Menabur yahhh

Mengenai Penyelenggaraan Adikodrati
MONDAY, 19 SEPTEMBER 2011
Total View : 187 times

1 Raja-raja 17:15-16,

“Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman Tuhan yang diucapkanNya dengan perantaraan Elia.”

Penyelenggaraan adikodrati terjadi ketika yang alami tidak cukup. Jika kita tidak melakukannya sendiri, maka iman tidak diperlukan. Tidak perlu percaya kepada Allah. Dan berlaku, jika kita tidak memiliki iman dan tidak membutuhkan Allah, Dia tidak akan memasuki bidang-bidang yang kita simpan untuk kita kendalikan sendiri. Prinsip penyelenggaraan adikodrati adalah bahwa Dia kuat bila manusia tidak.

Filipi 4:9,

“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.”

Perhatikan bahwa Kitab Suci tidak mengatakan bahwa perusahaan yang mempekerjakan Anda akan memenuhi kebutuhan Anda. Kitab suci juga tidak berkata, pengusaha bank setempat atau petugas pemberi pinjaman akan memasok kebutuhan Anda. Kitab suci mengatakan bahwa Allah, dan bukan yang lain, akan memenuhi kebutuhan Anda. Allah adalah satu-satunya Sumber Anda! Bukan pekerjaan Anda yang memberi Anda penghasilan. Allahlah yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan Anda.

Kisah ini sudah diceritakan kepada banyak generasi, yaitu kisah tentang keluarga Kristen yang mengalami masa-masa sulit. Mereka begitu kekurangannya sehingga mereka bahkan tidak lagi punya makanan. Sang ayah dan ibu berlutut dan berseru kepada Allah, mereka meminta makanan agar anak-anak mereka tidak kelaparan. Seorang laki-laki yang bukan orang Kristen sedang berjalan dekat rumah mereka dan mendengar doa mereka. Bukannya merasa kasihan, ia malah memutuskan untuk mempermainkan mereka.

Ia pergi ke toko bahan makanan dan membeli sekotak besar bahan makanan, menaruhnya di teras rumah mereka, dan membunyikan bel pintu. Ketika orang tua Kristen ini melihat bahan makanan di beranda, mereka dengan sengaja mulai berterima kasih kepada Allah. Lalu si orang yang tidak percaya itu muncul dan berkata,”Mengapa berterima kasih kepada Allah? Aku yang menaruh bahan makanan itu di sana.” Sang ayah Kristen menjawab, “Oh, bukan, Allah yang menjawab doa kami dan memberikan bahan makanan. Tetapi, aku mau berterima kasih padamu karena sudah menjadi pesuruhNya untuk membawakan bahan makanan ini kepada kami!”

Allah adalah sumber Anda satu-satunya, penyelenggara satu-satunya. Lewat Dia dan hanya Dia sajalah segala kebutuhan Anda terpenuhi. Pekerjaan yang merupakan profesi Anda hanyalah terbatas sebagai pekerjaan dan profesi, bukan segalanya. Bila perekonomian mencapai kapasitas terendah keuangan negara. Bila perusahaan jatuh, pekerjaan hilang. Bila sektor industri yang mempekerjakan Anda bangkrut, pekerjaan Anda lenyap bersamanya. Jangan bersandar pada pendidikan Anda, jangan bersandar pada pengalaman Anda, jangan bersandar pada pekerjaan Anda; bersandarlah pada Allah.

Memberi, Bukan Menerima (1)
MONDAY, 05 SEPTEMBER 2011
Total View : 994 times

2 Korintus 8:7,

“Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami – demikian juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.”

Apakah mempunyai banyak uang merupakan kunci untuk segalanya? Apakah uang menyebabkan kebahagiaan? Apakah uang memberi Anda jalan keluar dari masalah-masalah dalam hidup ini? Kapan Anda akan berhenti membeli, mengumpulkan, meraup, dan mengambil keuntungan? Kekayaan kita tidak berasal dari apa yang kita akumulasikan dalam hidup, tetapi dari apa yang kita berikan dalam hidup ini.

Beberapa orang terkaya di dunia pada tahun 1923 berkumpul di Edgewater Beach Hotel di Chicago. Kelompok yang terdiri dari tujuh orang memiliki kekayaan yang nilainya melebihi seluruh harta negara Amerika pada zaman mereka. Inilah orang-orang yang besar di bidang keuangan dengan catatan sukses karena telah mencapai kekayaan yang luar biasa.

Tetapi, cerita ini belum selesai. Dalam 25 tahun, presiden perusahaan baja terbesar meninggal dunia tanpa uang sepeser pun. Seorang jutawan yang menjadi spekulator gandum juga jatuh miskin. Yang lain, yang adalah presiden New York Exchange, menghabiskan tahun-tahun di penjara. Yang lain lagi dari kelompok tujuh orang kaya itu, adalah anggota kabinet kepresidenan, dan ia masuk penjara, tetapi diampuni sehingga ia bisa meninggal dunia di rumah dan bukannya di penjara. Yang kelima dari ketujuh orang itu, ia bunuh diri. Yang keenam, yang pernah mengepalai salah satu perusahaan terbesar di dunia, juga bunuh diri. Yang ketujuh, dan yang terakhir dari manusia terkaya di dunia, juga mengakhiri hidupnya sendiri.

Kisah Para Rasul 20:35,

“… harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Lukas 6:38,

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

“Ketika tiba saatnya untuk memberi sampai menyakitkan, kebanyakan orang mempunyai ambang batas yang rendah untuk sakit.” – Anonim.

Bunda Teresa adalah perempuan yang mengasihi Allah, ia tidak pernah berhenti memberikan dirinya. Ia berkata, “Jangan khawatir soal jumlah. Tolonglah satu orang pada satu waktu, dan selalu mulailah dengan orang yang paling dekat denganmu.”

Kemurahan Hati

Pemberi yang sejati tidak dimotivasi oleh kompetisi; mereka dimotivasi oleh kemurahan hati. Apakah kemurahan hati itu? Dalam 2 Korintus 8-9, kemurahan hati mengacu pada kemurahan ilahi yang ditunjukkan dalam sikap suka memberi. Itulah kuasa ilahi yang membuat kita mampu berpartisipasi sungguh-sungguh dalam memberi. Tindakan yang dilakukan karena kebaikan hati sebagaimana digunakan dalam kutipan berikut ini berarti suatu tindakan memberi. Kemurahan hati mendatangkan kesenangan dan sukacita. Kemurahan hati adalah orang yang membuat orang siap, cepat, rela dan tidak menunda-nunda dalam memberi dengan bebas. Kemurahan hati mengangkat martabat dan mengangkat orang dalam perbuatan baiknya. Ia menghormati dan menjadi berkat dan menyediakan segala yang dibutuhkan. Kemurahan hati adalah pemrakarsa untuk memberi. Hukum dari Alkitab, perangkat peraturan, ataupun rasa bersalah atau persaingan, itu semua tidak ada yang membuat Anda memberi. Kemurahan hatilah yang menciptakan keinginan untuk memberi, kemurahan hatilah yang membuat kita sanggup memberi dan kemurahan hatilah yang menyebabkan Anda memasuki dunia iman. 2 Korintus 8:6-7 berkata bahwa memberi adalah sesuatu yang harus kita lakukan dengan luar biasa baik dan berlimpah, tetapi harus dimotivasi oleh kemurahan hati.

“Jangan pernah mengukur kebaikan hati dengan apa yang engkau berikan, melainkan dengan apa yang telah engkau tinggalkan” – Fulton Sheen.

Source : Disadur dari: Buku Biblical Principles for Becoming Debt Free! (Frank Damazio&Rich; Brott)

Memberi, Bukan Menerima (2)
MONDAY, 12 SEPTEMBER 2011
Total View : 654 times

Memberi Dengan Sukacita

1 Tawarikh 29:9,

“Bangsa ini bersukacita dengan kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela mereka kepada Tuhan; juga raja Daud sangat bersukacita.”

Memberi jangan pernah dirasakan sebagai beban. Jangan tidak boleh membuat tertekan. Pemberian kita jangan diberikan dengan perasaan ragu, enggan segan, atau tidak rela. Sesungguhnya, sebagaimana terlihat dalam kutipan ini, memberi haruslah menjadi kesempatan untuk bersukacita dengan luar biasa! Pemberian kita harus diberikan dengan iman; berikan pemberian Anda kepada Allah dengan keyakinan akan firmanNya. Jika kita memberi dengan mengeluh dan tidak rela, maka apakah hal itu akan membuat Allah menunda pemberian berkatNya yang sempurna kepada kita? Saya tidak tahu. Tetapi, saya tahu bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi orang yang memberi dengan gembira dan sepenuh hati.

