Menyikapi Bunuh Diri, Diiring Simpati

Bagikan
Penulis : Eka Darmaputera

Masih dalam rangkaian pembahasan Hukum Keenam, “JANGAN MEMBUNUH”, kini kita akan membahas sekadarnya masalah “bunuh diri”. Tentu saja! Sebab kalau masalah “euthanasia” saja yang notabene tak pernah secara eksplisit muncul dalam alkitab kita bicarakan, betapa lagi soal “bunuh diri”.

Ditambah lagi akhir-akhir ini, ketika jumlah peristiwa bunuh diri meningkat keras dan kian sering terjadi. Dari yang dilakukan karena orang karena tak tahan terus-menerus diimpit kemelaratan, sampai pada yang dilakukan oleh orang yang na´uzibillah kaya-rayanya. Ingat konglomerat yang terjun bebas dari tingkat 56 sebuah hotel?

Dari yang pelakunya orang dewasa, sampai yang pelakunya, astagafirulah, masih sangat belia. Ingat anak 12 tahun yang gantung diri, lantaran keluarganya tidak mampu menyediakan uang 2,500 rupiah? Dan . jangan lupa Anda sebutkan, semakin populernya metode terorisme dengan “bom bunuh diri”!

Alkitab, baik PL maupun PB, ada menyebutkan beberapa kasus bunuh diri. Ada yang melakukannya karena soal harga diri, seperti yang dilakukan oleh Ahitofel (2 Samuel 17:23), Abimelekh (Hakim-Hakim 9:54), atau Saul (1 Samuel 31:4-5). Prinsip mereka agaknya, “Lebih baik mati berkubur debu, ketimbang hidup berkalung malu”.

Tapi ada pula yang melakukannya dengan prinsip yang lain, yaitu prinsip, “Kurelakan tubuhku hancur lebur, asal semua sama-sama jadi bubur”. Inilah yang melatar-belakangi tindakan nekat Samson, (Hakim-Hakim 16:23-31) dan Zimri (1 Raja-Raja 16:18).

Yudas, si orang Iskariot itu? O, dia lain lagi. Ia menggantung diri, membawa penyesalan yang menurut perasaannya tak mungkin terobati, atas kesalahan yang dalam anggapannya tak mungkin terampuni (Matius 27:3-5). Alasan yang masuk akal juga, sebab apa sih yang lebih menjijikkan dari pada mengkhianati cinta?

* * *

SEBENARNYA, bagaimana sikap Alkitab? Sangat jelas dan amat tegas! Alkitab menolak dan mengutuk keras. Sebagaimana kita ketahui, ia mengutuk setiap bentuk “pembunuhan”.

Sabda Allah melalui Nuh, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya . sebab Allah membuat manusia menurut gambar-Nya sendiri” (Kejadian 9:5-6). Karena itu, walau terempas ke dasar penderitaan yang terdalam sekali pun, seorang anak Tuhan seperti Ayub tetap menolak dengan tegas anjuran untuk bunuh diri (Ayub 2:9-10).

Di mata orang Yahudi, “bunuh diri” adalah “suatu tindakan yang sengaja dilakukan, dengan tujuan menghancurkan diri sendiri”. Jadi, sepenuhnya negatif! Sepenuhnya destruktif!

Sebab itu dalam adat mereka, mayat orang yang meninggal karena bunuh diri harus dipertontonkan secara terbuka, tak boleh ada perkabungan baginya, dan pantang dikuburkan sampai matahari terbenam. Lagi pula . mesti dikuburkan terpisah dari yang lain.

Namun, toh di cela-cela keketatan mereka menaati hukum yang sangat termashur itu, hebatnya, mereka juga cukup realistis. Mereka menyadari, bahwa dalam kehidupan nyata bisa saja muncul kasus-kasus ekstrem, di mana tindakan bunuh diri yang resminya tidak benar itu justru diperlukan.

Penulis sejarah, Yosefus, mencatat peristiwa yang mengerikan sekaligus mengesankan sehubungan dengan itu. Ketika benteng Masada diserang musuh, dan segala harapan mempertahankannya telah punah, apa yang terjadi? Eliezer, sang panglima, memerintahkan pasukannya membantai semua orang Israel yang ada, dan setelah itu membunuh diri mereka sendiri!

“Kita masih punya pilihan bebas, yaitu untuk mati secara terhormat .,” demikian ia berseru, “Biarlah perempuan-perempuan kita mati ketimbang dicemari, dan laki-laki kita membuktikan bahwa mati lebih baik ketimbang jadi budak . Kematian membawa kemerdekaan bagi jiwa . Karena itu, tak sudi diperhamba, marilah paling sedikit kita mati sebagai orang-orang merdeka!”. Heroik sekali. Hari itu Yosefus mencatat, ada 960 orang membunuh diri mereka.

* * *

NAMUN Yosefus juga mencatat sisi yang lain dari persoalan kita. Dalam hal ini, ia malah ikut langsung terlibat. Tatkala dalam insiden Yotapata, ia mengimbau dengan sangat agar orang-orang Yahudi tidak bunuh diri.

Dalam imbauannya itu ia berkata, antara lain, “Mengapa kalian menyia-nyiakan kesatuan yang begitu indah antara tubuh dan jiwa, dan ingin menceraikannya? Takut mati bagi seseorang yang mesti mati, adalah sama pengecutnya, dengan orang yang ingin mati ketika ia belum seharusnya mati.

Ketahuilah, bahwa tak ada kepengecutan yang lebih besar, dari pada tindakan seorang nakhoda yang, lantaran takut pada badai yang akan datang, lalu menenggelamkan seluruh kapal, bahkan sebelum prahara itu benar-benar tiba.

Sesungguhnya, bunuh diri adalah tindakan melawan kodrat, dan sekaligus tindakan melecehkan Tuhan. Mereka yang mati terhormat memenangkan kemuliaan, tapi yang mati karena bunuh diri mewarisi kekelaman”.

Begitulah bagi orang Yahudi, bunuh diri adalah dosa. Walaupun kadang-kadang sekali, bisa saja seseorang dibenarkan merelakan nyawa karena iman, demi keyakinan, dan untuk Allah-nya.

Kata Yesus, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yohanes 12:25)

* * *

TAPI dalam kenyataan, kita tahu, iman bukan satu-satunya motif orang mencabut nyawa sendiri. Malah boleh dikatakan, yang begini termasuk jarang sekali. Yang lebih sering terjadi adalah, orang melakukannya karena “menthok”.

Karena semua jalannya seolah-olah membentur tembok. Ia tak mungkin ke mana-mana lagi. Ia tak punya pilihan apa-apa lagi.

Orang melakukannya, karena merasa tak sanggup lagi memikul beratnya beban kehidupan. Tak mampu lagi melanjutkan perjalanan. Karena tenaganya telah terkuras habis. Semangatnya telah padam. Dan yang ia rasakan sekarang, hanyalah kesakitan dan kepenatan semata-mata, sementara di depan ia tak melihat secercah pun cahaya pengharapan atau kemungkinan perbaikan. Sebab itu, mengapa memperpanjang derita?

Masalah bunuh diri, saya akui, adalah masalah etis. Tapi mengingat sifat permasalahannya, penting sekali saya tekankan, bahwa “masalah etis” ini wajib kita bahas dengan “sikap etis” pula! Ini perlu saya tekankan, karena – sebagaimana berulang-ulang saya kemukakan — betapa sering orang membusungkan dada berkata hendak menegakkan moral, tapi praktik dan cara-caranya sama sekali tidak bermoral.

“Sikap etis” yang saya maksud adalah, sikap bersedia menempatkan diri dalam posisi dan situasi si pelaku. Melihat dari sudut pandangnya. Ikut tergetar oleh sedu sedannya. Ikut tersayat oleh kepedihannya. Mendengar dengan jelas rintihannya yang tak terucapkan.

Maksud saya, kita tidak datang sebagai seorang guru yang mau mengajari, atau sebagai seorang pengkotbah yang mau mencerca, atau sebagai seorang penasihat yang berpretensi bijak dan tahu semua. Tapi datang semata-mata sebagai sahabat.

Bukan dengan menyandang kaidah-kaidah moral, tapi dengan mulut mencibir. Melainkan datang membawa empati dan simpati, yang memancar langsung dari hati. Tidak asal membenarkan, sebab kita mesti membuat penilaian. Tapi penilaian yang kita buat, adalah penilaian dari dalam situasi si penderita. Penilaian yang memahami sepenuhnya pilihan-pilihan yang kongkret, sulit, dan pelik, yang dihadapi saudara kita.

* * *

DENGAN berbekal sikap seperti itu, maka yang pertama-tama harus kita katakan adalah, bahwa bunuh diri selalu terjadi dalam konteks dan realitas kehidupan yang tidak sehat, tidak wajar, dan tidak ideal. Dalam situasi normal, sikap yang wajar tentu saja adalah berusaha mempertahankan, memelihara, bahkan mengembangkan kehidupan. Bukan justru dengan sengaja menghilangkannya.

Karena itu, dalam situasi normal, jelas sekali bunuh diri adalah sesuatu yang absurd. Tidak dapat dibenarkan. Ia melawan naluri kehidupan. Sekiranya semua berjalan normal, hampir tak mungkin orang bunuh diri karena terpaksa.

Sebenarnnya kita atau siapa pun tak perlu mengatakan bahwa “bunuh diri itu salah”. Sebab, kalau cuma itu, siapa yang belum tahu? Semua sudah mengetahuinya. Lagi pula tak seorang pun yang menginginkannya.

