Pelayanan Injil di Balik Bar

Pelayanan Injil di Balik Bar Menginspirasi Gereja Ini

Pendeta Mike Teeter dan jemaatnya dari Gereja New Destiny Community (AG) di Denver, Carolina Selatan, menghabiskan malam Jumat dimana sangat sedikit dilakukan oleh para jemaat, yaitu berada di balik bar. Apa yang mereka lakukan di sana? Mereka di sana adalah karena itulah pilihan mereka, menyediakan makanan pesta untuk para napi yang baru saja bebas dari program Prison to Society (PTS), demikian seperti yang dirilis oleh Assemblies of God News.

Teeter, sudah terlibat dalam pelayanan penjara ini selama lebih dari 20 tahun dan secara teratur dalam lima tahun terakhir ini, telah melihat karya Tuhan yang bekerja di dalam cara yang ajaib, mengubahkan kehidupan. Dia terlibat di dalam program PTS ini dan membantu menyiapkan para mantan napi untuk beradaptasi lingkungan dari kehidupan penjara kepada kehidupan sosial, dan melihat bahwa pelayanan ini adalah pelayanan yang ideal untuk bibit gerejanya, menolong napi agar hidup dengan sukses.

Program PTS dua tahun yang dipelopori oleh Kershaw Chaplain JoAnn Cook ini, menawarkan kesempatan untuk belajar, hubungan, dan juga kegiatan spiritual. Setelah mereka keluar dari penjara, napi ini tetap dapat mengikuti program tersebut untuk mendapatkan akses tambahan seperti mendapatkan pakaian, pekerjaan, dan berhubungan dengan orang-orang yang benar dan membangun suatu hubungan yang sehat.

Setelah para mantan napi ini selesai mengikuti program tersebut, maka akan ada acara pesta dan makanan. Di sanalah peran Teeter dan Gereja New Destiny Community meminta Chaplain Cook. Karena tidak mudah menyediakan makanan untuk 100 orang, maka mereka meminta jemaat mereka untuk turut berperan serta. Di sana, mereka berani membicarakan Yesus kepada para mantan napi tersebut. ”Penjara tidaklah seburuk yang Anda bayangkan, apalagi ketika Anda datang di dalam kasih Tuhan,” kata Teeter.

Tentu suatu hal yang menyenangkan hati Tuhan bahwa ada orang-orang yang melakukan bagiannya. Kita semua adalah satu tubuh dengan anggota tubuh yang berbeda, dengan fungsi yang berbeda. Namun, kita semuanya mempunyai satu tujuan, yaitu memuliakan nama Tuhan.

Manchester United punya dendam tersendiri terhadap Leeds United. Peluang balas dendam kini tersaji, kendati bukan tidak mungkin justru Leeds yang kembali bisa memukul MU.

Selama dua dekade terakhir, nama MU identik dengan kesuksesan. Bukan cuma di Inggris, ‘Setan Merah’ juga ditakuti di Eropa.

Akan tetapi, pada bulan Januari tahun 2010 lalu secara mengejutkan MU bertekuk lutut 0-1 dari Leeds di Old Trafford dalam partai ketiga Piala FA.

Ini adalah sebuah noktah hitam untuk MU. Terlebih saat itu Leeds tengah bermain di League One–level ketiga Inggris. Sejak disingkirkan Bournemouth pada tahun 1984, baru kali ini MU kandas di babak ketiga oleh tim dari liga lebih rendah.

Leeds sendiri sebenarnya adalah seteru lama MU, di mana rivalitas tersebut mulai lahir pada dekade 1970-an silam tatkala Leeds muncul menjadi salah satu kekuatan utama Inggris di bawah arahan Don Revie.

Kini Leeds dan MU akan berhadapan lagi di Elland Road pada babak ketiga Piala Liga Inggris, Rabu (21/9/2011) dinihari WIB. MU boleh jadi takkan bermain dengan kekuatan penuh, tetapi Sir Alex Ferguson niscaya akan menurunkan beberapa pemain andalan demi menghindari luka 2010 terulang lagi.

Sementara itu Leeds, yang kini bermain di divisi Championship, sudah bertekad untuk kembali memberikan kegetiran untuk MU, yang saat ini tengah mengawali musim di Liga Primer dengan luar biasa.

“Ini merupakan peluang menggandakan keunggulan (atas MU), kan? Hasil pengundian membuat para pemain cukup antusias,” ujar Manajer Leeds Simon Grayson di AFP.

“Ini adalah hasil pengundian yang bagus untuk kedua klub dan kami pernah mendapat hasil bagus di kandang mereka. Kami ingin berusaha mengulanginya di kandang kami sendiri,” tegasnya.

Pertandingan lain antara tim divisi Championship kontra tim Liga Primer tersaji di Amex Stadium saat Brighton menjamu Liverpool. Sejak menghuni stadion baru tersebut, Brighton yang satu divisi dengan Leeeds tampil cukup mengesankan sedangkan Liverpool akan berusaha bangkit pasca kekalahan 0-4 dari Tottenham Hotspur di partai Liga Primer akhir pekan lalu.

Sementara itu Arsenal akan menjamu Shrewsbury Town yang merupakan tim League Two. Mengingat perbedaan kekuatan antara kedua tim maka ‘Gudang Peluru’, yang akhir pekan lalu kalah 3-4 dari Blackburn di Liga Primer, jelas bukan cuma dituntut menang tapi juga tampil meyakinkan.

Di Stamford Bridge, Chelsea akan terlibat derby London Barat saat kedatangan Fulham. Akhir pekan lalu kedua tim Liga Primer itu sama-sama menghadapi klub kota Manchester: Chelsea kalah 1-3 dari MU sedangkan Fulham sukses menahan Manchester City 2-2.

Babak Ketiga Piala Carling:

Rabu (21/9/2011) dinihari WIB:
Aldershot v Rochdale, Arsenal v Shrewsbury, Aston Villa v Bolton, Burnley v Milton Keynes Dons, Leeds v Manchester United, Nottingham Forest v Newcastle United, Stoke v Tottenham, Wolves v Millwall, Blackburn v Leyton Orient, Crystal Palace v Middlesbrough

Kamis (22/9/2011) dinihari WIB:
Brighton v Liverpool, Cardiff v Leicester City, Chelsea v Fulham, Manchester City v Birmingham, Southampton v Preston, Everton v West Brom

Duel tim se-kota akan tersaji di babak ketiga Piala Liga Inggris antara Chelsea melawan Fulham. Sementara itu, Manchester United akan menghadapi lawan yang cukup tricky, Leeds United.

Demikian hasil undian yang dilakukan Sabtu (27/8/2011) malam WIB. Sebanyak 32 tim akan saling beradu yang dijadwalkan pada 19 September.

The Blues cukup superior dibanding Fulham dengan tidak pernah kalah dalam 10 perjumpaan terakhirnya dan memenangi enam di antaranya. Sedangkan pertemuan teraktual di Craven Cottage, Februari silam, kedua tim bermain imbang tanpa gol.

MU bakal bertandang ke Elland Road, markas dari Leeds. Kendati lawannya hanya tim Championship namun pasukan Sir Alex Ferguson diharapkan tetap waspada jika tidak ingin kejadian serupa pada dua tahun lalu terulang.

Ketika itu, “Setan Merah” sukses dipermalukan oleh Leeds di ajang Piala FA dengan menyerah dengan skor tipis 0-1 di Old Trafford.

Klub tetangga MU, Manchester City akan menantang juara bertahan Birmingham yang kini berlaga di divisi Championship. Sedangkan Arsenal akan melawan tim League Two, Shrewsbury.

Liverpool yang beberapa hari silam berhasil lolos mengalahkan Exeter City di babak kedua akan melawan Brighton. Tim tangguh lain, Tottenham Hotspur ditantang Stoke City. Demikian diwartakan Yahoosports.

Hasil Undian Piala Liga Inggris babak ketiga:

Cardiff v Leicester
Wolves v Millwall
Chelsea v Fulham
Aldershot or Carlisle v Rochdale
Arsenal v Shrewsbury
Burnley v Milton Keynes Dons
Leeds v Manchester United
Brighton v Liverpool
Nottingham Forest v Newcastle
Manchester City v Birmingham
Blackburn v Leyton Orient atau Bristol Rovers
Swindon atau Southampton v Charlton atau Preston
Everton v West Brom
Crystal Palace or Wigan v Middlesbrough
Aston Villa v Bolton
Stoke v Tottenham

Manchester United kini seperti “sendirian” memimpin klasemen di saat rival terhambat. Tapi karena Liga Inggris tak bisa diprediksi, Andre Villas-Boas menilai persaingan menuju titel juara masihlah terbuka untuk tim lain.

