karena harus menyaksikan buah hati saya; Dika yang hampir tiap hari disiksa oleh ayahnya. Saya sangat menderita karena harus hidup dalam penindasan selama 9 tahun. Namun penderitaan saya tidak sebanding dengan penderitaan Dika yang hanya menikmati 3 tahun hidup sebagai anak, sedangkan 6 tahun berikutnya harus hidup layaknya binatang. Malam-malam saya dan Dika hanya bisa mendekam di sudut kamar setiap kali mendengar suara kendaraan Arjuna datang. Hati kami dag-dig-dug, menahan rasa cemas yang begitu dalam, sambil menduga kira-kira siksaan apa lagi yang akan kami terima malam itu”

Begitu melihat beberapa peserta di bagian kanan mulai mengusap air mata, saya berhenti sejenak dan mengarahkan pandangan ke sebelah kiri, supaya saya tidak terpancing ikut menangis. Namun karena peserta di sebelah kiripun banyak yang menyeka air matanya, saya melempar pandangan ke arah Bapak Panda Nababan yang duduk di tengah ruangan.

“Pada tahun ke-11 atau tepatnya bulan Desember 2001, saat saya mengandung anak yang ketiga, suami saya meninggalkan kami. Suami saya murtad dan hidup bersama dengan perempuan lain tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tiga bulan setelah kami ditelantarkan, tepatnya tanggal 9 Maret 2002 saya melahirkan anak yang ketiga, diantar dengan motor tetangga. Jadilah anak kami yang ketiga, yaitu Mika tidak pernah tahu siapa ayahnya” saya melanjutkan kesaksian tanpa air mata.

Sejenak saya memuji Tuhan dalam hati karena bagian yang paling sulit dari hidup saya, telah saya kisahkan dengan lancar. Sejenak kemudian saya melanjutkan “Enam bulan pertama sejak ditinggalkan suami, hidup saya hancur berantakan, tidak karuan dan tanpa tujuan. Perasaan kecewa, marah, cemburu, malu, merasa terhina, merasa dibanding-bandingkan, bercampur aduk menjadi satu. Sakit sekali rasanya. Tiap hari saya hanya menangis dan menyesali diri, sampai-sampai anak saya terlantar dan mengalami gangguan psikologis yang sangat berat” saya berhenti sejenak untuk menahan air mata. Entah mengapa, sampai saat ini saya tidak sanggup menceritakan penderitaan Dika tanpa menangis.

Sambil sedikit menengadah supaya air mata tidak menetes, saya pun melanjutkan kesaksian saya “Puji Tuhan, melalui keadaan Dika yang sangat terguncang, saya disadarkan untuk berhenti mengasihi diri sendiri. Saat itu saya tergerak untuk segera berdiri tegak, bangkit dan menata kembali hidup saya. Saya mulai mencari pertolongan Tuhan lewat para sahabat, rohaniwan dan konselor Kristen. Setelah kurang lebih 1½ tahun aktif mencari pertolongan, hati saya mulai pulih. Sampai saat ini, sudah 4 tahun lebih saya menjalani hidup dan berjuang membesarkan 3 anak hanya seorang diri” kata saya lega.

“Dua tahun terakhir ini saya aktif dalam pelayanan, terutama sebagai penulis dan sebagai pembicara seminar di gereja-gereja dan lembaga Kristen lainnya. Saya bersyukur karena sejak tidak ada suami yang harus dilayani, saya punya waktu lebih banyak untuk memperhatikan diri saya sendiri, melayani Tuhan, memperhatikan anak-anak dan melayani sesama, terutama anak-anak Tuhan yang sedang terluka. Hal yang seperti ini tidak pernah saya rasakan saat suami masih ada di rumah” kata saya tegar.

Setelah menyaksikan sinetron kehidupan saya yang memilukan namun “happy ending” di dalam Tuhan ini, peserta yang semula tegang atau meneteskan air mata, akhirnya kembali berseri wajahnya. Saya pun menggunakan sisa waktu untuk menutup kesaksian “Walaupun hati saya sudah berangsur pulih, namun saya masih terus belajar dan berupaya memulihkan hati lewat konseling, terapi kelompok dan pembelajaran How To Forgive di LK3, karena saya ingin menguasai ketrampilan mengampuni dan Seni Mencinta Hingga Terluka”.

Spiritual Dehydration

Bagikan
Pengikut-pengikut Yesus yang paling aktif kadang-kadang menemukan diri mereka merasa terkuras habis dan kering kerontang secara rohani. Pendeta-pendeta dan pekerja-pekerja gereja lainnya juga sering merasa demikian pada hari Minggu. Terutama jika seminggu sebelumnya mereka dipenuhi kesibukan dan kegiatan rohani yang luar biasa banyaknya, apalagi pada perayaan hari-hari besar Kristen. Setelah melalui satu minggu yang sibuk, saya sering berkata kepada istri saya, Angela, “Saya merasa seakan-akan seseorang telah menyeret kaki saya dan menguras habis energi saya!”

Pekerja-pekerja gereja bukanlah satu-satunya yang mengalami pengaruh-pengaruh berkepanjangan dari “kekeringan rohani”. Siapapun yang bekerja menghadapi publik secara terus-menerus pasti mengetahui perasaan ini. Pelayan dalam bidang jasa, guru, pekerja kesehatan dan para pekerja sosial adalah orang-orang yang rentan dan mudah mengalami “kekeringan rohani”.

Tak dapat dihindari, orang-orang yang tinggal atau bekerja dalam lingkungan yang amat menekan akan menemukan sumber energi mereka menjadi kering. Orangtua yang mengasuh anak-anak dan remaja juga sering mengalami persediaan spiritual/rohani mereka menjadi terkurang habis (kosong).

