Langkah Potensi Hidup

Bagikan
Oleh:

Langkah ke 1

Langkah pertama untuk mencapai potensi hidup kita yang maksimal adalah PERLUASLAH WAWASAN kita. Kita harus mampu memandang kehidupan ini dengan mata iman. Kita harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan kita raih. Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benak kita, dalam percakapanmu, meresap ke pikiran alam bawah sadar kita, dalam perbuatan kita dan dalam setiap aspek kehidupan kita. (Yohanes 10:10)

Langkah ke 2

Langkah kedua untuk mencapai POTENSI hidup kita yang maksimal adalah MENGEMBANGKAN gambar diri yang sehat. Itu aartinya kita harus melandasi gambar diri kita diatas apa yang TUHAN katakana tentang kita. Keberhasilan kita meraih tujuan, sangat tergantung pada bagaimana kita memandang diri kita sendiri; sebab hal itu menentukan TINGKAT KEPARCAYAAN diri kita dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa, kita tidak akan pernah melesat lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan mengenai diri kita sendiri. (Mazmur 139:14-16)

Langkah ke 3

Langkah ketiga untuk mencapai potensi hidup yang maksimal adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataan kita. Target utama serangan musuh adalah pikiran kita. Ia tahu sekiranya ia berhasil MENGENDALIKAN & MEMANIPULASI seluruh kehidupan kita. Sungguh, pikiran menentukan perilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan. Itulah sebabnya Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran. (Ibrani 3:1)

Kehilangan sama dengan Mendapatkan – “dalam banyak cara…”)

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela. Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?” Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

Si bapak tua dalam cerita di atas memahami filosofi dasar dalam hidup – jangan mempertahankan sesuatu hanya karena kamu ingin memilikinya atau karena kamu tidak ingin orang lain memilikinya.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak seperti tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Kalimat di atas tidak dapat diartikan kita hanya boleh kehilangan hal-hal jelek saja. Kadang, kita juga kehilangan hal baik. Ini semua dapat diartikan: supaya kita bisa menjadi dewasa secara emosional dan spiritual, pertukaran antara kehilangan sesuatu dan mendapatkan sesuatu haruslah terjadi.

Seperti si bapak tua dalam cerita, kita harus belajar untuk melepaskan sesuatu. Tuhan sudah menentukan bahwa memang itulah saatnya si bapak tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja peristiwa itu terjadi supaya si bapak tua nantinya bisa mendapatkan sepasang sepatu yang lebih baik.

” Satu sepatu hilang. Dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan banyak bernilai bagi si bapak. Tapi dengan melemparkannya ke luar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandangan yang membutuhkan. ”

Berkeras mempertahankannya tidak membuat kita atau dunia menjadi lebih baik. Kita semua harus memutuskan kapan suatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain. Pada saatnya, kita harus mengumpulkan keberanian untuk melepaskannya. ” Semoga kita menjadi orang yg bijak ”

IBLIS ITU BERNAMA MATERIALISME

Seorang teman menjelaskan fasilitas-fasilitas dari telpon seluler yang dimilikinya. Telpon itu canggih, bisa digunakan untuk memotret, mendengarkan lagu, mendengarkan radio, mengakses internet, dan tentu saja untuk menelpon dan mengirim sms. Saya bertanya: ”Kenapa beli hape sampe yang harganya mahal begitu?”

”Biar trendi bos! Lu jangan-jangan gak ngikutin perkembangan
teknologi ya?” Saya berpikir, sebenarnya apa sih tujuan utama dari
telpon selular tersebut? Bukankah hanya untuk menghubungi seseorang
atau mengirim sms?

Dulu, televisi menyiarkan informasi atau hiburan. Tetapi, sekarang televisi menawarkan iklan-iklan yang membuat orang gatal mata. Barang-barang yang ditawarkan oleh media membuat air liur seseorang turun. Hiburan yang ditayangkan tidak lagi mendidik, yang disajikan hanyalah sinetron-sinetron yang menyajikan masalah percintaan, keluarga, kuasa, dan yang lebih penting lagi: jualan Tuhan. Tidak heran bila orang-orang yang menontonnya kehilangan gairah kerja. Mereka terpengaruh acara-acara tersebut. Mereka ingin menjadi seperti apa yang disajikan oleh televisi.

Untuk mengirim surat, dulu orang perlu pergi ke kantor pos, kini hanya diperlukan seperangkat unit komputer yang diperlengkapi oleh internet. Hanya dengan sekali ’klik’, berita yang kita kirim bisa sampai hanya dalam waktu tidak sampai 3 menit ke seluruh dunia.
Kemudahan-kemudahan itu memang menyenangkan, bisa menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Tetapi, kemudahan-kemudahan tersebut menurunkan kualitas hidup seseorang.

Dengan kemajuan teknologi, kini orang mulai menjadi individualis,
tidak lagi memikirkan orang lain, yang dipikirkan hanyalah
kepentingannya sendiri. Teknologi yang sedemikian mudahnya itu kini
menjadi tuhan baru bagi manusia. Visi hidup manusia untuk bekerja kini
berubah: dapatkan uang lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, dan
lebih banyak lagi. Mereka bekerja kalau perlu 7 X 24 jam seminggu
untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Iblis dengan sempurna
memperdaya manusia. Tuhan ditinggalkan demi kesenangan semu yang
ditawarkan Iblis.

Tuhan tidak lagi diindahkan, tempat ibadah adalah suatu museum
dimana hanya ada beberapa orang saja yang mengunjunginya. Persekutuan
pribadi yang indah dan menyenangkan dengan Tuhan tidak lagi dilakukan.
Saya bertanya kepada seseorang teman: ”Bagaimana saat teduhmu hari
ini?” ”Wah udah lama banget gue gak saat teduh, sibuk banget nyari
duit yang banyak. Musti berangkat kerja pagi-pagi.” ”Kalo malem lu
kemana?” ”Malem ngedugem dong” ”Sampe kapan lu seperti itu?” ”Sampe
mati kali gue kaya gini. Seneng sih. Nanti kalo udah mau mati, baru
deh gue tobat, rajin ke gereja.”

Sebenarnya, pantaskah menunggu hingga detik terakhir dari hidup di
atas dunia ini untuk mengadakan transaksi dari urusan hidup yang
paling penting, menyelesaikan utang-piutang dengan Allah? Selama hidup
Allah memberikan kesempatan untuk bertobat, untuk mengambil jalan
keselamatan yang ditawarkan. Tetapi, bila dengan sengaja orang
tersebut menolak Kristus, dan minta diselamatkan di hari-hari terakhir
hidupnya; saya hanya bisa memberikan kalimat dari apa yang tertulis di
Alkitab: Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak
Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 7:21)

Mungkin kita khawatir bila tidak bisa mendapatkan apa yang kita
inginkan. Mungkin kita khawatir dengan apa yang akan kita makan hari
ini. Tetapi Tuhan Yesus berfirman: Sebab itu janganlah kamu kuatir dan
berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum?
Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak
mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu
memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:31-
33)

Memahami Perceraian dengan Duka yang Dalam

Bagikan
Penulis : Eka Darmaputera

SEMUA orang tahu, bahwa salah satu pilar “perkawinan kristiani”, adalah “indisolubilitas”-nya. Artinya, “sekali terikat, pantang ia terurai” “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Pertanyaannya adalah, apakah itu berarti bahwa “perceraian” lalu mutlak tidak dimungkinkan sama sekali? Dan bila begitu, bagaimana kita mesti menyikapi realitas terjadinya begitu banyak perceraian – dan yang cenderung semakin lama semakin banyak — termasuk di kalangan orang-orang kristen sendiri?