MU masih jadi satu-satunya tim hingga pekan kelima ini yang masih sempurna nilainya. Lima kemenangan selalu mereka raih termasuk yang terakhir atas rival utamanya Chelsea.

Sementara pesaing terdekatnya di klasemen, Manchester City malah tertahan imbang 2-2 oleh Fulham dan Liverpool yang berusaha merangkak naik malah kalah 0-4 dari Tottenham Hotspur.

Kini mereka unggul dua poin atas City dan dengan penampilannya yang masih stabil, boleh jadi The Red Devils akan lama berada di puncak. Apakah ini pertanda pasukan Sir Alex Ferguson bakal mudah meraih titel ke-20?

Tidak begitu menurut Villas-Boas yang sebelum laga ini menilai jika hasil akhir liga nantinya bukan ditentukan pada laga di Old Trafford ini. Baginya Premiership sulit diprediksi dan sebelum benar-benar berakhir, siapa juaranya belum bisa ditentukan.

Tentu semua ingat bagaimana performa Chelsea di awal musim lalu yang begitu garang. Tapi sejak bulan November penampilan mereka menurun dan malah harus kehilangan titelnya.

“Seperti yang saya bilang sebelumnya, apapun hasil dari sini (Old Trafford) tidak berarti apapun untuk klasemen Liga Primer,” ungkap Villas-Boas kepada Sportinglife.

“Liga ini sulit diprediksi. Manchester City pun tidak menang meski mereka punya skuad yang luar biasa. Arsenal dan Liverpool kalah. Lima klub penantang gelar juara ada di sini semua. Segalanya bisa terjadi,” sambungnya.

“Saat ini United sedalam dalam momennya naun kami menunjukkan jika kami punya level juara. Laga ini tidak berjalan baik untuk kami. Namun kami akan tetap berkompetisi untuk gelar juara,” tandas pria asal Portugal itu.

Tottenham Hotspur memetik kemenangan 4-0 atas Liverpool. Terlepas dari dua kartu merah yang diterima pemain lawan, Harry Redknapp menyanjung performa anak didiknya yang dianggap telah tampil fantastis.

Menjamu Liverpool di White Hart Lane, Minggu (18/9/2011) malam WIB, Spurs unggul cepat melalui tendangan melengkung Luka Modric. Dua gol Emmanuel Adebayor dan Jermaine Defoe memberi The Lilywhites kemenangan meyakinkan dengan skor 4-0.

Keunggulan tuan rumah tersebut banyak terbantu dengan kartu merah yang didapat Charlie Adam dan Martin Skrtel. Namun dalam pandangan Redknapp, skuadnya tetap tampil fantastis terlepas dari kartu merah yang didapat lawannya.

“Saya pikir kami mempraktekkan sepakbola yang fantastis,” sahut Redknapp di BBC. “Kami jelas sekali mendominasi. Jika Anda tidak bisa menikmati sepakbola yang kami mainkan di sini hari ini, maka jelas ada yang salah dengan Anda.”

Bahkan sebelum Liverpool kehilangan pemainnya, Spurs memang sudah mendominasi laga. Tekanan yang mereka lancarkan sejak wasit meniup peluit awal membuahkan hasil dengan gol cepat di menit ketujuh.

“25 menit pertama adalah sepakbola dalam bentuk terbaik. Kami tim yang jauh lebih baik. Di 25 menit pertama kami seharusnya memimpin dua atau tiga gol,” tuntas Redknapp.

Newcastle United lolos dari hadangan Scunthorpe United di babak kedua Piala Carling. Newcastle menang tipis 2-1 lewat babak perpanjangan waktu.

Bertanding di Glanford Park, kandang Scunthorpe, tampil tanpa Joey Barton yang belakangan dikabarkan tengah merapat ke QPR. Manajer Alan Pardew kemudian menurunkan tiga gelandang; Sylvain Marveaux, Yohan Cabaye, dan Dan Gosling.

Alhasil, Newcastle seperti bermain tanpa pegangan, kendati relatif lebih menguasai laga. Mereka pun tertinggal lebih dulu di menit 15 lewat gol Chris Dagnall. Sepakannya dari jarak dekat sukses menaklukkan Tim Krul.

Serangan pertama Newcastle baru hadir di menit 22 ketika Ryan Taylor mengeksekusi sebuah tendangan bebas. Sial baginya, tendangannya melenceng.

Newcastle yang melepaskan 26 tembakan (12 on target) baru bisa menyamakan kedudukan di menit 80 melalui Taylor. Kali ini tendangan bebasnya berhasil membobol gawang Scunthorpe dan membuat kedudukan sama kuat 1-1.

Laga kemudian dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Penyerang pengganti, Sammy Ameobi, yang masuk di menit 65 menggantikan Demba Ba, tampil sebagai pahlawan.

Tendangan jarak jauhnya dari jarak sekitar 18 meter gagal dibendung kiper Scunthorpe, Josh Lilis. Gol di menit 112 itu pun membuat Newcastle berbalik unggul.

Di sisa pertandingan, Krul berjuang mengamankan gawangnya dari serbuan Scunthorpe. Tercatat, ia satu kali menyelamatkan gawangnya dari sepakan jarak jauh James Ryan.

Hingga laga berakhir, skor 2-1 untuk kemenangan Newcastle tetap bertahan.

Aktris Milla Jovovich telah memberikan rincian mengenai film sci-fi thriller terbarunya, ‘Resident Evil: Retribution’. Beberapa hal yang diungkap antara lain mengenai karakter dan plot film tersebut.

Jovovich yang menjadi aktor utama wanita di film itu mengumumkan, Wentworth Miller dan Ali Larter tidak akan muncul. “Chris, Claire dan K-Mart diculik oleh Umbrella dalam film ini, sehingga mereka tidak akan ada di film ini,” ujarnya seperti dilansir Aceshowbiz, Senin (19/9/2011).

Aktor Jensen Ackles juga tidak jadi memerankan karakter Leon Kennedy seperti yang telah dikabarkan sebelumnya. Meski demikian, dia menegaskan bahwa Leon dan karakter favorit lainnya seperti Ada Wong dan Barry Burton akan muncul di film berikutnya.

“Shawn Roberts kembali sebagai (Albert) Wesker dan lebih hebat dari sebelumnya! Tentu saja tidak mudah untuk membunuh dia,” jelas aktris berdarah Ukraina itu.

Sementara untuk plot, Jovovich menjanjikan lebih banyak adegan aksi di ‘Resident Evil 5’. Selain itu akan ada karakter baru parasit Las Plagas.

“Aku melakukan pertarungan yang menakjubkan dengan zombie, dan perjuangan epik bersama Jill Valentine (Sienna Guillory),” ungkapnya.

‘Resident Evil: Retribution’ mulai diproduksi pada 16 Oktober mendatang. Rencananya, film tersebut akan dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 14 September 2012.

Juventus punya awal yang baik di kompetisi Seri A musim ini, dengan memenangi dua pertandingannya. Namun menurut Mirko Vucinic, yang penting adalah di posisi mana mereka finish.

Bersama Napoli, Udinese dan Cagliari, Juventus adalah tim-tim yang berhasil mencapai hasil maksimal dari dua pekan kompetisi. Setelah memulai dengan merontokkan Parma 4-1, di laga keduanya pasukan “Zebra” menang 1-0 atas Siena.

Hasil itu membangkitkan optimisme tinggi terutama di kalangan suporter, mengingat Juve tak kunjung membaik sejak kembali ke Seri A pasca skandal Calciopoli. Di musim lalu mereka bahkan cuma menempati peringkat ketujuh di klasemen.

Di bawah kendali pelatih baru yang juga mantan punggawa Bianconeri, Antonio Conte, Juve kini mulai kembali diperhitungkan. Namun menurut Vucinic, tidak perlu ada ketergesa-gesaan untuk menilai.

“Juventus selalu hebat. Kami telah memenangi dua pertandingan, tapi kami harus tetap membumi dan melanjutkan pekerjaan,” tutur penyerang asal Montenegro itu dikutip Football Italia.