2 Korintus 9:7,

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Dalam ayat ini, sangat jelas bahwa memberi (kita tidak bicara tentang mengembalikan sepersepuluh milik Allah kepadaNya) janganlah dengan terpaksa. Jangan ada yang merasa diintimidasi untuk memberi. Jangan ada yang merasa ditekan harus memberi. Memberi jangan dijadikan kewajiban atau dimotivasi oleh rasa bersalah. Memberi harus dilakukan menurut kehendak bebas dan kasih.

Memberi adalah keputusan pribadi untuk memberi berkat kepada orang lain sebagaimana kita diberkati oleh Allah. Kita melakukannya dengan memberikan dukungan pada berbagai pelayanan dalam gereja setempat kita. Ya, memberi bisa dilakukan di tempat-tempat lain, tetapi jagalah agar Anda terlebih dahulu memberi perhatian kepada tempat dimana Anda dibesarkan dari minggu ke minggu. Berilah dengan rela dan gembira.

Pemberian kita jangan disampaikan dengan perasaan ragu, enggan, atau tidak rela.

Bagaimana seharusnya saya memberi untuk karya Allah?

Banyak wadah pelayanan yang menawarkan kesempatan untuk memberi kepada Tuhan dengan bermacam-macam cara. Mulai dari orang miskin, kebutuhan anak-anak, melunasi utang gereja, gereja-gereja yang sedang dibangun, penginjilan yang strategis dan kreatif-seperti pelayanan media CBN atau bermacam jenis pelayanan lainnya.

Kita harus menyadari bahwa masing-masing kita memiliki bagian yang harus dikerjakan. Mungkin kita tidak berada di garis depan ladang pelayanan misi untuk langsung melayani jiwa-jiwa yang ada di pelosok tanah air, namun kita dapat turut memasok bahan bakar untuk mereka yang ada di garis depan. Karena saat kita melakukan bagian tersebut, bagian kita menjadi sama pentingnya seperti mereka yang langsung turun melayani jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan. Maka, marilah kita bersama-sama menjadi mitra yang mendanai Kerajaan Allah.

Mencari Terlebih Dahulu (1)
MONDAY, 22 AUGUST 2011
Total View : 1143 times

Prinsip Alkitab untuk mencari terlebih dahulu pada dasarnya adalah perspektif yang benar dan motif yang benar. Jika satu-satunya tujuan hidup Anda adalah mencari uang dan menimbun harta untuk diri Anda, maka Anda telah menuju arah yang salah. Yesus berkata, carilah terlebih dahulu Kerajaan Allah. Hal ini tidak berarti mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, tetapi hanya sementara waktu, lalu beralih ke tujuan kedua, yakni menimbun harta. Yang sesungguhnya dimaksudkan adalah, fokus kita harus selalu pada hal Kerajaan Allah dan prioritasnya. Bila kita menempatkan prioritas kita pada tempatnya, hal-hal yang kita perlukan akan disediakan.

Yesus tahu bahwa laki-laki dan perempuan akan mengalami kesulitan dalam menjaga hati mereka tetap terfokus pada tujuan sesungguhnya dari keberadaan mereka. Itulah sebabnya, pada Khotbah di Bukit, Dia berkata,

Matius 6:19-21, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Matius 6:33,

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Menempatkan Allah sebagai yang pertama dalam hidup kita akan meringankan diri kita dari tugas mengkhawatirkan segala sesuatu yang lain. Mencari kerajaanNya dan kebenaranNya terlebih dahulu adalah dengan sungguh-sungguh menjadikan Allah prioritas dalam hidup kita. Ayat 33 memberikan kepada kita pedoman suatu prioritas dalam hidup kita. Ayat 33 memberikan kepada kita pedoman suatu prioritas, suatu prinsip, dan suatu janji. Prioritas kita adalah terlebih dahulu mencari kehendak Allah dan kebenaranNya. Prinsipnya adalah fokus pada kegiatan Kerajaan tersebut. Janjinya adalah bahwa bila kita mencari Dia terlebih dahulu dan berfokus pada urusan Kerajaan Allah, Dia akan mencukupi segala kebutuhan kita.

Mencari Terlebih Dahulu (2)
MONDAY, 29 AUGUST 2011
Total View : 872 times

Selalu ada godaan untuk menempatkan uang sebagai yang nomor satu. Apakah Anda ingat pemuda kaya yang datang kepada Yesus dan berkata dia ingin mengikuti Kristus? Tanggapan Yesus tidaklah membuatnya senang. Yesus mengatakan kepadanya agar memberikan uangnya dan mengikutiNya. Anda lihat, bukan uangnya yang salah. Pemuda itu menempatkan uangnya sebagai yang pertama di atas semua yang lain.

“Saat kekayaan hilang, tidak ada yang hilang; saat kesehatan hilang, sesuatu hilang; saat karakter hilang, segalanya hilang” – Billy Graham.

Jika kita memiliki terlalu banyak uang, selalu ada bahaya bahwa pada akhirnya kita akan tergantung padanya. Apakah hidup Anda mengungkapkan hasrat Anda untuk menjadikan Allah sebagai yang pertama? Tuhan memperingatkan kita agar kita mencari kerajaannNya terlebih dahulu, caraNya dalam melakukan berbagai hal, dan agar kita jangan khawatir akan harta. Menimbun harta tidak akan pernah membuat puas. Kita hanya akan menginginkan lebih dan lebih. Itulah sebabnya kita harus berfokus pada kebutuhan, bukan keinginan.

Apakah yang kita butuhkan? Biasanya kebutuhan itu meliputi makanan dan air, matahari dan udara, hujan dan tempat berteduh. Selain kebutuhan-kebutuhan dasar untuk hidup ini mungkin ada kebutuhan untuk mempunyai teman, keluarga, hubungan, kepercayaan diri, dan lain-lain. Yang tidak kita butuhkan adalah lebih merupakan barang-barang. Materialisme adalah fokus pada barang-barang yang dianggap penting daripada fokus pada hal-hal mengenai Allah. Sebelum kita mencurahkan waktu, tenaga, minat, dan hidup kita ke dalam apa yang kita anggap berharga, Yesus benar-benar meminta kita untuk berhenti dan memfokuskan diri kita pada hal-hal yang bernilai abadi.

Musa menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada segala harta di Mesir.

Jika kita memiliki terlalu banyak uang, selalu ada bahaya bahwa pada akhirnya kita akan tergantung padanya.

Ibrani 11:26, “Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.”

Amanat Allah adalah agar kita mencari terlebih dahulu kebenaran kerajaan Allah. Hidup orang-orang percaya akan rusak jika mereka sepenuhnya terserap oleh harta dan usaha penumpukan materi. Kita harus meminta kepada Allah agar Dia menolong kita membangun sikap yang melayaniNya dengan setia dan membangun kehidupan yang terbebas dari jerat utang sehingga kita bisa melaksanakan prioritas Kerajaan Allah daripada mengejar keinginan-keinginan manusia. Bagaimanapun, keseluruhan tujuan kita dalam hidup ini adalah untuk memberi kepada orang lain, berbagi dengan orang lain, dan menjadi berkat bagi orang lain sebagaimana kita telah diberi berkat. Memiliki hobi memberi akan menjauhkan kita dari ketamakan.

Pengakuan Bahwa Allah Memiliki Segalanya (1)
MONDAY, 08 AUGUST 2011
Total View : 1382 times

Mazmur 50:10, “ Sebab punyaKulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.”

1 Tawarikh 29:10-12, “… Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allahnya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ya Tuhan, punyaMulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya Tuhan, punyaMulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan; dalam tanganMulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.”

Jangan salah sangka bahwa pekerjaan atau bisnis Anda adalah yang memberi Anda pendapatan. Allah adalah sumber pemberian yang berlimpah. Pekerjaan akan lenyap; konsumen bisnis Anda datang dan pergi. Allahlah yang menjaga agar kebutuhan-kebutuhan Anda terpenuhi. Orang lain, kondisi dan situasi itu hanyalah merupakan alatNya untuk membuatnya terpenuhi. Allah menggunakan banyak cara untuk menjadikan pekerjaan itu selesai, tetapi pada akhirnya, bukan oleh kita, melainkan berkat Allah atas hidup kita.