Mungkin yang belum banyak orang tahu adalah, bahwa kitalah yang tidak normal, apabila dalam situasi yang tidak normal, kita mau memaksakan ukuran-ukuran yang normal.

Yang paling penting dalam permasalahan kita, sebenarnya bukan soal benar-tidaknya atau boleh-tidaknya bunuh diri. Sekali lagi, ini telah jelas bagi semua.

Yang jauh lebih penting untuk dinyatakan dan ditanyakan adalah: bagaimana sikap kita ketika mengatakannya? Apakah dengan cemooh? Atau dengan simpati?

O saudaraku, dengarkanlah apa yang saya katakan ini! Yaitu bahwa tak ada kesempatan lain, di mana KASIH dan SIKAP KRISTIANI SEJATI begitu dibutuhkan, dari pada ketika saudara kita sedang berada di ambang bunuh diri.

Sayang sekali, yang lebih sering terjadi adalah mereka sendirian. Sendiri, tanpa teman sepenanggungan. Persis seperti ketika di senja itu, di taman Getsemane, Yesus hanya membutuhkan teman berjaga, tapi mesti kecewa.’

Namanya Juga Anak Muda, Pak

3
Bagikan
Penulis : Eka Darmaputera

Tubuhnya yang kecil serta wajahnya yang naif, tak dapat menyembunyikan usianya yang memang baru belasan. Tepatnya, 16 tahun. Bagi saya, “anak” ini mewakili generasi sebayanya. Mungkin tak semuanya, namun paling sedikit ya sebagian dari mereka. Pagi itu ia — sebut saja namanya “Irene” — datang, meminta agar pernikahannya dapat diberkati di gereja. Tentu saja saya terkejut. Saya mengenal benar “anak” ini. Ia pernah jadi “anak didik” saya.

“Mengapa begitu cepat? Dan mengapa begitu tiba-tiba?”, tanya saya. “Saya sudah hamil empat bulan, pak”, jawabnya. “Hamil? Empat bulan?” “Ya, pak”. “Apa yang terjadi? Dengan siapa?” Lalu ia pun bercerita. Bla bla bla. Tanpa beban. Setelah itu, giliran saya ber”khotbah”. Bla bla bla. Sangat penasaran.

Akhirnya saya bertanya, “Apa kamu tidak menyesal?”. “Menyesal sih menyesal, pak”. “Menyesal karena apa yang telah kalian lakukan, atau sekadar karena kamu hamil?” “Ya terutama karena saya hamil, pak. Sebab sebenarnya saya ´kan masih pengen sekolah, pak”. “Itu artinya kamu tidak menyesal karena “dosa” yang telah kamu lakukan. Begitu, bukan?,” tanya saya – wah, gemasnya! “Yah, namanya juga anak muda, pak, ” jawabnya. Enteng sekali.

SAYA setuju dengan Barclay yang mengatakan, bahwa etika Kristen harus berbicara mengenai masalah “seks pra-nikah” ini dengan serius. Bukan saja karena jumlahnya semakin banyak, tetapi terutama karena kegiatan seksual ini– dengan lambat, tapi pasti — kian menahbiskan diri sebagai kegiatan seksual yang “normal”. Sekiranya tidak terjadi wabah HIV/AIDS, kecenderungan ini pasti kian tak terbendung.

Namun begitu, banyak orang toh memilih diam atau sekadar mencaci-maki tak keruan. Orang-orang yang menolak seks pra-nikah dengan sepenuh keyakinan kian terpinggirkan. Karenanya, enggan menampilkan posisinya dengan lantang dan terus terang.

Di Barat, sejak puluhan tahun silam, malah muncul teolog-teolog kristen yang justru membela praktik ini. Salah satunya yang paling terkenal, adalah Joseph Fletcher. Profesor etika Kristen ini antara lain menulis, “Kultus keperawanan agaknya akan menjadi benteng perlawanan terakhir terhadap kebebasan seks, dan pasti akan ambruk. Sebab kini, berkat perkembangan di bidang kedokteran, orang bisa bebas melakukan kegiatan seksualnya tanpa dibayangi ketakutan seperti sebelumnya”.

Memang tidak semua yang dikatakan Fletcher itu salah. Namun, saya mohon, jangan pula pandangan-pandangannya itu kita telan bulat-bulat. Sebab tidak semua yang walaupun dikatakan oleh seorang profesor, bermanfaat bagi kekristenan.

Ini telah diingatkan oleh seorang teolog lain, Malcolm Muggeridge, yang mengatakan, “Kita telah membiarkan seniman-seniman kita dengan bebas menghancurkan kesenian; penulis-penulis kita menghancurkan kesusastraan; sarjana-sarjana kita menghancurkan keilmuwanan; dan agamawan-agamawan kita menghancurkan agama. Kita mengembang-biakkan barbarian di rumah kita sendiri”.

Kebungkaman banyak orang terhadap masalah seks pra-nikah, adalah ke”diam”an yang berbahaya. Seperti diilustrasikan oleh eksperimen terkenal dari seorang psikolog, Profesor John Court.

Seekor katak ia taruh di sebuah wadah yang berisi air dingin. Pelahan-pelahan sekali, suhu air itu dinaikkan. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ke titik didih. Namun yang mengherankan adalah, katak itu kalem-kalem saja. Tak sedikit pun ia berusaha menyelamatkan diri. Rupanya proses perubahan itu berlangsung begitu lambatnya, sehingga katak itu nyaris tak merasakan apa-apa. Karena ke”diam”annya itulah, ia mati.

APA yang disebut sebagai “revolusi seks”, juga demikian. Ia terjadi dengan bergugurannya “tabu-tabu” – tidak sekaligus, melainkan satu demi satu. Tidak kentara. Eksperimen di atas mengingatkan, justru karena itulah “revolusi” ini layak kita cermati dengan serius. Sebelum kita terkejut, lalu cuma bisa tergagap-gagap.

Dalam salah satu refleksi kita yang terdahulu saya telah menyinggung, bagaimana orang moderen cenderung memisahkan “seks” dari “pernikahan”. “Seks pra-nikah” adalah salah satu wujudnya.

Menurut Barclay, ada tiga alasan yang paling kerap dikemukakan orang, guna membenarkan kegiatan seksual yang dilakukan sebelum — atau di luar — perkawinan.

Pertama, adalah ANTISIPASI. Ini adalah kegiatan seksual yang dilakukan oleh sepasang anak manusia yang saling mencinta. Begitu rupa, sehingga mereka merasa yakin dan pasti, bahwa pada suatu saat mereka akan menikah.

Meng”antisipasi” pernikahan mereka yang “pasti” itulah, mereka tanpa ragu melakukan hubungan seks.”Apa salahnya? Kami toh pasti akan menikah”.

Tindakan yang mereka lakukan itu, mungkin secara esensial memang belum dapat dikategorikan sebagai “zinah”. Motivasi mereka pun boleh jadi memang tulus. Namun, toh ada dua hal yang perlu dikemukakan.

(a) mereka mengatakan, bahwa untuk mengekspresikan cinta kasih mereka yang murni itulah, mereka melakukan hubungan seks. Pertanyaan saya adalah, mengapa tidak sebaliknya? Mengapa mereka tidak mengekspresikannya, justru dengan tidak melakukan hubungan seks sebelum mereka benar-benar suami-istri? Bukankah salah satu ekspresi cinta yang sejati. adalah kesanggupan mengendalikan diri ?

Kemudian, (b), apa sih yang betul-betul pasti di dunia ini? Dari mana mereka bisa begitu yakin, bahwa mereka pasti akan menikah – pada satu hari? Dalam hidup ini, anak-anakku, tak ada yang 100% pasti. Buktinya amat banyak. Tidak bijaklah mengantisipasi sesuatu, yang di luar daya kita untuk meng”antisipasi”nya!

ARGUMENTASI kedua, saya sebut saja, SIMULASI. Atau “coba dulu baru beli”. Kata mereka, “Membeli baju atau sepatu saja ´kan perlu mencoba dahulu. Apa lagi mau menikah. Sebab itu “mencoba” itu perlu, agar orang mengetahui dengan pasti, bahwa memang “dia”lah orangnya, dengan siapa ia akan menghabiskan seluruh sisa umurnya. Caranya? Dengan “hidup bersama” dulu. “Hidup bersama” dijadikan “simulasi” atau “tiruan” hidup perkawinan yang sesungguhnya.

Argumentasi ini sepintas lalu terkesan masuk akal. Tapi sebenarnya ia mengandung salah-perkiraan yang fundamental! Salah besarlah, orang yang menyangka bahwa hidup perkawinan itu dapat disimulasikan. “Hidup bersama” tidak pernah mungkin menggambarkan “hidup perkawinan” yang sesungguhnya.

Dalam kaitan ini, Barclay mengemukakan sebuah analogi yang menarik. Tentang seorang yang memutuskan, untuk beberapa bulan hidup di daerah kumuh bersama-sama dengan orang-orang miskin. Dengan jalan itu, ia berharap bisa mengalami secara langsung dan pribadi, bagaimana rasanya jadi orang melarat itu.

Maksud yang mulia! Tapi salah perhitungan. Tinggal di daerah kumuh memang dapat memberikan banyak pengalaman berharga. Tapi tetap tidak mungkin membuat orang benar-benar mengetahui “bagaimana sih rasanya jadi orang melarat itu” .