“Ada di atas di daftar klasemen memang penting. Tapi kita pun tak boleh lupa bahwa satu kekalahan saja bisa merintangi usaha-usaha kita itu. Maka dari itu, kita harus fokus di setiap pertandingan.

“Tak peduli seperti apa Anda memulainya, tapi yang penting adalah akhirnya. Kita ini masih di awal-awal, dan kita mesti menyadari nilai kita itu,” tambah Vucinic.

Juventus akan berusaha melanjutkan tren positifnya di awal musim dengan menjamu Bologna hari Rabu (21/9) lusa.

Dua klub kota Milan, AC Milan dan Inter Milan, akan diuji lagi dalam lanjutan Liga Italia tengah pekan ini. Dibandingkan Rossoneri, beban harus menang Nerazzurri jauh lebih besar.

Inter akan menghadapi Novara di Stadio Comunale Silvio Piola Selasa (20/9/2011) malam atau Rabu dinihari WIB. Entah apa yang terjadi di kalangan Interisti jika Javier Zanetti dkk tidak mampu mengalahkan tim promosi tersebut.

Bagi Inter, kemenangan sudah menjadi kewajiban, khususnya lagi untuk allenatore Gian Piero Gasperini. Jika sampai kalah, sang pelatih hampir dipastikan bakal diterpa badai isu pemecatan.

Kekalahan dari Palermo di partai pertamanya di liga musim ini, dan juga dari Trabzonspor di Liga Champions, serta hasil seri 0-0 kala bermain dengan AS Roma hari Sabtu lalu membuat Gasperini sedang “hidup tak tenang”.

Tidak hanya bagi Gasperini, laga ini juga menjadi kesempatan pembuktian bagi Diego Forlan. Walaupun sudah mencetak satu gol saat Inter kalah 3-4 dari Palermo, tapi keberadaan striker Uruguay itu seperti belum “disadari” banyak orang — karena mereka lebih sibuk mengurusi hasil buruk tim, ketimbang menyoroti performa perorangan.

Di masa genting seperti ini, Forlan justru punya kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya, syukur-syukur bisa memberi kontribusi signifikan untuk membawa kebaikan bagi La Beneamata.

Mirip dengan Inter, AC Milan juga tidak menang dalam dua partai lokal pertamanya. Setelah ditahan 2-2 di San Siro oleh Lazio, mereka malah kalah 1-3 dari tuan rumah Napoli akhir pekan kemarin. Hanya saja, pelatih Massimiliano Allegri mendapat kredit karena bisa menahan Barcelona 2-2 di Nou Camp.

Hari Rabu lusa Milan harus menghadapi sebuah tantangan berat dari Udinese, yang selalu menang dalam dua pertandingan pertamanya. Barisan pertahanan yang masih rapuh harus bersiap menghadapi ketajaman lini depan Udinese yang dipimpin oleh Antonio Di Natale.

Pada agenda pertandingan tengah minggu ini, Napoli dan Juventus memiliki kesempatan untuk menjaga performa baiknya. Napoli, yang memuncaki klasemen sementara, akan berhadapan dengan Chievo, sedangkan Juventus dijajal Bologna di Turin.

AS Roma akan menjamu Siena di Olimpico, dengan target mencari kemenangan pertamanya di musim ini, di bawah kendali pelatih asal Spanyol, Luis Enrique. Sebelum bermain imbang 0-0 melawan Inter, Giallorossi kalah 1-2 dari Cagliari.

Jadwal pertandingan tengah pekan ini:

Selasa (20/9) malam:
Novara vs Inter Milan

Rabu (21/9) malam:
AC Milan vs Udinese
Cesena vs Lazio
Chievo vs Napoli
Fiorentina vs Parma
Genoa vs Catania
Juventus vs Bologna
Lecce vs Atalanta
Palermo vs Cagliari

Kamis (22/9)
AS Roma vs Siena

Edinson Cavani tampaknya telah menemukan ketajamannya lagi. Empat gol yang berhasil diciptakan dalam dua laga terakhir menjadi bukti yang paling gress kembali tajamnya penyerang Napoli itu.

Catatan ini sekaligus menghapus kekhawatiran bahwa kemampuan penyerang berusaia 24 tahun itu sedang menurun. Soalnya, dalam gelaran Coppa America Juni-Juli lalu, Cavani gagal menunjukan sinarnya bersama Uruguay.

Ia bahkan hanya menjadi penghangat bangku cadangan karena gagal bersaing dengan Diego Forlan, Luiz Suarez dan juga Christian Rodriguez. Faktanya, walaupun Uruguay tampil sebagai juara, peran Cavani tidaklah banyak kala itu.

Sosok Cavani seperti “menghilang”selama musim panas, walaupun di akhir musim lalu ia membuat performa yang sangat apik, yaitu mendulang 33 gol dari 47 pertandingan di semua kompetisi, termasuk 26 gol di Seri A.

Akan tetapi, Cavani “ditemukan” lagi dalam dua pertandingan terakhir. Ia mencetak gol pertamanya di musim ini ke gawang Manchester City di kandang lawan, di laga comeback Napoli di Liga Champions sejak era Diego Maradona. Timnya pulang membawa hasil seri 1-1.

Lalu tadi malam, atau Senin (19/9/2011) dinihari WIB, pria gondrong berusia 24 tahun itu tampil luar biasa saat Napoli menjamu AC Milan. Ia membalas gol pembuka dari Alberto Aquilani di menit 13, lalu menambahkan dua lagi di menit 36 dan 51. Cavani bikin hat-trick, Napoli pun memimpin klasemen sementara.

“Sewaktu kecil, aku selalu disuruh bermimpi,” ungkapnya kepada La Domenica Sportiva. “Aku ingin sekali memenangi Scudetto, tapi kami tahu jalannya akan sangat sulit. Aku mendedikasikan kemenangan ini untuk fans. Mereka pantas mendapatkannya.

“Kami memiliki semua yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan di musim ini. Mustahil jika kami tidak mencapainya karena kami memiliki pendukung yang sungguh luar biasa. Kami sangat optimistis,” tukas Cavani kepada Il Corriere dello Sport.

Salah satu pemain baru Liga Spanyol yang diharapkan menjadi bintang, Radamel Falcao, mulai unjuk kemampuan. Ia mencetak hat-trick di pertandingan keduanya di La Liga bersama Atletico Madrid.

Falcao, yang dibeli dari FC Porto seharga 40 juta euro, tampil impresif saat timnya menjamu Racing Santander Minggu (18/9/2011) malam. Ia membuka skor di menit 23, lalu menggandakannya 13 menit kemudian lewat eksekusi penalti.

Sepuluh menit setelah restart, striker internasional Kolombia itu menciptakan hat-trick-nya, sebelum Adrian menggenapkan kemenangan tuan rumah menjadi 4-0 di menit 78.

Tiga hari sebelumnya Falcao membuka rekening golnya untuk Atletico di pertandingan Liga Europa, saat mengalahkan Celtic 2-0. Itu berarti ia mencetak empat gol dalam dua laga berturut-turut.

“Aku sangat berterima kasih pada rekan-rekan tim karena tanpa bantuan mereka aku mungkin tidak bisa membuat tiga gol ini,” cetus pemain 25 tahun itu seusai pertandingan, dikutip Marca.

Falcao datang ke Negeri Matador dengan reputasi yang cukup bagus. Mantan pemain River Plate itu merintis kariernya di Eropa bersama Porto sejak 2009, dan mendapatkan satu titel liga, dua Piala Super, dan titel Liga Europa.

Total, dari 85 pertandingan di semua kompetisi, ia mengemas 72 gol, termasuk 17 gol di Liga Europa musim lalu, saat ia menjadi top skorer turnamen dan memecahkan rekor jumlah gol dalam satu musim — mematahkan rekor sebelumnya yang dipegang Juergen Klinsmenn, yang membukukan 15 gol di musim 1995/1996 bersama Bayern Munich.

Kehadiran Falcao sangat penting buat Atletico karena musim ini ditinggal dua penyerang terbaiknya, yaitu Sergio Aguero (ke Manchester City) dan Diego Forlan (Inter Milan).

“Aku punya harapan untuk bisa memberi kenikmatan lebih banyak untuk fans dan membantu tim ini meraih tujuan-tujuannya. Aku bekerja setiap hari supaya kemampuanku terus meningkat,” sahut Falcao.

Akhir musim lalu Andrea Pirlo membuat keputusan penting dengan meninggalkan AC Milan untuk mencari tantangan anyar bersama Juventus. Bersama klub barunya, Pirlo memulai dengan mengesankan.