Dulu, dengan adanya larangan mutlak tersebut, orang yang semula berniat untuk bercerai, mungkin lalu mengurungkan hasratnya. Itu ketika rasa hormat orang kepada gereja masih lumayan tinggi. Tapi kini? Kalau mau cerai, ya cerai saja – apa pun kata gereja. Emangnya gua pikirin?

Kita tentu tidak boleh dengan mudah bertukar prinsip, semudah kita berganti baju. Ya! Namun, saya kira, kita juga tidak boleh secara membabi-buta, mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tidak relevan dan tidak efektif lagi.

PADA suatu petang, saya kebetulan mendengarkan sebuah acara “talk show” sebuah radio amatir di Jakarta. Wah, geram sekali saya mendengarnya! Geram, bukan hanya karena bahasa si narasumber yang amat buruk, tetapi terutama karena pernyataan-pernyataannya.

Ia mengklaim diri sebagai seorang “teolog”, tapi lagaknya jauh lebih mirip seorang “ideolog”. Nada bicaranya seolah-olah jurubicara kebenaran, padahal yang saya dengar adalah banyak ketidakbenaran. Acaranya konon “interaktif”, tapi yang terjadi adalah, ia cuma mau bicara, tak mau mendengar.

Berulang-ulang narasumber tersebut mengatakan, “Masalah begini harus kita sikapi secara “teologis”, jangan cuma secara etis”. Waktu itu yang dibicarakan adalah masalah istri yang kebetulan juga seorang “wanita karir”.

Astaga, pikir saya. Dengan memisahkan — bahkan mempertentangkan – keduanya, saya betul-betul sangsi, apakah yang bersangkutan tahu benar apa itu “teologi” dan apa itu “etika”. Dugaan saya, tidak.

Sebab, apa gunanya “teologi”, bila tidak diterjemahkan secara “etis”, sehingga mampu memberi pegangan hidup yang kongkret? “Teologi” macam beginilah yang menghasilkan penganut-penganut fanatik, tapi tanpa “etika”. Contoh ekstremnya, adalah para teroris itu.

Sebaliknya “etika”, saya akui, juga tak akan bermanfaat bila tidak dilandasi oleh keyakinan “teologis” yang jernih dan pasti. “Etika” macam begini, tidak akan mampu memenuhi fungsinya, yaitu memberi pegangan apa bagi tingkah laku. Sebab semuanya tergantung “si-kon”.

Si narasumber memang banyak menyebut ayat-ayat alkitab. Tapi seolah-olah tidak mau tahu, bahwa alkitab tidak hanya terdiri dari satu-dua ayat “favorit”. Ia juga tidak mau tahu, bahwa di dalam alkitab sendiri, pemahaman teologis itu berkembang. Tidak se-“statis”, se”beku”, dan se-“mandek” seperti yang ia kehendaki. Bahwa Tuhan ternyata jauh lebih luwes dan penuh pengertian, ketimbang banyak penganut fanatiknya!

KESAN saya tentang si “teolog” tersebut saya tuliskan di sini, karena saya ingin agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk menyikapi “perceraian”, o, dengan mudah saya dapat mengutipkan beberapa ayat alkitab untuk Anda. Dan percakapan selesai. Tapi selesai jugakah masalahnya?

Bahwa kita harus dengan sepenuh hati menghormati tradisi yang kita warisi, sikap saya tegas, “ya”. Bahwa karenanya kita tidak boleh gampang-gampang mengabaikannya, sikap saya juga tegas, “ya”. Namun, sikap tersebut toh tetap belum menjawab pertanyaan: apakah ada gunanya mempertahankan suatu aturan yang tak lagi dipatuhi dan dipedulikan orang?

Apakah kita mesti berkeras kepala mempertahankannya, semata-mata karena, seperti kata “teolog” di atas, kita harus bersikap “teologis” — bukan “etis”? Atau lebih bijak bila kita kerek turun saja bendera keyakinan kita, memenuhi tuntutan dunia?

Saya menolak kedua-duanya. Yang harus kita coba lakukan adalah menangkap inti pesan alkitab yang kita yakini bersifat mutlak dan apriori selalu benar. Tapi inti pesan itu masih harus kita perhadapkan dengan realitas yang ada. Sedemikian rupa, sehingga kita tidak begitu saja bersikap menyerah terhadap kenyataan atau menafikan kenyataan. Melainkan “menelanjangi” kenyataan di bawah terang kebenaran Firman.

Dengan begitu, kita “memahami” dan “menghayati” kebenaran Firman Tuhan itu, dalam perspektif konteks realitas kehidupan kita yang nyata – kini dan di sini. Kita tidak sekadar mengulang-ulang apa yang telah dikatakan sejak ribuan tahun silam, tetapi menghadirkannya untuk menyapa kita — sekarang.

TENTANG “perceraian”, alkitab agaknya punya satu suara. “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Matius menulis begitu (19:6). Markus menulis begitu (10:8). Seluruh alkitab secara implisit juga mengatakan itu.

Namun, di dalam kesamaan tersebut, toh kita mendapati ada nuansa yang berbeda-beda. Tidak bertentangan, tapi juga tidak persis sama. Misalnya, antara Markus dan Matius. Menurut versi Markus, “Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan .” (10:11). Sedang menurut versi Matius, “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah” (19:9).

Artinya, baik Markus maupun Matius, mereka sepakat mengatakan bahwa “perceraian” tidak dikehendaki Tuhan. Namun demikian, bagi Markus, larangan itu bersifat mutlak (= unconditional). Sedang menurut versi Matius, larangan tersebut masih membuka ruang – betapa pun kecil — bagi “pengecualian” (= exceptional).

Bagaimana menanggapi perbedaan tersebut? Menurut William Barclay, karena injil Markus itu lebih “tua” usianya dibandingkan dengan injil Matius, maka besar kemungkinan, Markus-lah yang lebih akurat. Bercerai itu salah. Mustahil. Titik.

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kesaksian Matius lalu tidak ada artinya. Adanya versi yang berbeda-beda, menunjukkan bahwa variasi pemahaman, perkembangan, dan perubahan, dihargai. Versi Matius menunjukkan, betapa dalam perjalanan waktu, terjadi perubahan sikap dan pemahaman. Yaitu dari sikap yang sangat ketat dan cenderung “kaku”, ke sikap yang lebih “terbuka” dan “fleksibel”. Karena itu, kini terbuka ruang bagi “pengecualian”. Ini wajar sekali, bukan?

Kecenderungan seperti ini, saya tahu, tentu ada bahayanya. Yaitu semakin lama, orang bisa semakin jauh dari “api” atau “semangat” yang asli dan mula-mula. Orang menjadi kompromistis. Standar moralnya semakin lentur; semakin rendah.