Mengapa? Sebab ada perbedaan yang sangat mendasar. Si relawan bisa setiap saat meninggalkan situasi kemiskinan itu. Pengalamannya dapat menjadi bagaikan petualangan dan ekskursi yang romantis, seperti ketika orang berlibur dengan berkemah di hutan. Tidak enak, tapi nikmat. Sedang orang-orang miskin itu? Mereka tidak punya pilihan lain. Seumur hidup mereka, mereka sudah terperangkap oleh kemelaratan mereka. Dan ini melahirkan dua sikap, bahkan mentalitas, yang berbeda!

Intinya adalah, “perkawinan” tidak pernah dapat di”eksperimen”kan. Sebab perkawinan adalah sebuah “komitmen”. Orang tidak dapat meng”eskperimen”kan komitmen. Yang mungkin hanyalah, “menerima” atau “menolak”. Tidak ada peluang untuk “coba-coba”.

KETIGA, adalah alasan yang mengatakan bahwa ESENSI adalah segala-galanya. Perkawinan itu lebih daripada sekadar secarik kertas atau sebuah seremoni. Esensi sebuah perkawinan adalah komitmen untuk membangun relasi. Inilah yang terpenting, dengan atau tanpa perkawinan. Dengan atau tanpa formalitas.

Argumentasi yang jitu, bukan? Esensi dan kualitas tentu saja memang lebih utama ketimbang bungkus luarnya. Tapi apakah itu berarti, formalitas tidak ada nilainya? Kenyataan menunjukkan, walaupun formalitas bukan segala-galanya, tapi orang memerlukannya.

Sebuah “kontrak kerja”, misalnya, memang tidak menjamin adanya komitmen yang tulus dari kedua belah pihak. Tapi paling sedikit ia memberi “pegangan”. Orang bisa melakukan tindakan hukum bila itu dilanggar.

Yang saya khawatirkan adalah, orang yang mengatakan bahwa “komitmen, bukan formalitas yang penting”, sebenarnya adalah orang yang menolak komitmen.

Orang yang mengatakan bahwa formalitas pernikahan tidak penting — sebab hanya cinta kasih, relasi dan komitmen-lah yang penting — sering adalah orang yang menolak untuk memberi komitmen “resmi”.

Mereka masuk dari pintu depan, tapi diam-diam menyiapkan “pintu darurat” di belakang. Agar sewaktu-waktu mereka bisa melarikan diri dari komitmen dan relasi, yang selalu mereka katakan paling penting itu. Dan melarikan diri dengan mudah, tanpa direpotkan oleh tetek-bengek formalitas, seperti mengurus surat cerai, dan sebagainya. Nah., ketahuan “belang”nya, kan?

Pandangan Kristen Tentang Pekerjaan Sehari-hari

Bagikan
Semua pekerjaan sehari-hari bisa bersifat suci. Alkitab mengatakan dalam Amsal 14:23, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan.” Pekerjaan kita hendaknya merupakan berkat, bukan sumber kebosanan; merupakan kehormatan, bukan pekerjaan yang menjemukan; merupakan pekerjaan yang berarti, bukan pekerjaan yang tidak menarik.

Secara tidak wajar kita telah membagi-bagi pekerjaan menjadi yang duniawi dan yang suci, tetapi Alkitab tidak mengatakan demikian. Pekerjaan kita seharusnya menjadi tempat kita melayani Tuhan Yesus. Tempat kita bekerja harus merupakan tempat ibadah kita dan tempat kita menaruh pelita kita untuk menjadi saksi.

Pada waktu Paulus menulis kepada orang-orang di Efesus tentang pekerjaan, dia berkata, “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus.” (Efesus 6:5)

Itu berarti bahwa setiap orang Kristen hendaknya menganggap pekerjaannya suci. Kita perlu menyadari bahwa ketika kita pergi bekerja, kita bekerja bukan hanya untuk majikan kita tetapi juga untuk Yesus.

Sebagai seorang pendeta saya telah melihat banyak orang yang ingin meninggalkan pekerjaan mereka agar mereka bisa masuk dalam “pelayanan Kristen sepenuhnya”. Menurut mereka, ini berarti menjadi pendeta atau penginjil atau staf dalam suatu organisasi Kristen. Tuhan memanggil orang-orang untuk melakukan pekerjaan semacam ini, dan ini baik sekali. Namun bagaimanapun hal itu tidak menjadikan pekerjaan ini lebih suci daripada pekerjaan lain.

Dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa setiap hari adalah hari yang kudus, setiap tempat adalah suci, dan setiap perbuatan merupakan pelayanan rohani jika seorang hidup dan berjalan di dalam Roh. Jika kita tidak mengerti hal itu, maka kita akan tidak senang dalam pekerjaan kita. Dan kita tidak mau menyadari bahwa Tuhan ingin kita melayani Dia di mana pun kita berada.

Pekerjaan kita merupakan tempat yang terbaik untuk bersaksi bagi Yesus dan melayani-Nya. Berikut ini beberapa petunjuk tentang bagaimana kita melakukannya:

Jangan sombong.
Dalam Matius 5:16 Yesus berkata, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Pekerjaan merupakan tempat menaruh pelita yang bagus sekali, tetapi terang kita harus bercahaya, bukan semakin meredup. Orang lain harus melihat terang itu bukan pelitanya. Orang yang menganggap diri benar selalu menjengkelkan di mana-mana, tetapi khususnya dalam pekerjaan.

Jangan suka mengomel.
Jangan selalu bicara dengan tinggi hati kepada mereka yang belum diselamatkan yang ada di sekitar saudara, mereka akan membenci bila melihat Saudara datang. Kolose 4:5,6 berkata, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Orang Kristen yang bekerja sambil berkhotbah kepada orang lain perlu mengerti bahwa mimbar adalah tempat untuk berkhotbah. Tidak seorang pun pernah bisa dibawa pada Yesus dengan jalan mengomelinya.

Jangan kendur.
Orang Kristen yang bekerja harus dapat memikul lebih banyak daripada bagian pekerjaan mereka. Benar-benar merupakan dosa bagi orang percaya kalau mereka melakukan kurang daripada yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Efesus 6:6 berkata, “Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.”

Dengan kata lain, kita jangan hanya memperhatikan jam, melainkan menjadi hamba-hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah dengan segenap hati. Kita seharusnya mempunyai reputasi karena pekerjaan yang baik sehingga bila seorang pengusaha pergi ke kantor tenaga kerja untuk mencari tenaga baru, ia akan berkata, “Jika kamu mempunyai seorang tenaga kerja Kristen, kirimkan ke tempat saya.” Kolose 3:23 mengatakan kepada kita, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Jangan menurun.
Jangan biarkan hidup kekristenan Saudara mundur, jangan pernah berkompromi. Bersukacitalah selalu, karena sukacita dari Allah adalah kekuatan Saudara. Saudara perlu menghimpun sukacita itu pada pagi hari sebelum Saudara berangkat bekerja. Saudara perlu hidup berkemenangan dalam pekerjaan itu, sebab orang-orang yang tidak mengenal Tuhan sedang memperhatikan Saudara. Saya telah mengamati bahwa sebagian besar orang di tempat kerja tidak begitu tertarik pada soal sorga atau neraka, apa yang mereka ingin ketahui adalah bagaimana bekerja dengan berhasil pada hari Senin. Jika mereka melihat kemenangan dalam hidup Saudara, mereka akan ingin mengetahui penyebabnya.

Dalam 1Petrus 3:15 Rasul menulis, “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu.” Dan kita harus melakukannya dengan lemah lembut dan rasa hormat. Bila orang lain melihat kita hidup penuh kemenangan dalam pekerjaan kita maka kita akan memiliki kesempatan yang sangat efektif untuk bersaksi.

Sebagai orang Kristen kita perlu melihat bahwa pekerjaan sehari-hari kita memiliki arti yang kekal, sebab kita melayani Yesus sementara kita bekerja.

Pembaharuan Pikiran

Bagikan
Oleh: Sunanto

Rom 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dalam artikel sebelumnya saya telah membahas tentang proses perubahan (metamorfosis) manusia batiniah yang memakai contoh proses perubahan yang terjadi pada ulat kepompong menjadi kupu-kupu. Beberapa waktu yang lalu ketika berkunjung ke sebuah toko buku, secara kebetulan saya melihat sebuah buku bergambar yang dengan sangat jelas menggambarkan proses metamorfosis yang terjadi pada kupu-kupu. Lewat buku itu saya semakin memahami proses metamorfosis yang terjadi dari ulat menjadi kupu-kupu. Sebelum seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu, ia harus lebih dulu membungkus dirinya dalam sebuah kepompong yang ia buat sendiri. Hari demi hari sang ulat merajut tanpa lelah sampai seluruh dirinya terbungkus oleh kepompong yang biasanya akan tergantung di sebuah batang pohon. Di dalam kepompong tersebut sang ulat mengisolasi dirinya dari dunia luar dan melepaskan kulit lamanya agar ia bisa berubah menjadi kupu-kupu. Proses pelepasan kulit lama ini menggambarkan proses pembaharuan pikiran yang harus dialami oleh semua orang yang ingin mengalami proses perubahan menjadi manusia baru. Perhatikan, sang ulat tidak melepaskan kulit lamanya sebelum ia terisolasi (terpisah dari dunia luar) di dalam kepompong. Seringkali Tuhan akan membawa kita ke dalam posisi yang mirip seperti ulat dalam kepompong dimana kita merasa terpisah dari dunia ini dan dicekam oleh perasaan kesepian. Saya sendiri pernah mengalami masa-masa kesepian saat Tuhan sedang membentuk saya untuk menjadi lebih serupa dengan Dia. Dalam masa-masa kesepian ini Tuhan memulihkan hidup saya dan melepaskan banyak kepercayaan (pola pikir) saya yang lama.