Sederet gelar sudah diraih Pirlo selama 10 tahun membela Milan. Sebut saja dua titel Seri A (2004, 2011) dan sepasang trofi Liga Champions (2003, 2007).

Akan tetapi, pemain tengah Italia berusia 32 tahun itu rupanya belum puas. Musim panas ini Pirlo memilih hijrah dari San Siro dan memulai petualangan baru bersama ‘Nyonya Tua’.

Partai kontra Parma, Minggu (11/9/2011) malam WIB, menandai debut Pirlo untuk Juve di kancah Seri A. Ia menandainya dengan istimewa setelah membuat dua asssist dalam kemenangan 4-1 Bianconeri.

“Aku senang mengenakan seragam Juve. Aku memilih meninggalkan Milan karena menginginkan tantangan baru ini dalam karirku. Aku merasa butuh perubahan,” ujar Pirlo kepada Sky Sport Italia.

Di Juve, Pirlo harus tampil dalam formasi 4-2-4 racikan Antonio Conte. Artinya, ia bukan hanya mesti tampil sebagai kreator serangan ke lini depan tetapi juga salah satu sosok peredam serangan lawan.

“Bukanlah masalah buatku untuk bertanggung jawab di tengah karena situasinya sama di Milan. Aku dengan cepat cocok beradaptasi dengan Claudio Marchisio tapi aku pikir takkan ada masalah untuk bermain bersama Arturo Vidal atau Michele Pazienza.”

“Kami ingin menunjukkan penampilan bagus untuk para fans dan kami berhasil melakukannya. Kami tak bisa tidak merasa puas dengan kemenangan ini,” simpul Pirlo.

Mungkin belum banyak yang tahu siapa itu Nils Petersen meskipun pemiliknya adalah klub sebesar Bayern Munich. Ia sedang memperlihatkan kapasitasnya sebagai “deputi” Mario Gomez.

Memasuki pekan keenam Bundesliga, untuk pertama kalinya Petersen dimainkan sebagai starter oleh pelatih Juup Heynckes, menghadapi klub kuat Schalke di Veltins Arena, Minggu (18/9/2011) malam WIB.

Mengisi tempat Gomez yang sedang cedera, ia dipasangkan dengan Toni Kroos, ditopang oleh gelandang serang Thomas Mueller dan Franck Ribery. Hasilnya, Petersen-lah orang pertama yang mencetak gol di pertandingan tersebut.

Di menit 21, menerima umpan matang dari Ribery, ia melepaskan tembakan ke arah gawang Schalke, tapi masih bisa diblok kiper Ralf Fahrmann. Ia beruntung bisa mendapatkan rebound dan kali itu menuntaskannya menjadi gol.

Di akhir pertandingan Bayern tampil sebagai pemenang dengan skor 2-0. Gol kedua Hollywood FC diukir Mueller di pertengahan babak kedua.

Petersen adalah satu dari dua penyerang murni yang dimiliki Bayern saat ini, selain Gomez. Karakter mereka berbeda dengan Mueller, Kroos atau Ivica Olic, (juga Ribery), yang cenderung lebih sebagai gelandang serang.

Petersen dipilih Bayern setelah tampil gemilang bersama Energie Cottbus, yang dalam dua musim terakhir bermain di divisi dua Liga Jerman. Di musim lalu, pemain 22 tahun itu sangat subur dengan mengemas 25 gol dari 33 pertandingan, dan menjadi top skorer.

Oleh Bayern, pria setinggi 188 cm itu dikontrak tiga tahun dan diberi kostum bernomor sembilan, seperti yang pernah dikenakan Gerd Mueller, Giovani Elber, dan Luca Toni. Namun, statusnya memang baru sebagai pelapis Gomez.

Sebelum menjadi starter melawan Schalke, Petersen terlibat dalam empat partai liga, dan semuanya bermula dari bangku cadangan, hampir selalu sebagai pengganti Gomez.

Juga, sebelum mencetak gol ke gawang Schalke, Petersen membuka rekening golnya untuk Bayern di partai minggu lalu. Menjamu Freiburg di Allianz Arena, Bayern menang telak 7-0, dan Petersen membuat gol pamungkas di penghujung laga, setelah menjejak lapangan selama kurang lebih 17 menit sebagai pengganti Gomez.

Sejauh ini Manchester City sudah tampil memukau dengan para pemain bintangnya. Tapi Roberto Mancini meminta The Citizens bisa bermain layaknya Manchester United.

City dan MU kini bersamaan memimpin klasemen Liga Inggris setelah meraih hasil sempurna di empat laganya. Bedanya ‘Setan Merah’ ada di puncak dengan keunggulan selisih gol.

Kemenangan-kemenangan besar selalu diraih keduanya, khususnya MU yang pernah menang 8-2 atas Arsenal serta 5-0 dari Bolton Wanderers.

Maka melihat performa stabil rival sekotanya tersebut sejauh ini, Mancini ingin agar anak asuhnya bisa meniru apa yang MU sudah tampilkan. Menurut manajer asal Italia itu, The Citizens harus bisa lebih “membunuh” di depan gawang.

“Man United adalah tim top, mereka sudah terbiasa sejak lama untuk menang. Mereka punya pemain-pemain yang bagus,” sahut Mancini di Sportinglife.

“Ketika mereka melawan Arsenal, ketika mereka mencetak dua atau tiga gol, mereka terus mencoba untuk mencetak gol,” sambungnya.

“Kami harus punya mentalitas seperti ini. Jika kmai tampil seperti saat melawan Tottenham ketika kami bisa mencetak gol, maka kami harus terus untuk bermain,” simpulnya.

Carlos Tevez masih dalam rencana masa depan Roberto Mancini di Manchester City. Namun Tevez diminta menunggu gilirannya tampil karena penampilan duet Edin Dzeko-Sergio Aguero dianggap lebih oke.

Sejauh musim ini, Tevez sudah tampil sebanyak tiga kali buat City. Tapi ia baru dimainkan sekali sebagai starter saat timnya mengalahkan Wigan Athletic sepekan lalu.

Duet Dzeko dan Aguero menjadi pilihan utama Mancini. Hasilnya memuaskan dengan keberhasilan City meraup kemenangan dalam empat laga pertama Premier League.

Lantas bagaimana dengan masa depan Tevez? Kendati penyerang Argentina itu sempat ngotot ingin hengkang, tapi dia masih diinginkan Mancini di skuad City.

Hanya saja, karena duet Dzeko-Aguero menunjukkan hasil yang memuaskan maka Tevez diminta untuk menunggu gilirannya bermain.

“Di saat seperti ini adalah pemain-pemain yang bermain lebih baik daripada dia dan Carlos disini berlatih. Ketika Carlos tengah bagus, mungkin dia akan memiliki kesempatan untuk bermain,” ucap Mancini dikutip Sky Sports.

“Saya tidak tahu jika dia telah bahaiga tapi setiap pemain ketika mereka tidak dapat bermain tidak bahagia. Ini normal. Tapi kami punya pemain lain yang pantas mendapat sebuah posisi.”

Mancini senang dengan banyaknya opsi striker yang dimiliki City saat ini. Tevez diharapkan bisa menambah daya gedor The Citizens.

“Bagi saya, ini hal baguk karena kami tahu Carlos bisa mencetak 20 gol dalam semusim dan jika kami bisa mencetak banyak gol dengan para penyerang yang kami punya maka itu akan bagus,” tuntasnya.

Winger Manchester United, Nani, menilai timnya memang layak meraih kemenangan atas Chelsea. Dia juga memuji timnya yang kompak dan memainkan sepakbola fantastis.

Dalam laga yang di Old Trafford, Minggu (18/9/2011), MU menaklukkan Chelsea dengan skor 3-1. Dari tiga gol ‘Setan Merah’, Nani jadi orang kedua yang menjebol gawang Petr Cech.

Di babak kedua, Chelsea sebenarnya punya banyak peluang bagus untuk mencetak gol. The Blues bahkan bisa saja menyamakan kedudukan kalau mereka lebih tajam di depan gawang.

Meski demikian, Nani merasa timnya tetap layak mengakhiri laga dengan tiga poin di tangan.

“Saya pikir semua orang melihat pertandingan dengan banyak peluang di kedua kubu,” ujar Nani kepada Sky Sports 1.