Tapi tidak boleh hanya ditafsirkan begitu. Sebab “akomodasi” atau “penyesuaian diri”, adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Tanpa akomodasi, orang akan terisolasi. Hanya akan menjadi sekumpulan orang-orang yang aneh dan nyeleneh; eksklusif dan eksentrik. Karena itu, tidak menarik. Padahal tugas kita adalah untuk membuat orang tertarik kepada Kristus. Nah, bagaimana kita dapat membuat orang tertarik, bila kita sendiri tidak menarik?

Dalam hal Matius, kita yakin, bahwa nilainya sebagai Firman Tuhan tidak jadi berkurang sedikit pun, hanya karena variasi tersebut. Mengapa? Oleh karena variasi tersebut masih berada dalam batas yang tidak melanggar prinsip yang mutlak dan universal. Masih dalam “zona” yang dapat ditorerir. Masih tetap berpegang pada prinsip, bahwa Tuhan tidak menghendaki perceraian.

PERTANYAAN kita adalah: bagaimana sesuatu yang tidak diperkenankan, kok dimungkinkan? Inilah, saudara, yang namanya “kekecualian” itu! Atau, meminjam istilah Karl Barth, suatu “possible impossibility”. Sesuatu yang pada hakikatnya tidak mungkin, tapi dalam kenyataannya mungkin – bahkan banyak — terjadi.

Sebut saja, sebagai contoh, adalah peperangan, penyakit, pencobaan, dan sebagainya. Semua ini jelas tidak dikehendaki Allah sejak awalnya. Sekiranya saja manusia tidak jatuh ke dalam dosa, semua itu pasti tidak akan ada. Tapi kini, setelah dosa hadir, bisa terjadi situasi-situasi ekstrem, yang tidak “pas” lagi bila dihadapi berdasarkan norma-norma yang lazim.

Misalnya, dengan sangat berduka kita mengatakan, bahwa bisa saja ada situasi tertentu, di mana melanjutkan perkawinan akan berakibat jauh lebih buruk ketimbang memutuskannya. Situasi “kekecualian”, di mana kita justru bersikap kejam dan tidak mencerminkan kasih, bila memaksakan perkawinan seperti itu terus berlanjut.

Menyaksikan perceraian, kemungkinan besar, Allah juga menangis. Seperti “sang ayah” dalam perumpamaan Yesus juga menangis, ketika anak bungsunya memaksa pergi meninggalkan rumah. Ia tahu tindakan itu amat salah. Namun begitu, ia tidak menghalang-halanginya. Ia — dengan hati hancur – membiarkan anak itu pergi. Seperti kita juga dengan hati hancur, terpaksa membiarkan sebuah perkawinan berakhir dengan perceraian.

Yang jelas salah adalah, bila “kekecualian” kita anggap sebagai “aturan umum”. Lalu orang dengan begitu mudahnya memutuskan tali perkawinan, seperti orang mematahkan sebuah ranting kering. Ini tidak membuat Tuhan sedih. Tapi murka.

Mematahkan Belenggu Materialisme

Bagikan
Oleh: Sunanto

Saat ini kita hidup dalam sebuah jaman yang sangat bersifat
konsumtif dan materialistis. Ketika saya masih kecil dulu, pusat
perbelanjaan (Mal) yang saat ini menjamur dimana-mana masih sangat
jarang sekali. Tanpa disadari banyak orang kristen yang terjebak
dengan gaya hidup yang konsumtif dan materialistik ini. Memiliki
kelimpahan bukanlah hal yang buruk tetapi dikendalikan oleh kelimpahan
merupakan sebuah bentuk penyembahan berhala (keserakahan). Tuhan tidak
melarang kita untuk memiliki kelimpahan tetapi Ia tidak ingin kita
menjadi orang yang sengsara oleh karena keserakahan.

Ketika berada di Calcutta, Miller diperingatkan untuk tidak memuji
barang-barang yang ada dia lihat di rumah-rumah yang dia kunjungi
sebab saudara-saudara seiman disana akan memberikan barang-barang
tersebut kepada orang yang memujinya. Kelimpahan materi tidaklah dapat
menjamin kebahagiaan seseorang malahan justru bisa membuat hidup orang
tersebut semakin menderita. Sikap hidup yang senantiasa mengucap
syukur dan berserah total kepada Tuhan merupakan kunci untuk menuju
hidup yang bahagia. Bila kita tahan uji dalam kesesakan padang gurun
ini maka segala keserakahan akan lenyap. Baru setelah itu kita siap
untuk menerima warisan yang telah disediakan oleh Bapa kita.

Tujuan utama Tuhan memberkati hidup kita bukan untuk kenikmatan
pribadi kita sendiri melainkan agar kita bisa memberkati orang lain.
gaya hidup yang bersifat konsumtif dan materialistis. Ingatlah bahwa
hidup kita ini bukan milik kita lagi sebab kita telah dibeli dan
harganya telah lunas dibayar (I Kor 6:20). Marilah kita
mempersembahkan diri kita secara total kepadaNya dan hidup hanya untuk
menyenangkanNya !

Memberikan Pujian

Bagikan
Penulis : Arvan Pradiansyah

Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, “Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang.”

Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, “Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya.”

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.

Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

Seorang kawan pernah mengatakan, “Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk.” “Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?” saya balik bertanya. “Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!”

Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

Pertama, kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan “cinta karena”, tetapi “cinta walaupun”. Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmatNya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah “cinta walaupun”. Walaupun Anda mengingkari nikmatNya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

Kesalahan kedua, kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, “Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!” Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, “Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!”

Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

Kesalahan ketiga disebut paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang “segar dan baru”. Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi — bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko maupun petugas di jalan tol.

Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, “Hati-hati di jalan Pak!” Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

Menanam Benih Ketakutan

9
Bagikan
Penulis : Charles Nieman

SETAN memakai empat metode dalam usahanya untuk menanamkan benih ketakutan ke dalam hati anda, di mana benih itu akan tumbuh dan berbuah.

METODE I : KATA-KATA

Kata-kata akan diucapkan kepada anda dengan satu cara atau cara lainnya, baik oleh orang lain atau oleh roh-roh jahat yang berbicara langsung kepada alam sadar anda. “.dan Tobia mengirim surat untuk menakut-nakuti aku” (Nehemia 6:19). Nehemia mengetahui apa yang akan dilakukan Tobia dan tidak jatuh ke dalam rencananya. Seringkali, kata-kata yang menakutkan akan diucapkan kepada anda oleh orang-orang Kristen yang bermaksud baik, yang kebetulan tulus namun salah.

Bagaimana anda tahu bahwa iblis sedang berbicara kepada anda? Ketika anda mendengar kata-kata seperti ini: ” Tetapi.”, “bagaimana kalau..” dan “bagaimana cara Allah akan melakukan hal itu bagimu”. Allah tidak memakai kata-kata “bagaimana kalau”, “tetapi” dan “bagaimana caranya”. Kadang-kadang anda mungkin akan memiliki pikiran-pikiran yang terdengar seperti ini: “Namun bagaimana kalau uang itu tidak datang tepat pada waktunya?”. “Bagaimana cara Allah akan melakukan hal itu bagimu?” . “Bagaimana kalau engkau tidak disembuhkan ketika mereka mendoakanmu? Apa yang harus dilakukan selanjutnya?”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang untuk menanamkan benih ketakutan di dalam hati anda. Pada saat tertentu dalam hidup saya sendiri, saya menghadapi apa yang nampaknya seperti sebuah masalah yang tidak dapat diatasi. Akhirnya saya bertanya kepada Tuhan bagaimanakah IA akan memenuhi kebutuhan saya. JawabanNya mengubah hidup saya. Ia berkata,” Charles, bagaimana caranya bukan urusan atau tanggungjawabmu. Bagaimana caranya adalah tanggung jawabKU. Tanggung jawabmu adalah mempercayai Firman Allah. Tanggung jawabKU adalah menjadikannya nyata!”