Cara kerja dan tampilan sebuah aplikasi dalam sebuah komputer sangat tergantung dari program (skrip,pikiran) dari aplikasi sofware tersebut. Sebagai seseorang yang dulunya pernah bekerja sebagai programmer saya sangat memahami bahwa untuk mengubah sebuah isi aplikasi maka perlu mengubah programnya (otaknya). Bila saya salah dalam menulis skrip program dari sebuah aplikasi maka dapat dipastikan aplikasi komputer yang saya buat tersebut akan bekerja dengan tidak semestinya. Demikian juga untuk mengubah seorang manusia maka perlu mengubah pikirannya. Kita semua merupakan orang-orang yang telah diprogram pikirannya sedemikian rupa dan program tersebut mempengaruhi tingkah-laku luar kita. Apa yang kita pikirkan akan menjadi apa yang kita katakan dan apa yang kita katakan akan menjadi apa yang kita buat. Untuk menilai seseorang kita dapat menilainya dari kata-kata yang ia ucapkan sebab kata-kata tersebut mencerminkan pikiran orang tersebut. Ada orang tertentu yang mudah marah atau tersinggung bila di kritik sebab pikirannya telah diprogram untuk marah bila di kritik. Ada orang yang mudah nangis bila ditekan sebab pikirannya telah diprogram untuk menangis bila sedang mengalami tekanan.

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia dikejutkan dengan meledaknya bom Bali yang berdaya ledak sangat dasyat sehingga mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Polisi bekerja dengan baik sehingga salah satu pelakunya tertangkap yaitu yang bernama Amrozi. Saya sangat terkejut ketika melihat ekspresi muka Amrozi yang penuh tawa saat muncul di televisi. Bahkan ia tidak merasa menyesal atau takut dengan hukuman mati yang mengancamnya. Ia percaya bahwa ia telah melakukan jihad dan pasti akan masuk surga bila mati nanti. Kisah Amrozi ini menggambarkan bagaimana seseorang yang telah di cuci otak ( diprogram) sedemikian rupa sehingga ia sampai tega melakukan sebuah tindakan terorisme yang tidak berprikemanusiaan.

Pernahkah anda menonton sebuah pertunjukkan di mana terdapat seseorang sedang di hipnotis ? Saya pernah beberapa kali melihatnya dalam sebuah acara yang disiarkan oleh sebuah stasiun TV. Dalam adegan tersebut seseorang yang disebut ahli hipnotis akan mengatakan beberapa kata ke alam bawah sadar dari orang yang sedang dihipnotis. Orang yang sedang terhipnotis tersebut akan melakukan apa yang diperintahkan ke dalam pikirannya sampai ia “dibangunkan” oleh sang penghipnotis. Bila anda pernah menyaksikan maka anda pasti akan tertawa menyaksikan tingkah laku dari orang yang sedang dihipnotis tersebut. Namun tahukah anda bahwa tanpa disadari kita semua sebenarnya sedang tidur/terhipnotis? Tahukah anda bahwa kita semua hidup dalam sebuah ilusi sampai Roh Kudus “membangunkan” diri kita untuk hidup dalam realita (kebenaran)? Dunia ini dipenuhi oleh manusia-manusia yang sedang tidur dan tidak menyadari apa yang sedang mereka buat. Oleh karena itu Tuhan memerintahkan kita untuk berubah oleh pembaharuan pikiran. Dengan kata lain kita diperintahkan untuk bangun/sadar dari semua ilusi yang telah menghipnotis hidup kita.

Salah satu ilusi yang kita miliki adalah bahwa untuk menjadi bahagia kita membutuhkan sesuatu atau seseorang. Salah satu kebodohan manusia adalah kita percaya bahwa kita tidak dapat hidup tanpa berada dalam sebuah kelompok. Manusia memang makhluk sosial dalam pengertian untuk memenuhi kebutuhan hidup maka kita saling membutuhkan tetapi kita sebenarnya tidak membutuhkan orang lain untuk menjadi bahagia. Kebahagiaan yang sejati bersumber dari dalam yaitu dari sukacita dan sejahtera oleh Roh bukan bersumber dari luar. Merupakan sebuah ilusi bila kita tidak dicintai oleh seseorang maka kita tidak dapat berbahagia sebab ternyata ada wanita cantik yang dicintai dan dikejar-kejar oleh banyak pria tetap saja ia tidak merasa bahagia. Sebenarnya orang lain tidak memiliki kekuatan untuk membuat kita bahagia atau menderita. Tatkala kita berubah menjadi manusia baru yang telah mengalami pembaharuan pikiran (pencerahan) maka tidak ada seorangpun yang dapat membuat kita kecewa lagi.

Karir, jabatan, harta, keluarga dan sahabat bukanlah sumber kebahagiaan kita sebab semuanya itu tidak kekal dan dapat berubah dalam sekejab. Karir kita dapat menurun, harta kita dapat ludes dibakar api dalam sekejab, sahabat kita dapat berubah sikap menjadi seorang penghianat. Kebahagiaan yang sejati terjadi bila kita telah mengalami pencerahan dan bersentuhan dengan realita dari kehidupan ini. Pembaharuan pikiran merupakan sebuah proses pencerahan/penyadaran dimana kita menyadari bahwa selama ini kita telah hidup dalam sebuah ilusi. Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus diberikan kepada kita untuk membawa kita kepada seluruh kebenaran. Roh Kudus diberikan kepada kita sebagai penolong agar kita dapat mengalami proses pembaharuan pikiran sehingga kepercayaan-kepercayaan kita yang salah dapat digantikan oleh kebenaran Firman Allah. Yesus berkata, “ Kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran akan memerdekakanmu”. Yesus yang juga adalah Firman kebenaran datang ke dunia ini untuk memberikan kehidupan yang berkelimpahan agar kita menjadi orang yang bebas dan merdeka. Jadilah manusia yang merdeka dan setelah itu bantulah orang lain agar mereka bisa mengalami hidup dalam kemerdekaan yang sejati ini!

Perubahan Adalah Pekerjaan Roh Kudus

Bagikan
Perubahan adalah pekerjaan Roh Kudus, yang menghasilkan sebuah perubahan sikap terhadap Allah dan menciptakan sebuah kapasitas baru untuk mengenal Allah.

Engkau tidak dapat memilih hari lahirmu sendiri! Tidak seorangpun pernah mampu melakukan hal itu. Di saat kita hadir di sini, hari lahir kita telah dipilih. Dan, walaupun ilmu pengetahuan kedokteran sudah sedemikian maju, bukanlah hal mudah untuk memilih hari lahir seseorang.

Perubahan disebut kelahiran baru. Itu adalah awal kehidupan rohani. Dan sama seperti kehidupan jasmani, engkau tidak bisa memilih hari lahir rohanimu.

Orang muda telah sering salah mengerti tentang apa sesungguhnya perubahan itu. Beberapa orang telah mencari pengalaman Jalan ke Damaskus, dengan melupakan bahwa bahkan Paulus membutuhkan tiga tahun menyepi di padang pasir Arabia sebelum dia siap untuk memulai pelayanan publiknya. Pada pihak lain yang ekstrem, mereka tidak yakin apakah mereka telah berubah sama sekali, tetapi berasumsi bahwa mereka pasti telah berubah sejak mereka dibesarkan di dalam gereja. Beberapa orang telah membuat komitmen kepada Kristus, dan ketika mereka tidak menemukan diri mereka mengalami perubahan yang ajaib dalam tabiat pada pagi hari setelah malam pengucapan komitmen itu, mereka berkesimpulan bahwa mereka belum berubah dan menunggu hingga suasana emosional berikutnya untuk mencobanya lagi.

Menemukan arti perubahan, kemudian, menjadi luar biasa penting. Perubahan adalah pekerjaan Roh Kudus, dan hal itu menghasilkan sebuah perubahan sikap terhadap Allah. Kapankah anak yang hilang itu berubah? Ketika dia berada di kandang babi. Dan dimanakah anak yang hilang itu berada segera setelah perubahannya? Masih di kandang babi! Beberapa orang biasanya menambahkan pada titik itu, “Tetapi dia tidak tinggal lama di sana.” Itu benar. Tetapi apa yang berubah pada saat perubahannya? Yang berubah adalah sikapnya. Dia masih harus melalui perjalanan panjang untuk mencapai rumah bapanya, tetapi sikapnya terhadap bapanya telah melalui sebuah perubahan besar. Dan perubahan sikap itu mempersiapkan jalan untuk perubahan- perubahan yang akan mengikutinya.

Perubahan menciptakan kapasitas baru untuk mengenal Allah. Tidak ada seorangpun yang mampu makan atau bernafas untuk dirinya sendiri hingga mereka dilahirkan. Dan sementara dirasakan masih mungkin untuk mempercepat proses perubahan dengan menempatkan dirimu di dalam sebuah suasana rohani, usaha pada kehidupan yang berbakti akan menjadi tidak berarti apa-apa kecuali pekerjan sulit dan membosankan hingga engkau dilahirkan secara rohani. 1 Korintus 2:14 berkata, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.”