“Chelsea membuat banyak peluang, tapi saya pikir penampilan kami lebih baik daripada mereka dan itulah mengapa kami mencetak tiga gol. Kami layak menang,” tegas pemain internasional Portugal ini.

Dengan kemenangan atas Chelsea, MU masih sempurna pada lima partai awal Liga Primer Inggris musim ini. Mereka pun berhak bertakhta di puncak klasemen.

“Saya pikir ini adalah kerje semua elemen tim, kami sudah bekerja sangat keras secara bersama-sama,” ungkap Nani.

“Kami adalah tim yang kompak, memainkan sepakbola yang fantastis, satu-dua sentuhan dan kami mencetak banyak gol. Saya pikir sangat penting kami terus bersama dan punya kepercayaan diri dalam pertandingan-pertandingan kami,” tandasnya.

Tentang Kekalahan Indonesia dari Bahrain
Andi Abdullah Sururi – detiksport

(REUTERS/Supri)

Jakarta – Harapan itu kembali tak terpuaskan, bukan di Teheran melainkan di Senayan. Indonesia kalah dari Bahrain dalam pertandingan yang sempat dihentikan wasit gara-gara ulah sebagian suporter yang bandel.

Faktanya, sepakbola Indonesia masih belum banyak berubah. Tak apa-apa. Kita memang masih dalam periode transisi. Perubahan yang sudah terjadi baru di level pergantian pengurus PSSI — dan ekspektasi masyarakat yang kian hari kian meninggi, terutama ketika yang akan bertanding adalah tim nasional.

Ekspektasi itu bagus, bahkan perlu untuk sebuah motivasi. Tapi jika tidak dibarengi dengan sikap obyektif dan realistis, apalagi sampai menjadi ekspektasi yang membabi-buta, tanpa melihat permasalahan secara komprehensif, jangan-jangan ekspektasi itu akan terus membuat kita “lemas” dan ujung-ujungnya kembali menggerutu dan mengeluh: “Ah, kalah lagi, kalah lagi.”

Mungkin itulah potret sebagian masyarakat sepakbola kita. Kita mudah mabuk oleh sebuah keberhasilan “kecil”, tapi tak segera memperbaiki hal-hal yang lebih fundamental karena sudah (sempat) berhasil, dan jika begitu, kegagalan melulu dikait-kaitkan dengan nostalgia.

Pelatih

Setelah Indonesia bermain buruk dan kalah 0-2 dari Bahrain kemarin malam di Gelora Bung Karno, Wim Rijsbergen, yang belum seumur jagung menukangi skuad ‘Garuda’, dicap sudah gagal karena sebelumnya juga kalah 0-3 dari Iran. Berdengung pula suara-suara yang menginginkan Alfred Riedl kembali direkrut sebagai pelatih.

Menurut hemat penulis, ini “basi”. Kita terlalu memanjakan keinginan, selalu ingin cepat jadi. Kalah dua-tiga kali, pelatih harus dipecat, seolah-olah Indonesia adalah Inggris, Brasil, Chelsea atau Real Madrid, seakan-akan faktor besar yang menentukan mutu tim itu cuma pelatih.

Riedl — katakanlah — memang pelatih yang bagus. Gayanya yang keras, disiplin, bahkan jarang tertawa, cepat disukai. “Pemain kita memang harus dikerasi,” begitu kesimpulan sederhananya. Ia memang membuat masyarakat Indonesia mengalami euforia di Piala AFF, membangun fondasi tim yang sangat baik. Bahwa dia sesungguhnya tidak memberi piala di turnamen di level Asia Tenggara itu, seperti pelatih-pelatih sebelumnya, oleh sebagian orang dianggap bukanlah sebuah kegagalan.

Penulis bukannya anti Riedl, tapi mencoba bersikap realistis, dan itu pun lebih ke faktor “nonteknis”. Sulit membayangkan PSSI memanggil kembali Riedl setelah mereka mendepaknya begitu saja “tanpa perasaan”. Sebaliknya, apa iya Riedl dengan mudah balik ke Indonesia setelah merasa “sakit hati” diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh PSSI.

Soal Rijsbergen, kita belum tahu sebaik apa dia — atau seburuk apa dia. Tapi dia baru dua bulan bekerja untuk timnas, dan dia sudah membantu Indonesia mengalahkan Turkmenistan sehingga bisa masuk ke babak ketiga Pra Piala Dunia 2014.

Bahwa kemudian Indonesia kalah 0-3 dari Iran, pertanyaannya adalah, apakah sekarang kita sudah sedemikian yakin bisa mengalahkan Iran, yang notabene pernah tiga kali tampil di Piala Dunia dan tiga kali menjuarai Piala Asia? Bukannya merendahkan tim sendiri, bukannya tak berharap juga, tapi faktanya level kita masih di bawah mereka. Sekali lagi, saat ini tingkatan kita masih di Asia Tenggara. Menanjak ke Asia butuh proses lain lagi.

Bahrain di atas kertas lebih lemah daripada Iran. Kita pernah pula mengalahkan mereka di Piala Asia 2007 di Jakarta, walaupun juga kalah 1-3 di Piala Asia 2004. Wajar memang apabila ekspektasi itu membuncah lagi. Sepertinya sebagian besar masyarakat Indonesia sangat yakin Bambang Pamungkas dkk bisa merebut poin penuh kemarin malam.

Yang terjadi kemudian, permainan tim sangat buruk. Apakah itu salah pelatih? Pasti ada. Tapi apakah semata-mata salah pelatih? Tidak mungkin.

“Kita tidak bermain simple football. Kita terlalu bermain individual. Ketika satu pemain berhadapan dengan dua lawan, seharusnya kita mengoper bolanya. Tapi, kita malah menggocek dan akhirnya malah kehilangan bola. Itu kesalahan elementer. Bermain simple football belum ada dalam mind-set kita. Kita tidak bisa menang tanpa possession football. Tanpa possession football, kita tidak akan bisa mencetak gol. Tim-tim terbaik di dunia telah membuktikan hal itu,” papar Rijsbergen seusai pertandingan.

Penulis tidak melihat ada yang salah dengan analisis itu. Di lapangan, memang itulah yang terjadi. Artinya, Rijsbergen tahu di mana letak kesalahan permainan malam itu. Artinya, dia tidak bodoh.

Tapi tentu kita juga ingin tahu, seberapa mampu dia mengarahkan pemain-pemainnya supaya melaksanakan instruksi-instruksinya. Satu hal yang terlihat jelas adalah: pelatih Bahrain Peter Taylor nyaris sepanjang pertandingan berada di pinggir lapangan, kerap teriak-teriak pada pemainnya. Rijsbergen tidak begitu, lebih anteng di bangku cadangan. Bagaimana sistem komunikasinya? Ini harus ditanyakan pada orang Belanda itu.

(Intelejensia) Pemain

Bagaimanapun, sepakbola terjadi di lapangan. Pelatih itu semacam sutradara, tukang mengarahkan. Aktor sesungguhnya adalah pemain, karena mereka-lah yang berada di atas rumput, yang menendang-nendang bola, yang memutuskan ke arah mana bola ditendang, diumpan, dibuang, dan seterusnya.

Kepiawaian dan kejelian pelatih memang faktor sangat penting, tapi intelejensia pemain untuk menerjemahkan taktik pelatih, atau juga kemampuan mereka menjaga konsentrasi dalam keadaan keadaan lelah dan buntu, juga amat vital.

Terkait pertandingan melawan Bahrain, yang membuat penonton pun frustrasi, penulis melihat pemain-pemain Indonesia tak memiliki kecerdasan untuk mencari “rencana B” ketika “rencana A” mandeg. Mereka tak bisa menguasai bola di lapangan tengah dan kemudian kebingungan untuk mendapatkan cara buat masuk ke pertahanan lawan.

Celakanya, ada kesan, yang penting bola masuk ke wilayah Bahrain, tak peduli jika itu harus dilakukan dengan cara mengirim umpan lambung jauh, atau mengandalkan crossing dari sayap, padahal kita jelas-jelas tak pernah sekali pun memenangi duel di udara dengan pemain-pemain jangkung Bahrain.

Kecepatan dan kelincahan Boaz pun terlalu diharapkan. Setiap serangan terus saja dialirkan melalui dia. Apa boleh buat, pada akhirnya pemain lawan bisa menemukan cara untuk mengantisipasi gerakan Boaz. Entah kenapa baru di 15 menit terakhir saja permainan “insting” itu bisa dihentikan, dan para pemain mulai berani melakukan tusukan dari tengah, seraya mengurangi bola-bola atas. Tapi ya terlambat.