Ironisnya, orang Kristen yang paling aktif adalah kandidat/calon paling utama yang mengalami “kekeringan rohani”. Mengapa? Karena sangatlah mudah untuk menjadi begitu sibuk saat melakukan “pekerjaan Tuhan” sampai anda memiliki sedikit atau tidak ada waktu sisa untuk menikmati kehadiran Tuhan.

ANDA TIDAK BISA MEMBERIKAN APA YANG TIDAK ANDA MILIKI

“Kekeringan rohani” tidak hanya disebabkan karena kita terus-menerus memberi, tetapi juga karena kegagalan untuk mengisi kembali sumber- sumber daya rohani yang kita miliki.

Seringkali, merupakan keuntungan bagi saya untuk dapat berbicara dengan para pendeta dan pelayan Kristen. Yang saya perhatikan, persoalan serius yang mereka hadapi adalah “kekeringan rohani”. Saya katakan kepada mereka, “Anda tidak bisa memberikan sesuatu yang belum anda terima.” Anda berpikir bahwa persekutuan anda dengan Yesus sebanding dengan pelayanan yang anda lakukan untuk Dia. Namun justru kebalikannya. Pelayanan anda ada disebabkan karena adanya persekutuan dengan Dia. Tanpa memiliki persekutuan dengan Yesus, semua pelayanan anda hanya menjadi sebuah pertunjukan dan kepura- puraan.

Ilustrasi:

Hampir sepanjang hidup saya tinggal di Pennsylvania bagian barat dekat Pittsburgh, sebuah kota yang diidentikkan oleh sebagian besar orang dengan baja, batubara dan cerobong-cerobong asap yang memuntahkan kotoran ke udara. Beberapa waktu yang lalu, gambaran itu memang tepat untuk kota ini, tetapi sekarang tidak lagi. Saat ini Pittsburgh adalah salah satu pemandangan yang terindah di Amerika. Datang melalui terowongan Fort Pitt, salah satu dari terowongan- terowongan yang menjadi jalur lalu lintas menuju ke daerah pusat kota, saya menyaksikan saat kota ini berkembang dan memiliki pemandangan luas yang indah tepat di depan mata. Berapa kalipun saya melihatnya, hal itu masih merupakan pemandangan yang mengagumkan.

Suatu hari saat mendekati terowongan-terowongan tersebut pada jam sibuk, saya terjebak kemacetan lalu lintas yang luar biasa. Mobil- mobil dan truk berbaris bermil-mil, menunggu agar dapat melewati terowongan tersebut. Saat kendaraan-kendaraan merayap turun dari sebuah bukit menuju terowongan-terowongan tersebut, lebih banyak lagi kendaraan lain yang menyusul rangkaian itu, memperparah kebuntuan jaringan jalan bebas hambatan yang sudah kelebihan beban tersebut. Emosi memuncak dan radiator memanas makin menambah rumit keadaan. Perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 20 menit dari bandar udara menuju kota ternyata memakan waktu saya selama hampir dua jam.

Penyiar berita pada malam itu mengungkapkan penyebab terjadinya kemacetan tersebut. Ada sebuah mobil kehabisan bensin di tengah terowongan, pengemudi dan keluarganya duduk diam di dalam mobil itu karena ketakutan (ditambah lagi dengan mendengar umpatan-umpatan kasar dari para pengemudi lain saat mereka melintas). Karena takut untuk keluar dari mobil dan mencari bantuan, mereka tetap terhalang dan terhenti di tengah jalur cepat.

Tidak hanya si pengemudi telah membahayakan dirinya, tetapi dia juga telah membahayakan seluruh keluarganya dan hampir menyebabkan terjadinya bencana bagi ratusan orang lainnya. Bersyukur karena tidak terjadi malapetaka, namun pengemudi tersebut tentu saja telah membuntukan jaringan jalan bebas hambatan dan menyusahkan begitu banyak orang.

AKIBAT KEKERINGAN ROHANI

Hal yang sama terjadi saat anda mengalami “kekeringan rohani”. Kemungkinan anda adalah orang yang kehabisan bensin, namun dampak- dampak dari “kekeringan rohani” yang anda alami mempengaruhi orang- orang di sekitar anda. “Kekeringan rohani” yang dialami seorang pendeta menandakan kematian jemaatnya; tangki rohani seorang ayah yang kosong akan mengorbankan anggota-anggota keluarganya; seorang atasan yang persediaan spiritualnya kering akan memberikan kesan spiritual yang buruk pada para pekerjanya. Lusinan, kadang-kadang ratusan, bahkan mungkin ribuan orang lain terpengaruh secara negatif manakala seorang Kristen membiarkan dirinya kehabisan bahan bakar secara rohani.

BEBERAPA INDIKASI KEKERINGAN ROHANI

“Kekeringan rohani” akan jelas terlihat jika kita melakukan banyak aksi pelayanan tapi memiliki motivasi yang kurang benar. Jika kita sering menggunakan jargon-jargon Kristen tetapi dalam kehidupan nyata kita tidak memiliki kuasa rohani, maka kita sebenarnya sedang mengalami “kekeringan rohani”. Orang yang “kekeringan rohani” ditandai dengan banyaknya menekankan doktrin-doktrin tapi hidup tanpa kasih di dalamnya. Tanda lain dari “kekeringan rohani” adalah ketika kita menjadi pelayan Kristen yang bekerja paling keras tapi sekaligus juga menjadi pengkritik yang paling keras terhadap orang lain dan diri sendiri. Jika seorang pelayan Tuhan tiba-tiba berhenti melayani pekerjaan Tuhan yang biasanya paling ia sukai, karena sebab-sebab yang tidak jelas atau tidak penting, mungkin anda sedang mengalami “kekeringan rohani”.