Salah satu mujizat yang dihasilkan Roh Kudus pada saat perubahan adalah menciptakan kapasitas baru untuk mengenal Allah. “Untuk melayani Dia dengan benar, kita harus dilahirkan di dalam Roh Suci. Ini akan menyucikan hati dan memperbarui pikiran, memberikan kita kapasitas baru untuk mengenal dan mengasihi Allah. Tidak masalah jika engkau berasal dari latar belakang atheis atau Kristen sejati, engkau harus dilahirkan kembali untuk dapat melihat kerajaan surga. Yesus berkata kepada Nikodemusi dalam Yohanes 3:3, “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.”

Dan engkau dapat mengetahui apakah engkau telah berubah atau tidak. Adalah benar bahwa perbedaan perubahan sama seperti mekanisme perbedaan emosional manusia kita, tetapi pengalaman perubahan masih lebih khusus. Sedikit demi sedikit, mungkin secara tanpa disadari oleh penerima, pengaruh yang dibuat cenderung untuk menarik jiwa kepada Kristus. Hal ini mungkin diterima melalui merenungkan tentang Dia, melalui pembacaan Alkitab, atau melalui pendengaran akan firman yang disampaikan pengkhotbah. Tiba-tiba, saat Roh itu datang dengan seruan yang langsung, jiwa itu dengan sukacita menyerahkan dirinya kepada Yesus.

Pernahkah “tiba-tiba” itu terjadi terhadapmu? Pernahkah engkau bergantung pada kelakuan baikmu, posisimu di dalam gereja, atau warisan Kristen turun-temurunmu untuk memastikan keselamatanmu? Atau apakah engkau memusatkan perhatianmu pada kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahanmu dan berkesimpulan berdasarkan hal itu bahwa engkau belum pernah berubah? Ketika engkau mengerti apa perubahan itu, engkau dapat mengetahui apakah engkau telah berubah atau belum. Bila anda ingin melihat hal-hal lain yang perlu berubah dalam hidup kita, ikutilah pendalaman Alkitab online – melalui email melalui Dian Ministry dengan mendaftar melalui email admin@dianweb.org dan anda akan mendapatkan seorang pembimbing untuk membantu anda mempelajari firmanNya.

Pesan yang Tak Terucapkan

Bagikan
Oleh : Mundhi Sabda Hardi Lesminingtyas

Ketika Dika duduk di kelas 4 SD, saya harus mondar-mandir berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolahnya. Pasalnya, menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan itu tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalahnya, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga Dika selalu murung dan suka melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lembut saya pun bertanya kepada Dika “Apa yang kamu inginkan, Nang?” Walaupun saya telah menggunakan panggilan kesayangan “Nang”, tetapi Dika hanya menggeleng tak bersemangat. “Dika ingin ibu bersikap seperti apa?” tanya saya “Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat.

Beberapa kali saya dan wali kelas mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kami pun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu memberitahukan hasil test IQ Dika. Angka kecerdasan rata-rata Dika mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140 – 160.

Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Dengan santun psikolog itu pun menyarankan kami untuk datang kembali seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya psikolog dapat menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika. Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam, membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :….” Dikapun menulis jawaban : “Membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja” Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjawalkan kapan waktunya menggambar, bermain puzzle, bermain basket, membaca buku cerita, main game di computer dan sebagainya.

Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Namun ternyata permintaan Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya.

Sayapun menjadi ingat apa yang tertulis dalam I Kor 13 : 11 yang berbunyi “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu” Saya menjadi sadar bahwa anak-anak tidak bisa dituntut untuk berbicara, berperasaan dan berpikir sama dengan orang dewasa. Anak-anak memiliki dunia tersendiri yang pada masanya (masa kanak-kanak) sangatlah indah namun tidak bisa diperpanjang waktunya, apa lagi diulang kembali. Sayapun berpikir, kalau sekarang tidak diberi kesempatan untuk bermain dengan bebas, mau kapan lagi Dika akan menikmati masa kanak-kanaknya? Saya sadar bahwa dalam waktu yang tidak lama, Dika akan akan tumbuh menjadi dewasa dan harus meninggalkan sifat kanak-kanaknya.

Ketika psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …” Dikapun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu” Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”, Dika pun menjawab “Menganggapku seperti dirinya” Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya, dan sikap hidup saya yang efisien, suka bekerja keras, disiplin, hemat, serta gigih untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya.

Setelah membaca Matius 18 : 1-5, saya menyadari bahwa sikap saya justru bertolak belakang dengan Tuhan Yesus. Saya menginginkan Dika bersikap seperti orang tuanya, tetapi Tuhan Yesus justru menyatakan bahwa yang terbesar dalam kerajaan sorga adalah orang-orang merendahkan diri dan menjadi seperti anak-anak. Ayat-ayat itu mengingatkan bahwa siapapun; termasuk para orang tua, harus belajar supaya bisa rendah hati dan tulus seperti anak-anak. Kebanyakan seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..” Dikapun menjawab “Tidak mempersalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang kubuat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anak pun akan memilih untuk berbohong atau tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Masalah baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, supaya ia bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang, anak tidak melakukan kesalahan yang serupa.

Memang dalam Alkitab dikatakan bahwa orang tua senantiasa perlu mendidik anak-anaknya dari waktu ke waktu. Teguran-teguran yang mendidik dan penuh hikmat dari orang tua memang akan menjadi karangan bunga yang menghias kepala anak-anak. Tetapi Alkitab pun mengajarkan tata cara untuk menasehati. Jadi teguran, ajaran dan didikan yang tepat, akan lebih efektif bila dilakukan dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat pula.

Ketika psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang …..” Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”. Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk Dika.

Ketika saya tanyakan tentang hal-hal penting apa yang ingin selalu dibicarakan bersama saya, Dika menjelaskan bahwa ia ingin selalu menggunakan waktu yang sempit itu untuk mendengarkan kisah Sadrah, Mesakh dan Abednego yang disertai Tuhan selama dalam perapian, atau Kisah tentang orang Samaria yang baik hati, atau kisah Tuhan Yesus yang memberi makan 5.000 orang. Dika juga ingin saya bisa melucu, menirukan Zakeus yang pendek atau tertawa girang karena kemenangan Daud atas Goliat.

Dika juga ingin saya mempunyai waktu untuk menjawab tebakan-tebakan lucu yang diajukannya. Dika merasa bosan kalau setiap hari saya mengajarinya mengerjakan PR atau menerangkan ulang topik-topik pelajaran dengan bahasa dan gaya yang sama menyebalkannya dengan guru-guru di kelasnya. Dika merasa tidak nyaman karena sejak jam 07.00 – 13.00 harus berhadapan dengan guru-guru yang otoriter, sorenya harus berhadapan dengan guru lesnya yang dianggap cerewet, kemudian malamnya selama 2 jam ia harus berhadapan dengan muka ibunya namun dalam wujud seperti guru yang bawel. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa hikmat dan pengenalan akan Tuhan tidak kalah pentingnya dengan kemampuan intelektual. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan. Kasih kepada Allah justru harus diajarkan dan dibicarakan kepada anak-anak pada waktu duduk di rumah, di perjalanan serta pada saat berbaring dan pada saat bangun (Ulangan 6 : 4-7)

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”, Dikapun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar. Namun sebagai manusia, orang tua pun tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya, sama seperti apa yang dituntut orang tua kepadanya.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari ……..” Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar ” Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adik-adikku” Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang bandannya hampir setinggi saya, sudah tidak pantas dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah.

Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih. Saya jadi merinding setelah mengingat kisah Yusuf yang mendapat perlakuan istimewa dari ayahnya. Tindakan Yakup yang menganakemaskan Yusuf telah membuat iri anak-anaknya yang lain, yang kemudian bersama-sama melakukan penganiayaan terhadap Yusuf (Kej 37 : 1-36).

Pada secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari …..” Dika menulis kata “tersenyum”. Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya. Senyuman hangat seorang ayah justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak untuk meneladani ayahnya. Tuhan Yesus yang mengemban tugas berat dari BapaNya saja tidak pernah menolak anak-anak yang datang kepadaNya. Ia justru memeluk dan memberkati anak-anak (Mark 10:13-16)

Ketika psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku….” Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus” Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang atau Le. Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki. Sedangkan Le dari kata “Tole”, kependekan dari kata “Kontole” yang berarti alat kelamin laki-laki. Waktu itu saya merasa bahwa panggilan tersebut wajar-wajar saja, karena hal itu merupakan sesuatu yang lumrah di kalangan masyarakat Jawa.

Ketika psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..” Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”. Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Sunda namun dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya

Atas jawaban-jawaban Dika yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak, tetapi hak-hak anak sendiri terabaikan. Kepada banyak orang, saya berkampanye tentang pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choise” yang menyerukan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”. Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak sendiri, dengan memanggilnya secara tidak hormat dan tidak bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyumnya yang polos, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Saya bersyukur karena saya sempat mengetahui pesan-pesan tersebut. Sayapun menyadari betapa pentingnya saya belajar seperti Hana. Dengan doa dan bermandikan air mata, Hana memohon kepada Tuhan untuk diberikan anak. Kepada Tuhan juga ia menyerahkan anaknya untuk dibentuk oleh imam Eli sesuai dengan kehendak Allah. Kalau saja saya bersikap seperti Hana, saya yakin Tuhanpun akan menyertai anak-anak saya seperti Tuhan menyertai Samuel (I Samuel 3 : 1-21 dan 4 :1a).