Apakah itu semua instruksi pelatih? Kalau ya, berarti si pelatih bahkan tak lebih pintar dari penonton. Kalau tidak? Maka pemain memang harus terus belajar mengasah kemampuannya untuk semakin baik.

Intelenjensia pemain sangatlah penting untuk diasah — seperti juga mentalitas bertanding, yang sering dianggap pula sebagai sebuah kelemahan tim kita selama ini. Pernah ada pertanyaan begini: “Apakah Indonesia akan langsung hebat jika pelatihnya Jose Mourinho atau Pep Guardiola?” Silakan jawab sendiri.

Salah satu cara belajar adalah memperbanyak frekuensi bertanding melawan tim-tim yang berkualitas di level internasional, tidak melulu berkutat di lokal atau ASEAN, biar mereka terbiasa menghadapi berbagai situasi di tengah lapangan.

(Kedewasaan) Suporter

Bahwa suporter Indonesia itu hebat, penuh gelora dan gegap gempita, dunia bahkan sudah mengetahuinya. Jika fanatisme fansnya tidak sebegitu rupa, mungkin akan lebih sulit lagi mencari berita sepakbola Indonesia di media massa asing. Gelora Bung Karno kini sudah dikenal sebagai salah satu stadion dengan suporter paling “gila” di dunia.

Sayangnya, kedewasaan bersikap belum terpupuk merata. Insiden kembang api dan mercon, yang membuat wasit menghentikan pertandingan selama sekitar 15 menit, memperlihatkan penyakit lama yang kambuhan itu. Belum lagi “kebiasaan” menghujani pemain lawan dengan botol air mineral.

Ini pemandangan yang menyebalkan, mencemari sebuah tontonan yang semestinya bisa dinikmati tanpa perasaan was-was dan cemas, khususnya untuk kalangan penonton anak-anak dan wanita, juga karena perilaku norak seperti itu bisa membuat Indonesia merugi. Kita pernah bersedia menerima sanksi FIFA jika hal itu harus dilakukan supaya bisa menurunkan pengurus PSSI yang busuk. Tapi alangkah lucu dan ironisnya jia sanksi itu pada akhirnya dijatuhkan FIFA gara-gara ulah suporter.

Begitu pula dengan sportivitas kepada tim tamu. Alih-alih memberi apresiasi dengan memberi sedikit tepuk tangan, lagu kebangsaan tim lawan malah disoraki, diteriaki “huu..”. Memberi dukungan sebesar-besarnya pada tim kesayangan itu “sesuatu banget”, tapi tidak menghormati lagu kebangsaan lawan adalah memalukan.

(Keseriusan) Polisi/petugas keamanan

Berharap semua penonton berlaku baik, cuma duduk manis di kursi, tidaklah mungkin. Berharap tidak pernah terjadi keributan suporter dalam sebuah pertandingan sepakbola pun agak utopia. Ini soal ratusan ribu orang tumpah ruah di tempat yang sama, dengan segala atribut pribadi dan motif masing-masing. Itu sudah jadi bagian dalam sepakbola itu sendiri.

Tapi untuk mencegah ekses yang lebih buruk, tetap harus ada safety measure. Di stadion, ranah itu ada di petugas keamanan, polisi. Kenapa kita tak pernah belajar dari negara lain, di mana pemeriksaan bawaan penonton sebelum masuk ke dalam stadion dilakukan dengan serius dan ketat, tanpa terkecuali, tanpa kompromi, tanpa pandang bulu, tanpa toleransi apapun.

Tapi di Indonesia selalu begitu: sweeping cuma ada di mulut pejabat kepolisian, ancaman bagi yang membandel cuma sebatas ancaman. Selalu ada celah buat suporter bandel untuk menyusupkan macam-macam benda terlarang ke dalam stadion.

Petugas pun lebih banyak yang ikut “numpang” nonton dengan menghadap ke lapangan ketimbang mengawasi gerak-gerik suporter yang nakal. Jika ada suporter yang melempar, mereka hanya menunjuk-nunjuk, menggertak dari jauh, karena petugas di tengah penonton memang tak ada atau minim (atau takut dengan massa?)

Bagaimana kesadaran untuk menjadi suporter yang baik akan terpupuk secara merata jika reward and punishment dari petugas tidak dijalankan. Kalau you punya tiket, tidak bawa benda macam-macam, silakan masuk ke stadion. Kalau tidak, silakan Anda tunggu di luar — dan jangan berulah yang macam-macam juga.

(Profesionalitas) Panpel

Tekad PSSI untuk membenahi berbagai sistem buruk yang pernah dijalani rezim Nurdin Halid masih menunggu pengejawantahannya. Transparansi pemasukan tiket pertandingan timnas, sejauh ini belum dilakukan juga. Sistem pembelian tiket pertandingan pun belum berubah. Soal ini, semestinya sudah ada cara yang lebih menyenangkan konsumen (baca: suporter) ketimbang harus antre sampai dua kali untuk mendapatkan tiket. Apalagi cara ini pun jelas-jelas tidak juga menghilangkan calo, jika itu salah satu tujuannya.

Ketegasan Panpel juga harus diperlihatkan atas nama keadilan. Mereka yang sudah berkorban berjam-jam antre untuk membeli, bahkan datang jauh-jauh dari luar Jakarta, semestinya punya hak lebih dibanding mereka yang tak punya tiket. Apa boleh buat, seringkali mereka yang sudah dilarang masuk pun ujung-ujungnya bisa menerobos juga. Di laga Indonesia-Bahrain, meski panitia dari awal menyatakan cuma akan mencetak 77 ribu tiket, tapi bagaimana mungkin stadion pada akhirnya terisi penuh atas-bawah, dan itu artinya ada 100 ribu orang di sana!

(Komitmen dan kerja keras) PSSI

Pada akhirnya, kunci pembenahan sepakbola Indonesia termasuk tim nasional saat ini ada di PSSI. Semua orang sudah tahu, selama ini sistem persepakbolaan kita tidak berjalan karena tidak ada mesin yang bekerja untuk menggerakkannya, yang disebabkan oleh bobroknya pengurus PSSI periode sebelumnya yang korup.

Semua orang tahu, tanpa perubahan yang signifikan oleh PSSI, jangan harap sepakbola Indonesia tiba-tiba akan membaik — atau tim nasional tiba-tiba lolos ke putaran Piala Dunia.

Mungkin sebagian fans sudah tidak sabar untuk segera melihat timnas yang terbiasa menang, bagaimanapun situasinya. Tapi sebagian fans lain boleh jadi lebih berharap supaya permasalahan mendasar yang selama ini menghambat perkembangan sepakbola Indonesia, bisa mulai dibenahi dengan baik dan serius oleh pengurus PSSI saat ini. Banyak lah contohnya, dan itu sudah dikampanyekan semua oleh pengurus ketika Kongres lalu, tentang pembinaan usia dini, perbaikan kompetisi sebagai muara pembentukan timnas yang handal, dan lain-lain.

Semoga pengurus PSSI yang sekarang tidak mengulangi kesalahan-kesalahan rezim sebelumnya. Mereka tentu tidak mau membayangkan, pengurus terdahulu yang mereka singkirkan, dan sampai sekarang adem-ayem saja karena semua kejahatan mereka sudah “dipetieskan”, akan tertawa dan berkata, “Emang enak ngurus bola!”

Tapi yang lebih penting lagi adalah, jika melakukan kesalahan yang sama dan gagal membuat perbaikan itu, pengurus PSSI sekarang akan lebih mudah berhadapan dengan masyarakat, karena mereka tak cuma punya andil sangat besar dalam menumbangkan Nurdin cs, tapi kecintaan mereka pada sepakbola tidaklah terukur besarnya.

Mengembalikan Olahraga ke Jalurnya
Narayana Mahendra Prastya – detiksport

Jakarta – Kongres PSSI memang bukanlah sebuah pertandingan olahraga. Namun kongres ini digelar oleh induk organisasi olahraga, dan maka dari itu kita layak berharap agar hajatan ini berjalan dengan semangat olahraga.

Dalam kurun waktu hampir satu dekade terakhir, polemik menjadi sesuatu yang kerap terjadi di tubuh PSSI. Di waktu lalu, ada musuh bersama bernama Nurdin Halid.