SUMBER UNTUK MENYEMBUHKAN KEKERINGAN ROHANI

Jika anda mengalami tanda-tanda di atas, kembalilah kepada Tuhan yang menjadi sumber kekuatan kita, seperti yang dikatakan Yesaya,

“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru:” (Yesaya 40:31)

Percayalah kepada kekuatan Allah dan jangan pada kekuatan diri sendiri. Allah berkuasa untuk menciptakan sumber kekuatan rohani untuk mengisi bejana anda yang kosong. Ia adalah “Yehova Jireh”, Allah yang menyediakan. Ia bukan Allah yang hanya menonton tapi Ia terlibat dalam detik demi detik hidup kita hingga saat ini. Ia tidak pernah terlalu sibuk dan terlalu capai untuk mendengarkan dan berkomunikasi dengan kita.

Ketika kita mengalami “kekeringan rohani”, jangan biarkan kesombongan kita menyebabkan kita semakin jauh dari Tuhan. Panggillah nama-Nya, ijinkan Dia untuk membangkitkan semangat anda lagi dan memulihkan kekuatan anda. Dengarlah suara-Nya, peganglah janji-Nya, karena Ia adalah setia.

Sukacita Modal Utama Awet Muda dan Hidup Sehat

Bagikan
Penulis : Manati I. Zega, S.Th

Kemelut dan krisis multidimensi yang melanda negeri ini, sangat berpengaruh dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam penampilannya. Ada sebagian orang yang tidak mampu lagi memelihara dan menjaga kesehatannya sehingga kelihatan tua lebih dini di usia yang masih muda. Hal ini memang dapat dipahami karena beban hidup yang semakin berat dan persoalan hidup yang semakin bergelombang. Kompleksitas problem kehidupan membuat penampilan seseorang tidak lagi awet muda, karena dibebani dengan stress yang tiada hentinya dari hari ke hari.

Sesungguhnya hidup sehat dan awet muda merupakan kerinduan setiap orang. Orang yang usianya telah lanjut, rindu agar penampilannya seperti di saat masih muda. Karena itu untuk memenuhi keinginan tersebut; ada usaha-usaha yang dilakukan ke arah itu, misalnya, menjalani operasi plastik. Wajah yang sudah keriput, dipercantik atau dibuat kelihatan lebih muda melalui beberapa usaha. Dewasa ini banyak usaha yang dilakukan dan terus dikembangkan.

Di masyarakat, kita sering menyaksikan orang yang sudah berusia 50 tahun, tetapi ketika orang lain menilai nampaknya baru berusia 25 tahun atau paling kuat 30 tahun. Lalu orang mulai berkomentar, wah dia sungguh awet muda. Sebaliknya, ada orang yang baru berusia 35 tahun atau 40 tahun; tetapi orang lain menduga telah berusia 60 tahun. Hal ini tentunya menarik untuk diselidiki. Mengapakah demikian ?

Melalui artikel ini, saya berusaha untuk membahasnya. Apakah yang dimaksud dengan awet muda dan bagaimana mendapatkannya ? Dalam “Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern” karangan Muhammad Ali terbitan Pustaka AMANI Jakarta mendefinisikan hal ini. Awet muda adalah “suatu keadaan yang tahan lama dan kelihatannya tetap muda, meskipun usia telah menjadi tua.

Sebagai contoh, Titiek Puspa, penyanyi kondang Indonesia serba bisa kelihatan masih muda walaupun usia sebenarnya sudah tua. Sekarang timbul pertanyaan, apakah itu yang dimaksud awet muda? Awet muda memang hal yang menarik untuk dibicarakan, karena semua orang pasti mengingininya. Oleh sebab itu banyak orang yang bergegas untuk dapat meraihnya. Ada orang yang memakan ramuan tradisional, misalnya jamu untuk mencapai keinginan agar tetap awet muda. Tujuannya adalah agar penampilan fisiknya tetap seperti ketika masih muda. Fisik yang menarik dan tubuh yang sehat merupakan keinginan dari setiap insan. Hal ini sesuai pula dengan semboyan olah raga “Mensana In Corporesano” yang berarti di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Hampir di setiap toko dijual krim yang mencegah kulit jadi keriput. Ada juga salon kecantikan yang menjadikan perawatan muka dengan masker. Bagi yang rambutnya telah beruban, semir yang menghitamkan rambut dijual di toko-toko. Tujuan final dari semuanya ini adalah agar awet muda dan kelihatan lebih muda beberapa tahun.

Pada umumnya persepsi orang tentang awet muda hanya sebatas penampilan fisik semata-mata. Wajah yang tidak keriput, bodi yang tetap tegar dan meyakinkaan; lalu disebut awet muda. Bahkan ada orang yang takut menjadi tua atau disebut tua. Saya pernah mempunyai pengalaman menarik dengan orang semacam itu. Walau fisiknya sudah tua dan bongkok, namun dia minta dipanggil nonik, suatu panggil untuk anak-anak atau remaja.

Dalam perkembangannya, ada sebagian wanita yang melahirkan anaknya tidak melalui “pintu alami” yang diciptakan oleh Tuhan, tetapi melalui perut dalam suatu proses operasi. Kalau ditanya mengapa berbuat demikian? Jawabnya agar tetap cantik, ayu, dan satu lagi agar tetap awet muda.

Ada juga orang yang berpendapat, kita harus tetap awet muda untuk menghindari kemungkinan suami atau istri berselingkuh dengan orang lain. Fakta membuktikan bahwa banyak pasangan suami istri yang bercerai melihat pasangannya tidak lagi seperti ketika masih muda dahulu. Karena itu, penampilan fisik tetap dipelihara agar menarik. Bahkan ada usaha yang dilakukan dengan memesan obat-obatan tertentu dengan harga yang sangat mahal, agar penampilan fisiknya tetap awet muda. Yang perlu diperhatikan disini adalah, apakah awet muda itu hanya sebatas penampilan fisik? Kalau definisinya demikian, maka cakupan pengertian awet muda itu sangatlah sempit.