Hagai 2:9,

“KepunyaanKulah perak dan kepunyaanKulah emas, demikianlah firman Tuhan semesta alam.”

Billy Graham berkata, “Jika seseorang bersikap lurus terhadap uang, maka hal itu akan membantu meluruskan hampir semua bidang kehidupannya. Katakanlah pendapat Anda tentang uang, dan saya bisa mengatakan pendapat Anda tentang Allah, karena kedua hal itu sangat berkaitan. Hati seseorang lebih dekat kepada dompetnya daripada kepada dompetnya daripada hal yang lain.”

Yesus mengajarkan bahwa kita harus bertanggung jawab dalam keuangan kita. Allah adalah sumber segala kekayaan. Dialah pemilik sesungguhnya segala hal, karena Dia yang menjadikan segala hal. Seperti kata Kitab Suci, Dia memiliki beribu-ribu hewan di gunung. Selain kemampuan yang supranatural, Allah juga memberi kita kemampuan untuk mencari nafkah (lihat Ulangan 8:18).

Bila dalam bisnis Anda bermitra dengan Allah, Dia tidak hanya akan memberkatinya, tetapi Dia juga akan membuat Anda menikmati kekayaan. Tetapi, berhati-hatilah jangan sampai Anda menahan segalanya untuk Anda sendiri. Daripada mencoba mencari cara dengan memberikan sedikit saja kepada Allah, cobalah memberikan segalanya untuk Dia dan tanyakan kepadaNya, sebaiknya Anda menyimpan berapa banyak. Bila Anda bermitra dengan Allah, Dia akan membuat Anda menghasilkan uang! Bila Allah menjadi sumber Anda, maka sumur Anda tidak akan pernah kekeringan. Bila kita menjadi orang Kristen, kita menjadi anak-anak Allah, dan Alkitab berkata bahwa kita mempunyai hak untuk menikmati segala kepunyaan Bapa kita.

Ada seorang pengusaha sukses bernama R. G. LeTourneau. Bisnisnya adalah membuat peralatan untuk memindahkan tanah. Karena bisnisnya bertumbuh dan menghasilkan uang, ia memutuskan untuk menambah persepuluhannya melebihi sepuluh persen. Akhirnya, ia malah meningkatkan pemberiannya hingga 90% dari pendapatannya, dan sisanya untuk dirinya. Bukannya memberikann sepersepuluh, ia malah hidup dari yang sepersepuluh. Allah memberkati LeTourneau dengan berlimpah dan menggunakan kejeniusan dan kreativitas Injil. Alkitab membersembahkan banyak kisah yang berisi pemberian luar biasa, tetapi tampaknya tidak ada yang lebih spesifik dari petunjuk bahwa semua orang harus memberi menurut kerelaan hatinya, bukan dengan segan atau karena terpaksa. LeTourneau jelas mengenal nilai 2 Korintus 9:7 dan mengakui bahwa Allahlah yang memberi dirinya kekuatan untuk memperoleh kekayaan.

Pengakuan Bahwa Allah Memiliki Segalanya (2)
MONDAY, 15 AUGUST 2011
Total View : 983 times

Ada yang pernah berkata bahwa ukuran kekayaan Anda yang sesungguhnya adalah seberapa berhargakah Anda jika Anda kehilangan semua uang Anda.

Dalam abad ke-16, Izaak Walton berkata, “Perhatikan kesehatan Anda; dan jika Anda memilikinya, pujilah Allah dan hargailah kesehatan Anda sama dengan Anda menghargai nurani Anda; karena kesehatan adalah karunia kedua yang dapat kita terima sebagai manusia, suatu karunia yang tidak bisa dibeli dengan uang.”

Apakah yang sesungguhnya merupakan milik Allah, yang sedang Anda coba tempatkan secara mutlak dalam kekuasaan Anda sehingga Anda menolak mengakui kepemilikan Allah? Apakah bisnis atau rumah Anda? Ataukah sarana transportasi Anda, sarana rekreasi Anda, pakaian, mainan, dan barang-barang Anda lainnya?

Apakah tubuh Anda? Menurut Roma 12:1, tubuh Anda adalah milik Tuhan. Apakah waktu Anda itu milik Anda atau Allah? Bagaimana dengan pendapatan Anda, tabungan Anda, investasi Anda, dan harta Anda lainnya? Apakah hal-hal ini milik Anda atau Allah? Apakah Anda sudah dengan hati-hati mengurus semua hal itu untuk menjadi bendahara yang baik, ataukah Anda sudah mengambil alih semua itu, menganggap semua itu milik Anda sendiri? Segala yang Anda ucapkan, setiap keputusan yang Anda buat, segala tindakan yang Anda lakukan,semua itu harus dapat dipertanggungjawabkan menurut prinsip-prinsip Allah.

Bagaimana dengan seluruh hidup Anda? Cita-cita Anda, tujuan Anda, visi Anda – apakah semua itu berasal dari Allah atau apakah Anda sudah membiarkan kesenangan jasmaniah yang merupakan karakter manusia menguasai Anda sepenuhnya? Apakah Anda seorang pencuri atau seorang bendahara? Apakah Allah dapat mempercayai Anda untuk menjadi pengurus sepenuhnya atau apakah Anda lalai sebagai bendahara?

Tidak hanya emas dan perak yang menjadi milik Allah, tetapi juga segala hal lainnya. Segalanya adalah milik Allah. Jadi, mengapa kita tidak memberikan segalanya kepada Allah? Dalam 1 Korintus 4:2, Paulus bahwa mereka yang diberikan kepercayaan harus terbukti dapat dipercayai. Dengan kata lain, kita semua adalah bendahara dan jadilah bendahara yang dapat dipercaya. Seorang bendahara sesungguhnya adalah seorang pengelola atas uang dan harta orang lain. Kita harus mengakui kepemilikan Allah dan mengelola atau menggunakan milik Allah itu menurut kehendakNya. Dengan memberi, kita menerima; dengan menahan, kita kehilangan.

Get One Lose One?
MONDAY, 01 AUGUST 2011
Total View : 1211 times

Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (2 Korintus 9:6)

“Buy one get one”. Beli satu gratis satu. Kalau ada iklan seperti itu di sebuah toko, bisa dipastikan akan ada banyak orang tertarik. Tentu karena hal seperti itu tidaklah wajar. Dalam sebuah transaksi, yang biasa terjadi adalah “get one lose one”. Berikan uang Anda, maka Anda akan mendapat sesuatu. Jika ingin mendapatkan satu hal berharga, kita harus kehilangan satu hal berharga lainnya. Itulah prinsip yang berlaku di transaksi perdagangan. Namun, dalam kehidupan pun, sering kali juga orang melakukan hal yang sama. Sebuah survey misalnya mendapati bahwa dari 10 orang manajer puncak di Amerika, 6 orang di antaranya mengaku kehilangan sahabat di tempat kerja mereka yang tidak dipromosikan secepat diri mereka. Dalam hidup keseharian kita, mungkin kita juga sering kali menemui hal yang sama. Ada orang yang demi meraih prestasi dalam karier maka ia melupakan urusan keluarga. Ada yang demi meraih laba, maka ia lantas mengabaikan etika dan nama baik. Demikian pula sebaliknya.

Alkitab memang juga mengajarkan prinsip tabur tuai atau bayar harga. Namun, prinsip bayar harga di Alkitab ternyata bukanlah seperti sebuah transaksi jual beli. Salah satu buktinya adalah bahwa Tuhan pun tidak menyuruh pemuda kaya dalam Markus 10:17-27, untuk membuang hartanya, melainkan Ia meminta dia membagikannya kepada orang miskin sehingga ia mengumpulkan harta di surga. Ya, yang lebih tepat, prinsip tabur tuai adalah seperti prinsip bercocok tanam atau investasi. Dalam investasi, yang kita lakukan bukan membuang begitu saja untuk kemudian mendapatkan, tapi lebih dari itu adalah kita menyimpan untuk kemudian mendapatkan.

Mencapai kesuksesan pun, demikian. Sukses sejati bukan membuang keluarga demi mendapat bisnis yang maju, atau mendapat prestasi tinggi tapi kehilangan kesehatan dan persahabatan, dll. Taburkan benih yang baik di tanah yang baik. Berikan waktu berkulitas untuk keluarga, berikan penghormatan kepada sahabat, berikan usaha terbaik dalam karier, dan berikan semua yang Anda lakukan bagi kemuliaan Tuhan.