Puji Tuhan! Saya berpaling kepada iblis dan menyampaikan kepadanya apa yang baru saja saya dengar, dan iblis diam! Sejak hari itu hingga sekarang, saya tidak pernah mengkhawatirkan bagaimana cara Allah menyelesaikan. Ingat, Alkitab berkata bahwa semua janji Allah adalah “YA” dan “PASTI”.

METODE II : SETAN AKAN BERUSAHA MEMBUAT ANDA TAKUT TERHADAP BESARNYA MASALAH

Tuhan menyatakan hal ini kepada bangsa Israel dalam hukum-hukumNya mengenai perang.

“Apabila engkau keluar berperang melawan musuhmu dan engkau melihat kuda dan kereta, yakni tentara yang lebih banyak daripadamu, maka janganlah engkau takut kepadanya, sebab Tuhan Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari Mesir menyertai engkau. Apabila kamu menghadapi pertempuran, maka seorang imam harus tampil ke depan dan berbicara kepada rakyat dengan berkata kepada mereka: Dengarlah hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu, janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu. Lagi para pengatur pasukan itu harus bebicara kepada atentara demikian: Siapa takut dan lemah hati ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya supaya hati saudara-saudaranya jangan tawar hati seperti hatinya”. (Ulangan 20:1-4,8)

Ketakutan dapat berpindah dari seseorang kepada orang lain. Karena alasan itulah, Musa menyuruh para perwira untuk pulang ke rumah setiap orang yang merasa takut. Gideon juga tahu bagaimana ketakutan bekerja. Ia mulai dengan tentara yang berjumlah tiga puluh ribu orang. Kemudian Allah menyuruh Gideon untuk memerintahkan setiap orang yang takut agar pulang ke rumah. Dua puluh ribu orang kembali ke rumah. Sebelum mereka pergi berperang, Gideon kembali mengurangi jumlah tentaranya dari sepuluh ribu menjadi tiga ratus. Dengan tiga ratus orang yang tidak takut, Gideon mampu memenangkan pertempuran yang dahsyat.

Janganlah biarkan besarnya masalah menakutkan anda. Tidak ada musuh yang lebih besar dari kemampuan BAPA. Angkatlah pandangan anda dari masalah dan pandanglah solusinya: Firman Allah. Ingatlah, makin lama anda memandang masalah itu, masalah itu akan semakin mempengaruhi hati anda. Yeremia berkata,”Mataku mempengaruhi hatiku.” (Ratapan 3:51 – King James)

METODE III : SETAN AKAN MENGINGATKAN ANDA KEPADA KEGAGALAN DI MASA LAMPAU, KEGAGALAN ANDA DAN KEGAGALAN ORANG LAIN.

Anda perlu memperhatikan apa yang anda dengar. Jangan dengarkan kesaksian kegagalan orang lain. Saya sangat berhati-hati dengan siapa yang saya dengarkan. Anda harus berhati-hati karena dari hati andalah mengalir kekuatan hidup anda (Amsal 4:23). Kekuatan ini bisa baik atau buruk. Tipe kekuatan apa pun yang mengalir keluar akan menentukan kualitas hidup dan kepemimpinan anda.

Ketika anda pertama kali hidup dengan iman, ada kemungkinan yang cukup besar bahwa anda akan mengalami kegagalan. Saya mengalaminya. Setan akan berusaha memperlihatkan kegagalan di masa lampau itu kepada anda. Alkitab berkata bahwa Allah akan melepaskan anda dari rasa malu pada masa muda anda. Kita semua pernah muda di dalam Tuhan pada saat tertentu dan tidak tahu banyak hal. Kita tergesa-gesa di dalam iman dan kita jatuh. Baiklah bangunlah, bersihkan diri anda dan teruslah berjalan. Anda akan berhasil dengan suatu cara yang agung dan mulia, merebut setiap kemenangan, melewati setiap pencobaan!

METODE IV : SETAN AKAN MEMBUAT ANDA MERASA TERTUDUH KARENA TIDAK CUKUP BELAJAR, TIDAK CUKUP BEERDOA, TIDAK CUKUP BERPUASA, TIDAK CUKUP SERING KE GEREJA

Sederhananya, ia (iblis) akan mengambil apapun tempat berpijak yang anda berikan kepadanya. Ia akan berdiri di belakang anda dan menuduh anda. Definisi kata “Penuduhan” adalah “menyampaikan penghakiman terhadap, menjatuhkan vonis atas, dan diikuti hukuman”. “Demikianlah sekarang tidak ada penuduhan bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang tidak hidup menurut daging melainkan menurut roh.” (Roma 8:1).

Tidak ada penghakiman yang melawan anda, tidak ada vonis yang dijatuhkan kepada anda, dan tidak ada hukuman yang menanti anda. Setan tidak berhak menghukum anda. Bila anda tidak melakukan hal-hal yang anda tahu harus anda lakukan, bertobatlah. Kata “Bertobat” artinya “berbalik dari dosa dan berpaling kepada Allah”. Definisi hurufiahnya berarti “Mengubah pikiran anda dan pergi menuju ke arah yang lain”. Iblis tidak memiliki hak untuk masuk dan berbuat apapun juga terhadap anda. Setan datang untuk mencuri dari anda. Untuk itu bertobatlah, akuilah dan mintalah kepada Allah untuk mengampuni anda.(*)

Menentukan Pilihan

Bagikan
Oleh:

“Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas.”-Amsal 22:1

Jika saya bisa menciptakan sebuah istilah sebagai sinonim dari “berpikir positif,” maka istilah itu adalah memilih yang terbaik. Karena ketika kita memeriksa segala kemungkinan yang ada, berarti kita sedang membuat daftar tentang semua pilihan yang ada. Kita sedang “memilih yang terbaik”! Proses tersebut dimulai ketika kita mempertimbangkan pilihan kita yang pertama: menjadi seorang percaya ataukah bukan.

Sekali kita memilih untuk berjalan di jalan iman, kita akan terus-menerus menemui persimpangan-persimpangan itu di mana jalan di depan kita bercabang, sehingga kita perlu mengajukan pertanyaan ini: “Jalan manakah yang harus aku tempuh sekarang?” Lalu kita perlu untuk “memilih yang terbaik.” Bertanyalah: “Kemanakah aku mau pergi?” dan “Jalan manakah yang akan membawaku ke sana?” Berhati-hatilah dalam memilih.

Ayat renungan kita pagi ini menuntun kita untuk dapat menentukan pilihan yang terbaik: “Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar.”

Ketika George Beverly Shea masih muda, dia mempunyai keinginan untuk meniti karir besar yang dapat membawanya pada kemasyhuran dan keberuntungan. Ibunya sungguh-sungguh prihatin akan hal itu. Pada suatu hari, ketika George akan berlatih piano, dia menemukan selembar puisi yang diletakkan oleh ibunya di atas pianonya. Puisi itu berjudul I’d rather have Jesus (“Lebih baik aku memiliki Yesus”), yang kini menjadi suatu lagu rohani yang terkenal di dunia.