Karena orang pada umumnya membatasi pengertian awet muda tersebut hanya sebatas penampilan fisik, akibatnya terlalu mengasihani diri dengan tujuan menjaga kesehatan. Tentang pokok ini, pakar kesehatan S.D Gunatilaka, LSM dan S. Winstedt, M.B; Ch. B mengatakan demikian : “We can be healthy and make the most of life by forming good habits and practising the law of health.”

Menurut pendapat dari pakar di atas, dengan membentuk kebiasaan yang baik dan mempraktekkan hukum-hukum kesehatan; maka orang tersebut sehat sehingga akibatnya tetap awet muda dalam penampilan fisik yang dapat dilihat oleh orang lain. Apakah pengertiannya demikian?

Menurut pemahaman saya, pengertian awet muda sebagaimana disebutkan di atas amatlah sempit. Tidak mungkin dikatakan awet muda kalau hanya meliputi penampilan lahiriah. Untuk lebih memperjelas pengertian ini, kita akan melihat melalui pengertian yang terdapat di dalam Alkitab sebab Alkitab adalah kebenaran sejati yang dapat diyakini seutuhnya. Alkitab adalah Firman Allah yang tidak mungkin salah sebab diilhami (theopneustos, bhs Yunani) oleh Allah.

Awet muda yang dimaksud oleh Alkitab bukanlah hanya sebatas penampilan fisik, melainkan dalam pengertian yang jauh lebih luas. Maksudnya, penampilan fisik dan juga semangat hidup, semangat melayani, loyalitas serta keadaan seperti ketika masih muda. Dalam hal ini, usia tidak bisa dijadikan standar penilaian bagi seseorang yang awet muda. Dalam kenyataan sehari-hari, kita bisa menyaksikan ada orang yang usianya sudah tua, tetapi semangat pelayanannya sangat tinggi. Ini juga dapat dikatakan sebagai awet muda. John Sung, sangat terkenal sebagai orang yang memiliki semangat pelayanan yang sangat tinggi dan berkobar-kobar bagi kemuliaan Tuhan Yesus Kristus. Dengan semangat pelayanannya yang membara; dedikasinya yang layak dicontoh oleh generasi berikutnya, John Sung digelari sebagai “Obor Allah di Asia”. Dia tidak kenal lelah dalam pelayanannya; meskipun dalam keadaan sakit, tetap melayani. Inilah yang disebut dengan awet muda. Rev. Dr. Billy Graham terkenal sebagai penginjil dunia yang berkualitas dan bergengsi dalam skala dunia internasional. Dalam usianya yang tua sekarang, beliau masih memiliki semangat seperti ketika masih muda. Api pelayanannya tidak pernah pudar ditelan usia yang semakin tua. Inilah contoh awet muda yang saya maksudkan. Awet muda bukanlah hanya penampilan lahiriah, itu namanya awet muda yang hanya separuh-separuh, tetapi yang dimaksud adalah secara menyeluruh.

Alkitab memberikan resep mujarab dan tidak dapat dibeli di toko atau supermarket manapun. Banyak sarjana sekuler yang non teologi menyetujui resep tersebut. Bahkan dunia kedokteran pun sangat mendukung kualitas resep dimaksud. Resep itu adalah SUKACITA. Di dalam Alkitab, Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama mencatat 150 kata tersebut. Kata tersebut adalah SUKACITA. Kata yang masih serumpun dengannya adalah SUKARIA dicatat sebanyak 24 kali. Tentunya merupakan hal yang serius dan patut mendapat perhatian dari kita semua. Dalam bahasa Ibrani, sukacita diterjemahkan “simkha”; berasal dari kata kerja “sameakh”. Pengertian dari kata ini adalah kegembiraan yang berlimpah yang bisa dilihat secara lahiriah oleh seorang yang berada di sekitar kita. Juga berarti, kegembiraan yang keluar dalam hati seseorang sebagaimana di saat-saat sukar dan tidak mungkin bergembira. Sedangkan dalam Perjanjian Baru sukacita menggunakan kata Yunani “khara”, berasal dari kata kerja “khara”. Kata lain yang masih mempunyai arti yang sama adalah “agalliasis” yang berarti sukacita yang besar, yang tak tertahankan lagi, sukacita yang meluap setiap saat dan tidak dipengaruhi oleh kondisi buruk yang ada di sekitarnya. Maksudnya, apapun yang terjadi tetap bersukacita, sekalipun pada saat yang tidak mendukung dan menguntungkan secara pribadi.

Rev. DR. Billy Graham dalam bukunya “Roh Kudus”, mengutip pendapat uskup “Stephen Neil” yang menyatakan demikian : “sebab orang-orang Kristen mula-mula adalah orang yang penuh SUKACITA, karena itu dapat menaklukkan dunia”. Mereka mampu untuk melalui masa-masa sukar, masa- masa krisis, masa-masa yang tidak menyenangkan sebab mereka tetap di dalam sukacita.

Dewasa ini, masyarakat Indonesia masih dalam krisis multidimensi. Krisis ekonomi, krisis moneter, krisis kepercayaan kepada pemerintah, krisis moral, krisis sosial, krisis etika dan bahkan yang lebih mengerikan lagi krisis iman di kalangan orang-orang yang percaya kepada Tuhan. Sebagian orang sudah tidak meyakini kemahakuasaan Tuhan. Mereka berpikir Tuhan juga sedang mengalami “krisis” sehingga tidak mampu lagi menolong umatNya. Benarkah demikian? Tentunya pendapat ini salah, sebab Allah tidak terimbas oleh krisis. TanganNya telah berpengalaman untuk menolong dan memberkati umat-Nya. Sekalipun keadaan di luar mengerikan dan sepertinya tidak ada lagi yang mampu menolong, namun perhatikan hal ini baik-baik, bagi anak-anak Tuhan tersedia jalur khusus untuk menolong dan memberkati mereka yang berharap dan menantikan pertolonganNya. Bagaimana dengan Anda? Tetaplah bersukacita sekalipun kesukaran datang menghimpit dan menindih kehidupan Anda.