Sungguh disayangkan memang, ayah Dika tidak sempat tahu bahwa ada banyak pesan yang mengisyaratkan betapa dalamnya luka hati Dika. Ayah Dika yang tidak mau mengganti pola didik yang diturunkan orang tuanya di masa lalu, dengan pola didik Tuhan Yesus yang penuh kasih, merupakan penyebab utama ketidakharmonisan hubungannya dengan Dika. Seandainya ayah Dika bersedia meneladani Tuhan Yesus, maka tidak akan ada kemarahan di hati anaknya. Efesus 6 :1-4 telah mengajarkan kepada kita bagaimana mendidik anak. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para ayah (orang tua) tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para ayah harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat Tuhan, dan bukan berdasarkan pengalaman masa lalu dan ambisi-ambisinya.

Pesan : Allah menenun sejak anak-anak berada dalam kandungan (Mzm 139 :13). Sebagai pihak yang dipercaya menjaga tenunan Allah, orang tua wajib terus menenun sebagai pertanggungjawaban dan bukti cinta kita terhadap Tuhan. Supaya anak-anak layak dipersembahkan kepada Tuhan, orang tua hanya boleh menenun sesuai hikmat dan kebijaksanaan yang berasal dari-Nya, bukan berdasarkan ambisi pribadinya. Orang tua tidak boleh asal menenun, tetapi harus berusaha supaya hasil tenunan itu semotif dengan tenunan yang telah direncanakan Allah.

Tulisan ini diambil dari buku “Tangan Yang Menenun” yang diterbitkan KAIROS BOOKS. Posting ulang tulisan ini didedikasikan untuk anak-anak Indonesia yang memperingati Hari Anak Nasional pada tanggal 24 Juli 2006.

Penulis buku “Tangan Yang Menenun” yang mengisahkan perjuangan orang tua tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan. Juga menulis buku “Melewati Lembah Air Mata” yang merupakan kesaksian hidup bagaimana menyikapi kegagalan dan berdiri tegak di atas puing-puing kehancuran.

Pornografi

Bagikan
Penulis : RP Borrong

Kata pornografi, berasal dari dua kata Yunani, porneia (porneia) yang berarti seksualitas yang tak bermoral atau tak beretika (sexual immorality) atau yang popular disebut sebagai zinah; dan kata ????? grafe yang berarti kitab atau tulisan. Kata kerja porneuw (porneo) berarti melakukan tindakan seksual tak bermoral (berzinah = commit sexual immorality) dan kata benda pornh (porne) berarti perzinahan atau juga prostitusi. Rupanya dalam dunia Yunani kuno, kaum laki-laki yang melakukan perzinahan, maka muncul istilah pornoz yang artinya laki-laki yang melakukan praktik seksual yang tak bermoral. Tidak ada bentuk kata feminin untuk porno. Kata grafh (grafe) pada mulanya diartikan sebagai kitab suci, tetapi kemudian hanya berarti kitab atau tulisan. Ketika kata itu dirangkai dengan kata porno menjadi pornografi, maka yang dimaksudkannya adalah tulisan atau penggambaran tentang seksualitas yang tak bermoral, baik secara tertulis maupun secara lisan. Maka sering anak-anak muda yang mengucapkan kata-kata berbau seks disebut sebagai porno. Dengan sendirinya tulisan yang memakai kata-kata yang bersangkut dengan seksualitas dan memakai gambar-gambar yang memunculkan alat kelamin atau hubungan kelamin adalah pornografi.

Pornografi umumnya dikaitkan dengan tulisan dan penggambaran, karena cara seperti itulah yang paling banyak ditemukan dalam mengekspos masalah seksualitas. Akhir-akhir ini dalam masyarakat kita ada istilah baru yaitu porno aksi. Yang dimaksudkan kiranya adalah penampilan seseorang yang sedikit banyak menonjolkan hal-hal seksual, misalnya gerakan-gerakan yang merangsang atau cara berpakaian minim yang menyingkap sedikit atau banyak bagian-bagian yang terkait dengan alat kelamin, misalnya bagian dari paha. Tetapi tidak semua penonjolan atau penyingkapan itu dapat disebut sebagai porno aksi, sebab di kolam renang misalnya, memang “halal” bagi siapapun untuk berpakaian mini, bahkan memang dengan hanya berbusana bikini (pakaian renang yang hanya menutup alat kelamin). Jadi soal porno aksi itu sangat relatif, tergantung motivasi manusianya.

Tulisan ini hanya akan menoroti masalah pornografi, yang akhir-akhir ini cukup ramai diperbincangkan dalam masyarakat, terutama saat-saat seperti sekarang ketika sebagian besar masyarakat kita sedang melaksanakan ibadah puasa.

Pornografi diartikan sebagai:

tulisan, gambar/rekaman tentang seksualitas yang tidak bermoral,

bahan/materi yang menonjolkan seksualitas secara eksplisit terang-terangan dengan maksud utama membangkitkan gairah seksual,

tulisan atau gambar yang dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu birahi orang yang melihat atau membaca,

tulisan atau penggambaran mengenai pelacuran, dan

penggambaran hal-hal cabul melalui tulisan, gambar atau tontonan yang bertujuan mengeksploitasi seksualitas.

Kriteria
Berdasarkan definisi tersebut, maka kriteria porno dapat dijelaskan sebagai berikut:

sengaja membangkitkan nafsu birahi orang lain,

bertujuan merangsang birahi orang lain/khalayak,

tidak mengandung nilai (estetika, ilmiah, pendidikan),

tidak pantas menurut tata krama dan norma etis masyarakat setempat, dan

bersifat mengeksploitasi untuk kepentingan ekonomi, kesenangan pribadi, dan kelompok.

Dari pengertian dan kriteria di atas, dapatlah disebutkan jenis-jenis pornografi yang menonjol akhir-akhir ini yaitu:

tulisan berupa majalah, buku, koran dan bentuk tulisan lain-liannya,

produk elektronik misalnya kaset video, VCD, DVD, laser disc,

gambar-gambar bergerak (misalnya “hard-r”),

program TV dan TV cable,

cyber-porno melalui internet,

audio-porno misalnya berporno melalui telepon yang juga sedang marak diiklankan di koran-koran maupun tabloid akhir-akhir ini. Ternyata bahwa semua jenis ini sangat kental terkait dengan bisnis. Maka dapat dikatakan bahwa pornografi akhir-akhir ini lebih cocok disebut sebagai porno-bisnis atau dagang porno dan bukan sekadar sebagai pornografi.

Karena pornografi terkait dengan bisnis, maka dampaknya bagi masyarakat sangat luas, baik psikologis, sosial, etis maupun teologis. Secara psikologis, pornografi membawa beberapa dampak. Antara lain, timbulnya sikap dan perilaku antisosial. Selain itu kaum pria menjadi lebih agresif terhadap kaum perempuan. Yang lebih parah lagi bahwa manusia pada umumnya menjadi kurang responsif terhadap penderitaan, kekerasan dan tindakan-tindakan perkosaan. Akhirnya, pornografi akan menimbulkan kecenderungan yang lebih tinggi pada penggunaan kekerasan sebagai bagian dari seks. Dampak psikologis ini bisa menghinggapi semua orang, dan dapat pula berjangkit menjadi penyakit psikologis yang parah dan menjadi ancaman yang membawa bencana bagi kemanusiaan.
Dilihat dampak sosialnya, dapat disebutkan beberapa contoh, misalnya meningkatnya tindak kriminal di bidang seksual, baik kuantitas maupun jenisnya. Misalnya sekarang kekerasan sodomi mulai menonjol dalam masyarakat, atau semakin meningkatnya kekerasan seksual dalam rumah tangga. Contoh lain ialah eksploitasi seksual untuk kepentingan ekonomi yang semakin marak dan cenderung dianggap sebagai bisnis yang paling menguntungkan. Selain itu, pornografi akan mengakibatkan semakin maraknya patologi sosial seperti misalnya penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Dapat ditambahkan bahwa secara umum pornografi akan merusak masa depan generasi muda sehingga mereka tidak lagi menghargai hakikat seksual, perkawinan dan rumah tangga.

Dari segi etika atau moral, pornografi akan merusak tatanan norma-norma dalam masyarakat, merusak keserasian hidup dan keluarga dan masyarakat pada umumnya dan merusak nilai-nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti nilai kasih, kesetiaan, cinta, keadilan, dan kejujuran. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan masyarakat sehingga tercipta dan terjamin hubungan yang sehat dalam masyarakat. Masyarakat yang sakit dalam nilai-nilai dan norma-norma, akan mengalami kemerosotan kultural dan akhirnya akan runtuh dan khaos.

Selain itu, secara rohani dan teologis dapat dikatakan bahwa pornografi akan merusak harkat dan martabat manusia sebagai citra sang Pencipta/Khalik yang telah menciptakan manusia dengan keluhuran seksualitas sebagai alat Pencipta untuk meneruskan generasi manusia dari waktu ke waktu dengan sehat dan terhormat.

Dampak

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pornografi membawa dampak sangat buruk bagi kehidupan manusia. Maka tidak bisa lain, harus ada usaha bersama seluruh masyarakat melawan pornografi supaya tidak semakin jauh menjerumuskan kita kepada pengingkaran akan hakikat kita sebagai manusia yang dikaruniai segala sesuatu oleh sang Pencipta, termasuk seksualitas untuk tugas dan tujuan mulia, yaitu menciptakan generasi manusia secara berkelanjutan dengan keadaan sehat jasmani dan rohani, jiwa dan raga.

Pornografi pastilah merusak kehidupan umat manusia pada umumnya, kini dan di masa yang akan datang. Maka sangat diperlukan adanya usaha bersama melawan pornografi secara efisien.