Setelah membacakan kata-kata yang terdapat dalam puisi tersebut, George Beverly Shea menyerahkan seluruh talenta yang dimilikinya kepada Yesus. Hasilnya? Nyanyiannya telah membawa puluhan ribu orang kepada Kristus.

Hari ini kita mempunyai banyak pilihan. Sebagian dari pilihan itu akan menjadi kecil dan kurang berarti, namun sebagian lagi mungkin akan memberikan pengaruh yang besar bagi masa depan kita. Pilihlah dengan hati-hati. Buatlah pilihan sambil memohon sungguh-sungguh kepada Tuhan dalam doa.

“Ya Tuhan, aku menyadari bahwa ada banyak pilihan yang terbentang di hadapanku. Namun pagi ini aku berdoa, biarlah Roh Kudus sendiri yang senantiasa menuntunku untuk dapat menentukan pilihan terbaik bagiku yang sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak-Mu.”

Mengapa Tuhan Mengijinkan Kita Kecewa

7
Bagikan
Oleh: Sunanto

Saya menemukan banyak orang kristen yang mundur sebab mereka mengalami kekecewaan dalam hidup mereka. Mereka kecewa terhadap saudara seiman, pemimpin rohani bahkan kecewa kepada Tuhan. Kekecewaan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan ini, malah sebenarnya kekecewaan itu dibutuhkan bagi pertumbuhan rohani kita. Kasih yang terbesar tumbuh dalam tanah kekecewaan yang tak tertahankan terhadap kehidupan ini.

Setiap kali kita merasa kecewa terhadap sesuatu sebenarnya kita telah menggantungkan kebahagiaan kita kepada hal yang mengecewakan kita. Kekecewaan pasti akan terjadi sebab akibat natur dosa yang kita bawa menyebabkan kita cenderung meletakkan kebahagiaan kita di luar Tuhan. Respon kita menghadapi kekecewaan sangat penting sebab hal itu akan menentukan apakah kita akan naik atau turun. Milikilah sikap yang positif dan bersyukur saat menghadapi kekecewaan sebab hal itu pasti akan menyebabkan kita menjadi naik. Rajawali tidak takut dengan badai tetapi ia justru terbang semakin tinggi saat badai datang. Orang kristen yang memiliki iman sejati akan semakin kuat saat badai kehidupan datang menerpanya.

Satu hari Tuhan mengijinkan saya kehilangan seseorang yang sangat saya kasihi sehingga saya sangat kecewa dan hati saya serasa mau mati. Malamnya saya bermimpi melihat sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan nama saya. Lewat mimpi tersebut Tuhan hendak berbicara bahwa Ia mengijinkan hal itu untuk mematikan keakuan saya. Proses pengosongan memang sangat menyakitkan tetapi tanpa pengosongan tidak akan ada pengisian. Kita harus semakin kecil dan Kristus harus semakin besar. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20a). Mengatakan atau menghafalkan ayat ini tidak sukar tetapi untuk mengalaminya sangat sukar.


Mengenai ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran

Bagikan
Sumber : Fernando

“Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Amsal 12:25) “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.” (Mazmur 34:5)

“Janganlah kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6- 7)

“Karena itu rendahkalah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.Serahkanlah segala kekuatiran kepada-Nya sebab Ia yang memelihara kamu.” (I Petrus 5:6- 7). Baca juga Mazmur 55:23.

“Yesus berkata kepada murid-muridNya: “Karena itu aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir akan pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian. Perhatikanlah burung- burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu! Siapakah di anatara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta (menurut terjemahan Alkitab versi NIV adalah satu jam) pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain? (Lukas 12:22-26, bandingkan juga dengan Matius 6 : 25-34).

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:6)

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang- tulangmu.” (Amsal 3:5-8)

“Demikianlah juga roh membantu kita dalam kelemahan kita: sebab kita tidak tahu, bagaimana seharusnya harus berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:26-28)

“Allahku akan memenuhi segala keperluanku menurut kekayaaan dan kemuliaanNyadalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:11)

Rasul Paulus menemukan kekuatannya dalam Tuhan, ia menyaksikannya sebagai berikut:

“Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara ; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari batu , tiga kali mengalami karam kapal. Sehari semalam aku terkatung-katung di tengah- tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahay penyamu, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahay dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapardan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan dengan tidak menyebut hal lainlagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat. Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah ? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita. Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku,�Tetapi jawab Tuhan kepadaku:”Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahankulah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan di dalam kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah maka aku kuat.” (II Korintus 11:23-30,12:9-10)

“Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah penolongku aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:6)

“Berharaplah kepada Tuhan hai Israel dari sekarang sampai selama- lamanya” (Mazmur 131:1)

Baca juga: Mazmur 139:23

Kemungkinan penyebab trauma dan ketakutan adalah : konflik, masalah kesehatan, kondisi bahaya, kematian, kebutuhan yang tak terpenuhi, masalah spiritual, kepercayaan sesat dan sebagainya.

“Secara alkitabiah, tidaklah salah jika kita mencoba untuk hidup lebih realistis dalam menghadapi masalah. Karena mengabaikan suatu bahaya merupakan tindakan yang salah dan bodoh. Namun jugalah salah jika kita kita hidup dalam kekuatiran. Untuk kekuatiran semacam ini kita harus menyerahkannya kepada Tuhan yang dapat melepaskan kita dari tekanan-tekanan seperti itu dan membebaskan kita untuk hidup lebih realistis dan memenuhi kebutuhan kita dan sesama kita.”(DR Garry R Collins, Christian Counselling)

Ada beberapa saran umum yang dapat mengurangi ketakutan, kekhwatiran dan kecemasan anda:

DOSA DALAM HIDUPMU – Terkadang ketakutan dan kecemasan merupakan hasil dari dosa dan kesalahan kita. Jika kita melakukansuatu dosa akan timbul kecemasan dan ketakutan, hal ini dimungkinkan, karena Tuhan menginginkan perhatian kita. Tindakan yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi seperti ini adalah bertobat dan mencari pengampunanNya.

TIDUR – Normalnya manusia membutuhkan waktu 8-9 jam untuk tidur setiap harinya. Kurang tidurdapat meningkatkan kecemasan. Istirahatlah yang cukup. Jika anda menghadapi kendala ini, anda dapat mencari pertolongan-Nya melalui doa atau bahkan mencari bantuan seorang psikolog.

BERSIKAP LEBIH REALISTIS – Banyak orang khawatir dan cemas akan hal- hal yang tak pernah terjadi terhadap mereka.Bersantailah. Pusatkan pikiran anda pada kegiatan anda pada hari itu. Nikamati hidup anda.

DENGARKANLAH- musik yang lembut dan santai, ada banyak musik-musik kristen yang cukup lembut (seperti lagu penyembahan) yang dapat membantu anda untuk lebih dekat dengan Tuhan. Jika mungkin dengarkanlah kaset-kaset kotbah dari pembicara yang menjadi favorit.