Mungkinkah Tetap Bersukacita?

Pertanyaan yang biasa dilontarkan adalah “bagaimana saya bisa bersukaciita, sementara saya sedang berada dalam keadaan krisis yang amat sukar?” Alkitab mengajarkan walaupun dalam keadaan sukar tetaplah bersukacita. Apa mungkin? Ya, mungkin. Sebab Allah itu sumber sukacita. Kalau kita meninjau dalam Alkitab, kita akan menemukan tokoh-tokoh yang tetap bersukacita sekalipun hidup di tengah situasi krisis yang sangat menekan kehidupan mereka. Sebagai contoh adalah Paulus. Paulus adalah tokoh yang tidak terimbas dengan krisis sekalipun dirinya hidup di tengah situasi yang sangat krisis. Dia terkenal sebagai pribadi yang tetap bersukacita dalam penderitaannya. Surat Filipi ditulisnya ketika sedang berada dalam penjara. Menurut logika manusia, penjara bukanlah tempat yang layak untuk bersukacita, tetapi dalam surat yang ditulisnya Paulus justru tetap bersukacita. Situasi penjara yang tidak menguntungkan bukanlah alasan baginya untuk tidak mengungkapkan sukacitanya. Surat Filipi sebagai bukti otentik dari pernyataan ini. Karena itu, surat Filipi sangat terkenal dengan tema sentral “sukacita”. Dengan demikian, kesukaran dan penderitaan hidup bukanlah hal yang asing baginya, ia tidak pernah mempersalahkan Allah tetapi Alkitab menyaksikan bahwa Paulus tetap bersukacita. Bahkan suatu kali bersama dengan rekannya Silas, di dalam penjara mereka tetap bersukacita, mereka bernyanyi dan memuliakan Allah yang mereka percayai.

Mengapa Aku Tidak Dapat Bersukacita?

Sukacita bersumber dari Allah. Allah adalah sumber sukacita sejati. Sukacita hanya didapatkan di dalamNya. Ini berarti, bahwa sukacita mampu diraih oleh seseorang apabila dia dekat dengan Tuhan. Pemazmur menyaksikan bahwa hanya dekat Allah saja ada ketenangan abadi yang tidak didapatkan di dunia ini (Mazmur 62-63). Seorang tokoh yang terkenal dalam dunia EXACTA bernama PASCAL, dia terkenal dengan teori gas yang pernah ditemukannya dengan formulasi F1 = F2. Pascal berkata : “Di dalam hati manusia ada titik yang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapapun juga kecuali hanya oleh Penciptanya.” Pendapat ini dapat dikatakan Alkitabiah sebab manusia adalah ciptaan Allah, maka sebagai ciptaan dia harus berhubungan dengan Penciptanya; kalau tidak ada dia akan merasakan kehampaan dan kekosongan jiwa di dalam hidup ini. Hal tersebut sangat sesuai dengan yang dikatakan oleh Pemazmur di atas. Terjawablah pertanyaan di atas, bahwa seseorang tidak dapat bersukacita sebab tidak dekat dengan Allah. Dunia ini tidak dapat memberikan sukacita, sukacita hanya dapat diberikan oleh oknum illahi, yang dapat ditemukan dalam pribadi Tuhan kita Yesus Kristus.

Sukacita Analisis Kedokteran

“Sukacita adalah resep paling mujarab agar dapat awet muda” demikianlah tutur Dr. Ellyana Dewi yang pernah saya wawancarai beberapa tahun lalu. Menurutnya, sukacita melebihi obat semahal apapun dalam mencapai awet muda. Dengan bersukacita berarti mengurangi ketegangan-ketegangan psikologis yang dialami oleh seseorang. Dia masih mampu tersenyum ketika beban hidup menindih kehidupannya. Dia masih mampu memikirkan hal-hal positif di saat-saat yang negatif mengelilingi kehidupannya. Menurut Ilmu Kesehatan, ketegangan psikologis menyebabkan wajah seseorang kelihatan lebih tua, sekalipun usianya masih muda. Tidak ada keceriaan yang terpancar dari kehidupannya. Membiarkan diri terhanyut dalam suasana kemurungan sangat mempengaruhi penampilan seseorang. Wajah yang sebelumnya mulus sekarang mulai keriput, akibatnya kelihatan lebih tua di usia yang masih muda. Tetapi sebaliknya, orang yang selalu bersukacita, selalu riang, selalu tenang menghadapi kenyataan hidup ini sekalipun hal itu sukar baginya. Mengapa? Sebab dia tidak membiarkan tekanan-tekanan menguasai seluruh kehidupannya. Dengan sukacita yang melimpah-limpah, maka masalah yang berat sekalipun nampaknya kecil, sebab dia masih mampu memikirkan jalan keluarnya. Karena itu, di dalam ilmu Kedokteran seseorang yang menderita tekanan yang luar biasa; biasanya dokter menghadapinya dengan situasi santai sehingga menyebabkan pasien tidak tegang bahkan berusaha membuat si pasien tertawa. Tujuannya agar tidak terjadi ketegangan psikologis. Menurut Dr. Ellyana Dewi, sangat tepatlah kata Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab. Lebih lanjut tuturnya, resep ini tidak dijual dimana-mana kecuali seseorang datang kepada Tuhan Yesus. Dalam situasi sukar pun tetaplah bersukacita. Diabad ini, ketegangan dan krisis yang semakin sukar akan melanda seluruh umat manusia. Mengapa? Karena memasuki abad XXI, tantangan dan beban kehidupan semakin berat. Hanya orang-orang yang tetap hidup dalam sukacita akan mengalami awet muda dalam pengertian yang luas. Memasuki abad yang menegangkan ini, penyair D. Zawawi Imron berpendapat, “orang tidak perlu banyak duit untuk merasakan betapa indahnya hidup ini. Kalau kita berpikir dengan sungguh-sungguh dan menghayati hidup ini secara mendalam, menyaksikan seekor katak yang meloncat ke dalam airpun sudah mendatangkan rasa sukacita yang luar biasa.”