Yang pertama-tama, adalah pendidikan seks dalam keluarga dan institusi agama. Bagaimanapun pornografi tidak akan mungkin lagi terbendung. Maka pertahanan yang seharusnya diperkuat, yaitu pendidikan terhadap generasi muda dan orang dewasa supaya pengaruh kuat pornografi tidak menjerumuskan.

Kedua, rasanya pemerintah memang harus menertibkan media dan pelaku pornografi melalui konstitusi dan kesadaran produsen. Kiranya media perlu mawas diri supaya tidak mendukung arus pornografi. Usaha lain yang penting adalah pemblokiran cyber-porno melalui kebijakan konstitusi negara, atau usaha pribadi, khususnya keluarga. Cyber-porno merupakan tekanan pornografi yang paling kuat dan paling mudah bagi mereka yang punya saluran internet. Tetapi yang paling penting adalah pengendalian diri konsumen terhadap informasi yang terkait dengan pornografi. Tanpa pengendalian diri ini, upaya konstitusi apapun rasanya taka akan bermanfaat.

Akhirnya dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menyiasati pornografi. Mungkin kita tidak harus menjadi munafik dengan kondisi masyarakat modern yang memang sangat terbuka. Saya kira kita tidak bisa menutup-nutupi kenyataan kuatnya pengaruh pornografi dalam masyarakat kita. Pastilah bukan usaha-usah penghancuran yang menjadi jalan terbaik menyiasati pengaruh pornografi. Yang terutama adalah kesadaran bahwa membiarkan pornografi merusak fisik, jiwa dan rohani kehidupan kita karena mengeksploitasi seksualitas yang seharusnya kita hargai dan muliakan sebagai anugerah yang sangat penting dari sang Pencipta.

Putri Bambu

Bagikan
Penulis : Andar Ismail

INI dia batang bambu yang kuperlukan! Betul-betul besar! Mungkin ini yang terbesar di lereng Gunung Fuji ini,” kata petani itu kepada istrinya. Maka, ditebangnya batang itu.

Tetapi, alangkah terkejutnya petani itu dengan istrinya. Di dalam rongga batang itu ternyata ada seorang bayi perempuan mungil seperti boneka. Dengan hati-hati mereka membawa bayi itu pulang dan merawatnya. Ia diberi nama Putri Bambu.

Putri Bambu memang ajaib. Hanya dalam beberapa tahun saja ia sudah tumbuh menjadi gadis cantik jelita dan lemah lembut. Dari pagi buta sampai jauh malam ia rajin membantu keluarga petani itu. Seluruh penduduk desa menyukai dia.

Kemudian hari, raja pun mendengar kabar tentang Putri Bambu. Lalu raja mengirim utusannya untuk meminta Putri Bambu pindah ke istana dan menjadi selirnya. Nah, kalau raja mencari selir, ceritanya jadi seru.

Cerita tentang Putri Bambu terdapat dalam beberapa versi di Jepang, Korea, dan Tiongkok. Budaya di negeri-negeri itu menjunjung tinggi keistimewaan, keindahan, dan kegunaan pohon bambu.

Coba kita lihat keistimewaannya. Mengapa bambu tidak tumbang atau patah batangnya ketika diterpa badai dan angin topan? Apakah karena akarnya dalam? Bukan! Akar pinus lebih dalam. Apakah karena batangnya kuat? Juga bukan! Pohon ek dan jati lebih kuat batangnya. Kalau begitu, apa sebabnya bambu bisa bertahan terhadap angin kencang?

Rahasia ketahanan bambu terhadap angin kencang terletak pada sikapnya. Ketika diterpa badai, pohon-pohon lain berdiri kaku dan tegak seakan-akan menantang kekuatan angin. Akibatnya, ranting dan batangnya bisa patah. Sebaliknya, bambu justru merunduk dan menunduk. Bambu membiarkan diri diarahkan oleh tiupan angin sampai termiring-miring atau melengkung.

Sifat lentur itu menyebabkan pohon bambu mampu bertahan dalam badai dan topan. Sifat lentur itu memulihkan kembali sikap tegak bambu setelah badai berlalu. Pohon lain berkonfrontasi terhadap angin, padahal bambu beradaptasi.

Itu bukan berarti bahwa bambu menyerah pada angin. Ia justru bertahan. Akarnya tetap berpegang pada pijakannya. Bahkan, akarnya justru kian mendalam. Badai justru membuat bambu menjadi lebih kuat.

AGAKNYA kita bisa belajar dari bambu. Bukankah kita pun bagaikan pohon yang sewaktu-waktu diterpa oleh badai dalam bentuk berbagai persoalan, kesulitan dan penderitaan? Apakah sikap kita menghadapi terpaan angin yang kencang? Apakah kita menantang atau melawan angin seperti pohon-pohon lain? Bisa jadi kita akan patah dan tumbang. Ataukah kita bersikap lentur seperti pohon bambu, yaitu merunduk dan menunduk sampai termiring-miring sekalipun?

Dengan sikap itu kita bisa bertahan dan kemudian pulih kembali. Sifat lentur yaitu berkeluk dan melengkungkan diri adalah rahasia untuk bertahan.

Sepanjang hidup berbagai persoalan, kesulitan dan penderitaan datang menerpa kita. Kristus menyuruh kita bertahan. Kepada para rasul Ia bersabda, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Lukas 21:19). Pengarang anonim surat Ibrani pun menulis tentang “bertahan dalam perjuangan yang berat” (lihat Ibrani 10:19- 39).

Bambu bisa menjadi guru. Oleh sebab itu, bambu dijunjung dalam budaya Kung Fu Tse di Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Dalam seni lukisnya, bambu adalah lambang estetika. Dalam filsafatnya, bambu adalah lambang ketahanan. Dalam pedadoginya, bambu adalah lambang ketekunan. Selanjutnya karena rongga kosong pada bambu, maka dalam agama Kung Fu Tse bambu adalah lambang pengosongan dan pemurnian batin. Pokoknya, bambu adalah bagus dan berguna. Sebab itu lahir cerita Putri Bambu.

Apa yang terjadi ketika raja menyuruh Putri Bambu pindah ke istana? Putri itu menulis surat, “Maaf Baginda, hamba lebih berguna di desa daripada di istana.”

Raja mengutus kembali utusannya dan memberi lebih banyak hadiah untuk Putri Bambu. Tetapi Putri Bambu tetap menolak. Kemudian raja menyuruh pasukannya untuk memaksa Putri Bambu. Tetapi Putri Bambu cepat-cepat bersembunyi di hutan. Ia masuk ke dalam rongga pohon bambu. Di manakah sekarang Putri Bambu? Sampai hari ini ia masih ada dalam rongga tiap batang bambu. Kadang-kadang ia menampakkan diri pada orang yang betul-betul mencintai bambu.

Rayap-Rayap Pernikahan

Bagikan
Oleh: Ayub Yahya

Coptotermes dan Sedoterme, adalah dua jenis rayap yang paling cepat
menyerang bangunan. Akhir Maret 2006, binatang kecil dari ordo
Isoptera ini mendadak ngetop. Enggak tanggung-tanggung, ia ketahuan
merusak Istana Negara dan Istana Merdeka!

Pejabat negara ikutan kebakaran jenggot. Menteri Pekerjaan Umum jadi punya tugas tambahan. Para pakar rayap Indonesia, ikut sibuk. Wajar saja, karena rayap ternyata bisa membahayakan keselamatan Presiden Yudhoyono. Layaknya teroris saja!

Di Indonesia, masalah rayap bukan hal baru. Para pakar mengklaim 50
persen gedung di Jakarta telah diserang rayap. Tiap tahun kerugian
mencapai sekitar Rp 238 miliar. Jumlah yang fantastis untuk ukuran
hewan seimut rayap.

Gerogotan rayap memang bisa membahayakan. Pelan tapi pasti,
bangunan semegah apa pun, bisa hancur gara-gara rayap. Rayap sanggup
menembus penghalang fisik. Bahkan, gedung dengan struktur yang sangat
kokoh pun tidak bebas rayap. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan
melakukan pencegahan dan perawatan. Harus ada antisipasi.

Demikian juga dengan hidup pernikahan. Sebuah pernikahan yang
dibangun di atas cinta yang menggebu, di atas komitmen yang begitu
kuat sekalipun, tidak lantas imun dari “rayap-rayap”. Maka, adalah
baik dan perlu kita mengantisipasinya. Minimal mengenalinya.

Berikut beberapa “rayap” berbahaya yang bisa menggerogoti dan
menghancurkan hidup pernikahan kita.

Pertama, harapan yang tidak realistis. Seperti cinta romantis ala
dongeng pengantar tidur, Cinderella, Putri Salju, Beauty and the
Beast, yang selalu berakhir indah. Seakan-akan pernikahan isinya
melulu kebahagiaan. Tanpa masalah. Hanya ada keajaiban. Penuh bunga.
Kemesraan yang tidak pernah berlalu.

Padahal, jelas tidak begitu kan. Pernikahan tidak melulu berisi
bunga. Kadang juga berisi kerikil. Atau, kalau pun berisi bunga;
bunga bangkai berduri. Jadi sudah bangkai, berduri pula. Pernikahan
juga tidak selalu berselimut kemesraan. Kadang juga ada kebosanan,
tangisan, keruwetan.