Power of Giving
MONDAY, 25 JULY 2011
Total View : 1368 times

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan suka cita. (2 Korintus 9:7)

Pada suatu kali, salah seorang pemimpin perusahaan mengeluh. Ia mengatakan karyawannya suka malas-malasan bekerja. Mereka tidak mau bekerja keras. Tak maksimal menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan. Para karyawan itu bekerja sesuka hatinya. Hingga kemudian, seseorang menanyakan kepada para karyawan itu alasan mereka tak mau bekerja keras. Mereka pun menjawab, “Habis, bos kami sendiri pelit. Maka dari itu, kami bekerja ala kadarnya.”

Rupanya, baik karyawan maupun bos saling mengharapkan diberi. Sang bos berharap anak buah memberi kerja keras, pengorbanan, ide cemerlang, dll. Jadi, kedua belah pihak sebenarnya hanya saling menantikan pemberian dan bukannya memberi.” Memang, secara naluri menerima adalah kesukaan semua orang. Namun, pemahaman itu kurang tepat. Dengan memberi seseorang akan meraih hasil lebih baik. Seorang yang memberi tenaga maksimal dalam bekerja, pada waktunya akan menuai hasil lebih banyak. Seorang atasan yang mau memberi perhatian dan menghormati karyawannya akan dicintai dan mendapat karyawan yang loyal. Intinya, dengan memberi seseorang justru akan melimpah.

Firman Tuhan mengatakan hendaklah masing-masing orang memberi dengan kerelaan hati. Bukan karena paksaan. Mengapa harus rela? Rasul Paulus memberi alasan, “Sebab Allah mengasihi orang-orang yang memberi dengan sukacita.” Pemberian yang dimaksudkan di bagian tertentu ini tentu saja bukan hanya pemberian materi. Sebaliknya, pemberian dalam arti luas. Termasuk di dalamnya memberikan tenaga dan pikiran atau memberikan penghormatan/apresiasi, perhatian, toleransi, dll. Firman Tuhan berkata, berilah dengan sukacita. Lebih baik memberi daripada menerima. Sebagai pekerja Kristen, bekerja adalah ladang pelayanan kepada Tuhan. Melalui pekerjaan pun, kita dapat memuliakan dan memberikan kesaksian mengenai Tuhan yang kita ikuti.

Giving is Freedom
MONDAY, 18 JULY 2011
Total View : 1464 times

Lukas 6:38

Berilah dan kamu akan diberi suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Suatu ketika seorang pendaki yang kebetulan sedang kehausan menemui sebuah pompa air tua. Pada cangkir yang tergantung di pompa air itu, tertulis catatan seperti ini: “Air dari sumur ini tidak beracun dan aman untuk diminum. Namun, ring penyedotnya kering dan perlu dibasahi terlebih dahulu. Di bawah batu besar di sebelah selatan sumur ini ada sebotol air. Air itu hanya cukup untuk membasahi penyedot yang kering, jadi jangan meminumnya setetes pun. Tuangkan sedikit air ke dalam pompa untuk merendam ring penyedotnya agar basah. Setelah itu, tuangkan sisa air yang ada, lalu pompalah dengan cepat, maka Anda akan mendapatkan air berlimpah. Sumur ini tidak akan kering. Setelah Anda mendapatkan air yang Anda butuhkan, isi botol itu dengan air lagi dan kembalikan ke tempat semula. Kembalikan catatan ini ke pegangan cangkir, dan ikat cangkirnya di tuas pompa. Pendaki lain yang kehausan mungkin akan segera lewat.”

Dalam hidup kita, sesungguhnya Tuhan pun memberi pesan yang sama. Apa ciri orang yang sudah mengalami kemerdekaan finansial? Salah satunya adalah saat ia bisa memberi. Memang, kita mungkin tidak tahu kapan waktunya kita akan menuai, karena hanya Tuhan saja yang bisa memberi pertumbuhan. Tapi, kenyataannya prinsip ini memang bekerja. Saat Anda menabur, maka Anda akan menuai, dan tak jarang tuaian Anda itu jauh lebih banyak daripada yang Anda tuai. Sebuah tanaman tomat, yang tumbuh dari satu benih biji tomat, bisa menghasilkan 10kg tomat. Dan setiap tomat dari 10kg itu tentunya mengandung puluhan dan bahkan ratusan biji tomat, yang mungkin setiap bijinya akan tumbuh menjadi tanaman yang bisa menghasilkan 10kg tomat lainnya.

Memberi adalah masalah mentalitas, bukan masalah kemampuan. Faktanya, orang selalu bisa punya berbagai macam alasan untuk tidak memberi, meskipun ia sudah sangat kaya raya. Tidak salah rasanya jika kita sebut mereka masih belum mengalami kemerdekaan dalam finansialnya. Namun, orang yang mau memberi, bahkan tanpa memikirkan apa yang akan bisa didapatnya kembali, jelas adalah orang yang layak disebut merdeka. Bagaimana dengan Anda?

Lubang Keuangan (1)
MONDAY, 04 JULY 2011
Total View : 1540 times

“Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat dimana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.” (Matius 25:24-25)”

Aturan pertama soal lubang adalah . . . ketika Anda berada dalam lubang, berhentilah menggali. Banyak orang menggali lubang dan menjatuhkan diri ke dalamnya, dalam hal keuangan atau dalam hal lainnya. Bagi mata orang banyak, mereka ini terlihat hidup sukses dengan tumpukan uang yang mengalir ke tangan mereka.

Kekayaan bisa dilihat sama dengan gundukan kotor yang bertumpuk di sekeliling lubang yang digali. Setiap orang bisa melihat tumpukan harta, namun orang yang menggali lubang sudah tak terlihat – mereka ada di dasar lubang!

Namun, mereka terus menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi bukan saja untuk mereka tetapi juga untuk anak-anak mereka. Mereka hidup di dalam sebuah lubang, dan membesarkan anak di dalam lubang itu, satu-satunya yang mereka bisa wariskan hanya sebuah sekop.

Menggali Lubang

Kok bisa ya sebagian dari kita menggali lubang dan terjebak di dalamnya? Tak heran. Hal itu karena kita hidup di dunia dengan sistem keuangan dan moneter yang dibangun pada hal-hal yang tak berharga. Uang yang berpindah tangan sebenarnya tak lebih dari sekedar kertas. Sama juga dengan bursa saham dan, khususnya, saham elektronik yang tak ubahnya berdagang angin. Kita melakukan jual beli saham seperti sebuah permainan yang tak pernah punya pemenang.

Sebenarnya yang kita beli dan jual tidak memiliki substansi yang nyata. Dengan semua itu, kita menggali lebih dalam di lubang yang dasarnya tak juga kelihatan. Ketamakan dan kecemasan yang mengendalikan kita. Dengan putus asa, kita mencoba memperoleh sebanyak mungkin, dan kita hidup dalam ketakutan bahwa gundukan di tepi lubang orang lain jauh lebih besar daripada gundukan kita.

Sebagai milik Allah kita harus mempercayai Allah dalam hidup kita, namun kita malah kerap hidup dalam ketidakpercayaan rohani sebagai orang yang memonopoli atau mengontrol semua uangnya sendiri. Dalam kasus ini, kita mengendalikan uang dengan bergantung pada diri sendiri, bermain dengan uang permainan monopoli, tinggal di rumah yang kita tak benar-benar dimiliki, dan menghabiskan uang yang tak pernah kita miliki.

Mitra CBN, marilah kita menyikapi dengan baik setiap hal yang Tuhan percayakan dalam kehidupan kita. Kita harus menggunakan kacamata dan paradigma sebagai pengelola atas setiap kekayaan yang Tuhan percayakan bukan kacamata pemilik yang merasa berhak untuk menggunakan setiap sen yang kita terima. Percayalah, saat kita setia dalam perkara kecil yang dipercayakan dengan mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan, maka Dia yang setia dan adil akan membalaskannya kepada kita sesuai perbuatan kita.

Lubang Keuangan (2)
MONDAY, 11 JULY 2011
Total View : 1590 times

Jika kita mengingat apa yang pernah tertulis dalam Matius 25:14-30 mengenai perumpaan seorang Tuan yang mempercayakan ketiga hambanya utuk menjalankan lima talenta, dua talenta dan satu talenta, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat ke luar negeri. Hamba yang tidak disukai tuannya, itulah yang menerima satu talenta dan menggali lubang di tanah untuk menyembunyikannya.