KESENANGAN- lakukanlah sesuatu yang anda rasa dapat anda nikmati. Adalah baik untuk mengambil waktu sejenak untuk rekreasi, tinggalkan rasa khawatir anda dan bergembiralah.

BERBICARA- Jangan simpan kecemasan anda, adalah baik jika anda meringankan beban anda dengan berbagi (sharing) dengan orang-orang yang dapat anda percayai dan kenal seperti sahabat, keluarga, pendeta atau konselor. Jika hal ini benar-benar mengganggu anda, jadwalkanlah waktu yang tetap setiap minggu untuk sharing dengan seseorang yang anda percaya.

BERTINDAK – ambil tindakan yang praktis, untuk menghindari hal-hal yang dapat membahayakan anda, jangan paksakan diri, karena hal ini hanya akan meningkatkan kecemasan anda.

OLAHRAGA – studi kesehatan menunjukkan bahwa dengan berolahraga dapat menurunkan tingkat kecemasan kita. Jika anda cukup sehat cobalah untuk berolahraga, seperti berjalan santai, lari, berenang atau olahraga laiinya yang dapat anda lakukan.

PERTOLONGAN PROFESIONAL – Ada banyak organisasi yang bersedia untuk menolong orang yang sering terserang kecemasan termasuku Midwest Center for Stress and Anxiety (stresscenter.com). Anda dapat mencari informasi juga melalui internet dengan menggunakan kata kunci: anxiety, panic attacks, agrophobia. Anda juga harus mampu mencari pertolongan di sekitar daerha anda dengan mencoba berkonsultasi dengan dokter atau Pendeta atau Romo gembala gereja anda.

Menggapai Tujuan

Bagikan
Penulis : Janner, Pasaribu

Kejadian 25:28-34
28 Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.
29 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang.
30 Kata Esau kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. 31 Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.”
32 Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”
33 Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya.
34 Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Berikut ini ada lima aspek yang perlu Anda pertimbangkan untuk menggapai tujuan.

Untuk mencapai tujuan, pertama, Anda perlu bekerjasama dengan Tuhan, Anda perlu taat pada rencana-Nya, selain itu harus ada penyerahan total kepada-Nya. Kedua, kita perlu bekerjasama dengan orang lain, dimulai dari dukungan doa mereka.
Kerja yang konsisten. Setelah Allah menetapkan tujuan, yang perlu kita lakukan adalah fokus untuk menyelesaikannya. Walaupun orang mengecewakan kita, tetaplah maju di jalan yang sudah Ia sediakan bagi kita.
Fokus yang berarti memastikan pandangan kita pada tujuan di depan dan tidak membiarkan diri kita dipengaruhi oleh apapun.
Sering kali tujuan yang Allah berikan menuntut keberanian untuk bertindak. Keberanian adalah kesediaan kita untuk beraksi walaupun hasilnya masih samar. Kita dapat melakukan ini karena Tuhanlah yang memintanya. Semakin dalam iman kita kepada-Nya, semakin besar keberanian itu nantinya.
Kembangkan gaya hidup yang secara sadar terus bergantung pada Tuhan. Kita sering tergoda untuk mencapai suatu tujuan dengan kekuatan sendiri dan melupakan Tuhan. Hati-hati kesuksesan sejati membutuhkan ketergantungan total pada Sang Pencipta.

Pokok pemikiran di atas bukanlah suatu standar untuk mengukur diri kita, tapi arahan untuk menolong kita untuk maju di jalur yang benar. Bila Anda belum menetapkan tujuan, carilah seseorang yang sudah melakukannya. Belajarlah terbuka untuk hal-hal baru, dan untuk perubahan.

Menjadi Serupa Seperti Karakter Kristus

Bagikan
Oleh: Sunanto

Rom 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

Tujuan Yesus datang ke dunia ini bukanlah hanya sekedar untuk menyelamatkan umat manusia. Tujuan utama Yesus adalah untuk membawa umat manusia ke dalam kemuliaan atau untuk menjadi serupa seperti Dia. Oleh karena itu sebelum Dia meninggalkan dunia ini, Yesus memberikan sebuah pesan yang disebut juga amanat agung yaitu untuk menjadikan semua bangsa muridNya. Menjadi murid Kristus itu artinya lebih dari sekedar percaya dan diselamatkan. Anehnya, kita malah suka menyalahkan orang lain yang tidak mau berubah, padahal seharusnya jika kita benar-benar berfungsi sebagai terang dan garam dunia maka mereka ( baca: dunia) pasti akan terpengaruh oleh terang tersebut. Kita tidak dapat memerintahkan kegelapan untuk pergi melainkan kita harus menyalakan terang sehingga dengan sendirinya kegelapan itu pasti pergi. Jika gereja Tuhan benar-benar menjadi terang maka dengan sendirinya kuasa kegelapan yang selama ini mencengkram bangsa ini pasti akan pergi. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang selama ini menjadi akar kebobrokan bangsa ini pasti dapat dicabut sampai ke akar-akarnya jika kita sebagai umat Tuhan bangkit untuk menjadi terang.

Proses pembentukan untuk menjadi serupa seperti karakter Kristus memang tidak mudah dan tidak terjadi secara instan. Malah sebaliknya proses itu amat menyakitkan dan biasanya melibatkan krisis dalam kehidupan kita. Sebuah krisis pasti akan berkembang dalam hidup kita sebelum kita memilih untuk mengikuti kehendak Allah. Hal ini terjadi sebab kita cenderung untuk tidak menanggapi dorongan yang lembut dari Allah untuk membawa kita ke tempat di mana Dia meminta kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kita kepadaNya. Saat krisis itu terjadi maka kita bisa memilih untuk menyerah atau menolak kepada kehendak Allah. Setiap kali kita memilih untuk menyerah maka semakin kita dibentuk menjadi lebih serupa dengan karakter Kristus Semakin tinggi tingkat penyerahan hidup kita maka semakin banyak karakter Kristus yang terpancar dalam kehidupan kita.

Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan dan kekecewaan sebab Ia ingin kita mengalami perubahan. Max lucado berkata “Allah mengasihimu apa adanya tetapi Ia menolak membiarkan anda seperti itu. Ia ingin agar anda menjadi persis seperti Yesus.” Orang-orang harus mengalami penderitaan dan kekecewaan dalam hubungan mereka dengan orang disekelilingnya sebelum mereka menyadari bahwa mereka perlu berubah. Hanya bila kita merasa cukup muak dengan penyakit yang kita derita maka kita dapat melepaskan diri dari penyakit itu. Percayalah, setiap kekecewaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita akan membawa kita pada sebuah posisi yang mana kita menyadari hanya Tuhanlah yang sanggup membahagiakan hidup kita. Kita dapat menggunakan penderitaan untuk mengakhiri penderitaan. Saya sendiri telah mengalami bagaimana pahitnya menelan pil kekecewaan dan kegagalan tetapi pada akhirnya semua itu mendatangkan kebaikan dan keindahan bagi hidup saya.