Analisa Para Pakar Alkitab

Dr. Billy Graham dalam buku yang sama, menegaskan bahwa “sukacita adalah karakter illahi yang memampukan anak-anak Tuhan melewati masa- masa sukar.” Lebih lanjut dikatakannya, sukacita membuat kita tetap dalam keadaan sehat, baik jasmani maupun rohani sehingga serta merta awet muda pun mengikutinya. Ketika kesehatan seseorang mulai stabil; maka ia akan mampu melakukan apa saja yang dikehendakinya. Meskipun usia lanjut, tetapi mampu melakukan perkara-perkara kekal. Inilah yang dimaksud dengan awet muda dalam pengertian yang luas. Luis Palau, dalam majalah “Christianity Today” mengatakan bahwa sukacita yang membuatnya bersemangat di dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Beliau mampu melewati masa-masa yang mengerikan dalam penginjilan/Kebaktian Kebangunan Rohani karena tetap bersukacita di dalam Tuhan yang telah memanggilnya untuk melayani. Lebih lanjut dikatakannya, “sukacita resep mujarab supaya tetap awet muda.” Sukacita yang dari Allah keluar dari dalam hati seseorang dan hal tersebut merupakan obat yang paling efektif agar tetap awet muda. Ide ini sangat didukung oleh ayat-ayat Firman Tuhan. Salah satu ayat yang berbicara tentang ayat ini dicatat oleh kitab Amsal. “Hati yang gembira (sukacita) adalah obat.” Lalu dari ayat ini muncullah satu pujian yang sangat indah. “Hati yang gembira adalah obat, seperti obat hati yang senang, tapi semangat yang patah keringkan tulang, hati yang gembira Tuhan senang.” Bagaimana dengan Anda? Tetaplah bersukacita di dalam Tuhan.

Hubungan Awet Muda Dengan Umur Panjang.

Pada pembahasan di atas dikatakan bahwa awet muda di era krisis versi teologis didapatkan melalui sukacita. Sukacita memungkinkan seseorang tetap dalam kondisi tubuh yang sehat. Berarti, orang yang tetap sehat memiliki kemungkinan yang besar untuk memperoleh umur panjang. Tidak logis kalau seseorang yang sakit-sakitan beroleh umur panjang karena setiap saat maut siap menantinya. Kalaupun mendapatkan umur panjang itu hanya karena mukjizat Tuhan. Jika dipertimbangkan dengan seksama, sangat kecil kemungkinan bagi orang yang sakit-sakitan untuk mendapatkan umur panjang. Sebaliknya, seseorang yang awet muda selalu bergembira karena punya kesempatan emas meraih umur panjang. Dalam hal, kita tidak boleh melupakan bahwa umur manusia berada di tangan sang Pencipta, tetapi minimal orang yang awet muda berpeluang besar untuk mencapai umur panjang yang Allah berikan bagi anak-anakNya. Dari keseluruhan uraian di atas, secara psikologis, medis/kedokteran, ide teologis tentang awet muda diperoleh hanya melalui sukacita. Sangatlah tepat bagi kita sekarang untuk tetap bersukacita di zaman yang menegangkan dan multi krisis ini. Setuju? Tetaplah bersukacita di dalam Tuhan karena kita percaya dan berharap kepada Allah yang tidak terimbas dengan krisis apapun juga.

Untuk Apakah Aku Di Dunia Ini?

Bagikan
Sering kali kita merasakan hidup ini begitu kosong? Bayangkan saja teman yang dekat tidak mau mengerti kita. Orang tua jauh dari kita, teman-teman gereja pada sibuk semua, Paper setumpuk belum diselesaikan belum lagi ditambah ujian yang segera menyusul. Kita merasa begitu sibuk, sekaligus sepi dan bosan. Bagi mereka yang bekerja mempunyai kesibukan dan stress tersendiri. Pada saat seperti itu, kita mulai bertanya kepada Tuhan, untuk apa aku ditempatkan di dunia ini? Apakah Tuhan itu hanya iseng dan sedang menyengsarakan aku? Atau ada maksud lain yang terkandung di dalamnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita perlu kembali kepada “aku” nya, yakni Manusia? Sebenarnya apa maksud Allah sesungguhnya menciptakan kita? Apakah hanya sekadar mengisi dunia yang kosong ini? Atau ada hal yang lebih khusus yang harus kita kerjakan?

Aku Mempunyai Mandat
Melalui Mazmur 8 yang kita baca, muncul sebuah pertanyaan? SIapakah Manusia itu sebenarnya? Mazmur ini menceritakan bahwa manusia itu mempunyai kesadaran, akal dan pikiran, dia sedang melihat keadaan sekitarnya, melintasi diri dan menuju pada alam semesta. Pada akhirnya manusia itu akan melampaui alam semesta itu dan berbicara kepada Tuhan.

Ketika matanya menoleh ke atas. Ia melihat adanya bintang dan bulan yang Tuhan tempatkan, ia berpikir tentang siapakah sebenarnya manusia itu? Apa artinya ia ditempatkan oleh Tuhan di dunia ini? Kalau diobandingkan dengan dunia secara keseluruhan, manusia itu begitu kecil , ibarat debu di depan mata Tuhan, tidak artinya, namun mengapa IA masih mengingatnya? Pada saat itulah, kembali Manusia itu disadarkan, bahwa Tuhan menciptakannya dan menempatkan ke dunia ini merupakan suatu kehormatan dan kemuliaan. Tuhan mempunyai maksud tertentu memilih manusia. Karena Tuhan memberikan Mandat kepada manusia untuk memelihara dan mengusasai segala ciptaannya yang lain.