Bacaan ini adalah mengenai “Kerajaan Surga” – kekuasaan Allah atas bumi. Allah menginginkan surga datang ke dunia dengan menanamkan surga di hati manusia. Mereka yang hidup di dalam lubang sebenarnya sudah menerima pemberian dari surga namun melemparkannya ke dalam lubang di tanah. Alih-alih menabur benih, mereka malah menguburnya.

Hamba ini tidak beriman dan tidak juga bijaksana menggunakan benih uang dari tuannya. Dia tidak menggunakan dalam iman, malah cemas menerimanya. Dia berkata, “…aku takut, dan pergi menyembunyikan talenta tuan di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! (Matius 25:25). Ketakutan adalah akibat dari kerenggangan hubungan dengan Allah dan merupakan bentuk emosi tertua yang ada dalam Alkitab (Kejadian 3:10). Ketakutan hanya akan membuat kita bersembunyi dari apa pun atau siapapun yang kita takuti. Sepertinya yang telah membuat orang ini tak bisa melayani adalah karena ia tak mengenal kehendak tuannya. Ia takut dan memusatkan perhatian pada dirinya sendiri dan tidak mempertimbangkan siapa pemilik uang yang ia kelola atau sedang menyenangkan hati siapakah ia.

Hamba dengan satu talenta menerima apa yang diberikan di tangannya dan menaruhnya dalam lubang di tanah. Alkitab beberapa kali menyebutkan bumi menyimbolkan tubuh dan kedagingan kita. Hamba ini, seperti yang lainnya yang tinggal dalam lubang, menabur benih tuannya ke dalam daging-untuk kenyamanan dirinya sendiri. Dia menjadi “konsumtif”.

Alkitab berkata, “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:21). Mereka yang menghabiskan semua yang mereka dapat, hidup dalam fatamorgana kekayaan yang semu tetapi mereka miskin secara rohani.

Orang mudah menyalahpahami kemiskinan sebagai kerendahan hati. Tetapi kenyataannya, tidak memiliki uang bukan berarti kita telah berkorban dan melakukan segala-galanya untuk Allah. Dengan cara yang sama, kita bisa memiliki tumpukan barang namun tetap miskin rohani, dan bisa juga kita miskin materi namun kaya secara rohani. Keduanya berkaitan.

Mereka yang tidak “kaya di hadapan Allah” cenderung memandang Allah sebagai Bos Besar yang gemar menebar uang, bukan sebagai Ayah yang mengasihi dan mencukupi kebutuhan anakNya. Mereka menengadahkan telapak tangan menunggu pemberian kecil dari Allah daripada mengangkat tangan dengan rasa percaya dan memuji Allah.

Beberapa orang mungkin memberi kesaksian mengenai berkat materi yang Allah telah berikan, namun jarang mengembalikan berkat itu bagi Allah. Mereka mungkin membayar persepuluhan, tetapi hanya untuk berusaha mendapatkan berkat tambahan. Kasih akan Allah belum menyentuh hati mereka, dan mereka hidup dalam kecemasan bahwa mereka akan kekurangan atau orang lain akan berkelimpahan. Mereka tidak bisa menolong orang yang membutuhkan karena mereka hanya memperhatikan diri mereka sendiri.

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah tetap di dalam dirinya?” (1 Yohannes 3:17). Jawaban sederhana bagi pertanyaan Yohanes adalah “Ia tak punya kasih Allah!”.

Banyak pengajaran mengenai “iman” beberapa tahun terakhir ini. Tetapi sebagian besar bicara soal iman yang kita pakai untuk memaksa Allah memberkati kita dengan cara menerapkan “formula iman”. Jenis iman ini tidak memberi baju bagi orang lain, tidak juga membangun gereja. Orang dengan iman seperti ini tidak mengirim misionaris. Iman seperti ini berharap hanya pada dirinya sendiri dan tidak menyumbang apapun untuk memperluas Kerajaan Surga. Iman kita harus menerima apa yang ada di tangan Allah, bukan apa yang keluar dari tangan Allah.

“Talenta” dalam perumpamaan Yesus bisa menjadi apapun yang Allah telah berikan bagi kita. Bisa berupa uang, karunia roh, atau bahkan pelayanan. Apapun talenta itu, ia tidak diberikan dengan maksud untuk kita kuburkan, melainkan kita jalankan dengan cara yang bisa membuatnya bertambah bagi orang yang memberikannya kepada kita. Talenta ini bisa disamakan dengan apa yang disebut Alkitab sebagai “kekayaan”.

Jangan Lelah
MONDAY, 27 JUNE 2011
Total View : 1461 times

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (Galatia 6:9)

Butuh waktu hingga tiba saatnya panen. Kita tak bisa menanam dan berharap melihat tanaman tiba-tiba muncul dari permukaan tanah dalam hitungan menit atau jam. Tanah akan memberikan kita hasil panen, tetapi itu akan memakan waktu. Pada masa itulah kita mesti mencabut gulma ambisi kedagingan dan segera mengusir hama sebelum mewabah dan melahap habis benih yang ada.

Setelah menabur, kita perlu melangkah dalam iman dan penuh antisipasi. Tuhan, Allah kita, akan membawa panen “pada saatnya” – Ia akan setia. Kita sudah melihat ladang kecil kita bertumbuh dan menghasilkan panen demi panen.

Kita juga sudah melihat panen benih lainnya yang sudah ditaburkan, tetapi kita percaya bahwa apa yang mata belum pernah lihat atau telinga belum pernah dengar, panen agung yang Tuhan tengah siapkan untuk semua yang telah menabur pada apa yang Ia berikan di tangan mereka untuk kehidupan KerajaanNya.

Tetaplah setia bermitra dengan CBN karena pasti akan tiba waktunya bagi Anda untuk menuai setiap taburan yang Anda berikan bagi pekerjaan tangan Tuhan.

Memilih Tempat Menabur (2)
MONDAY, 13 JUNE 2011
Total View : 1425 times

Menabur Pada Kehidupan Kekal

Kita harus “memilih kehidupan” dengan menabur apa pun benih yang diberikan Allah kepada kita. Ini yang diperintahkan Allah kepada bangsa Israel ketika mereka masuk ke tanah yang dijanjikanNya: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu ku perhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suaraNya dan berpaut padaNya, sebab hal ini berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka” (Ulangan 30:19-20).

Ketika kita menabur untuk Allah dan KerajaanNya, kita mengakuiNya sebagai sumber dan satu-satunya yang bisa memberkati kita. Bila kita memilih untuk menabur demi hasrat sendiri, sebagaimana yang dilakukan dahulu oleh Adam, kita menempatkan diri kita di bawah kutuk yang sama (lihat Kejadian 3:17-19). Kutuk itu adalah kita akan berjerih lelah ketimbang menikmati membanjirnya berkat dan hubungan yang erat dengan Allah.

Musa menjelaskan hidup untuk menabur kembali kepada Sang Sumber dengan “mengasihi Tuhan Allahmu, dengan mendengarkan suaraNya dan berpaut padaNya” – kasih, dengar-dengaran dan mempercayai Allah.

Mengasihi Tuhan berarti hubungan akrab kita denganNya menjadi yang terutama di atas segala sesuatu. Kita menabur adalah tindakan mengasihi dan memuji Allah. Ketika kita menabur kasih, kita menjadi dekat dengan Tuhan. Kita memberkati hati kita yang terdalam bagi Allah, bukan dunia. Kita menabur pujian untuk menyentuh hatiNya dan mengatakan, “Allah, aku mengasihi Engkau lebih dari segala yang saya cintai.” Kita harus menabur dengan kasih.

Kita mulai menabur dalam ketaatan akan kehendak Allah. Kisah bagaimana Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak, menunjukkan kepada kita bahwa kepatuhanlah yang terutama. Ingat bahwa kita bukan menabur karena kewajiban hukum, melainkan karena ketaatan. Kepatuhan kita adalah bukti bahwa kita mendengar dan mengakui Allah sebagai sumber. Kita menabur untuk menyenangkan Allah, bukan untuk menghindari hukuman. Kepatuhan kita, seperti kasih kita, berasal dari hati.

Kita menabur dengan percaya Allah akan menambahkan dan berpegang erat pada Allah, bukan menggenggam erat benih. Allah ingin mengaruniakan kehidupan yang berkelimpahan. Ketika kita menabur pada Kerajaan Allah dan apa yang dikerjakan Allah di gereja lokal kita, kita tahu bahwa kita akan menuai panen jiwa dan banyak orang akan datang kepada Allah karena visi dari gereja setempat itu. Itulah kehidupan! Itu bukan hidup Anda; melainkan kehidupan dari Allah. Kehidupan di dalam daging tak bisa menyelamatkan siapapun.