Semua mengecam, menuntut, dan mendesak “Sang Puang” untuk mundur. Mulai dari rakyat yang dicerminkan oleh suporter hingga pemerintah, seluruhnya kompak menginginkan Nurdin dan kroni-kroninya mundur.

Kini Nurdin sudah mundur, begitu pula dengan sejumlah konco-konconya. Situasi membaik? Tidak juga. Status quo masih tidak rela kehilangan kekuasaannya, sementara kubu yang mengklaim dirinya reformis tampak sangat ngebet untuk segera mengambil kendali otoritas.

Semua memiliki dasar yang cukup kuat untuk mengklaim tindakannya. Ada yang menggunakan statuta, peraturan, dan sebagainya. Ada yang memakai alasan soal ancaman sanksi dari FIFA.

Dua hari lagi, PSSI akan berkongres untuk menentukan kepengurusan: memilih ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota komite eksekutif. Tak sekadar memilih kepengurusan, namun ini juga sebagai penentu masa depan PSSI dan juga persepakbolaan Indonesia pada umumnya.

Kongres kali ini merupakan perintah dari FIFA, setelah kongres yang digelar di Pekanbaru, Riau, akhir Maret silam berakhir juga dengan kekacauan.

Menjelang kongres 20 Mei, suasana masih belum kondusif. Ada indikasi bahwa badan-badan resmi seperti Komite Normalisasi dan Komite Banding Pemilihan, tengah mengusung kepentingan kelompok tertentu. Tentu saja, tudingan ini dijawab oleh masing-masing pihak. Satu mengatakan melaksanakan perintah FIFA, yang lain mengatakan menegakkan peraturan.

Tak pelak spekulasi adanya kemungkinan deadlock pun mengemuka menjelang kongres kali ini.

Semua itu sebenarnya tak perlu terjadi, bila para peserta kongres bersedia sedikit meredam ambisi pribadi mereka, apapun motifnya.

Mereka, para peserta kongres dan pemegang hak suara, seharusnya ingat bahwa mereka menjadi bagian dari sebuah organisasi olahraga. Sportivitas dan kebesaran hati menjadi salah satu dari esensi olahraga.

Memang olahraga sangat menghalalkan strategi, trik, dan sejumlah cara lainnya guna mencari kemenangan. Namun ketika semua itu berjalan dengan cara kotor, maka itu jelas sangat diharamkan bila terjadi di dunia olahraga.

Meski tak terjadi di lapangan pertandingan, semangat olahraga seperti tadi seyogyanya diusung oleh seluruh peserta dan juga penyelenggara kongres.

Indonesia menunggu seperti apa PSSI nantinya. Ada harapan masyarakat di sana. Semoga, harapan untuk melihat sepakbola Indonesia menjadi lebih baik kali ini terjawab. Semoga

Striker Tottenham Hotspur, Emmanuel Adebayor, kini merasa sudah diterima dan dicintai suporter timnya, meski dia pernah membela Arsenal yang notabene lawan bebuyutan “Spurs”. Dua gol yang ia cetak ke gawang Liverpool, Minggu (18/9/2011), makin membuatnya diterima suporter.

Hubungan Tottenham dengan Arsenal memang sangat panas. Ketika Sol Campbell memutuskan meninggalkan Tottenham untuk pindah ke Arsenal, dia tak habis-habisnya dikecam, bahkan diancam.

Adebayor sendiri pernah membela Arsenal dan menjadi musuh fans Tottenham. Namun, dia kemudian dibeli Manchester City. Musim lalu, dia dipinjamkan ke Real Madrid dan musim ini dipinjam Tottenham.

Dua gol Adebayor ke gawang Liverpool membuat timnya menang 4-0. Dua gol lagi disumbangkan Luca Modric dan Jermain Defoe.

Berikut petikan-petikan Adebayor saat diwawancara Sky Sports.

Bagaimana perasaanmu mencetak dua gol ke gawang Liverpool? “Aku sangat bahagia bisa mencetak gol. Selalu menjadi hal penting bisa mencetak gol pertama di kandang, dan aku melakukannya dengan baik.”

Apakah kamu sudah diterima suporter Tottenham, mengingat kamu mantan pemain Arsenal? “Aku juga sudah mencetak gol di kandang lawan. Makanya ketika mencetak gol, aku rasa suporter otomatis langsung mencintaiku. Sebab, itu yang mereka harapkan dari seorang penyerang. Aku bahagia dengan segala yang terjadi di klub dan siap kembali bekerja keras.”

Bagaimana bisa menang besar atas Liverpool? “Kami tahu melawan Liverpool akan menjadi pertandingan berat. Sebab, kami tahu kualitas Liverpool. Kami meyakinkan diri juga memiliki skuad yang baik. Kami hanya butuh kepercayaan diri dan bermain dengan cara kami. Kami mencoba mengarahkan bola di tengah dan memanfaatkan pergerakan kami. Kami tahu, jika bisa menempatkan bola di belakang (Jamie) Carragher dan (Daniel) Agger, maka kami bisa membuat mereka kesulitan dan saya kira kami melakukannya dengan baik.”

Ada rahasia lain? “Kami hanya mencoba permainan kami sendiri karena tahu kami memiliki banyak pemain bagus di depan. Ini makanya, kami juga harus menguasai bola. Aku kira kami telah melakukannya dengan baik. Kami tak membiarkan lawan berkembang dan kami berusaha merebut bola secepatnya.”

Apa kelebihan Tottenham? “Kami bagus dalam menyerang balik dengan (Luca) Modric dan Niko (Kranjcar) serta Gareth Bale. Kami bisa memberi banyak masalah kepada lawan. Pada akhirnya, kami bisa memenangkan pertandingan.”

Kamu sempat menyia-nyiakan peluang. “Sebagai striker, rata-rata per pertandingan hanya mendapat tiga peluang. Kadang Anda bisa mencetak satu atau dua gol. Ketika aku gagal memanfaatkan peluang, itu tak menggangguku. Sebab, aku tahu, sebagai striker akan ada peluang lain. Terkadang Anda juga mendapat lima peluang atau bahkan hanya satu.”

Bagaimana kamu menyikapi pertandingan? “Sebagai pemain sepak bola, aku harus tetap fokus. Aku telah melakukannya dengan baik sepanjang pertandingan dan aku sangat bahagia bisa mencetak dua gol. Adalah hal yang biasa jika sebagai striker, kadang aku melewatkan peluang, kadang mencetak gol.”

Bagaimana menurutmu soal Tottenham? “Semua klub sekarang akan berhati-hati kepada kami karena punya skuad yang baik, termasuk individu berbakat. Apakah kami main kandang atau tandang, mulai sekarang hal itu akan tetap berat. Sebab, setiap orang sekarang tahu apa yang bisa kami lakukan di lapangan. Itu tantangan berat yang baik. Ini faktor yang memotivasi, dan kami harus mencari solusi.”

http://tourworldinfo.blogspot.com/2011/09/wanita-tercantik-di-indonesia-foto.html

Keadilan Bagi Masa Depan Sepakbola Indonesia

(Ilustrasi: detiksport)

Jakarta – Anton Sanjoyo mengakhiri artikelnya tentang perkembangan terbaru di tubuh PSSI, “Rekonsiliasi Tanpa Dendam” (Kompas, 14 April 2011), dengan kutipan Nelson Mandela: “Rekonsiliasi itu memaafkan. Tidak boleh ada dendam. Kita memasuki era baru.”

Sebuah penutup artikel yang terdiri atas tiga kalimat, tiga pernyataan, tiga keyakinan dan — untuk saya — juga tiga biji “salah paham”. Saya menyebutnya “salah paham”, mula-mula bukan untuk pernyataan Mandela itu sendiri, melainkan cara Joy meletakkan kutipan itu tanpa memperhatikan bagaimana rekonsiliasi dibangun di Afrika Selatan.

Pertama, rekonsiliasi itu memaafkan atau dalam kata-kata Joy di bagian yang lain, “…sifat dasar dari rekonsiliasi adalah memaafkan”.

Untuk saya, sifat dasar rekonsiliasi bukanlah “memaafkan”, tapi “keadilan”, juga “kebenaran”.

Dengan “keadilan”, siapa saja pemimpin atau pribadi yang melakukan kesalahan, kekeliruan, dusta, suap sampai manipulasi (sebagaimana yang dilakukan rezim Nurdin Halid) harus dimintai pertanggungjawabannya. Kesalahan organisasional harus dipertanggungjawabkan di depan kongres dan dusta-manipulasi-suap yang menjadi domain hukum harus pula dipertanggungjawabkan di depan hukum.