Diberikan hak untuk menguasai yang lain bukan berarti manusia boleh berbuat seenaknya. Ingat, di sini dikatakan bahwa manusia bukan menjadi Tuan, namun ia hanya sebagai Mandataris Tuhan, yang dipercayakan untuk mengelola ciptaan lainnya. Ketika Pemazmur katakan “JIka aku melihat lagit-MU”, maka pada saat itu sebenarnya ia sedang menengadah ke atas. Namun walaupun semua itu berada di atas, ternyata semua itu di bawah kekuasaan manusia. Itulah sebabnya, maka perlu di ingat, bahwa Tuhan memberikan manusia mandat untuk menguasai ciptaan yang lain, tidak termasuk menguasai sesama manusia. Dan apabila itu terjadi, maka telah melanggar kodrat Tuhan. Jika manusia diciptakan di bawah Allah dan di atas alam, maka tidak ada manusia yang berada di atas atau di bawah manusia lain? Tidak peduli kaya miskin, kulit putih maupun hitam, berpengalaman atau tidak. Berpengetahuan atau tidak, DIhadapan Tuhan semua manusia bernilai sama.

Itulah sebabnya kita tidak boleh merasa rendah diri. KaLau anda tidak bisa main piano, tidak masalah karena memang anda tidak pernah belajar piano. Kalau anda tidak menjadi dokter tidak masalah, karena anda bukan dokter tetap mungkin anda ada kelebihan di bagian yang lain. Jadilah anda sendiri, jangan berusaha menjadi orang lain. Masllahnya adalah , kadang kita tidak menghargai diri kita, tatkala kita diberi kesempatan untuk belajar, kita tidak mau belajar; dan kita ketinggalan dari orang lain. Pada waktu itulah kita merasa diri kita di bawah orang lain. Pada waktu itu kita mulai rendah diri, merasa tidak berguna, padahal Tuhan tidak pernah membuat kita menjadi orang yang tidak berguna.

Aku Mempunyai Nilai/Harga (Valuable)
Di dalam hidup ini ada dua hal yang menjadi dorongan untuk kita hidup dengan bergairah; tujuan dan Arah hidup kita dan Nilai hidup kita. Ketika kita mengejar sesuatu yang begitu bernilai, kita akan memiliki kegairahan hidup. Hidup kita ini sangat bernilai, Pemazmur mengatakan kita diciptakan hampir sama dengan Allah. Suatu penghormatan yang sdngat tinggi diberikan kepada manusia. Tuhan tidak membedakan antara kita satu dengan yang lain. Di dalam Filipi 3:7-14 rasul Paulus menyatakan bahwa Paulus dulu berpikir bila ia dapat mencapai pola pikir yang terbaik, ia berhasil. Paulus telah menjadi Farisi ketika baru berumur 30-an. Tetapi begitu ia mengenal Tuhan, ia mendapatkan value system yang jauh lebih mulia. Sebelum ia mengenal Kristus, ia tidak mengerti akan nilai yang tertinggi ini. Banyak diantara kita barang kali pernah mendengar kesaksian tentang betapa boboroknya seseorang sebelum bertobat, namun setelah bertobat ia menemukan bahwa dirinya berharga, bernilai, maka ia berusaha menegerjakan hidupnya dengan hal-haa yang yang berkenan kepada Tuhan.

Dalam salah satu kotbah Sutjipto Subeno hamba Tuhan GRII Surabaya, beliau membauat contoh yang cukup menarik. Ketika berbicara tentang nilai, kita perlu mengerti tentang Axiology. Axiologi adalah bagaimana kita menilai nilai. Nilai adalah nilai, tapi apakah ia bernilai. Bila kita salah menilai nilai, kita akan tertipu. Kita tertipu karena kegagalan kita menilai nilai. Ketika kita mengejar sesuatu, hidup kita pertaruhkan utk sesuatu, sadarkah kita kenapa kita melakukan itu. Paulus mengerti bahwa ketika kita hidup untuk Tuhan, itu adalah the highest value (Nilai Tertinggi) untuk hidup kita. Ketika mempelajari ttg Axiologi ini, mari kita pikirkan perumpamaan ini. Katakanlah kita punya 1 kg Emas dan 1 mangkok Soto Ayam. Ketika kita menunjukkan ini kepada seekor anjing, maka ia akan memilih Soto itu. Karena Anjing tidak dapat membandingkan antara Emas dan Soto.

Axiologi harus dilihat dari dua sudut:

Nilai intrinsic : nilai di dalam dirinya sendiri

Nilai Ekstrinsik : nilai yg diberikan subyek penilai kepada obyek nilai.

Buat anjing itu, ia menilai secara ekstrinsik. Secara intrinsik, Emas lebih bernilai dibanding satu mangkok Soto. Satu hal yang harus kita mengerti adalah nilai intrinsik tidak diganggu oleh subyek penilai.
Matius 16: 26 berbicara ttg nilai intrinsik suatu nyawa. Allah mengutus anakNya ke dunia, karena harga yang Dia mau bayar terlalu mahal. Harga sebuah nyawa terlalu mahal. Kalau bukan suatu nilai yang begitu mahal, Allah tidak akan menjadi manusia, meninggalkan takhta-Nya menjadi manusia, bahkan menjadi budak(Filipi 2). Hal ini merupakan suatu penderitaan yang luar biasa. Pencipta turun jadi ciptaan (penderitaan ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan seorang manusia diturunkan jadi seekor anjing). Di sini kita dapat melihat betapa begitu mahalnya nilai hidup kita. Betapa menyedihkannya kita, bila kita menyia-nyiakan hidup yg begitu bernilai ini. Paulus yang mengerti nilai hidupnya ini, ia mengarahkan seluruh hidupnya untuk Kristus.