Francis fragipane mengatakan ketika kita berfokus untuk menjadi serupa seperti Kristus maka kebangunan rohani yang sebenarnya telah terjadi dalam hidup kita. Tujuan hidup kita bukanlah melayani melainkan untuk mengenal Allah dengan intim sehingga dari pengenalan itu akan lahir pelayanan yang sejati. Untuk dapat mengenal Allah dengan intim maka kita harus mengalami proses pembentukan karakter sehingga karakter kita menjadi serupa karakter Kristus. Hidup kita akan menjadi berkat dan membawa pengaruh besar bagi lingkungan di sekitar kita bila kita memiliki karakter Kristus. Keluarga, lingkungan, kota dan bangsa kita akan bisa melihat kemulianNya dinyatakan bila hidup kita telah dubahkan menjadi serupa seperti karakter Kristus !

Menuding

Bagikan
Oleh: Bagus Pramono

Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (Kejadian 3:12-13).

Setiap orang mempunyai tendensi “menuding”, bandingkan dengan ayat diatas, ternyata sikap itu adalah reaksi dosa Adam. Ia seharusnya bisa langsung mengakui kesalahannya, dan tidak melemparkan kepada Hawa yang melemparkannya lagi kepada ular. Agaknya sulit bagi seseorang mengakui bahwa dia turut bersalah dalam suatu kasus, dan sebaliknya selalu ingin melemparkan kesalahan kepada pihak lain.

Tuding-menuding juga wujud dari sikap kesombongan. Seorang yang saleh beribadah tak jarang menuding orang lain dengan stardard dirinya yang dirasa lebih saleh. Dengan demikian, kesalehan seseorang bisa menyeretnya berbuat dosa. Karena didalam setiap tindak-kebaikan dan kesalehan kita, masih akan terselip kejahatan dan kesalahan. Misalnya, ketika memberi/sedekah kita bisa diam-diam mengharapi pujian; ketika kita berdoa, kita bisa ngelantur (riya); ketika kita berkotbah, kita belum tentu berperilaku seperti yang dikotbahkan, ketika menolong, kita sering mengharapkan (bahkan menuntut) pamrih, dll. Singkatnya, ketika kita berbuat jahat maka betul kita berbuat jahat, namun tatkala kita berbuat baik-pun masih terselip perbuatan-perbuatan jahat. Yesus mengecam orang-orang yang hanya pandai menuding kesalahan orang luar, dan itu disebutNya sebagai munafik: “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (orang lain).” (Matius 7:5)

Yesus telah mencanangkan revolusi moral-etika, Ia memurnikan moral sampai kepada sumbernya. Yesus mengajar bahwa tendensi dosa bukan dari perbuatannya secara kasat mata. Dengan jelas Yesus mengungkapkan potensi dosa dari sumbernya, yaitu hati dan pikiran dari manusia. Salah satu contoh, tentang hukum zinah, tidak sebatas seseorang itu “ketahuan berbuat zinah”. Yesus meluruskannya dengan stardard baru yaitu menyatakan bahwa “membayangkan zinah sudah termasuk zinah!” (Matius 5:27-30). Dari contoh pengajaran ini, baiklah kita menimbang. Perlukah menuding sepihak, bahwa suatu tendensi zinah dilimpahkan saja kepada seorang wanita cantik dengan tubuh aduhai, kemudian kita menyalahkan si wanita itu seharusnya menutup rapat tubuhnya, padahal mata dan hati si laki-lakilah yang bermasalah.

Dalam kehidupan rumah-tangga, tak jarang terjadi, entah istri atau suami atau anak-anak melakukan kesalahan. Terhadap pihak yang bersalah itu, seringkali kita selalu menuding kesalahannyasecara terus menerus tanpa memperhatikan pihak yang bersalah itu sudah meminta maaf. Susah sekali bagi seseorang mengampuni dan melupakan perbuatan salah dari keluarganya itu. Misalnya, seorang suami pernah berbuat salah, katakanlah, ia berselingkuh, kemudian ia kembali kepada istrinya, dan istrinya menerimanya kembali dan memaafkannya. Tapi ternyata pemberian maaf itu tidak sepenuhnya, sepanjang hidup si-suami ini terus-menerus ‘dituding’ oleh si istri, suami senantiasa diingatkan, bahkan teror sehari-hari bahwa dia pernah berbuat ini dan itu. Akibatnya, meskipun suami-istri ini tetap hidup bersama, namun si istri lebih rela kehilangan kebahagiaan dan ketenangan rumah tangganya, gara-gara si-istri kecanduan ‘menuding’ suaminya.

Tuding-menuding ada dalam kehidupan beragama, Kristianitas seringkali mendapat banyak tudingan: Tuhanmu tiga, mengapa menyembah manusia, Roh Kudus itu bukan Tuhan tapi malaikat, mengapa memakan makanan haram, ibadah cara kafir dan seterusnya dilontarlah oleh kalangan ‘agama lain’. Ternyata bukan dari kalangan luar saja Kekristenan mendapat tudingan. Diantara orang-orang Kristiani sendiri juga sarat “tuding-menuding”, diantara kita juga terjangkit penyakit kecanduan menuding ibadah saudara kita dari aliran lain. Golongan dari gereja baru menuding saudara tuanya yang Gerejanya dipimpin oleh seorang raja, tanpa menyadari kalau dia sendiri juga bergereja di gereja yang dipimpin oleh seorang pendeta/gembala yang merangkap owner, direktur dan bendahara dan itu bagaikan ‘kerajaan kecil’nya. Seorang Kristen yang lain menuding golongan lainnya sebagai golongan ‘sesat’. Aliran baru menuding gereja lama tak memiliki Roh, sebaliknya aliran lama balik menuding ibadah cara baru itu adalah bentuk pengawuran. Aliran baru yang merasa dirinya paling Alkitabiah menuding-nuding kelompok lainnya tidak Alkitabiah. Akhirnya rasa ‘paling Alkitabiah’ ini menyeret pada dosa lain yaitu kesombongan. Aliran satu menuduh aliran lain mengkultuskan manusia dan tak menyadari dirinya sendiri toh juga mengkultuskan pendetanya. Kelompok ‘anti Arab’ menuding kelompok Kristen lain yang menggunakan istilah serapan dari bahasa Arab untuk memanggil Tuhan. Belum lagi soal doktrin dan tradisi gereja, terjadi pula tuding-menuding, menyerang, melecehkan dan lain-lain. Yang lebih parah, kita sering lebih suka mengingat-ingat yang jelek-jelek saja. Seperti sikap si-istri tadi, gereja yang satu kecanduan merincikan kesalahan-kesalahan suatu gereja lainnya tanpa menghiraukan bahwa gereja yang ditudingnya itu telah melakukan reformasi dan pembenahan-pembenahan.

Ketika kita bersikap seperti itu, kita ini justru menempatkan diri kita seperti preman-preman agama di Jakarta yang suka mengedor-gedor pintu café dan tempat-tempat hiburan yang dituding ‘maksiat’, dan menempatkan dirinya sendiri sebagai polisi moral-kesucian. Pihak atheis bisa tertawa ngakak melihat kelucuan sikap orang-orang yang bertuhan dan beragama, dan ini tentulah bukan kesaksian yang baik.