Dengan “kebenaran”, para pelaku kesalahan dan kejahatan tidak semata-mata dipaksa untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, tapi yang tidak kalah penting –- menyitir kata-kata Asmara Nababan — “diperolehnya pengetahuan yang benar tentang pola pelanggaran di masa lampau”, sehingga dapat dilakukan perubahan kebijakan dan institusional. Dengan perubahan ini dicegah terulangnya pelanggaran yang sama di masa depan.

Itu sebabnya di Afrika Selatan (juga di negara-negara yang ingin menyelesaikan konflik laten di masa silam) dibikin Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, bukan hanya Komisi Rekonsiliasi. Kutipan Joy tentang Mandela itu “salah paham” karena bisa menimbulkan pengertian bahwa permaafan Mandela adalah sesuatu yang tak diikuti/dilengkapi proses yang lain.

Yang dikatakan Joy dalam artikelnya melulu dan melulu rekonsiliasi, mengulang pentingnya permaafan. Tak ada separagraf pun Joy bicara perihal kelakukan manipulatif nan sistemik dari Rezim Nurdin, apalagi bicara tentang upaya pengungkapannya. Joy langsung melompat pada gagasan rekonsiliasi, dan memberikan permaafan begitu saja.

Kedua, tidak boleh ada dendam. Joy menampilkan kutipan Mandela itu dengan sebelumnya menyusun framming berparagraf-paragraf ihwal kengototan Kelompok Pemilik Suara (KP) 78 sebagai manifestasi haus kekuasaan dan — dalam kata-kata Joy sendiri — “masih membawa dendam masa lalu”.

Saya tidak tahu apa agenda KP 78. Yang saya tahu: upaya serius menuntut pertanggungjawaban dan mengungkap pola-pola manipulasi di masa silam tidak serta merta membuat upaya itu patut dicap “proyek balas dendam”. Itu adalah bagian inheren dari gagasan rekonsiliasi yang diusung oleh Anton Sanjoyo, Yudi Oktav, Andi Bachtiar Yusuf, dll.

Memaafkan itu gampang, apalagi kalau mentok cuma sebatas bibir. Yang harus diupayakan adalah bagaimana proses permaafan dan rekonsiliasi itu didahului oleh suatu ikhtiar serius yang akan mencoba memastikan bahwa praktik kesalahan, dusta, manipulasi, dan suap-menyuap itu tidak terulang lagi. Dan itu bisa dimungkinkan dengan menuntut pertanggungjawaban kepemimpinan Nurdin Halid yang dari sana pola-pola kesalahan dan manipulasi itu pun bisa diketahui oleh publik sehingga siapa pun bisa sama-sama mencegahnya di kemudian hari.

Ini bukan upaya mengabadikan (luka-konflik) masa silam, tapi justru untuk menyiapkan masa depan. Risiko implisit dari tulisan dan judul tulisan Joy itu adalah: bahkan orang yang menuntut keadilan dan pengungkapan kebenaran tentang kebusukan PSSI pun harus siap dicap sebagai “para pendendam”.

Ketiga, kita memasuki era baru. Lagi-lagi itu (masih) kutipan Mandela yang dicuplik begitu saja oleh Joy dalam artikelnya. “Politik kutipan” itu menyiapkan framming: era baru itu hanya mungkin terjadi dengan permaafan.

Tapi tak jelas rekonsiliasi dan permaafan macam apa. Yang terungkap dari tulisan itu adalah rekonsiliasi cuma-cuma dan permaafan gratis begitu saja. Imbauan itu terasa santun, elegan, bernuansa budaya timur dan moralis, padahal di sana tercium upaya pembiaran atas manipulasi, kebusukan dan laku kriminil (suap menyuap, misal: kasus Persisam).

Era baru macam apakah yang akan lahir dari rekonsiliasi dan permaafan cuma-cuma yang membiarkan dusta dan manipulasi lenggang kangung begitu saja?

Tak ada, sebagaimana Indonesia. Laku dan praktif KKN nan manipulatif dari Soeharto dan kroni-kroninya dibiarkan tanpa proses pertanggungjawaban dan pengadilan terbukti membuat praktik manipulatif KKN sampai sekarang tak pernah bisa dibikin tuntas. Sebagaimana Nurdin-Besoes yang mungkin berpikir: “Ah, santai sajalah, Soeharto saja yang kesalahannya jelas gak diapa-apain, kok.”

Rekonsiliasi dan permaafan gratis dan cuma-cuma hanya membikin Indonesia (juga sepakbola kita) menjadi permisif atas kejahatan dan manipulasi. Lantas apa bedanya dengan Nurdin yang membiarkan Komdis menghukum pemain-pelatih-manajer karena kesalahan tapi lantas dia sendiri yang memberikan amnesti dan pengampunan gratis dan cuma-cuma? Jangan kita tanpa sadar menjadi Nurdin dengan cara yang lain, me-Nurdin, mem-Besoes.

Untuk itulah, Komite Normalisasi dan kepengurusan PSSI mendatang harus berani membikin tim yang secara khusus meneliti dan mengkaji praktik-praktik busuk di masa lalu (pengampunan yang sering diberikan Nurdin, bagaimana Togar Manahan Nero bisa aktif lagi di kepengurusan setelah kasus suap di Penajam, dll). Audit secara keseluruhan dan total keuangan PSSI sebelumanya, cari tahu bagaimana dan kenapa hadiah juara liga selalu terlambat berbulan-bulan, dll.

Lalu, hasil dari investigasi dan audit menyeluruh itu harus diumumkan kepada publik. Beri hukuman yang keras pada para pelakunya (larang mereka berkecimpung dalam sepakbola untuk durasi panjang) dan bawa ke meja hijau untuk pelanggaran-pelanggaran yang memang seharusnya diselesaikan di pengadilan.

Hanya dengan itulah ucapan Mandela yang dikutip Anton Sanjoyo menjadi lebih berdaya dan terasa, bukan sekadar laku “politik kutipan” untuk membunga-bungai sebuah tulisan. Hanya dengan itu pula kalimat terakhir Anton Sanjoyo di tulisannya (yang juga mengutip Mandela) terealisasi dengan sepenuhnya: “Kita memasuki era baru!”

Kekalahan 1-3 Chelsea dari Manchester United turut menyelipkan kisah Fernando Torres yang membuang sebuah peluang emas. Manajer MU Sir Alex Ferguson sampai mengaku tidak habis pikir Torres bisa gagal.

Sebelum ‘Si Biru’ melawat ke Old Trafford, Minggu (18/9/2011), perihal produktivitas Torres sudah jadi sorotan. Pasalnya sejak diboyong ke Stamford Bridge Januari lalu, ia baru bisa bikin satu gol.

Mengingat tingginya ekspektasi terhadap bomber Spanyol tersebut, apalagi Chelsea merekrutnya dengan harga mahal yang kabarnya mencapai 50 juta poundsterling atau sekitar Rp 687 miliar, sebiji gol itu tentu membuatnya dapat sorotan negatif.

Di markas MU, Torres sempat memberikan sinyal positif setelah menjebol gawang ‘Setan Merah’ di awal babak kedua. Gol yang membuat Chelsea menipiskan ketinggalan jadi 1-3 tersebut bukan hanya menerbitkan optimisme timnya, tetapi juga bak menyiratkan kalau nalurinya di depan gawang mulai kembali.

Akan tetapi, insiden lain justru membuat sejumlah kalangan percaya kalau Torres masih butuh waktu untuk kembali ke permainan terbaiknya.

Setelah menerima bola dari Ramires, Torres dengan apik menggiring bola melewati David De Gea dan tinggal menghadapi gawang kosong. Tapi bola sontekannya luput dari sasaran dan ekspresi kekecewaaan Torres, yang langsung jatuh berlutut di lapangan, menunjukkan betapa buruknya kegagalan tersebut. Diiringi tepuk tangan ceria dari para fans MU di belakang gawang, Torres pun beranjak seraya menengadah tidak percaya.

Sir Alex Ferguson dari MU, boleh jadi dengan kelegaan tersendiri, juga setuju kalau Torres sudah membuang peluang emas. Terlebih kemudian tak ada gol lagi yang lahir dan Chelsea pun kalah 1-3.

“Saya pikir Torres akan bikin gol (kedua). Itu adalah sebuah kegagalan yang buruk,” komentar Fergie di Mirror.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s