Menjelang Hari Natal dan Tahun Baru, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, meminta satu gulung. “Untuk apa ?” – tanya sang ayah. “Untuk kado, mau kasih hadiah.” – jawab si kecil. “Jangan dibuang-buang ya.” – pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil. Persis pada Tahun Baru, pagi-pagi si cilik sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Pa, Pa – ada hadiah untuk Papa.” Sang ayah yang masih malas bangun, matanya pun belum melek, menjawab, “Sudahlah nanti saja.” Tetapi si kecil pantang menyerah, “Pa, Pa, bangun Pa – sudah siang.” “Ah, kamu gimana sih – pagi-pagi sudah bangunin Papa.” Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya. “Hadiah apa nih?” “Hadiah Tahun Baru untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang.” Dan sang ayah pun membuka kado itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga. “Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal ?” Si kecil menjawab, “Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa.” Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. “Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan kotak ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong – diisi lagi ya!”

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi ? Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain. Kesimpulannya, Kosong dan penuh – dua-duanya merupakan produk dari “pikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong. Permisi tanya, anda sudah mengisinya dengan apa saja? Apakah anda isi dengan lukisan yang yang indah yang mebuat orang-orang tertarik, atau coret-coretan yang membuat orang tidak berkenan melihatnya.

Aku Mempunyai Tanggung Jawab (Responsible)
Setiap ciptaan dicipta oleh pencipta menurut tujuan/maksud pencipta, dirancang oleh pencipta, dijadikan oleh pencipta, hasil akhirnya untuk pencipta (Yesaya 43:7 “Semua orang yang disebutkan dengan namaKu yang Kuciptakan untuk kemulianKu, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”). Hidup kita ada adalah untuk maksud Allah. Tujuan ini jelas. Kita perlu kembali seperti yang Tuhan tetapkan. Itu sebabnya kita tidak bisa hidup sesuka hati kita. Ada hal yang perlu kita kerjakan tatkala kita diberikan kehidupan. Ciptaan bisa mengalami disfungsi. Bila ciptaan sudah tidak berfungsi seperti seharusnya, ciptaan itu akan dibuang. Tuhan yang mengasihi kita adalah Tuhan yang juga menyediakan neraka. Bila manusia tidak dapat berfungsi sepert iseharusnya, tempat yang tepat utk kita adalah di neraka. Itulah alasan hidup ini bukan utk sembarangan.

Penilaian Tuhan bukan berdasarkan berapa lama kita hidup di dunia ini, tetapi berdasarkan berapa bobotnya tatkala kita menjalani kehidupan itu. Kualitasnya lebih dipentingkan dalam hal ini. Itu sebabnya ada satu nyanyian yang pernah kita nyanyikan dikatakan “Hidup bukan hanya hari, yang penting makna isinya”

Ayat yang terakhir di dalam Mazmur 8 ini berbunyi demikian ” Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!” INti dari kalimat ini mau mengajakan kepada kita bahwa pada akhirnya di dalam seluruh kehidupan kita adalah untuk kemuliaan Tuhan. Kalimat ini mengandung konsekwensi yang sangat mendalam. Sebab semasa hidup kita cukup banyak kesempatan untuk kita berbuat hal yang tidak memuliakan Tuhan. “Orang bilang, panas setahun dapat dimusnahkan dengan hujan sehari.” Dan ketahuilah kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita pada masa yang akan datang?

Nilai dan tujuan hidup kita yg sesungguhnya mengingatkan kita bahwa hidup kita dapat mejadi hidup yang sangat bermakna. Betapa sayangnya bila kita buang hidup kita untuk yang lain. Betapa rugi kalau kita sia-siakan hidup itu. Karena selain diri kita dicemooh, Tuhan yang kita percayai juga dicemooh. Kita ibarat representative dari dari Tuhan, benar keselamatan dari Tuhan itu diberikan kepada kita satu kali dan tak akan pernah hilang, namun di dalam menjalani hidup sebagai orang percaya ini; kita perlu isi dengan hal-hal yang berbobot dan bermakna. Percuma hidup kita panjang, kalau di sini dengan hal-hal yang tidak memuliakan nama Tuhan.

2 Raja- raja 20:6 Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku.” Tetapi apa yang dilakukan Hizkia, tadinya dia taat pada Tuhan, setelah itu ia melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Saya kurang tahu sejauh mana kehidupan kita? Saya juga tidak tahu sejauh mana kita menyerongkan diri dari Tuhan.? Namun yang pasti kalau kita mulai merasa bahwa Mandat yang diberikan Tuhan pada kita sudah kurang powernya, Kemudian Nilai kehidupan kita sudah menjadi begitu Obral, dan Tanggung Jawab kita kepada Tuhan mulai terganggu; mari cepat-cepat ubah direction kita, sebab kita sedang menuju ke alamat yang keliru.

Di gereja kami, tepatnya tgl 18 Nopember yang lalu kami baru saja merasa sangat berduka, karena ada seorng anggota yang baru saja tiga bulan yang lalu pulang ke Indonesia meninggal dunia. Beliau meninggal dalam usia yang sangat muda, yaitu 31 tahun menderita poenyakit kanker, dengan meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang masih berumur kurang lebih 3 tahun. Walaupun almarhum meniuggal Indonesia, namun kami karena merasa sangat berduka, di dini juga kami ikut berkabung. Salah satu hal yang bisa mengakibatkan semua ini terjadi adalah, semasa hidupnya saudara kami ini ada satu teladan yang sangat baik yang terlihat bagi semua anggota geraja di sini. Hidupnya telah menjadi berkat bagi orang banyak. Kini orangnya sudah tiada, namun kebaikannya; kesetiaan dalam pelayanan dan sebagainya dapat diteladani. Saya yakin kita tentu rindu, hidup kita berarti di dunia ini, walaupun secara rohani kita mengerti jelas kita dititip Tuhan di dunia ini; namun kita tidak mau hidup sembarangan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s