Seperti Adam, kita susah menuding diri sendiri, Adam seharusnya bisa langsung mengaku dia berdosa melanggar perintah Tuhan, tetapi ia lebih merasa nyaman menuding Hawa, dan Hawa-pun menuding pihak lainnya. Dari sini dapat kita mengerti bahwa “menuding” adalah justru sebuah reaksi dosa. Adalah perbuatan baik mengingatkan saudara kita akan dosa/ kesalahan yang diperbuatnya, namun ternyata kita sering tidak memberikan peringatan dengan kasih, dan tanpa perlu mendakwa. Tetapi kita lebih asyik menuding dengan pandangan picik bahwa kita sendiri saja yang benar. Patut disayangkan, seorang yang mempunyai tendensi menuduh-nuduh, mendakwa dan menelanjangi kesalahan pihak lain seringkali lupa bahwa matanya sendiri masih kelilipan batu besar.

“Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.” (1 Korintus 8:12)

Menyesal – If Only !

Bagikan
Oleh: Mang Ucup

Naomi telah rela mengorbankan mahkota kesuciannya untuk Eddy,
begitu juga masa mudanya dia, dimana dia berpacaran dengan Eddy selama
lima tahun lebih, tetapi kenyataan disamping Naomi, Eddy masih
memiliki perempuan lainnya. Hal inilah yang membuat Naomi ngambek dan
dalam keadaan emosi ia telah memutuskan hubungannya dengan Eddy. Naomi
merasa sangat menyesal atas keputusan ini sehingga walaupun
kejadiannya telah bertahun-tahun yang lampau, tetapi rasa menyesalnya
tidak pernah bisa hilang. Hal ini membuat Naomi selalu sedih apabila
mengingat kejadian tsb.

Perasaan menyesal adalah perasaan yang paling sering dibahas
setelah cinta. Pada umumnya orang menyesal atas keputusan atau pilihan
yang salah. Coba dahulu (If only) Gw kawin dengan si Ucup hidup Gw
kagak bakalan sengsara seperti sekarang ini. Coba dahulu Gw memilih
jurusan ini pasti Gw sudah jadi kaya. Orang menyesal karena memilih
pasangan hidup yang salah, memilih karier atau sekolah yang salah,
memilih mobil/barang yang salah dan bisa juga menyesal karena telah
melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan, tetapi dalam
keadaan emosi atau tidak sadar ia melakukan hal tsb.

Memang dengan mudah dan gagah kita bisa mengucapkan: “Mati takkan
menyesal, luka takkan menyiuk” tetapi kenyataan yang tidak bisa
dipungkiri, jutaan manusia di dunia ini merasa menyesal atas keputusan
maupun pilihan yang telah mereka lakukan , walaupun sebenarnya tidak
ada alasan bagi mereka untuk menyesal, sebab yang memilih dan
mengambil keputusan adalah mereka sendiri, jadi wajarlah kalau mereka
yang harus menanggung akibatnya.

Tempat dimana paling banyak orang menyesal adalah di penjara, yang
satu menyesal karena telah melakukan kesalahan sedangkan yang lain
menyesal kok sampai bisa sampai masuk bui begitu !

Orang menyesal bisa terjadi karena telah melakukan sesuatu atau
karena tidak melakukan sesuatu. Naomi menyesal karena telah memutuskan
hubungannya; sedangkan si Pulan menyesal karena tidak melanjutkan
sekolahnya. Kejadian-kejadian tsb dalam bahasa kerennya lebih dikenal
dengan nama “counterfactual thinking” atau memikirkan hal yang
berlainan dengan kenyataan, sambil berandai-andai “if only”, coba
Naomi tidak memutuskan hubungannya dengan Johny pasti ia sudah punya
keluarga yang bahagia.

Pada saat Olympiade si pemenang medali perak merasa menyesal dan
berandai-andai coba Gw lari lebih cepat dikit azah pasti Gw udah jadi
juara utama. Hal ini disebut sebagai “Upward Counterfactual” atau
berandai-andai dengan melihat keatas. Sedangkan si pemenang medali
perungu merasa bahagia coba kalho Gw lari lebih lambat dikit azah
pasti Gw kalah, jadi dalam hal ini ia berandai-andai dengan melihat
kebawah. Hal ini disebut “Downward Counterfactual

Maka dari itu salah satu obat pelipur lara pada saat kita menyesal
sebaiknya kita jangan melihat keatas melainkan melihat kebawah –
Downward Counterfactual. Apakah Naomi bisa membina keluarga bahagia
apabila ia tidak putus dengan Johnny, belum tentu, bahkan mungkin akan
disakiti terus menerus seumur hidupnya, jadi sebenarnya lebih baik
putus daripada disakiti terus-menerus.

Dalam soal esek-esek pemikiran pria dan perempuan berbeda,
perempuan kebanyakan menyesal karena telah melakukan hubukan sek
pranikah, sedangkan banyak pria merasa menyesal karena tidak melakukan
hubungan sek sebelumnya nikah.

Pada umumnya orang merasa jauh lebih menyesal di dalam kehidupannya
untuk hal-hal yang tidak pernah ia lakukan. Seandainya dahulu saya
berani mengambil keputusan untuk buka usaha sendiri, pasti tidak bakal
hidup kere seperti sekarang ini ! Seandainya saya mau memilih jurusan
IT pasti saya tidak akan jadi pengangguran ! Seandainya aku tidak
terlalu banyak memilih, pasti aku tidak jadi perawan tua. Perasaan
menyesal untuk hal yang tidak dilakukan pada umumnya jauh lebih lama
daripada untuk hal-hal yang telah dilakukan.

Perasaan menyesal itu bisa juga timbul bersamaan dengan perasaan
bersalah, banyak orang menyesal karena tidak melakukan sesuatu untuk
orang yang mereka kasihi. Hal ini baru mereka sadari setelah orang
yang mereka kasihi tsb meninggal dunia, sehingga tidak mungkin bisa di
ulang balik ataupun diperbaikinya.

Sedangkan rasa menyesal untuk hal yang telah dilakukan jauh lebih
cepat hilangnya. Aku nyesal karena telah mengatakan perkataan kasar.
Aku nyesal karena telah beli tas yang mahal.

Oleh sebab itulah sebagai prinsip dan pegangan utama bagi mang
Ucup, pada saat saya bimbang untuk mengambil keputusan, lebih baik
mengambil keputusan yang salah daripada menghindar. Walaupun demikian
dalam soal hubungan antar sesama manusia sebaiknya jangan mengambil
keputusan yang final, kalau ribut sedikit langsung minta cerai ataupun
putus seperti juga pepatah apabila sangkar burung telah kita tutup
jangan harap burung tsb akan bisa dan mau balik lagi.

Rasa menyesal dalam soal apapun juga tidak akan berakibat fatal
seperti kalau salah memilih agama, sebab menyesal setelah itu adalah
sesalan abadi yang tidak akan bisa diperbaiki lagi, sebab percuma azah
lho nyani “If only I believe ” pada saat lho dipanggang di api neraka
! Kagak ada yg bisa nolong lho lagi ! Sampai jadi keripik gosong lho
bakal ada disitu terus ! For ever & ever tuh !

Dan apakah Anda tahu bahwa bukan hanya sekedar manusia saja yang
mempunyai masalah “counterfactual thinking” dan rasa menyesal ini,
melainkan Sang Pencipta juga pernah mengalami hal yang sama seperti
umat-Nya. Setelah Allah menciptakan manusia, dikirimkan-Nya-lah Air
Bah dan dalam Kitab Suci tercantum “maka MENYESAL-lah Tuhan, bahwa Ia
telah menjadikan manusia di bumi” (Kejadian 6:6).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s