Menabur dalam kehidupan Allah adalah menginvestasikan berkat Allah dengan visi yang jelas. Kita melihat keluar diri kepada kita dan menangkap kehendak surgawi – menyelamatkan dan memulihkan jiwa-jiwa. Menabur tanpa visi yang jelas adalah menghabiskan gaji demi sebuah kapal yang tak mampu kita bayar dan hanya akan dipakai beberapa bulan saja dalam setahun. Menabur tanpa visi adalah membeli mobil baru dengan cicilan tinggi yang akhirnya memaksa kita tak sia pada tagihan-tagihan lain dimana kita sudah harus melunasinya. Ketika kita menabur kehidupan, kita menabur pada iman.

Benih yang dikumpulkan petani untuk dirinya sendiri pada akhirnya akan membusuk karena tidak ada kehidupan di sana. Benih hanya akan hidup bila diletakkan di tanah. Bila tidak ditabur kembali, tidak akan ada panen tahun depan. Ketika petani menabur benih ke tanah yang gembur, dia memimpikan hasil yang akan didapatkan di masa depan. Memerlukan visi untuk menabur dalam Roh – membiarkan angin dari Allah menerbangkan benih dari tangan dan menanamnya di tempat yang bisa memberikan hasil terbaik.

Merubah Masalah Menjadi Mukjizat

Posted: 17 Sep 2011 02:09 AM PDT

Sermon by Bpk. Soewandi

Ibadah Raya,11 September 2011

Lukas 18:27 “Kata Yesus: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.”

Kita sebagai anak-anak Tuhan dalam dunia ini taklah luput dari masalah-masalah namun demikian kita dimampukan untuk menghadapi setiap masalah karena Tuhan kita memberikan kuasa kepada umatNya yang percaya kepadaNya untuk merubah masalah menjadi suatu mukjizat sehingga namaNya dimuliakan lewat kesaksian setiap anak-anakNya. Masalah-masalah sebesar apapun dapatlah ditanggani karena kita berjalan bersama Tuhan. Mukjizat Tuhan dapat dinyatakan lewat hal-hal yang dikatakan oleh manusia sebagai suatu masalah-masalah yang tak dapat ditanggani menurut kekuatan manusia saja namun dapat ditangani oleh kuasaNya.

Manusia pada dasarnya hidupnya tidak bisa dipisahkan dari Tuhan, sejak awal penciptaan manusia diciptakan untuk menjadi rekan sekerja Tuhan. Manusia terbatas adanya tanpa Tuhan tetapi manusia akan disempurnkan hidupnya bila tetap melibatkan Tuhan.

Masalah-masalah yang ada sebenarnya melatih kekebalan dari manusia rohani setiap kita untuk semakin kuat. Masalah-masalah ini juga bisa timbul akibat dari perilaku kita juga seperti :

· Adanya kepahitan yang tidak cepat diselesaikan/ kepahitan yang berkepanjangan

· Tidak adanya rasa ucapan syukur karena selalu melihat kelebihan orang lain dengan iri hati, cemburu, angkuh, suka bergossip,dll.

Ibrani 12:5,6

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Berdasarkan nats diatas juga dapat dijelaskan bahwa masalah-masalah/ujian-ujian diijinkan terjadi dalam hidup kita untuk supaya kita dapat meresponi semuanya ini dengan caraNya dan tentu saja kita harus melalui masalah-masalah ini bersama dengan Dia. Kita diajar atau dididik olehNya, Tuhan Yesus telah memberikan teladanNya bagi kita semua dan sekarang maukah kita menjadi pelaku FirmanNya! Tuhan melatih anak-anakNya untuk menjadi lebih baik dari waktu-waktu yang lalu.

Wahyu 3:19

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Dia mau kita tak menjadi anak-anak yang tidak manja tetapi menjadi anak-anak yang akil baliq, yang siap bertanggung jawab akan hal-hal besar lainnya lagi yang Ia telah sediakan bagi setiap kita. Tuhan akan mendidik kita karena Dia mengasihi kita. Masalah-masalah itu diijinkanNya untuk kita hadapi supaya melatih manusia rohani kita terlebih lagi sehingga kita menjadi kuat dan karakterNya tercipta dalam hidup setiap kita.

Seperti burung rajawali yang mempunyai anak-anaknya pada sarang burung yang dibuat oleh induk rajawali ini. Dibuatnya sarang burung untuk anak-anaknya ini ditempat yang sangat tinggi sekali sehingga takada mangsa yang dapat memakan anak-anaknya ini karena masih kecil-kecil. Dibuatnya sarang burung ini dari beberapa lapis, lapisan paling bawah dibuat dari ranting-ranting yang besar-besar,lalu lapisan berikutnya adalah ranting-ranting yang kecil, lapisan berikutnya lagi adalah daun-daun dan lapisan paling atas adalah bulu-bulu yang halus yang dimiliki oleh induk rajawali itu yang dicabutnya untuk menjadi alas tidur anak-anaknya.

Lapisan-lapisan yang dibuatnya ini mempunyai tujuan, karena semakin besar anak-anaknya maka lapis demi lapis akan diambil oleh induknya untuk mendidik anak-anaknya untuk belajar terbang dari tempat yang tinggi. Induk rajawali tak akan membiarkan anak-anaknya jatuh terluka karena induknya selalu mengawasi setiap saat.

Perumpamaan diatas yang diambil dari kehidupan rajawali mendidik anak-anaknya setidaknya sedikit dapat menggambarkan bagaimana Tuhan kita melatih kita juga. Dia tahu kemampuan setiap kita sebagai anak-anakNya melebihi diri kita sendiri. Tuhan mengukur setiap kerohanian kita!

Roma 8:28

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Bersandar kepadaNya, percaya kepadaNya dan mengikuti teladanNya supaya kita keluar lebih daripada pemenang itulah yang Tuhan harapkan setiap kita lakukan.

Masalah-masalah dapat menjadi sumber menyatakan mukjizat juga! Sharing firman tentang mukjizat telah dibawakan oleh Bapak Soewandi di tanggal 27 di bulan februari 2011.

Masalah-masalah/ujian-ujian yang kita hadapi terkadang dari sudut pandang kita terlalu besar/kuat untuk dapat kita lalui tetapi tidaklah demikian dimata Tuhan.

Masalah-masalah yang akan dibahas disini dibagi dalam empat kategori yaitu pada 4MKK :

· Masalah Krisis Kesehatan

· Masalah Krisis Keuangan

· Masalah Krisis Keluarga

· Masalah Krisis Kerohanian

Healing movement yang dilakukan oleh Ps. DR Niko Njotorahardjo adalah merupakan visi dan misi yang Tuhan berikan kepada beliau. Kita mendengar bahwa banyak terjadi banyak mukjizat ketika healing movement ini dilakukan. Jika Tuhan yang berfirman maka semuanya jadi!

1 Petrus 2:24

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”

Tuhan telah menebus kita dari dosa/pelanggaran yang kita lakukan. Dengan iman yang Dia berikan kepada kita, iman itu harus bertumbuh semakin kuat dan kita semua sudah tahu bahwa iman itu timbul dari pendengaran akan firman Tuhan dan dari setiap ujian yang kita hadapi.

4MKK, hal pertama yang akan dibahas adalah tentang:

· Masalah Krisis Kesehatan

Markus 2:5 “Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Markus 2:11 “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

FirmanNya berkata bahwa kita harus percaya dan dengan iman itu kita harus bertindak sesuai dengan yang telah dipercayakanNya kepada kita.

Saat kita mengalami krisis kesehatan, hal yang harus kita lakukan adalah intropeksi diri dan mau meresponi dengan benar menurut kebenaranNya bukan kebenaran kita.

Matius 7:7,8 “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Masalah krisis kesehatan akan dapat kita atasi bersama Dia, mukjizat masih ada jika kita memiliki Dia. Tetaplah miliki iman yang bertumbuh kuat dan lihatlah bahwa masih ada mukjizat bagi setiap yang berharap padaNya!!!