Kedua, berkurangnya sikap saling mengerti. Kesalahan kecil, bisa
bikin ledakan emosi mahahebat. Herannya, waktu pacaran pengertian
bisa terjembatani begitu mulus. Berjalan dengan begitu kuat. Tapi
setelah menikah, tingkat pengertian kerap bagai terjun bebas ke
titik nadir. Toleransi menjadi rendah sesudah menikah.

Waktu pacaran, kakinya doi terantuk batu saja langsung heboh. Seolah mendadak ada gempa bumi. Kaki doi dipijit, diusap-usap, disayang-sayang. Keadaan bisa terbalik 180 derajat setelah menikah. “Matamu ke mana sih?”

Ketiga, berkurangnya tekad untuk mempertahankan pernikahan.
Menganggap pernikahan seolah sesuatu yang sekali pakai lalu buang.
Berantem dikit, pengen cerai. Kesal dikit, bilangnya, “Sudah deh,
kembalikan aku ke rumah orang tuaku!” Bila badai mengguncang biduk
rumah tangga, kita lekas putus asa. Enggak punya daya juang untuk
mempertahankan. Gampang menyerah.

Lalu bagaimana kita menangani “rayap-rayap” penggeregot itu,
sehingga pernikahan kita tetap kokoh kuat?

Yaitu, dengan membangun sikap positif. Mikha 6:8, “Hai manusia,
telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut
Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan
hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Konteks ayat ini adalah umat Tuhan yang sudah terjebak dalam ibadah
yang legalistis. Tuhan ingin umat-Nya itu tidak hanya terpaku pada
aturan-aturan formal keagamaan, tapi juga memperhatikan hidup sehari-
hari. Sebab ibadah kepada Tuhan tidak hanya soal kultis, tapi juga
soal etis.

Namun, ayat ini juga bisa dikenakan dalam konteks hidup pernikahan,
khususnya dalam “membasmi rayap-rayap penggerogot” tadi. Adil,
mencintai kesetiaan, dan rendah hati.

Adil artinya, apa yang kita ingin pasangan kita lakukan kepada kita, lakukan lebih dahulu kepadanya. Kalau kita ingin pasangan kita
menghargai kita, hargailah ia lebih dulu. Kalau kita ingin pasangan
kita bersikap baik kepada kita, bersikap baiklah lebih dulu kepada
ia, dan seterusnya.

Mencintai kesetiaan, teguh pada janji, komit dengan tanggung jawab.
Enggak suka nyeleweng, lalu cari-cari alasan pembenaran. Setia
kepada sesama, setia kepada Tuhan. Kesetian harus dimulai dari
perkara-perkara sederhana.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-
perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
(Lukas 16:10). Jadi jangan harap kita bisa setia dalam hidup
pernikahan kita, kalau janji mau nonton saja, misalnya, kerap
diingkari.

Rendah hati tumbuh dari kesadaran bahwa kita membutuhkan pasangan
kita. Kita ini seumpama burung dengan satu sayap. Pasangan kita
punya sebelah sayap yang lain. Kita hanya bisa terbang kalau
menggunakan kedua sayap tersebut.

Rendah hati juga berarti, kesediaan untuk meminta maaf, kalau salah. Kesediaan memberi maaf dan memahami bahwa pasangan kita pun bisa khilaf.

Rendah hati juga membuat mulut kita ringan dan tulus mengucapkan
terima kasih dan memuji.

Resolusi

Bagikan
Penulis : L Wilardjo

Resolusi ialah ketetapan hati. Itu adalah kebulatan tekat untuk mengambil sikap, melakukan tindakan, serta menunjukkan perilaku baru yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Lazimnya yang baru ini lebih baik daripada yang dulu.

Tahun Baru sering dipakai untuk menetapkan resolusi bagi diri sendiri. Pada orang-orang yang menjalani hidupnya dengan sadar dan serius, resolusi biasanya didahului oleh perenungan yang mendalam dan doa yang khusyuk. Kita mohon perkenan Tuhan agar kita diberi-Nya kemauan keras dan ketegaran iman untuk mengatasi kelemahan kita. Agar kita tak tergelincir oleh godaan untuk menyimpang dari resolusi kita.

Tekad nasional
Resolusi juga dapat ditetapkan secara nasional. Presiden JF Kennedy mencanangkan tekat bahwa anak bangsa Amerika akan mencapai bulan sebelum akhir dasawarsa 1960-an. Tekat itu terwujud saat Neil Armstrong dan Edwin Aldrin menapakkan kakinya di bulan tahun 1969.

Sebelumnya, Amerika berkebulatan tekat untuk membuat bom atom lebih dulu dari Jerman. Itu juga tercapai dengan sukses uji coba proyek Manhattan-nya J Robert Oppenheimer di Gurun Alamogordo, menjelang akhir Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik.

Ketika Ronald Reagan mewarisi Amerika yang compang-camping dari Jimmy Carter, ia mencanangkan Proyek Perang Bintang. Dalam kemunduran ekonomi yang parah, pajak justru diturunkan untuk menggerakkan sektor riil. Strategic Defence Initiative (Prakarsa Pertahanan Strategik) yang dijuluki Kartika Yuda (Star Wars) juga memicu kegairahan luar-biasa dalam litbangtek (technological R & D). Maka, Amerika pun mencuat sebagai negara adidaya.

Berusaha mati-matian
Keberhasilan menggenapi tekat yang telah diikrarkan itu tidak lepas dari kerja keras habis-habisan. Tidak ada ungkapan “panas-panas tahi ayam” bagi bangsa yang besar itu. Begitu pula dengan semangat bushido dan tekat samurainya, bangsa Jepang menggarap Restorasi Meiji yang dicanangkan di masa bertakhtanya Kaisar Matsuhito.

Jepang tak mau kalah maju dengan Barat. Segala daya dan dana dikerahkan untuk menimba iptek dari Eropa. Dari sebuah negara tertutup yang diwarnai persaingan berdarah di antara para shogun penguasa perang (warlords) yang dijumpai Komodor Perry di dasawarsa awal, abad ke-19, Jepang muncul sebagai negara modern yang sejajar dengan negara-negara Barat yang maju.

Bulan-bulanan nasib
Menetapkan suatu resolusi dan secara konsisten berusaha mewujudkannya adalah hal yang positif. Ini lebih baik daripada melaksanakan apa yang disebut Lili Tjahyadi sebagai Kebijaksanaan Doris Day (Kompas, 29/12/2005). “Apa pun yang akan terjadi, (pasti) akan terjadi. Kita tak bisa melihat masa depan.” (Whatever will be, will be. The future’s not ours to see).

Sepintas lalu nyanyian Doris Day ini mengungkapkan kepasrahan orang beriman, tetapi sebenarnya tidak. Doris Day melantunkan fatalisme, yakni sikap menyerah kepada nasib, seperti warga Thebes dalam tragedi-tragedi Sophocles dengan tokoh-tokohnya, Oedipus, Jocasta, Creon, Antigone, dan sebagainya. Banjir bandang dan tanah longsor diterima dengan sabar-tawakal dan tidak membangkitkan kemarahan kepada pembabat hutan yang menggunduli punggung bukit.

Iman harus dicerminkan dalam amal perbuatan. Berserah dalam iman tidak berarti berpangku tangan dan mimpi mendapatkan rezeki nomplok. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) tidak akan terberantas hanya dengan istighotsah dan zikir massal, tanpa dibarengi dengan perjuangan nyata. Dan usaha nyata itu tidak berhenti dengan pencanangan kata-kata, tetapi harus terus-menerus dilakukan dengan konsisten. Bahkan, resolusi yang lebih baru lagi, seperti memberantas KKN dengan semangat “bersama kita bisa”, pamornya sudah mulai pudar.

“Restorasi Meiji” yang dilakukan BJ Habibie dengan memajukan iptek, menetapkan industri-industri strategis, membangun kapet-kapet, dan mengirim anak- anak muda yang cerdas ke luar negeri untuk menempuh pendidikan sampai aras S3 tidak berhasil. Mengapa? Antara lain karena tidak ada konsistensi dalam kebijakan pemerintah. Anak-anak muda itu kebanyakan berhasil dalam studinya, tetapi pemanfaatannya amburadul.

Demikian pula kita belum melihat konsistensi dalam tekat untuk menjadikan kelapa sawit sebagai “primadona” agroindustri dan agrobisnis Indonesia. Tekat untuk mengalahkan Malaysia di bidang perkelapasawitan dan untuk memakai produk-produk kelapa sawit sebagai pengentas 50 persen dari rakyat miskin dalam sepuluh tahun juga terancam bernasib “panas-panas tahi ayam”.

Dari enam bidang yang telah ditetapkan sebagai fokus penelitian yang akan didanai Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, kelapa sawit tidak disebutkan secara spesifik. Mungkin semua itu karena presiden dan menristeknya sudah ganti.

Ora et labora
Agaknya di awal tahun 2006 kita perlu memperbarui kebulatan tekat kita sebagai bangsa. Masokisme intelektual yang dikeluhkan Komaruddin Hidayat dan fatalisme yang disiratkan lagu Doris Day harus dihapus dan diganti dengan resolusi yang tegas tetapi realistik, artinya sesuai dengan taraf kemampuan kita.

Resolusi itu juga harus berarti ora et labora (berdoa dan bekerja), dan doa kita seperti doa Donald M McKay: “Oh, Lord, teach us to accept the unalterable, but not to be complacent in the face of the alterable.” (“Ya, Allah, ajarlah kami untuk menerima takdir, tetapi tidak berpuas diri menghadapi hal-hal yang dapat diubah.”)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s