· Masalah Krisis Keuangan

Masalah krisis keuangan juga dapatlah dipulihkan! Hal yang Tuhan ajarkan kepada setiap kita adalah miliki hikmat dan hikmat timbul dari takut akan Tuhan. Kita berhikmat akan segala aspek yang Dia percayakan kepada kita. Dalam hal keuangan hendaknya kitapun mengatur dengan baik dan benar. Janganlah lebih besar pasak daripada tiang, ini perumpamaan yang sering kita dengar. Maksudnya jangan kita boros! 2 Raja-raja 4:1-7 dalam nats ini kalau ditelaah ada yang cukup tak masuk akal, dimana seorang janda dari seorang nabi yang telah meninggal memiliki utang sehingga akhirnya dia harus memberikan kedua anaknya untuk menjadi hamba dari orang yang memberi utangan kepada mereka. Bukankah seharusnya keluarga nabi harusnya memiliki hikmat yang datangnya dari Tuhan? Mengapa ini terjadi?

Lalu kisah janda di Sarfat, 1 Raja-raja 17:9 “”Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

Nabi Elia dan Janda yang di Sarfat keduanya mendapatkan perintah dari Tuhan dan mereka melakukannya lalu keduanya mendapatkan perkenanan Tuhan lebih lagi!

Intropeksi diri senantiasa! Jangan kita terlalu percaya diri dan bukan percaya kepada Tuhan sehingga kita akhirnya kehilangan berkat-berkatNya/ kesempatan dariNya. Hendaknya kita selalu berkomunikasi (bangun mezbah/keintiman) dengan Tuhan. Hendaknya kita juga menjaga kehidupan keluarga yang Tuhan percayakan pada setiap kita, harus ada keseimbangan!

Tuhan katakan untuk setiap umatNya menjadi saksi dan itu dimulai dari Yerusalem (keluarga) kita, Yehuda, Samaria dan ujung-ujung bumi ( Kisah Para Rasul 1:8). Tidak ada yang mustahil selama kita tetap berjalan bersama Tuhan. Berjalanlah senantiasa bersamaNya dan jangan pernah lepaskan. Kita akan dimampukan dan melihat mukjizat demi mukjizat mengalahkan masalah-masalah kita. Masalah krisis keuangan, dari utang menjadi berkat! Jika kita hidup seturut firmanNya!

· Masalah Krisis Keluarga

Perhatikanlah Yerusalem! Keluarga itu penting adanya. Ada banyak anak-anak dari hamba-hamba Tuhan yang kehidupannya taklah sesuai dengan yang Tuhan harapkan. Mengapa? Seperti di kitab 1 Samuel 2:22-25 “Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.”

Tongkat dididikan itu diperlukan! Bukan untuk melampiaskan kemarahan kita tetapi untuk mendidik anak-anak kita jika itu terpaksa perlu dilakukan karena melihat perilaku yang akhirnya mendatangkan kehancuran dalam keluarga. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk hidup sesuai firman Tuhan. Menjadi saksiNya dimulai dari keluarga, sehingga pasangan hidup, anak-anak dan orang-orang yang hidup dilikungan sekitar kita melihat bahwa kita menghidupi firmanNya bukan sekedar omong belaka tapi menjadi pelaku firmanNya. Masalah krisis keluarga akan dapat kita lalui jika mau meresponi firmanNya dengan kebenaranNya bukan kebenaran kita! Akan ada pemulihan demi pemulihan, mukjizat demi mukjizat jika kita tetap berjalan bersama-sama dengan Dia.

· Masalah Krisis Kerohanian

Raja Salomo diijinkan alami krisis rohani karena pilihan yang dia lakukan. Cinta akan kekuasaan adalah menjadi kesenangan Raja Salomo melebihi daripada menyenangkan Tuhan diusianya yang semakin tua. Ketika Tuhan memberkati Raja Salomo dengan berlimpah-limpah sehingga menjadi terkenal dan diakui di seluruh jagat, Raja Salomo menjadi lupa akan apa yang harus dia utamakan dalam hidupnya ini. 1 Raja-raja 11:1-4!

Berjaga-jagalah! Janganlah kita lupa diri dengan apa yang telah kita miliki atau capai! Jangan sampai melupakan visi yang dari Tuhan dalam hidup setiap kita ini! Jagalah perkenan Tuhan dalam hidup setiap kita.

Iman kita harus bertumbuh dalam segala situasi. Harus ada persekutuan dan jaga persekutan kita dengan Tuhan lebih dari yang lainnya. Selalu jujur dan taat kepada Tuhan (sejuta) dan selalu rajin dan tulus kepada Tuhan (seratus) maka masalah krisis kerohanian dapat kita lalui.

Kita alami Mukjizat dan Promosi dari Tuhan karena kehidupan kita berkenan dihadapanNya, merubah masalah-masalah menjadi mukjizat demi mukjizat hanya dengan hidup erat dan berkenan kepadaNya. Jangan patah semangat, mukjizat masih tetap ada bagi kita semua yang berharap kepadaNya dan mau diubah hidupny. Hendaknya kita semua tidak saja menjadi pendengar firmanNya tetapi menjadi pelaku FirmanNya!

Tuhan Yesus Memberkati.

Menjaga Api Tuhan yang Tetap Menyala di Atas Mezbah

Posted: 11 Sep 2011 08:10 AM PDT

Sermon by Ps. Djohan Handojo

Family Altar Gabungan, 5 September 2011

Imamat 6:12,13 “Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana. Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.”

Ada tugas bagi imam yaitu untuk menjaga api yang diatas mezbah untuk tetap menyala.

kita menabur sesuai dengan yang Tuhan inginkan kita lakukan seperti doa, pujian, penyembahan dan lainnya maka kita pasti menuai perkenan Tuhan lebih lagi dalam hidup kita ini. Gereja yang memiliki dan menjaga api Tuhan untuk tetap menyala akan membawa pemulihan-pemulihan/terobosan-terobosan.

Setiap langkah dari orang-orang benarNya/ imamatNya harus selalu mendapatkan konfirmasi dariNya. Itu hanya didapati lewat keintiman denganNya. Keintiman dihasilkan lewat hubungan/ persekutuan yang hidup dan yang bukan biasa-biasa saja. Sebuah persekutuan/pelayanan yang hidup akan menghasilkan Api Tuhan/Api Roh Kudus dan Api Roh Kudus itu akan meluapkan kasihNya sehingga membawa gairah dalam persekutuan/ pelayanan kita dalam tubuh Kristus/GerejaNya. Kita akan dikuatkan terus dalam melakukan pelayanan yang Tuhan percayakan pada setiap kita.

Jaga Api Tuhan dalam hidup kita dalam pelayanan kita karena itu sumber kekuatan kita sebagai umat pilihanNya.

Dalam imamat 6:12,13 dikatakan bahwa tiap-tiap pagi/every day bukan sekali-kali imam harus menaruh kayu, mengatur korban bakaran diatas mezbah sehingga api tetap menyala. Jadi dapat diambil tiga kesimpun dari nats diatas ini yaitu:

· Imam

· Api

· Korban bakaran

Imam dapat diartikan sebagai pelaku orang yang berhak melakukan tugas sacramen! Dalam perjanjian lama imam adalah orang-orang yang ditunjuk berdasarkan garis keturunan (keturunan suku Lewi) jadi pelaku sacramen/ ritus agama. Dan tugas imam di perjanjian lama adalah mewakili umatnya untuk membakar koran bakaran untuk mendapatkan perkenanan Tuhan karena umatnya tak berhak melakukan korban bakaran itu sendiri. Dalam perjanjian baru imam lebih ditekankan kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Imam Besar dari umat percayaNya. Kematian/pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib membuat kita menjadi umat tebusanNya yaitu imamatNya, imamat yang rajani. Sehingga kitapun bisa dikatakan sebagai imam. Imam adalah orang yang diberikan wewenang untuk menyelenggarakan upacara keagamaan. Jabatan atau kedudukan mereka disebut imamat, istilah yang juga dapat digunakan secara kolektif (info dari Wikipedia). Jangan remehkan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita semua! 1 Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”

Api melambangkan Kehidupan! Persembahan itu terdiri dari dua pihak dimana imam harus memberikan korban yang tak bercacat cela sehingga ada perkenanan Tuhan dimana Dia akan memberikan apiNya pada korban bakaran tersebut. Imamat pasal 4,5 dan 6 menjabarkan tentang korban bakaran untuk penghapusan dosa dan dari nats ini yang dapat diambil pengertiannya adalah korban itu tak boleh bercacat cela sehingga korbannya dapat diterima oleh Tuhan!

Diingatkan tentang nabi Elia dengan 450 para nabi Baal dan 400 para nabi Asyera di gunun Karmel (1 Raja-raja 18:18-..), “Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel….”bukankah Tuhan menyatakan kehadiranNya/mendemontrasikan keberadaanNya dengan Api dan membakar korban bakaran nabi Elia (orang yang hidupnya berkenan kepada Tuhan) dihadapan bangsa Israel yang dikumpulkan saat itu.

Didalam kehidupan kekeristenan kita hendaknya kita harus ada api Tuhan! Mintalah Tuhan sentuh kehidupan kita dengan api kasihNya senantiasa dan biarlah api itu terus menyala-nyala. Jagalah api Tuhan terus tetap menyala dalam kehidupan kita. Kita sebagai gerejaNya, hidup janganlah berkompromi dengan dunia, manusia roh kita harus peka. Kepekaan ini hanya didapat lewat kehidupan yang intim denganNya, yaitu setiap saat! Setiap kita ada tugas dan bertanggung jawab untuk tetap menjagalah apiNya untuk tetap menyala dalam hidup setiap kita.

Roma 12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Jagalah pola kehidupan kita supaya yang berkenan dimata Tuhan kita! Kekudusan didapati lewat perkenan Tuhan dalam hidup kita dan itu ada lewat hubungan kita yang telah dipulihkan dan terus dijaga lewat keintiman denganNya.

Roma 8:2,6,11 “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.– Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.– Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”

Berharap dan terus minta kepadaNya supaya hidup kita terus berkenan bagiNya sebagaimana yang Dia kehendaki kita lakukan! Roma 8:14 “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Kita adalah umat pilihanNya! Umat yang dipercayakan olehNya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Dia telah sediakan bagi setiap kita didunia ini.

Korban berarti “Persembahan yang harus mati kepada Tuhan atau pemberian untuk menyatakan kesetiaan/ketaatan/ritus keagamaan.” Tuhan Yesus adalah korban penebusan dosa kita, Dia telah mati dikayu salib untuk mengenapi Firman Tuhan, sebagai korban yang sempurna yaitu yang kudus dan yang tak bercacat cela, tak serupa dengan dunia ini. Setiap kita yang mengaku bahwa Tuhan Yesus telah menebus dosa-dosa kita melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib ini sudah masuk dalam perjanjianNya.

Tuhan Yesus mau kitapun belajar mematikan keinginan daging kita supaya manusia roh kita diperkuat! Tuhan mau teladan yang Dia ajarkan kepada kita hendaknya kita lakukan, menjadi pelaksana FirmanNya lebih dari sekedar pendengar FirmanNya.

Dalam Mengikuti Tuhan pasti ada harga yang harus dibayar tetapi kita tak mengalami kerugian melainkan berkat yang luar biasa. Devoted to God because He loves us! Sangkal diri berbicara tentang penyaliban daging (seperti kita bisa diasingkan, dibuang bahkan mungkin dibunuh dalam mengikuti teladan/kehendakNya dalam hidup kita di dunia ini). Dia makin bertambah dan kita makin berkurang. Maksudnya adalah karena rencana-rencanaNya membawa pada kehidupan yang kekal bukan pada kematian kekal karena rencana-rencana/rancangan-rancanganNya lebih baik dan sempurna dari yang kita miliki –Yeremia 29:11.

Korban apakah yang berkenan bagi Tuhan? Mazmur 100:2,4 “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!”

· Sukacita

· Sorak-sorai

· Hati yang penuh ucapan syukur

Filipi 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”

Yesaya 56:5-7 “kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan dan nama–itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan–,suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada mereka. Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

Tuhan yang kita kenal dan kita sembah adalah Tuhan yang bisa memberikan sukacita/rejoice bagi mereka yang mencari dan berharap kepadaNya. Sukacita melebihi dari happy/bahagia karena sukacita tak berdasarkan pada keadaan tetapi pada iman/percaya kepada Tuhan. Cerita Paulus dan Silas yang sedang melakukan salah satu tugas yang Tuhan berikan seperti yang ditulis pada Kitab Kisah pasal 16:24-.. “Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua…”

Ketika kita menghargai pengorbanan Tuhan Yesus dan mengikuti teladanNya, maka pasti kita terus menjaganya. Pasti kita tidak meremehkan apa yang telah Dia ajarkan atau perintahkan kepada kita. Percaya adalah salah satu bentuk juga untuk menghargai pengorbananNya, percaya dan lakukan perintahNya. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!”

From inside out terlihat dari karakter umat pilihanNya dan itupun berbicara tentang iman! Naiklah kegunungNya ini berbicara juga tentang Mezbah (penyembahan/ keintiman dengan Tuhan). Abraham mencari Tuhan ke gunung kudus (Abraham-pun mengerti bahwa ia harus menjaga untuk hidup kudus dan minta kekudusan/perkenanan dari Tuhan). Kitab Kejadian 22, Ibrani 11 menyatakan Iman yang luar biasa yang dimiliki oleh Abraham kepada Tuhan. Iman yang Abraham miliki bukanlah ke-nekat-an tetapi karena hasil dari pengenalan dan keintiman yang dimiliki oleh Abraham dengan Tuhan yang disembahnya maka itu yang menjadi kekuatan baginya. Abraham melakukan bukan menurut kedagingannya tetapi apa yang Tuhan inginkan dia lakukan.

Jagalah hidup kita ini, jagalah Api Tuhan untuk tetap menyala di atas mezbah/dalam hidup kita. Hargailah kekudusan yang Dia limpahkan kepada setiap kita yang berharap kepadaNya. Jaga kekudusan ini dengan takut dan gentar (Mazmur 51). Jangan remehkan kekudusanNya karena yang rugi sebenarnya adalah kita! Semua kita berharga dimataNYA sebab itu ABBA BAPA rela memberikan AnakNya yang tuggal YESUS KRISTUS untuk disalib supaya menebus kita dari maut. Dengan harga yang sangat mahal Dia tebus kita semua. Jagalah ApiNya untuk tetap terus menyala dalam mezbah hidup kita. Janganlah kita meremehkan bukti kasihNya ini. Hendaklah orang-orang yang telah dikuduskanNya tidak kembali lagi ke cara-cara dunia/serupa dengan dunia ini tetapi hendaknya hiduplah menurut yang Tuhan Yesus telah teladani dan perintahkan. Hargai pengorbananNya dan tetap menjaga Api Tuhan Menyala di Atas Mezbah kehidupan setiap orang percayaNya.

Tuhan Yesus Memberkati.

Sudah lama Andy Carroll tak mencetak gol bagi Liverpool di laga resmi. Setelah semalam sukses mengakhiri puasa golnya, Carroll pun senang.

Laga kontra Manchester City 11 April lalu adalah pertama kali Carroll membuat gol untuk Liverpoo. Dua gol dia cetak dalam kemenangan 3-0 dan sesudahnya penyerang 22 tahun itu seperti kesulitan menemukan sentuhannya di kotak penalti.

Maka banyak kritikan berdatangan kepada Carroll yang dinilai belum membayar tuntas banderol 35 juta poundsterling saat ia didatangkan dari Newcastle United. Di awal musim ini, dari dua laga yang sudah dilalui Liverpool, Carroll masih juga mandul.

Barulah pada laga babak kedua Piala Liga Inggris kontra Exeter City semalam, Carroll akhirnya bisa mengakhir paceklik golnya. Golnya di menit ke-58 lewat sebuah sepakan dari jarak 20 yard.

Inilah gol pertama Carroll setelah empat bulan puasa mencetak gol untuk klubnya dan juga yang perdana untuk di musim ini. Jelas raut kegembiraan terpancar di wajah penyerang bertinggi badan 192 cm itu.

“Senang rasanya bisa mencetak gol. Kami semua bermain baik malam ini dan semua pemain yang mencetak gol bermain sangat baik. Aku pikir Exeter juga tampil bagu jadi ini adalah hari yang baik untuk semuanya,” seru Carroll di situs resmi tim.

“Penting rasanya datang ke sini dan mendapatkana kemenananga. Kami selalu tahu jika ini akan berjalan ketat,” lanjutnya.

Secara khusus Carroll memberi pujian kepada penampilan rekannya di lini depan, Luis Suarez, yang mencetak satu gol dan memberi dua assist, salah satunya kepada dirinya.

“Dia sangat hebat. Jelas semua orang tahu siapa dia dan dia telah menunjukkannya lagi malam ini,” tuntas Carroll.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s